
Ruangan divisi keuangan nampak terlihat kosong dan sepi, saat Dirga dan Juna memasukinya.
"Kemana para karyawan di sini?" tanya Dirga, yang tiba-tiba berubah menjadi orang bodoh. Itu yang ada dalam pikiran Juna.
"Sekarang kan sudah masuk jam istirahat dan waktunya makan siang, Pak," jawab Juna dengan nada yang sangat sabar.
Beginikah orang yang sedang merasakan stres karena cinta. Juna.
"Benarkah? Ternyata wanita itu tidak membalas pesan dan malah meninggalkanku makan siang." Dirga berbicara sendiri.
Juna sudah hampir tak kuat menahan tawa sebetulnya. Tapi ia tak ingin bila bosnya itu mengetahui hal yang ia sembunyikan.
Juna mendahului Dirga untuk mengetuk pintu ruangan Bu Susi.
"Masuk!" Perintah suara dari dalam.
Juna mempersilakan Dirga masuk. Kemudian ia mengekorinya dari belakang.
Bu Susi seketika bangun dari duduknya. Sebelumnya, ia dan Nancy terlihat mengobrol seru di sofa besar yang ada di ruangan itu.
"Pak Dirga!" selamat siang."
"Selamat siang juga, Bu Susi."
"Apa bapak mencari Mba Nancy?
" Eh iya. Maaf jika kedatangan saya merusak momen reuni kalian berdua."
"Eh, tidak seperti itu, Pak Dirga. Kami hanya mengobrol biasa saja sambil melepas rindu, karena sudah lama, Mba Nancy tidak pernah datang ke sini lagi."
"Mas Dirga sudah selesai dengan kerjaannya?"
"Iya," jawab Dirga singkat, "ayo kita makan siang!" ajaknya pada Nancy.
"Eh, ayo!" sahut Nancy kemudian bangun dari duduknya.
"Bu Susi, terimakasih yah untuk waktunya. Nancy senang bisa ketemu dan ngobrol lagi dengan ibu," tutur Nancy.
"Sama-sama, Mba Nancy. Saya juga senang kita bisa ngobrol lagi."
"Ya sudah, yuk!" ajak Dirga seolah tak sabar.
"Iya." Nancy nampak memanyunkan bibirnya.
Juna dan Bu Susi nampak tersenyum melihat tingkah dari kedua bersaudara itu.
"Ya sudah, Bu Susi, Nancy pergi dulu yah. Lain waktu kita bisa ngobrol lagi."
"Iya, Mba Nancy. Sering-seringlah datang ke kantor."
"Hahaha, Bu Susi ini lucu. Nancy kan bukan karyawan sini, buat apa sering datang ke kantor."
"Hahaha, baiklah."
"Baik, Ibu Susi. Kami permisi dulu," pamit Juna.
Dirga seolah enggan untuk berbicara banyak. Mulutnya terkunci karena pikiran dan hatinya yang sedang tidak berada di tempat.
"Iya, Mas Juna."
Ketiganya pergi meninggalkan ruangan, dengan Dirga memimpin di depan. Sedangkan Nancy memilih diam tak berkata ketika jalan berdampingan dengan Juna. Gadis itu masih malu atas kejadian di antara mereka berdua ketika di pantry tadi.
Namun keduanya bingung, ketika Dirga tidak berjalan ke arah lobby. Langkah kaki itu malah menuju ke arah kantin karyawan.
Juna dan Nancy saling berpandangan, tanpa ada kata di antara keduanya.
Ketika kaki milik Dirga berhenti di depan pintu kantin, tiba-tiba suasana di dalam yang tadi riuh dan berisik, seketika berubah sunyi dan senyap.
Seluruh mata yang ada di dalam, tertuju kepada tiga sosok yang berdiri di pintu kantin.
"Mas?" panggil Nancy, "Mas Dirga mau makan di kantin?" tanya Nancy lagi yang tidak kunjung mendapatkan respon dari kakaknya.
Dirga tak menghiraukan pertanyaan Nancy. Ia seolah tak mendengar kata-kata dari adiknya.
Mata Dirga menelusuri seluruh area kantin yang cukup luas itu. Dia sedang mencari seseorang di sana. Seseorang yang sudah membuatnya kesal. Siapa lagi kalau bukan gadis yang baru saja menjadi kekasihnya, Amelia.
Mereka yang tengah asik bercengkrama dan becanda sembari menikmati santap makan siang, ikut terdiam dan berusaha mencari tahu.
