
"Hadirin yang saya hormati, pada kesempatan kali ini juga, saya sebagai ayah dari seorang putri --Cintya-- ingin menyampaikan sebuah berita bahagia kepada kalian semua."
Pak Dimas yang masih berdiri di depan panggung, nampak menyampaikan kabar yang ditunggu-tunggu oleh para tamu yang hadir.
"Kamu kenapa?" tanya Dirga pada kekasihnya, yang tiba-tiba nampak badmood. Dirga telah kembali setelah mengambil dua gelas minuman untuk dirinya dan Amelia.
"Enggak kenapa-kenapa." Amelia berkilah, meski hati dan pikirannya tengah merasakan hal yang lain.
"Aku tahu kamu berbohong." Dirga menatap sang kekasih, "ada apa?"
"Dirga, apa kamu memaksa aku datang kemari hanya untuk membuatku cemburu?"
"Hah! Apa maksudmu?" tanya Dirga heran. Namun, Amelia kunjung tidak memberikan jawaban. Hingga bisik-bisik dari kumpulan para gadis terdengar oleh Dirga.
"Benarkan, sepertinya akan ada pengumuman calon menantu untuk keluarga Pak Dimas." Suara dari salah satu wanita yang terlihat seksi dengan gaun berwarna hitam.
"Yang tadi mengambil air minum bukan?" tanya wanita lainnya.
Dirga sepertinya tahu arah pembicaraan dari para wanita di dekat meraka itu, dan juga mengapa sang kekasih tiba-tiba mengalami badmood.
"Aku mau cari tempat duduk!" ujar Amelia tiba-tiba
"Tunggu, Sayang!" Amelia tidak menghiraukan sang kekasih. Ia pergi begitu saja meninggalkan Dirga dan menelusup dari para tamu yang berdiri, tengah mendengarkan si tuan rumah berbicara.
"Hadirin semuanya, sebentar lagi akan saya akan panggilkan seorang pria yang akan menjadi bagian dari keluarga Surya, yaitu seorang pria yang sebetulnya sudah kami kenal dengan sangat baik."
Amelia semakin terlihat kesal, gadis itu semakin merasakan perasaan yang tidak menentu manakala melihat suasana yang saat ini nampak dihadapannya.
"Cintya, putri semata wayang keluarga Surya, yang malam ini sangat cantik, hasil make over dari sang Mama. Kemari, Sayang!" Pak Dimas meminta Cintya untuk naik ke atas panggung.
Cintya berjalan dengan elegan, menaiki tangga dengan dibantu salah seorang pria yang sepertinya adalah panitia acara.
"Cintya adalah putri kami satu-satunya," ucap Pak Dimas sambil menggenggam tangan Cintya dengan didampingi sang istri --Ibu Siska-- di sampingnya.
"Sungguh kebahagiaan yang sangat lengkap bagi saya dan istri, dimana malam ini selain merayakan ulang tahun pernikahan ke dua puluh lima bagi kami berdua. Juga ada sebuah berita gembira yang kami ingin kalian mengetahuinya, yaitu memperkenalkan calon suami bagi putri kami, Cintya."
Pandangan para tamu nampak fokus ke atas panggung. Termasuk Dirga salah satunya. Namun beda yang saat ini dipandangi oleh Amelia. Gadis itu bukan menatap ke arah panggung, tapi malah menatap sang kekasih yang tidak berkedip mendengarkan kalimat dari Pak Dimas.
"Tidak perlu menunggu lama, saya panggilkan saja, Marcel! Sini, Nak!" Pak Dimas menatap ke arah bawah panggung sebelah kanan. Seorang pria tampan berkacamata dengan penampilan yang sama-sama berkelas dengan si pemilik hajat, menaiki tangga dan berjalan menghampiri ketiganya.
"Hadirin semua yang berada di dalam ballroom ini, kami berdua --saya dan istri-- ingin meminta restunya untuk kelancaran acara pernikahan antara putri kami Cintya dan calon menantu keluarga Surya --Marcel-- yang insya Allah akan kami selenggarakan bulan depan."
Riuh suara tepuk tangan dari para tamu undangan yang hadir di pesta tersebut. Dirga pun melakukan hal yang sama, dengan wajah tersenyum ia terlihat terus menatap ke arah panggung. Senyuman itu sebetulnya bukan untuk kebahagiaan sang calon pengantin, namun senyum Dirga dikhususkan kepada kekasihnya --Amelia-- yang saat ini terlihat keki.
Amelia nampak menunduk dengan wajah yang sudah memerah. Pencahayaan lampu yang dibuat sedikit remang khas acara pesta, menguntungkan gadis itu dari rasa malunya terhadap sang kekasih.
Flashback On
"Pak Dirga!" seru seorang wanita yang tiba-tiba mengagetkan Dirga.
"Mba Cintya!" sahut Dirga. Cintya nampak tersenyum berjalan menghampiri pria yang saat itu terlihat tampan dengan setelan jas biru navy-nya.
"Sudah datang dari tadi?" tanya wanita itu.
