My Boyfriend Is A CEO

My Boyfriend Is A CEO
Ada Apa Denganmu?



Jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Para karyawan telah bersiap untuk pulang. Pun yang dilakukan oleh Amelia. Tugas utama yang diberikan oleh Bu Susi, manajernya, telah selesai ia kerjakan sejak siang tadi.


"Mel, yuk balik!" ajak Sofi.


"Ok, kamu duluan aja, Sof. Aku rapihin meja aku dulu nih."


"Udah, aku tungguin, tenang aja. Ojek aku juga belum datang."


"Oh, ya udah. Bentar yah."


Amelia dengan segera merapikan alat tulis kantor yang berserakan di atas meja.


"Yuk!" ajak gadis itu pada temannya, Sofi.


"Mirna, aku pulang duluan yah," pamit Amelia ketika melewati meja Mirna, sang sekertaris, yang masih berkutat dengan pulpen dan dokumen di tangannya.


"Oh iya, Mel. Aku harus lembur nih. Tugas dari Bu Susi belum selesai, masih sedikit lagi."


"Ok."


"Yuk, semuanya. Aku pulang duluan," pamit Amelia pada rekan-rekannya yang masih menyelesaikan beberapa pekerjaan.


"Iya, Mel."


Amelia dan Sofi melangkah meninggalkan ruangan. Dari tiap ruangan muncul beberapa karyawan dari divisi berbeda. Keduanya kemudian menghampiri lift, untuk membawa mereka ke lantai satu.


Saat lift berhenti dan pintu terbuka, ternyata kotak berjalan itu sudah hampir terisi penuh dengan karyawan dari lantai atas. Beruntung masih ada space kosong untuk Amelia dan Sofi, sehingga mereka tidak harus menunggu lift sebelah berhenti.


"Tring"


Suara lift berhenti ketika mereka sudah tiba di lantai satu. Satu persatu karyawan keluar dari dalam lift. Amelia dan Sofi melangkah maju lebih dulu karena mereka adalah orang yang terakhir masuk, otomatis akan berdiri di posisi depan.


"Mel, pulang naik apa?"


"Aku? Biasa lah, Sof. Tinggal pesan ojek online. Beres," jawabnya sambil menggoyangkan Handphone-nya.


"Oh ... eh, ojek aku udah ada tuh." Sofi menunjuk ke arah luar, ketik dilihatnya ada sebuah motor parkir di depan gedung kantor menyatu dengan beberapa motor lainnya.


"Ok deh, kamu duluan aja. Aku baru mau pesen nih."


"Ya udah, Mel. Aku duluan yah."


"Ok. Hati-hati, Sof." Sofi membalas dengan melambaikan tangannya.


Saat Amelia akan menekan aplikasi ojek online, ada sebuah panggilan masuk ke ponselnya.


"Bima's calling..."


"Hallo, Mas Bima."


[Hallo! Selamat sore, Mba Amel.]


"Iya, selamat sore."


[Mba Amel, udah pulang kerjakah?]


"Sudah. Ini lagi mau pesan ojek. Ada apa yah, Mas Bima?"


[Kebeneran, aku lagi di depan kantor Mba Amel, nih. Udah pesen ojeknya belum?]


"Eh, belum. Baru mau."


[Oh, ya udah. Bareng aku aja, Mba. Ini aku tunggu di depan, deket warung yah, Mba.]


"Oh, gitu. Ok, aku ke sana."


Diputusnya sambungan telepon dengan sang ojek online, Bima. Kemudian kedua kakinya ia langkahkan menuju ke luar pelataran gedung.


Ketika ia sudah berada di pinggir jalan, dicarinya sosok Bima di dekat warung, seperti yang tadi pria itu bilang.


"Mba Amel!"


Amelia menangkap suara dari arah depan. Sosok itu sedikit terhalang oleh beberapa orang yang sedang berdiri menunggu angkutan umum lewat.


"Mas Bima!" Gadis itu melangkah mendekati Bima.


"Udah di sini dari tadi?" tanya Amelia.


"Lumayan, tiga puluh menit yang lalu lah."


"Sengaja nungguin aku, Mas?"


"Antara iya dan nggak sih, Mba."


"Maksudnya?"


"Tadi kebetulan ada konsumen yang tujuannya ke arah sini. Saya inget jam pulang kantor biasanya jam lima sore, jadi aku tunggu Mba Amel aja sekalian."


"Nggak apa-apa kok, Mba. Kan aku bilang sekalian," ucap Bima.


"Mau pulang sekarang?" lanjutnya.


