
Semua karyawan PT GeHa terlihat terkejut saat Harsa dan Ninta datang ke kantor. Mereka tidak tahu bahwa bos besar akan datang siang itu.
Termasuk satpam yang sempat hilang fokus, ketika mobil yang ditumpangi oleh mereka berhenti tepat di depannya.
"Euh... Selamat siang Bapak dan Ibu." Ucapnya setelah membuka pintu mobil sebelah kiri.
"Selamat siang." Jawab Harsa sambil menepuk bahu sang satpam.
"Bagaimana kabar Bapak dan Ibu?" Tanya satpam itu berbasa-basi.
Bukan sekedar basa-basi biasa yang di ucapkan oleh satpam yang bernama Hendra itu, tapi murni pertanyaan tulus yang ia ucapkan pada mantan atasannya yang terkenal akan kebaikan hatinya.
"Kabar saya dan Ibu baik, Pak Hendra. Gimana kabar Pak Hendra dan keluarga di rumah?" Jawab Harsa balik bertanya.
"Alhamdulillah, kabar saya dan keluarga juga baik, Pak Harsa."
"Syukur kalo begitu."
"Bapak mau bertemu dengan Pak Dirga?"
"Iya, mau mengunjungi putra saya. Bolehkan?"
"Ya tentu saja boleh, Pak. Apa hak saya melarang Bapak." Katanya tersenyum.
"Lah, kan saya tamu di sini. Jadi saya harus minta ijin dulu. Barangkali saya harus ada janji sebelumnya." Ikut tersenyum.
"Bapak ini masih saja seperti dulu, masih suka bercanda." Jawabnya sedikit terkekeh.
Tidak ada jarak di antara mereka. Itulah yang karyawan lainpun rasakan terhadap atasan mereka itu. Dan hal itu, tertular pada Dirga sang pewaris perusahaan.
"Mari saya antar Bapak dan Ibu ke ruangan Pak Dirga." Ajaknya pada Harsa.
"Tak perlu, Pak Hendra. Kami bisa sendiri. Bapak bisa melanjutkan pekerjaan Bapak di sini." Tolak Harsa secara halus.
"Oh.. Baiklah kalau begitu. Silakan, Pak." Ujarnya, sembari memberi jalan pada Harsa dan Ninta.
"Mari Pak Hendra." Pamit Ninta.
"Mari Ibu, silakan."
***
"Nih!" Seru Anya, sembari memberikan sebuah papper bag ke arah Amelia.
"Hah, apaan nih, Nya?" Ucapnya dan melihat isi dalam tas kantong belanjaan dengan logo butik di luarnya.
"Besok kan kamu udah mulai kerja, itu satu set pakaian kerja buat kamu."
"Ya ampun Anya, gak usah berlebihan gitu deh. Aku masih punya stok pakaian buat aku pakai kerja besok kok." Ujar Amelia.
"Mel, anggap aja itu hadiah dari aku karena kamu udah diterima kerja di perusahaan bonafit. Dan itung-itung hadiah karena kamu udah nemenin aku belanja." Ucap Anya tersenyum.
"Tapi, Nya..."
"Udah ah, pokonya kamu gak boleh nolak. Kalo kamu nolak, aku marah." Katanya dengan bibir merengut.
"Iya deh...aku terima. Makasih yah." Ucap Amelia tulus.
"Kamu udah kelar belanja bajunya?" Tanya Amelia kini.
"Udah. Nih!" Sambil mengangkat satu buah tas kantong belanja agak besar.
"Emang kamu cari baju apa sih?"
"Aku nyari gaun pesta. Kakak aku kan mau tunangan." Jawabnya sambil mengutak-atik ponsel di tangannya.
"Nanti kamu ikut yah, Mel!" Sembari menoleh ke arah Amelia.
"Ah, gak mau ah. Aku mana bisa datang ke pesta begituan."
"Ih... Emang pesta apaan. Kan acara pertunangan, Mel. Sama kaya orang nikahan, cuma versi mininya aja."
"Iya sama aja, level aku mana masuk sama kalangan kamu, Nya."
"Amelia, aku gak suka yah kalo kamu selalu ngomongin masalah level-level kaya gitu." Katanya sedikit kesal.
Perhatiannya kini beralih, berbicara menghadap Amelia.
"Ya, tapi kan kenyataannya emang gitu, Nya." Ucap Amelia masih dengan pendiriannya.
"Mel, kita semua ini sama di mata Tuhan. Status atau strata sosial ekonomi seseorang menurut penilaian manusia tuh, menurut aku nggak ada dan nggak berlaku. Yang membedakan itu, hanya sifat dan sikap tulus seseorang terhadap sesama." Tuturnya dengan raut wajah serius.
"Kamu memang beda, Nya. Seandainya semua orang kaya sama kaya kamu." Sahut Amelia.
"Hei, yang kaya itu bukan aku yah, tapi orang tua aku. Aku uang jajan aja masih minta sama Papa aku, Mel." Serunya sambil terkekeh.
"Iya deh."
"Tapi bener Nya, aku gak janji yah bisa ikut kamu ke acara tunangan kakak kamu."
"Kenapa lagi sih?"
"Aku lihat jadwal aku dulu."
"Ya udah deh terserah kamu aja. Nanti kamu kabarin aku yah. Acaranya sabtu malam minggu ini." Ujarnya.
