
"Mel...!" tangan Boby melambai dari sudut tempat duduk di salah satu cafe.
Gadis itu segera menghampiri sahabatnya, namun ternyata Boby tidak sendiri. Ada Anya dan juga Oka di sana.
"Hai... Anya, Oka," sapa Amelia.
"Hai Mel," sahut mereka bebarengan.
"Wah... Wah.. Jadi ceritanya Boby ngadain pesta nih..?" seru gadis itu setelah mendaratkan tubuhnya di salah satu bangku, bersebelahan dengan Boby.
"Gak kok Mel. Kebetulan aja si Oka ngajak ketemu, jadi sekalian aja deh," jawab Boby menjelaskan.
"Anya?"
"Emang kenapa Mel, aku gak boleh ikut gabung nih ceritanya?"
"Gak kok, bukan gitu. Cuma kamu tahu darimana kalo aku sama Boby janjian di sini."
"Aku tadi lagi jalan sama si Oka, Mel. Emang sengaja juga pingin ketemuan, karena denger-denger si Boby udah keterima gawe. Ya udah deh, cuss lah kita."
"Kalian lagi jalan berdua, jangan-jangan kalian pacaran yah..?" selidik Amelia.
"Gak kok Mel. Kita gak pacaran lagi," sahut Anya cepat.
"Belum kali maksudnya," kekeh Boby.
Keduanya terlihat tersenyum malu-malu.
"Nunggu apa lagi, Bro...?" goda Boby sambil melirik Oka.
"Jangan tunggu janur kuning melengkung, Ka..!" sahutku menimpali.
"Itu mah telat namanya, Mel," tak pelak kami berdua pun tertawa.
Jangan ditanya bagaimana muka Anya dan Oka. Kepiting rebus mah lewat.
"Udah.. Udah.. Gak usah di terusin. Tar si Anya tengsin lagi di godain mulu," seru Oka.
"Anya yang tengsin apa kamu yang keki, Ka?" sahutku lagi.
"Dua-duanya, Mel," Anya bersuara kini.
"Uuuuhhhhh..." Aku dan Boby pun bersorak.
"Tuh Ka, si Anya udah kasih lampu ijo. Tinggal kamu aja yang maju, gass kan lah."
Tak henti-hentinya aku dan Boby menggoda.
Di tengah-tengah keriuhan canda tawa keempat orang itu, tiba-tiba terdengar nada dering dari ponsel Amelia.
Diangkatnya sambungan telepon itu, seketika semuanya berhenti bicara.
"Ya, hallo..."
....
"Lagi di luar."
....
"Sama temen-temen."
....
"Hah, ngapain?"
....
"Ah..euh.. Nggak perlu repot-repot."
....
"Maaf saya masih sibuk. Nanti saja telepon lagi. Selamat malam."
"Siapa, Mel?" tanya Anya.
"Paling pengagum rahasia," celetuk Oka.
"Bukan siapa-siapa kok, bukan orang penting. Dah ah ga usah dibahas."
Boby terlihat melirik sahabatnya. Amelia balik melirik, sambil mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum.
"Who?"
Nampak gerakan bibir Boby membulat.
"Tar aku cerita," bisiknya perlahan.
"Eh, udah pada pesen makan atau minum belum?" kata Amelia mengalihkan suasana.
"Kita udah pada pesen."
"Nah, tuh pesenan kita datang," seru Oka, tepat ketika seorang waiter menghampiri kami dengan nampan yang berisi beberapa makanan dan minuman di tangan kanannya yang terangkat.
"Yoi!" seru Boby.
"Es lemon tea sama nasi goreng yah, Mas," sahut Amelia sebelum si Mas pelayan beranjak.
"Baik, Mba," jawab si Mas nya dengan anggukan kepala dan badan yang sedikit membungkuk.
"Terus Bob, jadi gimana kontrak kerja kamu tadi? Langsung kerja yah?"
"Iya. Tadi aku langsung kerja hari itu juga."
"Kontrak kerjanya, seperti rata-rata kontrak kerja karyawan baru lah Mel. Tiga bulan masa training. Kalau kinerja kerja aku selama tiga bulan itu bagus, lanjut kontrak pegawai selama satu sampai dua tahun. Setelah itu, bisa dilihat selanjutnya di angkat karyawan tetap atau tidak."
"Oh... Gitu.."
"Tapi enaknya, antara kontrak training sama kontrak pegawai itu kita nggak ada perbedaan Mel. Baik dari salary atau gaji, juga masalah cuti kerja dan lemburan. Perbedaannya nanti kalau sudah jadi pegawai tetap aja. Ada tunjangan ini itu," jelas Boby.
