My Boyfriend Is A CEO

My Boyfriend Is A CEO
Pesta ulang tahun pernikahan



Sosial media milik Amelia, tiba-tiba diserang haters. Entah mereka dapat dari mana akun miliknya, banyak akun yang tidak ia kenal, mengirim pesan dengan kata-kata yang menyakitkan.


Ketika ia dan Dirga makan di kantin awal pekan lalu, tak ada karyawan yang berani menghampiri atau mengumpat padanya. Namun setelah kejadian itu, mulai banyak bermunculan pesan-pesan yang dikirim, baik ke aplikasi pesan atau sosial media miliknya.


"Kamu kenapa? Apakah masih banyak yang menerormu?" tanya Dirga pada Amelia. Saat itu mereka tengah berada di dalam mobil, hendak pergi ke acara pesta perayaan pernikahan yang diselenggarakan oleh Pak Dimas pemilik PT Buana --rekan bisnis Dirga.


"Ya, sudah seminggu ini, rupanya mereka belum bosan." Amelia menaruh ponselnya ke dalam tas kecil.


"Apakah kamu masih merasa terganggu?"


"Tidak. Sepertinya aku sudah mulai terbiasa." Amelia tersenyum menatap sang kekasih.


"Sejauh ini, apa ada yang berani bermain fisik terhadapmu?"


Amelia nampak berpikir, "tidak ada!" Gadis itu menggeleng.


"Tapi Dirga, apa kamu serius memintaku untuk menemani ke acara pesta kalanganmu ini?" Amelia sejujurnya dari awal sudah menolak ajakan dari Dirga untuk menemaninya menghadiri pesta anniversary Pak Dimas. Namun, Dirga memaksa dan terus merayunya.


"Tentu saja aku serius. Kalau bukan kamu yang menemaniku, terus aku harus dengan siapa?"


"Kamu 'kan bisa berangkat sendiri, atau mungkin bisa minta antar Mas Juna."


"Sekarang itu malam minggu, tentu saja Juna sudah punya agenda sendiri bersama kekasihnya."


"Apakah Mas Juna sudah memiliki kekasih?" Tiba-tiba gadis itu penasaran.


"Apakah kamu kecewa kalau aku mengatakan, iya?" tanya Dirga balik, menatap lekat sang kekasih.


"Hah! Tentu saja tidak. Kenapa aku harus kecewa. Aku 'kan cuma tanya aja. Lagian selama ini aku tidak pernah melihat Mas Juna bersama dengan perempuan, baik di luar apalagi di kantor, eh ralat pernah aku lihat dia bersama Rena --sekertarismu-- beberapa kali. Apakah Rena kekasih Mas Juna?" tanya Amelia antusias.


"Untuk apa kamu tahu? apakah penting bagimu?" Bukannya memberikan jawaban, Dirga malah bertanya terus.


"Tidak penting, cuma penasaran aja, itu sudah jadi sifat alami seorang perempuan."


"Bukan penasaran, tapi memang selalu ingin tahu."


"Ya, ya, apapun itu sama saja. Jadi, siapakah kekasih Mas Juna?" Amelia kembali pada pertanyaan yang belum terjawab oleh Dirga.


"Aku tidak akan memberitahumu, nanti kamu kaget lagi."


"Hei, untuk apa aku kaget. Memang sebegitu terkenalnya 'kah perempuan itu. Apakah dia artis? atau seorang public figure yang akan membuat aku terkejut?"


"Dia bukan siapa-siapa. Tapi dia siapa-siapa bagiku."


"Heh! Maksudnya?" Amelia menatap sang kekasih yang tetap fokus menatap jalan raya.


"Apakah aku kenal?" tanya Amelia lagi karena tak kunjung mendapatkan jawaban.


"Ya, kamu kenal."


"Siapa?"


"Kamu ini kenapa sih, pingin tahu sekali kayanya." Dirga nampak tersenyum.


"Ya ampun, kekasihku ini bertele-tele sekali sih. Apa susahnya kamu kasih tahu aku!" Amelia mulai merajuk, membalas ucapan Dirga.


"Aku akan beritahu kamu. Tapi ada syaratnya!"


"Syarat? Masa cuma kasih info gitu aja harus ada syaratnya."


"Ya, terserah kamu."


Amelia memalingkan wajahnya saat sang kekasih tersenyum seolah menang.


"Ok, apa dulu syaratnya?"


"Ya ampun, ternyata kamu betul-betul penasaran sama perempuan yang sedang dekat dengan Juna."


"Aku sudah bilang, itu sifat alami perempuan," sungut Amelia.


"Baiklah, kita sudah sampai. Ayo turun!" Tanpa Amelia sadari, mobil telah berhenti di depan pelataran gedung sebuah hotel.