"Kenapa jadi sepi gini, apa mati listrik yah?" tanya Dika.
"Apa hubungannya sepi sama mati listrik?" tanya Amelia.
"Biasanya kan gitu, Mel. Kalau lagi mati listrik, suasana sekitar berubah jadi senyap," ucap Dika.
"Masa sih? pemikiran kamu aneh, Dika."
Ketika akhirnya mereka mengetahui hal yang membuat keheningan di dalam kantin itu terjadi, seketika membuat teman-teman Amelia yang saat itu masih sempat-sempatnya mengeluarkan candaan atas keheningan yang tercipta, berubah ikut terdiam.
Berbeda dengan Amelia yang nampak biasa saja, manakala melihat prianya itu berdiri di pintu dan menatap ke arahnya dengan tatapan yang terlihat sedikit emosi di wajahnya.
Ngapain dia ada di sini? Apa selera makannya sudah menurun. Dan juga, kenapa tatapannya seperti mau makan orang. Amelia.
Apa? Kenapa gadis itu terlihat biasa saja. Apa dia tidak merasa bersalah padaku? Dirga.
Amelia lebih memilih becanda lagi dengan teman-temannya. Dia tidak menghiraukan tatapan emosi dari wajah Dirga.
Lambat laun suasana di dalam kantin pun kembali seperti semula, meski sang atasan masih setia berdiri di ambang pintu.
Juna dan Nancy baru paham apa maksud kedatangan mereka ke sana. Keduanya pun saling melempar senyum manakala gadis itu memilih cuek tidak peduli dengan keberadaan Dirga di sana.
Dirga nampak semakin emosi ketika ia melihat Amelia memilih berbicara dan becanda dengan teman-temannya dan tidak menghiraukan dirinya.
Ditambah lagi, saat ia perhatikan bahwa gadis itu tidak hanya bercengkrama dengan karyawan perempuan saja, tapi ada juga beberapa karyawan lelaki yang ikut mengobrol di sana, semakin membuatnya emosi.
Dirga memilih melangkahkan kakinya pergi meninggalkan kantin. Juna dan Nancy yang masih terheran atas sikap Dirga, ikut mengikuti langkah kaki itu dari belakang.
Syukur deh, dia menepati permintaan aku semalam. Amelia.
Gadis itu merasa tenang saat Dirga pergi meninggalkan kantin dan tidak nekad untuk menghampirinya.
"Ngapain yah, Pak Dirga, ke mari" tanya teman-teman Amelia.
Amelia sendiri memilih mengangkat bahunya. Tanda ia tak peduli dan tak mau tahu. Dan melanjutkan menikmati makan siang yang tadi sempat terjeda.
***
Mobil berhenti tepat di sebuah restoran. Dirga dan lainnya turun dari dalam mobil untuk masuk ke dalam.
"Mas, habis makan siang ini, aku pulang yah?" ucap Nancy saat mereka sudah duduk di salah satu meja di dalam restoran.
"Hem." Hanya itu jawaban Dirga. Mata dan tangannya sibuk memainkan ponselnya.
"Mas?" panggil Nancy, yang kesal merasa dicueki dari keluar kantor sampai sekarang mereka sudah berada di restoran.
"Apa?"
"Mas Dirga kenapa sih? Kok daritadi diem aja kaya yang lagi kesel." Nancy bertanya seolah tidak tahu menahu apa yang terjadi.
"Nggak kenapa-kenapa," jawab Dirga, dan berhenti memainkan ponselnya.
"Agenda Mas hari ini lumayan padat. Jadi sehabis makan, kamu ikut mobil dulu sampai ke tempat Mas Dirga ketemu rekan bisnis Mas. Setelah itu, biar Pak Ujang antar kamu pulang," ujar Dirga sambil menatap sang adik.
"Ok deh."
Dirga berusaha melupakan apa yang sedari tadi mengganggu pikirannya. Sebisa mungkin ia mengontrol emosinya sekarang.
Ia berpikir jangan sampai masalahnya kini, membuat ia hilang fokus dan konsentrasi saat nanti bertemu rekan bisnisnya. Meskipun Dirga yakin itu adalah sesuatu yang sulit ia lakukan.
***
Nah, aku kasih dua bab yah hari ini. Maafkan juga karena update-nya nggak sekalian. Harap maklum, karena kegiatan di dunia nyata pun lumayan padat.
Mudah-mudahan aku bisa update dua bab per hari ke depannya. Tapi kalau cuma satu bab, tolong jangan di bully yah :(
Selamat membaca :)
***