My Boyfriend Is A CEO

My Boyfriend Is A CEO
Kamu Membuatku Tak Berkutik



"Dirga ini putra sulung Tante, Nya." Ninta mengawali obrolan setelah pelayan pergi.


"Oh...Kok Anya gak pernah kenal sebelumnya yah, Tante." Sahutnya.


"Ya jelas dong. Tante itu kan sudah lama gak ketemu mama kamu setelah kita masing-masing menikah. Pas kita ketemu kamu sudah kuliah. Dan saat itu, Dirga juga sedang melanjutkan kuliah masternya di luar."


"Ooh...Pantes."


"Kalau Nak Amelia ini teman sekolah atau gimana?" Tanya Ninta beralih menatap Amelia. Begitupun Dirga yang ikut menoleh.


"Ah iya, Tante. Saya teman kuliah Anya." Jawab Amelia.


"Amelia mahasiswa pintar loh, Tante. Dia kemarin lulus dengan predikat cumlaude." Ucap Anya memuji.


"Anya! Biasa aja kenapa." Sahut Amelia menahan malu.


"Wah, sudah cantik pintar pula." Tutur Ninta tulus.


"Jadi kalian baru lulus?" Tanya Harsa kini.


"Iya, Om. Kita baru selesai wisuda beberapa waktu lalu." Jawab Anya.


"Lanjut kuliah atau bekerja?" Lanjut Harsa.


"Kalau Anya disuruh lanjut kuliah lagi sama Papa, Om. Tapi kalau Amelia baru aja diterima kerja."


"Oh yah? Diterima kerja di mana, Nak Amelia?" Tanya Ninta.


Amelia terdiam. Dia bingung menjawab. Berbohongkah atau jujur.


"Mel!" Seru Anya.


"Ah iya!"


"Tante Ninta nanya, kamu keterima kerja di mana?" Anya mengulangi pertanyaan Ninta.


"Awalnya saya itu melamar dan interview di PT EsKa, Om...Tante. Tapi ketika saya datang ke perusahaan tadi pagi, ternyata saya dan beberapa pelamar lain yang sudah diterima, di tempatkan bekerja di PT GeHa."


"Apa, PT GeHa?" Seru Harsa dan Ninta bebarengan.


Amelia dan Anya nampak terkejut dengan reaksi dari kedua orang tua Dirga.


Ada apa dengan mereka? Anya.


Ya Tuhan, apa seharusnya tadi aku berbohong saja. Amelia.


Hanya Dirga yang nampak terlihat biasa. Dia bersikap seolah tidak ada apa-apa.


***


"Mas, apa ada sesuatu antara kamu dan Nak Amelia?" Tanya Ibu di dalam mobil, saat mereka telah meninggalkan restoran.


"Maksud Ibu apa?" Dirga balik bertanya.


"Maksud Ibu, apa Amelia yang kamu maksud kemarin adalah Amelia teman Anya?"


"Hem," jawabnya singkat.


"Mas, kok jawabnya gitu sih," protes Ibu.


"Memang Dirga harus jawab apa, Bu? Kan pertanyaan Ibu, apakah Amelia yang aku maksud adalah teman Anya, ya jawabanku begitu," ucap Dirga dengan senyuman di wajahnya.


"Emang nggak bisa panjangan dikit gitu loh, Mas."


"Ibu mau tahu apa memangnya?" tanya Harsa suaminya.


"Ayah suka pura-pura deh, Ayah juga sebenarnya penasaran kan sama Amelia tadi, kenapa gadis itu bisa buat anak kita ini kehilangan fokusnya." Ujar Ibu.


"Hem... Tapi Ayah tidak kepo seperti Ibu." Jawab Harsa.


"Ayah ini, bisa aja."


"Juna, kita langsung pulang saja." Perintah Dirga pada Juna yang saat ini duduk di bangku supir.


"Baik, Pak."


"Loh, kita biar sama supir saja, Mas. Mang Sastra kan ada di kantor." Tanya Ibu.