"Oh, enggak kok, baru saja. Apakah saya datang terlambat?"
"Ah, mungkin sedikit," sahut Cintya tersenyum. "Mau ketemu Papa? Tadi soalnya beliau menanyakan Anda," lanjut Cintya yang malam itu nampak cantik dan elegan dengan gaun putihnya.
"Pak Dimas masih memberikan sambutan. Biar nanti saja."
"Ehm, baiklah. Anda datang sendiri atau ... ?"
Tanpa mereka sadari, banyak pasang mata yang melihat perbincangan keduanya. Termasuk seorang gadis yang terlihat tiba-tiba murung setelah melihat keakraban yang terjalin antara Dirga dan Cintya, dia adalah Amelia.
"Pak Dirga, kenalkan ini Marcel. Dia ... ?" Cintya menarik tangan salah seorang pria yang ternyata tanpa Dirga sadari, berdiri didekatnya. Pria itu sama-sama sedang mengambil minum.
"Marcel!" ucap pria itu sembari mengulurkan tangannya. Pria berkacamata itu tersenyum.
"Dirga!" Dirga meraih tangan itu dan menjabatnya.
"Apakah kalian berdua ... ?" Dirga memberikan pertanyaan menggantung dengan senyuman yang tak pernah hilang.
"Saya minta doa restunya, Pak Dirga. Bulan depan kami telah merencanakan untuk menikah." Marcel tersenyum malu saat menyampaikan berita bahagia tersebut.
"Oh. Sungguh berita yang sangat baik dan tentu akan membuat bahagia siapa saja yang mendengarnya. Selamat untuk kalian. Semoga lancar sampai hari H-nya nanti." Dirga kembali mengulurkan tangannya kepada Marcel dan juga Cintya.
"Terimakasih, Pak Dirga!" seru Cintya.
Flashback Off
"Mau sampai kapan kamu mendiamkan aku begitu?" tanya Dirga pada sang kekasih. Saat itu keduanya sudah berada di dalam mobil menuju arah pulang.
"Sayang!" Dirga kembali memanggil.
"Hem!" jawab Amelia.
"Hei! Apakah seperti itu jawabanmu?" Dirga nampak menahan tawa akibat kekasihnya yang terlihat tengah merajuk.
Ya, Amelia masih merasa malu akibat sikapnya tadi di acara pesta Pak Dimas. Ia merutuki dirinya sendiri yang sudah bersikap cemburu pada Dirga, tanpa mencari kebenarannya terlebih dahulu.
"Tertawalah! tidak perlu kamu tahan seperti itu." Amelia menatap Dirga yang tetap fokus menyetir.
"Aku tahu saat ini kamu ingin menertawakan aku."
"Hei, kenapa kamu jadi sensitif begitu. Apakah aku terlihat tengah menertawakanmu?" tanya Dirga.
"Tidak, tapi aku tahu kalau kamu sedang menahan tawa." Amelia kembali berkata dengan menahan rasa malunya.
"Sudah, sudah, ayo turun!" Keduanya telah sampai di parkiran apartemen. Amelia, tanpa dibukakan pintu oleh sang kekasih seperti biasanya, membuka pintu sendiri dan berjalan meninggalkan Dirga yang masih menutup pintu mobil dan menguncinya.
Masuk ke dalam lift dan berhasil dikejar oleh Dirga, karena langkah kaki sang kekasih yang panjang.
Tanpa Amelia sadari, tiba-tiba Dirga mendorong tubuhnya ke pojok lift yang terlihat luas karena hanya ada mereka berdua di dalamnya.
Dirga mengukung gadisnya dan menatap kedua netra hitam milik sang kekasih.
"K-kamu mau apa, Dirga? I-ini di dalam lift, ada kamera di atas kita!" Dirga spontan melihat ke arah kamera lift saat Amelia berkata demikian.
Namun bukannya melepaskan kungkungannya, Dirga malah tersenyum. "Apakah menurut kamu aku peduli?" Dirga semakin tersenyum penuh arti.
"A-aku minta kamu jangan macam-macam, Dirga. Tidak baik kalau ada orang yang melihat kita seperti ini."
"Kenapa kamu gugup seperti? Dan juga, kenapa sekarang kamu banyak bicara, padahal sejak kita pulang dari acara pesta, kamu terlihat diam tak bersuara."
"E-eh itu karena, eh-mmm ... !"
Sudah bisa ditebak namun tak disangka oleh Amelia. Dirga tidak menghiraukan kamera yang dapat merekam aksi keduanya tersebut. Amelia tak kuasa menahan tubuhnya saat sang kekasih terus memainkan bibir dan lidahnya tanpa jeda. Dengan sigap Dirga mengangkat tubuh langsing Amelia, dan membawanya keluar, tepat ketika lift berbunyi di lantai tempat ruang apartemen miliknya berada.
Tautan itu masih terjadi hingga mereka masuk ke dalam apartemen. Beruntungnya hari sudah malam, sehingga aksi romantis keduanya tidak ada yang melihat.
***