
"Apa agenda saya siang ini?" tanya Dirga setelah meeting dengan PT. Xena selesai.
"Hari ini Bapak tidak ada acara di luar. Hanya beberapa berkas dan dokumen yang belum Bapak periksa dan tanda tangani," katanya sembari melihat layar tablet serta menunjuk tumpukan map di atas meja bos nya.
"Oh yah, ngomong-ngomong, bagaimana kabar gadis semalam, siapa nama nya?"
"Namanya Amelia, Pak."
"Iya Amelia. Apa gadis itu masih di hotel?"
"Menurut info dari staf Resepsionis, Ia sudah pergi dari hotel pagi tadi Pak."
"Oh begitu."
"Apa Bapak ada perintah lain mengenai gadis itu?"
"Maksud kamu?" sahut Dirga tak mengerti dengan pertanyaan asistennya.
"Ya, apa barangkali Bapak mau saya membawa gadis itu kemari? karena sepertinya Bapak memiliki ketertarikan terhadapnya." Sedikit menggoda bos nya.
"Hei, maksud kamu apa. Sok tahu kamu. Jangan berlebihan," berusaha mengelak.
Ngeles aja. Padahal dari awal juga udah keliatan kali Bos. Juna
"Kamu lagi ngomongin saya, Juna?" seolah bisa membaca pikiran anak buah di depannya.
"Ah enggak Pak. Mana berani saya ngomongin Bapak," sembari tersenyum garing.
Si Bos sensi bener deh. Kaya perempuan lagi datang bulan aja. Juna
"Mau berkelit kaya gimana juga, dari muka kamu kelihatan, kalo kamu lagi ngomongin saya."
"Heuh...!!" dengan tampang sedikit bl**n merasa kaget dengan perkataan bos nya barusan.
"Sudah sudah. Saya mau makan siang. Kamu tolong pesankan makanan buat saya. Saya lagi malas keluar kantor."
"Ehm, Baik Pak," tanpa banyak bertanya lagi, seolah tahu menu makanan kesukaan bos nya.
***
"Mel..?"
"Ehm..." masih berkutat dengan pikirannya sendiri.
"Apa yang Pak Dirga lakuin sama kamu semalam?" tanya Boby hati-hati.
"Maksud kamu Bob?" mulai menyimak.
Aduh gimana nanya yah, tar disangka aku kepo lagi. Boby
Emang kepo kamu Bob. Author
Hei author kamu yang bikin cerita, kasih tahu dong ini gimana kata-kata yang gak bikin si Amel kesinggung. Boby
"Ehm.. Mksud aku, apa Pak Dirga bertindak yang macem-macem sama kamu semalam, Mel?" bertanya sambil memejamkan mata, jaga-jaga dapat teriakan yang bisa bikin kuping panas.
Amelia tersadar. Buru-buru Ia menginstall memorinya dengan keadaan ketika Ia bangun tidur di hotel tadi pagi. Ia tidak sadar dengan kejadian semalam, terakhir yang Ia ingat hanya acara pesta di cafe, ngobrol bareng teman-temannya yang lain. Kemudian ia terbangun di pagi hari dalam kondisi kepala yang sedikit berat dan tubuh yang telanjang.
Boby melihat tingkah aneh sahabatnya.
"Coba tolong kasih tahu aku contohnya kalo aku abis di apa-apain tuh kaya gimana, Bob?"
Boby melongo. Sahabatnya ini memang super duper oneng kalo untuk urusan beginian. Makanya bukan hal yang aneh kalo Ia selalu ditinggalkan oleh pacar-pacarnya dulu.
Memang dari segi penampilan, Amelia bukan gadis norak atau kampungan. Tapi untuk urusan hubungan intim antara perempuan dan laki-laki, Ia adalah gadis yang cupu dan kuper.
Boby berani jamin, sahabatnya ini belum pernah merasakan yang namanya ciuman. Bukan tanpa alasan bila Amelia tidak atau belum pernah melakukan hal itu, semua nya di dasari karena kehidupan keluarganya yang menjungjung tinggi nilai-nilai agama dan adat ketimuran.
Meski Boby juga berasal dari keluarga yang tidak berbeda jauh dengan Amelia, namun seiring waktu mereka mengenal teman-teman dan pergaulan yang baru di bangku kuliah, lambat laun Ia mulai terbawa arus. Namun Boby bersyukur karena bersahabat dengan Amelia, sehingga Ia tidak sampe kebablasan.
"Ehm, contohnya gini Mel. Ehm.. Gimana yah kasih tahunya.."
"Aduh aku tuh kan lelaki Mel, gak enak banget nanya nya.."
"Ya elah Bob, biasa aja kali, kamu kaya ngomong sama siapa aja pake acara gak enak."
Si Amel nih bener-bener deh ah. Boby
"Mel, kamu ada bekas merah, memar atau luka-luka nggak di sekitar tubuh kamu?"
Terlihat Amelia berpikir sejenak sambil melihat isi dalam kaosnya yang Ia lihat melalui bawah lehernya.
Ya Ampun ini bocah yah, nggak bisa apa periksanya di dalam kamar atau kamar mandi gitu. Boby
"Seinget aku nggak ada Bob."
"Ok. Trus...!"
Amelia masih menatap sahabat di depannya menunggu kata-kata yang akan dikeluarkannya.
"Ngelihatnya biasa aja kenapa Mel, aku yang grogi nih," sambil menutup wajah sahabat di depannya dengan telapak tangan kanannya.
"Ah sialan kamu, Bob. Aku udah serius-serius nunggu ini."
"Lagian itu muka bikin aku senewen gak fokus."
"Emang apa yang mau kamu tanyain?"
"Mel, ini rada sensitif. Gini kamu ngerasain nyeri atau luka nggak di daerah kewanitaan kamu?"
Berharap jawaban dan bukan tatapan emosi yang nampak di hadapannya sekarang.
"Ma.. Maksud kamu Bob?" kata Amelia terbata. Bukan emosi seperti yang dipikirkan Boby tapi raut wajah yang tiba-tiba malu dengan pertanyaan dari sahabatnya ini.
"Maaf Mel, aku cuma pingin mastiin aja kira-kira apa aja yang udah dilakuin sama Pak Dirga semalam. Apa betul Ia hanya berniat menolong kamu atau malah ada maksud lain setelah membawa kamu ke hotel."
Tanpa Boby jelaskan lebih jauh, Amelia paham dan mengerti arah omongan sahabatnya itu.
Haruskah Ia bersyukur karena kesemua contoh yang Boby sebutkan tadi, tidak ada sama sekali yang Amelia rasakan?
***