"Biar saja, nanti Mang Sastra pulang bawa mobil Ayah bareng Pak Ujang."


Mang Sastra adalah supir Harsa dan Pak Ujang adalah supir pribadi Dirga.


"Jadi, gimana Mas?" Cecar Ninta pada putranya.


"Gimana apanya, Bu?"


Juna terlihat sedikit tersenyum. Dirga melihatnya.


"Juna, apa yang kamu tertawakan?" Tanya Ninta.


"Ah, tidak ada, Bu."


"Apa ada hal yang kamu sembunyikan?" Selidiknya.


"Maaf Ibu, tidak ada." Jawab Juna.


"Ah, kalian ini kompak sekali." Gerutu Ninta, yang merasa kesal terhadap putranya ditambah kekompakan dari Juna si asisten.


Dirga hanya tersenyum dengan tingkah ibunya yang terlihat penasaran.


Ia memang belum ingin bercerita lebih banyak kepada kedua orangtuanya perihal ketertarikannya pada gadis bernama Amelia. Cukup saja Ayah dan Ibunya itu tahu, bahwa ia telah jatuh cinta kepada seorang perempuan yang bernama Amelia.


Dipandangnya kaca jendela mobil, cuaca siang hari cukup terik. Pikirannya tiba-tiba menerawang ke momen beberapa saat lalu.


"Nak Anya dan Nak Amelia, habis ini langsung pulang atau...?" Tanya Ninta setelah selesai makan siang dan hendak beranjak dari kursi.


"Kita mau nonton film, Tante. Dari sini kita mau ke bioskop di mall Metro." Jawab Anya tersenyum.


"Anya bawa mobil kok, Tante."


"Oh ya sudah, baiklah apa kita pisah di sini?"


"Sambil jalan ke parkiran saja, Tante." Sahut Anya.


"Oh, ayo." Seru Ninta.


Harsa dan Juna berjalan lebih dulu di depan. Anya dan Ninta beriringan masih ngobrol seru. Sedangkan Amelia berjalan di belakang berdampingan dengan Dirga.


"Tante, makasih loh untuk traktirannya. Kita jadi tidak enak." Ucap Anya.


"Bukan Tante kok yang traktir, tapi Dirga yang bayar." Jawabnya.


"Kalau gitu makasih yah, Mas Dirga." Sahut Anya, menolehkan kepalanya ke arah belakang.


"Ya, sama-sama." Jawab Dirga sambil melihat Anya lalu kembali memandang Amelia yang terus saja menundukkan kepalanya.


"Mengapa kamu tidak mengangkat telepon dariku?" Bisik Dirga, bibirnya hampir menempel di telinga Amelia.


Amelia tergugup, ia tidak tahu harus menjawab apa. Kali ini ia tidak bisa menghindar lagi. Salahnya memang mengabaikan telepon dari pria di sampingnya itu. Pria yang statusnya sekarang adalah bosnya di perusahaan tempat ia bekerja esok.


"Amelia?" Bisik Dirga lagi, sedikit penuh penekanan.


"Maaf Pak." Dirga terlihat tidak senang saat Amelia memanggilnya dengan sebutan, 'Pak'.


Ia menatap gadis itu memperlihatkan ketidaksukaannya.


"Bukankah aku sudah bilang, jangan memanggilku dengan panggilan itu." Ucapnya lagi masih berbisik.


Dirga tidak mau kalau pembicaraannya dengan Amelia, terdengar oleh orang-orang di dekatnya.


"Maaf, tapi anda adalah atasan saya. Jadi bukankah lebih baik jika saya memanggil dengan panggilan itu." Jawab Amelia beralasan.


"Itu bila di kantor, dan itu juga jika kamu sudah resmi jadi karyawan di perusahaan. Tapi ini di luar, Amelia. Lagipula kamu baru akan tanda tangan kontrak kerja besok di perusahaan."


Dirga masih berujar.