"Wah, enak dong kalo gak dibeda-bedain gitu," timpal Anya.
"Ya gitu deh, Nya."
"Dan aku juga bersyukur banget, ternyata karyawannya baik-baik dan ramah-ramah, mereka banyak membantu aku yang notabene karyawan training," seru Boby nampak senang.
"Syukur deh Bob, mudah-mudahan kamu betah. Dan kamu punya kinerja yang baik selama kerja di sana," kata Amelia.
"Iya. Thanks yah."
"Kamu sendiri katanya mau ada yang kamu ceritain tadi. Apaan?" tanya Boby sekarang sembari menatap Amelia dengan mulut yang penuh dengan cemilan.
"Aku juga diterima kerja di PT. EsKa. Besok aku disuruh menghadap personalia nya," serunya kegirangan.
"Oh yah??! Wah, selamat yah, Mel."
Boby pun tak kalah senangnya. Mengulurkan tangan kanannya untuk bersalaman dengan sahabatnya itu.
"Iya Mel, selamat yah."
Gantian Anya dan Oka yang memberi selamat.
"Makasih."
"Kalian berdua emang hebat, aku salut. Baru aja lulus kuliah langsung lolos kerja, di perusahaan-perusahaan keren lagi," kata Oka dengan nada yang terdengar tulus.
"Jangan patah semangat Bro, kamu juga pasti bisa kok. Belum aja."
"Iya, Ka. Tinggal banyakin berdoa aja, usaha masuk-masukin lamaran kan udah. Kita tinggal tunggu rencana Tuhan aja. Dan berharap rencana itu baik untuk kita."
"Iya.. Aku tahu. Semoga Aku bisa nyusul kalian."
"Aamiin.."
"Aku juga dong," timpal Anya yang sedari tadi diam saja.
"Loh, katanya kamu mau lanjut S2, Nya?" Amelia terheran.
"Iya sih, tapi kan itu kemauannya orang tua aku, Mel."
"Mereka pingin aku bantu-bantu di perusahaan mereka, minimal aku menguasai ilmu bisnis dulu katanya, biar nggak kaget kalau terjun di perusahaan nanti. Tapi, aku pribadi sih pinginnya kerja aja kaya kalian. Atau buka usaha sendiri gitu."
"Emang kamu mau buka usaha apa?" tanya Amelia.
"Apa aja yang penting berhubungan sama makanan, karena aku suka makan. Hehehe..." katanya sambil terkekeh.
"Ya kamu tinggal buka resto atau cafe aja kalo gitu," sahut Boby.
"Modal yang aku punya belum cukup, Bob. Aku mesti kumpulin duit lagi kalau mau buka usaha itu."
"Tinggal minta modal sama orang tua kamu aja, Nya. Kok gitu aja repot."
Terdengar Boby sedikit tertawa.
"Udah pernah coba minta modal sama mereka, ujung-ujungnya aku di suruh bantu-bantu mereka di kantor. Ya gitu deh, aku harus lanjut kuliah dulu. Kan BT jadinya," jelas Anya di akhiri tatapan lesunya.
"Ya sabar aja, Nya. Mungkin jalan hidup kamu emang harus kaya gitu dulu."
Amelia terlihat prihatin kepada kawannya itu.
"Iya, Mel. Mungkin harus kaya gini dulu," katanya sambil mengangkat bahunya.
"Heran sebetulnya sama orang tua aku tuh, padahal perusahaan itu udah di handle sama Mas Rio, kakakku yang paling gede. Tapi tetep aja, anak-anak nya di paksa buat terjun juga di sana," katanya sembari geleng-geleng kepala.
"Mungkin biar anak-anaknya punya pengalaman dan jiwa pemimpin yang baik, Nya. Jadi kalau suatu saat mereka mandiri, mereka udah punya basic ilmu yang bikin mereka bisa bertahan di tengah persaingan bisnis," lanjut Amelia kemudian.
"Kok pemikiran kamu bisa sama persis sama orang tua aku sih, Mel? Kamu memang luar biasa," serunya sambil menepuk kedua telapak tangannya.
Amelia dan Boby hanya tersenyum melihat tingkah Anya. Namun hanya Oka yang nampak berbeda raut wajahnya.
"Kamu kenapa, Ka. Kok dari tadi diem aja?" tanya Boby menyadarkan lamunan Oka.
***