
Warning 21+ 🙈
(Maaf adik-adik under 21, harap di skip aja yah) 😊
"Bagaimana Amelia, kamu mau menjadi kekasihku?" tanya Dirga, ditengah-tengah adegan romantis mereka.
Dirga sengaja memberikan jeda bagi gadis itu untuk mengambil pasokan udara yang sudah terkuras, namun ia belum melepaskan begitu saja tubuh itu dari pelukannya.
Kedua kening dan hidung yang saling menyatu, tarikan nafas yang nampak terlihat dari keduanya. Dirga yang sudah tertutup kabut gairah di wajahnya dan wajah Amelia yang nampak berubah menjadi merah merona.
"Menurutmu aku harus menjawab apa, jika semua hal indah yang terjadi dalam hidupku saja, untuk pertama kalinya kau yang mengambil."
Dirga tersenyum. Direngkuhnya tengkuk Amelia semakin dalam. Gadis itu seolah pasrah terhadap apa yang akan Dirga lakukan.
Amelia, gadis yang sebelumnya terkenal dengan kepolosannya, kini seperti tak bisa menolak pesona dari sosok pria di depannya.
Dulu ia bisa dengan mudahnya menolak para kekasihnya untuk tidak melakukan hal yang lebih dari sekedar berpegangan tangan.
Jangankan berciuman, berpelukan saja Amelia tidak mau. Ia akan menolak dengan tegas kepada para kekasihnya yang memaksa. Meski ujungnya ia akan ditinggalkan, baginya bukanlah masalah.
Tapi dengan Dirga, Amelia seperti terbius. Dia tak bisa bergerak manakala pria itu mulai melakukan aksinya.
Dirga, pria yang memiliki sifat yang tak berbeda jauh dengan Amelia. Dulu ia tidak pernah mau bila dalam berpacaran ada yang namanya kontak fisik. Baginya dengan memberikan perhatian dan kepedulian terhadap kekasihnya, itu sudahlah cukup.
Berbeda dengan Amelia. Bila Dirga sudah berhadapan dengan gadis itu, jiwa kelelakiannya seolah terbangun dari mimpi panjangnya. Ia bisa berubah menjadi sosok yang berbeda. Dirga bisa berimajinasi jauh lebih liar dari para pria yang memang hobi melakukan hubungan intim dengan para wanita. Amelia telah membuatnya menggila bila ia tidak dapat menyentuhnya.
"Apakah itu berarti kamu menerimaku?" tanya Dirga dengan nafas yang semakin memburu.
Amelia bisa merasakan itu, meski deru nafasnya pun tidak jauh berbeda. Di tambah dengan detak jantungnya yang semakin berpacu. Dadanya sudah berdebar tidak karuan.
"Apakah aku memiliki pilihan lain?" tanya Amelia balik.
Gejolak hasrat dari keduanya seperti tak bisa terbendung. Dirga yang berinisiatif untuk menyerang gadis itu lebih dulu.
Kembali ia menempelkan bibirnya dengan bibir menggoda gadis itu, ia benamkan jauh lebih dalam agar pening di kepalanya hilang karena hasrat yang telah ia tahan sejak pagi.
Amelia pasrah, ia terima perlakuan dari pria itu. Entah mengapa ia pun seolah menikmatinya. Amelia yang sebelumnya tidak mengerti aktifitas yang saat ini mereka lakukan, kini seperti terbawa suasana ikut mengimbangi permainan Dirga.
Diberikannya celah bagi pria itu untuk masuk lebih dalam pada kenikmatan dunia yang sebelumnya belum pernah mereka lakukan dengan siapapun.
Dirga semakin mereguk kenikmatan dari bibir Amelia. Ia semakin liar saat Amelia membuka bibir tipisnya.
Amelia yang sebelumnya bisa mengimbangi, akhirnya kewalahan menerima serangan-serangan dari Dirga.
Dirga mengetahui itu, ia pun melepaskan pagutannya.
"Ah, Dirga..."
Amelia terengah. Permainannya kemarin tidak seperti ini pikirnya. Ia merasa Dirga lebih bernafsu kali ini.
"Kamu membuatku gila, sayang."
Gadis itu tersipu saat Dirga sudah mulai melangkah lebih jauh dengan memanggilnya 'sayang'.
Dicium kembali bibir itu, saat dirasa cukup bagi gadis itu untuk mengatur nafasnya.
Kini bibir Dirga telah berpindah menuruni leher jenjang putih mulus Amelia. Gadis itu semakin tidak karuan, ia sungguh terbuai. Belum pernah ia merasakan sensasi yang memabukkan seperti ini.
Sensasi apa ini? Kenapa rasa ini sungguh indah bila dijabarkan dengan kata-kata. Amelia.
Aku tidak ingin melewatkan kesempatan ini sedikitpun. Dirga.