"Maafkan saya kalau begitu. Lantas saya harus memanggil apa?"


"Aku sudah katakan berkali-kali, panggil Dirga saja."


"Maaf, tapi saya merasa jadi orang yang tidak mengenal sopan santun kalau begitu."


"Kenapa kamu harus bersikap sopan padaku?"


"Apa?" Amelia tidak mengerti dengan kata-kata yang Dirga ucapkan.


"Kamu tidak perlu terlalu bersikap sopan kepadaku, Amelia." Ujar Dirga, yang malah membuat gadis itu semakin tidak mengerti.


"Apa maksud anda, saya tidak mengerti." Amelia bertanya.


"Karena kamu adalah calon kekasihku Amelia, kamu akan menjadi milikku." Tutur Dirga, dengan suara pelan penuh keyakinan, di sertai tatapan mata yang sungguh membuat gadis itu terbuai, tak mampu berkata-kata setelah mendengar kalimat yang terlontar dari mulut Dirga.


Amelia membelalakkan kedua matanya. Ia tak menyangka bahwa pria di depannya akan berkata seperti itu. Amelia sungguh terkejut. Dadanya bergemuruh, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Gelenyar-gelenyar aneh hinggap di perutnya.


Amelia tidak sanggup menatap Dirga lebih lama. Ia juga tak mampu membalas ucapan pria itu.


Dirga masih menelusuri wajah gadis itu, dari mata yang membola, kedua pipi yang nampak kemerahan dan terakhir bibir tipis berwarna pink mengkilat akibat polesan lipgloss yang nampak terbuka karena terkejut.


Dirga semakin mendekat, tubuhnya seolah tak tahan dengan pemandangan indah di depannya.


"Rapatkan bibirmu Amelia, jangan tampakkan raut wajah seperti ini. Kamu tahu, sifat kelelakianku sekarang seolah sedang kamu uji. Jangan sampai aku mencium bibir manismu itu di sini." Ujar Dirga masih berbisik.


Tatapan serta omongan Dirga, membuat tubuh Amelia melemas.


"Tolong Dirga, jangan bicara seperti itu." Amelia semakin tidak tahan dengan kondisi hati dan perasaannya sekarang.


"Mas Dirga!" Suara Ninta memanggil dari depan.


Dirga menoleh Ibunya.


"Iya, Bu." Sahut Dirga.


"Kita pulang sekarang." Ternyata mereka telah sampai di area parkir restoran.


"Amelia, kamu tidak apa-apa, Nak? Kenapa mukamu terlihat pucat begitu." Ujar Ninta kaget.


Amelia nampak kewalahan dengan kondisi tubuhnya, karena mendapat serangan-serangan tidak terduga dari Dirga.


Dirga, si pembuat masalah malah terlihat santai dan tersenyum penuh kemenangan.


"Euh, saya tidak apa-apa, Tante. Saya baik-baik saja." Ucap Amelia terbata.


"Bener, Mel, kamu gak apa-apa? Bener loh kata Tante Ninta, muka kamu pucet."


"Aku baik-baik aja kok, Nya. Mungkin aku terlalu kekenyangan aja, jadi sedikit mengantuk." Jawab Amelia berbohong.


"Beneran?" Tanya Anya sangsi.


"Iya, bener."


"Ya udah deh, kita batalin aja nontonnya. Lain kali aja, cari waktu lagi." Ujar Anya.


"Terserah kamu aja, Nya." Jawab Amelia.


"Ya udah deh, Tante sama Om. Kita pisah di sini. Mobil Anya parkir agak di depan soalnya." Ujar Anya pamit pada Ninta dan Harsa.


"Ya sudah kalau begitu. Kami duluan, kalian hati-hati di jalan." Ucap Ninta.


"Ya, Tante dan Om juga hati-hati. Sekali lagi makasih, Mas Dirga." Kata Anya mengakhiri.


"Hem..." Hanya dijawab dengan anggukan dan senyuman penuh misteri.


***