"Iya. Yuk!" ajak Amelia.


"Siap!" sahut Bima dengan gaya memberi hormat.


"Helm?" ucap Bima sembari menyodorkan pelindung kepala berwarna hitam.


"Iya dong. Patuhi aturan lalu lintas dalam berkendara," jawab Amelia tersenyum.


Motor mulai memasuki jalan raya yang sudah menampakkan kepadatannya. Saat jam pulang kerja, bukan sesuatu hal yang aneh bila macet di sana sini.


Kemacetan itu juga dirasakan Amelia ketika akan pulang ke rumah. Setiap hari pasti suasana ini akan gadis itu alami bila pulang tepat waktu.


Seketika Amelia teringat hari kemarin saat ia pulang telat. Hari bersejarah dalam hidupnya, ketika ia memutuskan untuk menerima cinta dari pimpinannya.


Hari dimana ia merasakan yang namanya hati berbunga-bunga. Meski dulu ia pernah berpacaran, tapi rasa yang ditimbulkan sekarang, entah mengapa terasa berbeda.


Seketika wajahnya memanas. Ia masih suka malu sendiri bila adegan romantisnya dengan Dirga kemarin itu selalu datang tanpa dipinta.


Bagaimana bisa, ia dengan mudahnya jatuh dalam pelukan dan buaian lelaki itu. Begitu pikirnya.


Tapi tanpa sadar, gadis itu menyukainya. Sensasi indah yang baru pertama kali ia rasakan dalam hidupnya itu, membuatnya ingin selalu berada di dekat Dirga.


Tapi perkenalannya hari ini dengan seorang gadis cantik bernama Nancy, membuat mood juga rasa rindunya terhadap lelaki itu, hilang begitu saja.


Ia kesal dan sedikit marah. Cemburu? Mungkin iya. Tapi bolehkan bila ia cemburu. Tanyanya dalam hati.


Meskipun ia belum pernah menyatakan perasaannya terhadap Dirga, tapi ia seolah tidak suka bila ada wanita lain di hati Dirga.


"Mba! Mba Amel!"


"Eh, iya, Mas Bima. Ada apa?" Amelia tersadar dari lamunannya.


"Mba Amelia, kenapa? Kok aku panggil dari tadi, nggak nyahut."


"Nggak apa-apa kok, Mas Bima. Mungkin suara dari Mas Bima nggak kedengeran sama aku."


"Oh, mungkin. Tapi aku udah teriak-teriak manggil, Mba Amel, loh dari tadi."


"Iya kah? Oh, maaf kalau begitu, aku nggak tahu."


"Nggak apa-apa, Mba. Nyantai aja."


Amelia seketika malu dengan tingkahnya sendiri. Ia tidak tahu kenapa tiba-tiba jadi memikirkan Dirga.


***


"Mba Amelia sudah pulang, Pak," lapor Juna kepada Dirga.


"Naik apa dia?"


"Doni bilang, Mba Amelia pulang dengan ojek langganannya, Pak."


"Ojek langganan? Sejak kapan Amelia punya ojek langganan? Kenapa Doni tidak pernah kasih kabar sama kamu jika gadis itu punya ojek langganan."


"Kurang tahu, Pak. Mungkin Doni pikir itu bukan sesuatu hal yang serius. Karena selama ini, Mba Amelia baik-baik saja."


"Siapa ojek langganannya itu? Siapa namanya? Orang mana? Di mana tinggalnya?" Dirga memberondong Juna dengan beberpa pertanyaan.


"Saya belum dapat info serinci itu, Pak."


"Ya, kamu cari. Suruh Doni mencari tahu lebih detail tentang supir ojek itu."


"Baik, Pak."


Dirga dan Juna baru saja kembali dari tempat terakhir meetingnya bersama klien. Mereka baru tiba di kantor ketika beberapa karyawan telah pulang, termasuk Amelia.


Seharian ini, Dirga benar-benar tidak bisa fokus pada setiap meeting yang dijalaninya. Harus beberapa kali, Juna lah yang memimpin pertemuan dengan beberapa rekan bisnisnya.


Ada apa dengan gadis itu? Kenapa ia seolah menghindariku?


Arghhh! Kamu membuatku lupa akan sekitar, Amelia. Dirga.


***


Sudah yah, jangan bilang sedikit lagi. Ini udah lebih dari seribu kata loh, Kak :)


Satu bab dulu yah untuk hari ini. Hayati sedikit lelah, karena lagi kejar target juga untuk karya yang lain, mohon pengertiannya :(


So, selamat membaca :)


***