Dirga secara perlahan telah menurunkan kepala Amelia hingga berada dalam posisi menempel pada pegangan sofa. Tubuhnya sendiri telah mengungkung tubuh gadis itu.
Posisi yang tanpa Amelia sadari telah membuatnya ikut terbawa kabut gairah yang semakin menggelora.
Dirga perlahan melepas kancing kemeja Amelia, tangan yang bergerak namun mata masih tetap memandang gadis cantik di depannya.
Amelia melihat tangan yang terus menjalar ke bawah kemeja. Setelah terlepas seluruhnya, nampak lah pahatan sempurna yang Tuhan ciptakan pada sosok gadis bernama Amelia, yang pernah Dirga lihat sebelumnya saat ia menolong gadis itu di hotel beberapa waktu lalu.
Tanpa meminta persetujuan Amelia, Dirga langsung menikmati pemandangan indah itu dengan bibirnya.
Amelia melenguh. Secara tidak sadar, tubuhnya melengkung ke atas menambah posisi sempurna bagi Dirga. Tanpa basa basi, ia melahap dan mengu**m anggota tubuh yang paling sensitif milik Amelia.
Ia berusaha menahan suara yang keluar dari mulutnya dengan kedua tangan, namun Dirga menahannya, karena ia senang mendengar desahan gadis itu.
"Dirga..." Amelia tidak tahan, ia menggeliat menahan rasa yang tak ia mengerti yang hadir tiba-tiba tanpa ia minta.
Di tengah aktivitas yang dilakukan oleh Dirga pada wanita tercintanya, tiba-tiba terdengar suara dering telepon dari ponsel Amelia.
Seketika kegiatan itu terhenti. Dengan posisi yang masih di berada di bawah kungkungan Dirga, Amelia menatap pria itu, matanya seolah meminta ijin untuk mengangkat telepon.
"Angkatlah." Masih dengan posisi yang tidak ingin beranjak.
Amelia sedikit kesusahan mengambil ponsel yang ada di dalam tasnya. Dirga kemudian membantunya mengambil tas Amelia yang ada di atas meja.
"Bobby's calling..."
"I..i..ya, Bob."
.....
"Eh, iya sorry. Aku tadi ada tambahan kerjaan, lupa ngabarin kamu. Bentar lagi aku otw."
.....
"Iya, tunggu sebentar lagi yah. Setengah jam lagi aku nyampe."
.....
"Ok, bye."
Ditutupnya sambungan telepon itu. Ditaruhnya kembali ponsel itu ke dalam tas dan diletakkannya ke atas meja.
"Maaf, Dirga. Apa boleh aku pergi menemui Bobby sekarang?" tanyanya dengan mengumpulkan sedikit keberanian.
"Kamu tetap mau pergi? Dan meninggalkan aku?" katanya sembari mengelus bibir Amelia yang sedikit membengkak akibat ulahnya.
"I...i..ya. Maafkan aku, tapi aku telah janji akan bertemu dengannya hari ini. Dan aku sudah sangat terlambat," ujar gadis itu.
"Baiklah, kali ini kamu boleh pergi. Aku akan mengantarmu menemuinya."
"Eh tidak perlu, aku bisa naik taksi atau ojeg."
"Apa yang kamu katakan, kamu itu kekasihku sekarang. Tidak mungkin aku akan membiarkan kamu pergi menggunakan taksi apalagi ojeg."
Amelia seketika tersipu malu, saat Dirga mengatakan bahwa kini ia adalah kekasihnya.
"Ba..baiklah. Tapi apakah kamu akan memberiku kebebasan untuk bicara dengan Bobby tanpa kamu harus ada di sana?"
"Tidak masalah. Aku hanya akan mengantarmu menemuinya, itu saja. Selebihnya kamu boleh mengobrol dengan temanmu sepuasnya."
"Terimakasih, Dirga."
Setelah itu mereka pun bangun dari posisi intim yang sebelumnya tercipta. Amelia segera mengancingkan kembali kemejanya, nampak dengan jelas beberapa tanda kemerahan di sekitar dadanya.
"Kamu harus menggerai rambutmu ke depan, dan jangan di kuncir," perintah Dirga.
"Eh, kenapa?"
"Aku memberikan banyak tanda di lehermu," bisik Dirga lembut dengan senyum di wajahnya.
"Apa? Apakah seperti di sini?" tanyanya sembari menunjuk tanda yang ada di tubuhnya.
"Hem.." jawaban Dirga yang otomatis membuat Amelia kaget dan malu.
"Ya sudah, ayo kita pergi. Kasihan temanmu sudah menunggu lama."
Digenggamnya tangan Amelia keluar ruangan. Sepanjang jalan menuju lobby, tak dilepaskannya tangan gadis itu darinya.
"Saya tunggu kamu di lobby. Kita pulang sekarang."
Dirga menghubungi asistennya, Juna, yang entah bersembunyi di mana, saat sang atasan menikmati momen indah bersama Amelia di ruangan kantornya.
***