
"Selamat siang, Pak Dirga!" sapa Cintya saat sudah berada di dalam ruangan.
Ya, wanita yang dimaksud oleh sekertaris Dirga --Rena-- ternyata adalah Cintya, putri Bapak Dimas, pemimpin PT Buana --rekan bisnis PT GeHa.
"Selamat siang Mba Cintya. Silakan duduk!" Dirga meminta Cintya untuk duduk di sofa.
"Ya, terimakasih."
"Tumben sekali Anda datang kemari, apakah ada yang bisa saya bantu?" tanya Dirga, tanpa basa-basi.
"Eh, iya, maaf jika kedatangan saya kemari, mengganggu pekerjaan Anda, Pak Dirga?"
"Oh, tidak. Kebetulan saya pas lagi ada di kantor, jadi sama sekali tidak mengganggu." Cintya nampak tersenyum malu, karena Dirga terus menatapnya.
Sebetulnya tidak ada maksud sama sekali dari tatapan Dirga pada Cintya, pria itu hanya menghormati lawan bicaranya ketika berbicara.
"Begini, Pak Dirga. Saya diberi amanat oleh papa saya, untuk mengantar sebuah undangan untuk Pak Dirga." Cintya mengeluarkan sebuah undangan yang nampak mewah, berwarna merah maroon dengan pita di tengahnya.
"Undangan apa ini?" Sembari mengambil undangan yang Cintya taruh di atas meja.
"Kedua orang tua saya mengadakan pesta anniversary yang ke dua puluh lima tahun."
"Oh yah, ulang tahun pernikahan perak. Kapan?" Sambil membaca tulisan yang ada di dalam undangan.
"Sabtu malam minggu ini."
"Wah, mendadak sekali. Hanya tinggal berapa hari lagi?" Bertanya pada diri sendiri.
"Iya, maaf, Pak Dirga. Saya baru sempat memberikannya hari ini. Beberapa hari kemarin saya ada tugas keluar kota."
"Mengapa tidak lewat telelon saja, dan tidak perlu merepotkan diri begini jika Mba Cintya sedang sibuk."
"Mana mungkin saya mengundang Anda melalui telepon, Pak Dirga. Sepertinya kurang pantas." Cintya bicara sambil membetulkan posisi duduknya. Entah mengapa, ia kini nampak terlihat grogi duduk berhadapan dengan Dirga. Padahal sebelumnya tidak pernah seperti itu.
"Mbak Cintya mau minum apa?" tanya Dirga telah siap hendak menyuruh Juna membawakan minuman.
"Eh, tidak perlu, Pak Dirga. Tidak perlu repot, saya cuma sebentar karena saya mesti kembali ke kantor sekarang juga." Juna yang telah bersiap hendak bangun dari duduknya, tak ayal urung terjadi.
"Mengapa sebentar sekali sampai tidak sempat untuk minum segala."
"Iya, maaf sekali, Pak Dirga. Tapi saya betul-betul harus pergi. Sudah banyak pekerjaan yang menanti saya menjelang lengsernya Papa."
"Oh begitu. Sepertinya Anda tengah disibukkan oleh urusan penting. Baiklah, semoga lancar dengan pekerjaannya, Mba Cintya."
"Terimakasih, Pak Dirga. Kalau begitu saya permisi. Mengenai undangan tadi, Papa sangat berharap akan kedatangan Pak Dirga saat pesta nanti."
"Oh, ya. Karena undangan ini sangat mendadak, saya harus mengecek jadwal lagi sepertinya." Cintya tersenyum mendengar kalimat yang Dirga ucapkan.
Cintya bangun dari duduknya dan mengulurkan tangan kepada Dirga, keduanya saling berjabat tangan.
"Selamat siang, Pak Dirga. Saya permisi."
"Selamat siang, Mba Cintya. Hati-hati di jalan."
Juna mengantar kepergian Cintya hingga keluar ruangan. Tepat saat membuka pintu, nampak seorang pegawai wanita terlihat berdiri di depan meja sekertaris.
"Permisi, Mas Juna. Terimakasih sudah mengantar."
"Sama-sama, Mba Cintya."
Cintya berjalan meninggalkan ruangan Dirga, melewati pegawai wanita dan sekertaris --Rena-- ia tersenyum. Disambut oleh senyuman yang sama oleh keduanya.
"Maaf, Mas Juna. Apa Pak Dirga masih sibuk?" tanya pegawai wanita itu, yang tak lain adalah Amelia.
"Sepertinya beliau sudah tidak sibuk. Silakan masuk saja ke dalam, Mba Amelia.
" Apakah tidak apa-apa?" tanya gadis itu lagi.
"Ya, tentu saja tidak apa-apa."
"Baiklah kalau begitu, aku permisi." Amelia membuka gagang pintu kantor Dirga --kekasihnya. Kemudian ia masuk dan tak terlihat lagi. Rena yang sedari tadi diam, hanya memperhatikan saja percakapan diantara keduanya.
"Apakah betul dengan gosip terbaru di kantor ini, kalau Amelia adalah kekasih Pak Dirga?" tanya Rena, yang sepertinya sudah penasaran sejak Amelia datang ke lantai sepuluh untuk menemui Dirga.