"Udah yuk ah, kita cari makan dulu, abis makan baru kita nonton. Udah laper soalnya." Ajak Anya, kemudian bangkit berdiri.
***
"Selamat siang, Pak Harsa dan Bu Ninta." Sapa Rena.
"Selamat siang. Kamu...?" Jawab Pak Harsa yang menggantungkan kalimatnya.
"Saya Rena, sekertaris bapak Dirga." Ucap Rena.
"Oh, Rena. Sekertaris baru Dirga. Sudah berapa lama?" Tanya Bu Ninta.
"Saya sudah setahun bekerja di perusahaan ini, Bu." Jawab Rena. Dan dibalas anggukan kepala dari Ninta dan Harsa.
Gadis itu telah diberitahu oleh bagian resepsionis di bawah, bahwa orang tua Dirga sedang menuju ke atas.
Sebelumnya tadi pagi, Rena sudah diberitahu oleh Juna, kalau akan ada tamu besar yang akan datang hari ini.
"Tamunya siapa, Mas Juna?" Tanyanya waktu itu.
"Bos besar, Pak Harsa dan Bu Ninta, orang tua Pak Dirga." Jawab Juna, memberitahu sang sekertaris, yang memang belum sempat mengenal Pak Harsa.
Sebab, saat Rena bergabung dengan PT GeHa setahun yang lalu dan menjadi sekertaris Dirga, Pak Harsa sudah tidak pernah datang lagi ke perusahaan, semenjak jabatannya Ia wariskan pada Dirga, putra sulungnya.
Dan baru kali ini, Pak Harsa datang berkunjung, setelah berkali-kali diminta oleh sang putra, Dirga.
"Mari silakan, Bapak dan Ibu." Ujarnya, sembari membukakan pintu ruangan CEO.
Baru saja kaki-kaki itu memasuki ruangan, mereka sudah di sambut oleh Juna, asisten Dirga.
"Pak Harsa dan Bu Ninta." Seru Juna, yang langsung bangkit dari duduknya.
"Mas Dirga masih sibuk, Nak Juna?" Tanya Ninta, sambil melirik ruangan di belakang punggung Juna.
"Tidak Ibu. Pak Dirga sudah menunggu anda berdua sedari tadi." Ujarnya.
"Mari!" Melangkahkan kakinya lebih dulu, memimpin langkah-langkah kaki yang mengikutinya di belakang.
"Permisi, Pak." Seru Juna pada Dirga, yang sedang berdiri di depan kaca jendela kantor, menatap keluar bangunan.
"Ah, Ayah sama Ibu sudah datang." Sapanya, kemudian menghampiri Harsa dan Ninta. Menyalami kedua tangan orang tuanya.
"Kamu lagi ngelamunin apa, Mas?" Tanya Ninta. Yang menampilkan wajah tersenyum menggoda putranya.
"Aku nggak ngelamunin apa-apa kok, Bu."
"Ah, bohong. Tadi kamu nggak menyadari kedatangan kami berdua kalo asistenmu nggak bersuara." Ninta makin getol menjahili Dirga.
"Bener deh Bu, suer." Keukeuh Dirga sembari mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya.
"Sudah, sudah. Ibu ini kalau urusan jahil nomor satu deh." Lerai Harsa, suaminya.
Yang di tegur hanya tersenyum, bahagia.
"Duduk, Yah." Ajak Dirga.
"Ibu nggak ditawarin?" Ucap Ninta cemberut.
"Ish! Ibu nih, jahilnya nggak ketulungan tapi masih aja baperan. Aneh." Gantian kini Dirga yang meledek Ibunya.
"Sini duduk, Ibuku tersayang." Ajak Dirga, sembari memegang pundak ibunya dan membawanya untuk duduk.
"Bisa aja kamu nih, Mas. Ibu cuma becanda kok." Sahut Ninta.
"Maaf, Bapak dan Ibu mau minum apa? Biar saya siapkan." Tanya Juna, ketika semuanya telah duduk.
"Tidak usah repot Juna. Kita tidak lama kok di sini." Tutur Harsa.
"Iya, Nak Juna. Habis ini kita mau langsung jalan lagi kok." Ninta mendukung perkataan suaminya.
"Ayah sama Ibu ini gimana sih, baru juga sampai udah mau berangkat lagi."
"Trus kesini mau ngapain doang?" Protes Dirga pada kedua orangtuanya.
"Kan kita cuma mau mengunjungi kamu saja. Nah, ini kan Ayah sudah menepati janji Ayah sama kamu." Jawab Harsa sedikit tersenyum.
"Iya, tapi kan masa cuma duduk terus berangkat lagi, Yah." Masih protes.
"Terus kita mau ngapain lama-lama di sini." Tanya Ninta, dengan mata menatap sang buah hati.
"Ada yang mau aku tanyain masalah kantor, cuma mau minta pendapat aja sih, Yah." Tutur Dirga.
"Minta pendapat apa?" Tanya Harsa akhirnya.
Sebelum menjawab pertanyaan ayahnya, Dirga memberi perintah pada Juna.
"Kamu bawakan air putih dingin aja yah, Juna. Buat bapak sama Ibu. Untuk saya, tolong buatkan kopi. Kalo ada cemilannya, boleh sekalian dibawa." Perintah Dirga pada asistennya.
"Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi dulu." Ucap Juna, lalu melangkahkan kakinya ke luar ruangan.
***