"Hei, kamu belum memberitahuku syaratnya!"


"Aku mau menginap di apartemen malam ini?" ucap Dirga di dekat telinga Amelia.


"A-apa? Mana mungkin!"


"Belum apa-apa kamu sudah terlihat grogi!" sahut Dirga tersenyum dan menjauhi wajahnya dari sang kekasih.


Amelia sudah tidak tahu lagi bagaimana wajahnya saat ini. Ia sangat yakin jika warna merah mirip kepiting rebus, terlihat di mukanya sekarang.


"Ayo turun!" ajak Dirga yang ternyata sudah berada di luar membukakan pintu untuk Amelia.


"Wajah malumu, simpan dulu untuk nanti." Dirga benar-benar senang menggoda.


"Dirga, sudah cukup."


"Baiklah, baiklah." Dirga memberikan tangannya untuk Amelia rengkuh.


"Dimana acaranya berlangsung?"


"Di aula sebelah timur."


"Sepertinya kamu hafal dengan hotel ini?"


"Apakah kamu lupa?" tanya Dirga balik.


Amelia nampak berpikir. "Owh! Bukankah ini hotel yang dulu aku ...?" Gadis itu menutup mulutnya dengan tangan yang satu.


Dirga mengangguk. "Ya, hotel yang sama dengan yang dulu." Amelia terdiam, tak ada lagi obrolan diantara keduanya hingga mereka tiba di depan sebuah pintu besar dengan dua orang penjaga di depannya yang berpakaian rapi dan formal.


"Dirga, maaf, tiba-tiba aku kebelet ingin buang air kecil. Kamu bisa masuk terlebih dahulu, aku akan menyusul nanti."


"Aku akan antar kamu."


"Tidak perlu, itu toiletnya dekat. Kamu tidak perlu khawatir," ucap Amelia menunjuk papan kecil di atas sudut lorong.


"Tidak apa-apa, aku akan menunggumu."


"Dirga, acaranya sudah akan dimulai, tidak akan enak jika kamu datang terlambat."


"Loh, aku 'kan bukan tamu penting, jadi tidak masalah jika aku datang terlambat. Yang penting 'kan aku datang memenuhi undangan mereka."


"Ya sudah, terserah kamu saja." Akhirnya Amelia menuju toilet dengan diantar Dirga.


"Apakah kamu butuh bantuanku di dalam?" tanya Dirga usil.


"Stop! Jangan mulai," ucap Amelia kesal.


"Aku 'kan hanya menawari jasa saja, Nona."


"Aku tidak butuh jasamu, Tuan!"


"Ah, sepertinya hatiku kecewa." Amelia tersenyum melihat tingkah Dirga yang entah mengapa sifatnya agak sedikit berbeda kini dari ia mengenalnya pertama kali.


"Sudah, tunggu di sini."


"Siap!"


Tidak membutuhkan waktu lama, gadis itu selesai dengan hajatnya, dan kini keduanya telah memasuki area ballroom, dimana pesta anniversary Pak Dimas dan sang istri ternyata telah dimulai.


Nampak seorang pria paruh baya, yang tak lain adalah Pak Dimas, tengah berbicara di atas panggung memberikan sambutan. Disampingnya berdiri sang istri yang terlihat cantik dan elegan meski usianya sudah tidak muda lagi.


"Kamu mau minum? Aku akan ambilkan!" Dirga menawari kekasihnya.


"Ya, boleh. Meladeni keusilanmu sejak tadi membuatku haus." Ucapan Amelia dibalas tawa oleh Dirga.


Dirga meninggalkan Amelia dan mencari stand tempat minuman berada.


"Apakah kamu tahu, jika pria itu adalah calon menantu Pak Dimas?" Bisik-bisik di dekat Amelia, membuat gadis itu penasaran.


"Benarkah? Yang mana?" Suara yang lain.


"Itu, yang di sana!" Tiga orang gadis yang terlihat sangat mewah dengan penampilannya, tengah membicarakan gosip tentang seorang pria yang akan menjadi calon menantu si pemilik hajat.


Ketika Amelia mendengar calon menantu bagi si pemilik pesta, entah mengapa hati dan pikirannya jadi penasaran. Siapakah lelaki yang beruntung menjadi pasangan bagi wanita sekelas Cintya, putri dari Pak Dimas.


Amelia melihat arah yang ditunjuk oleh ketiga gadis tadi. "Ah!" pekiknya. Di sana, nampak sang kekasih yang tengah mengambil minuman untuknya.


"Apakah pria yang dimaksud oleh ketiga gadis itu adalah kekasihku?" batinnya berbicara.


***