"Itu bukan gosip." Juna menjawab singkat.
"Hah!" pekik Rena. "Jadi benar berita itu?" tanya gadis itu memastikan.
"Ya ampun, aku sampai tidak tahu. Berarti ketika Amelia datang kesini beberapa waktu lalu, apakah saat itu mereka sudah menjalin hubungan?"
"Ehm, sepertinya saat itu mereka sedang dalam tahap pendekatan."
"Ah, beruntungnya Amelia. Dia baru bekerja di sini, tapi bisa mengalahkan para senior yang memang sudah lama menyukai Pak Dirga." Gadis itu nampak menerawang.
"Amelia dan Pak Dirga sudah saling mengenal sebelum gadis itu masuk kerja di sini dan juga aku rasa para karyawan wanita itu bukan menyukai Pak Dirga."
"Maksudnya, Mas Juna?"
"Ya, maksud aku, para karyawan yang menyukai Pak Dirga itu, bukan murni menyukai beliau, tapi karena rasa obsesi semata. Layaknya orang yang menyukai idolanya, bukan karena rasa suka antara wanita terhadap pria."
"Begitukah? Kenapa sepertinya Mas Juna tahu sekali dengan pikiran mereka?"
"Enggak perlu kamu tahu kenapa bisa aku menebak pikiran mereka. Aku juga tahu pikiran kamu seperti apa, Ren!"
"Benarkah?" Rena nampak panik, apakah perasaan suka dirinya pada pria di depannya itu telah diketahui oleh yang bersangkutan.
Juna hanya mengangguk. "Sudahlah, tidak perlu dibahas. Sekarang aku mau makan siang ke kantin. Apa kamu mau bareng?" tanya Juna hendak beranjak pergi.
"I-iya, bareng, Mas. Tunggu sebentar!" Rena merapikan sedikit pekerjaannya kemudian menyusul Juna yang sudah melangkahkan kakinya terlebih dahulu.
"Apakah tidak apa-apa, Mas Juna meninggalkan Pak Dirga?" Mengimbangi langkah Juna.
"Ini sudah waktunya makan siang, tentu saja tidak apa-apa. Beliau juga pasti hendak makan siang bersama dengan kekasihnya."
"Wah, senangnya Amelia. Sepertinya akan menjadi makan siang romantis untuk keduanya." Juna tidak merespon, ia hanya tersenyum sambil masuk ke dalam lift, untuk membawa mereka ke kantin.
***
"Apakah kamu masih sibuk?" tanya Amelia sesaat memasuki ruangan Dirga. Dilihatnya sang kekasih tercinta tengah menatap lembaran berkas di atas meja.
"Ah, kamu sudah datang? Kemari sini!" Dirga mengayunkan tangannya pada Amelia.
"Kalau kamu masih sibuk, kamu bisa teruskan dulu pekerjaannya." Semakin dekat ke tempat Dirga duduk.
"Argh! Dirga!" Amelia terpekik kaget saat Dirga menarik tangannya, yang mengakibatkan gadis itu jatuh dipangkuan sang kekasih.
"Ini sudah waktunya makan siang, untuk apa aku masih repot-repot bekerja?" ucap Dirga sembari hidungnya yang mulai menghirup aroma wangi dari leher Amelia.
"A-ah, Dirga! Bukankah kita mau makan siang?" tanya gadis itu yang turut menikmati sentuhan dari kekasihnya.
"Sebentar saja!" Tangan yang ikut menjalar ke belakang leher gadisnya dan menciumi pipi hingga ke telinga Amelia. Menggigit kecil di sana. "Akh!" desah suara sang gadis, malah membuat Dirga bernafsu.
"Bagaimana kabar disana setelah para karyawan tahu kalau kamu adalah kekasihku?" Masih menggerayangi wajah Amelia.
"Ternyata pikiranku tidak sesuai dengan kenyataan." Berkata sembari memejamkan kedua matanya, karena sang kekasih sudah menyentuh leher bagian bawah dengan bibirnya.
"Benarkah? Memang apa yang kamu pikirkan sebelumnya?" Mengecup sedikit demi sedikit area yang nampak membuatnya terpesona, kulit mulus nan jenjang dari leher kekasihnya selalu membuat Dirga ingin selalu mendekap gadis itu setiap saat.
"Aku berpikir jika para karyawan akan marah dan memusuhiku," jawabnya.
"Lantas, bagaimana kenyataannya?" Kembali bibir Dirga menelusuri area wajah.
"Mereka senang dengan status kita."
"Benarkah?" tanya Dirga. "Iya, a-ah!" pekik Amelia lagi.
"Mengapa kamu berisik sekali?" Dirga menghentikan aksinya dan menatap Amelia tersenyum.
"Habis ka-hmmm ... !" Tak terdengar lagi protes yang keluar dari mulut Amelia. Yang ada saat ini adalah sebuah adegan romantis yang pria itu lakukan, yang sudah ia rencanakan semenjak melihat sang gadis datang ke ruangannya.
***