My Boyfriend Is A CEO

My Boyfriend Is A CEO
Kencan? Di Kantor?



Apakah kamu memiliki hubungan spesial dengan Bapak Dirga?


Amelia menjadi tidak fokus dengan pekerjaannya. Pertanyaan dari sang manajer, membuat ia terkejut.


Apakah tingkah laku kami terlihat aneh selama ini?


Tapi aku baru dua hari bekerja di sini, lantas dilihat dari mana Bu Susi menilai bahwa ada sesuatu di antara kami.


Jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Masih sisa sedikit lagi pekerjaan gadis itu yang belum diselesaikan.


"Tring"


Masuk notifikasi pesan dari Bobby.


"Udah balik belum? aku udah mau on the way nih."


"Ok, tunggu. Sekitar sejam lagi aku nyampe." Kirim.


Segera Ia menyelesaikan pekerjaannya.


"Mel, yuk balik!" ajak Sofi.


"Eh, duluan aja, Sof, aku masih ada sedikit draft lagi yang belum selesai," ujar Amelia.


"Ya udah kalau gitu, aku duluan. Udah ditunggu sama ojeg soalnya," pamit Sofi sambil berlalu pergi.


"Mel! Yuks?" seru Mirna kali ini.


"Iya, Mir. Aku belum selesai nih, masih ada yang harus aku input," ucapnya tanpa mengalihkan matanya dari layar komputer.


"Aku duluan yah kalau gitu. Kamu nggak apa-apa sendiri?" tanya Mirna lagi.


"Eh iya duluan aja, aku nggak apa-apa kok," jawabnya.


Teman-teman Amelia satu persatu pergi meninggalkan ruangan. Tersisa gadis itu dan satu orang pegawai pria yang lain.


Namun sepertinya, karyawan itu pun telah selesai dengan pekerjaannya.


"Eh, Mel. Belum pulang?" tegur Abi.


"Belum nih, Mas. Sedikit lagi."


"Besok lagi saja, Mel. Memang pekerjaan yang penting banget yang harus dikerjakan hari ini?" tanya Abi.


"Ehm, nggak juga sih, Mas. Cuma aku nggak enak aja ninggalin kerjaan yang belum kelar," ujar Amelia.


"Tapi kamu tinggal sendirian loh. Eh, Bu Susi kayanya juga belum pulang," tutur Abi lagi.


"Oh yah? Hem, syukur deh masih ada temennya," ucap gadis itu tersenyum lega.


"Ya sudah kalau kamu nggak mau pulang sekarang, aku pamit yah?" ucap Abi.


"Iya, Mas."


Ruangan kini terlihat kosong. Hanya terdengar suara ketikan dari keyboard yang dimainkan oleh jemari Amelia.


"Amelia?" suara Bu Susi tiba-tiba mengagetkan Amelia yang sedang fokus menatap layar monitor di depannya.


"Ibu, bikin kaget saja," ujarnya sembari mengelus dada.


"Oh maaf! Syukur lah, saya kira kamu sudah pulang," seru Ibu Susi.


"Ada apa yah, Bu?" tanya Amelia heran.


"Mas Juna barusan telepon saya, kamu disuruh ke ruangan Pak Dirga sekarang," ujar Bu Susi.


"Ke ruangan Pak Dirga? Lagi?" seru Amelia, merasa tak percaya.


"Iya, Amelia," sahut Bu Susi dengan nada penekanan. Tak lupa ada sebaris senyum di sana.


"Tapi saya belum selesai dengan pekerjaan saya, Bu."


"Masih lama kah?" tanya Bu Susi balik.


"Mungkin sekitar lima sampai sepuluh menit," ujarnya.


"Kerjaan penting?" tanya Bu Susi kembali memastikan.


"Tidak juga sebetulnya," jawabnya sedikit ragu.


"Ya sudah, kamu lanjutkan tugas kamu sedikit lagi. Nanti saya akan sampaikan pada Mas Juna, bahwa kamu akan segera ke atas setelah tugas kamu selesai," kata Bu Susi pada akhirnya.


"Eh iya, Bu. Terimakasih. Saya akan segera ke ruangan Pak Dirga bila sudah selesai," ucapnya.


"Ya sudah, saya masuk dulu. Nanti kamu kabari saya kalau sudah selesai dan akan pulang," ujar sang manajer.


"Baik, Bu."


***


"Mba Amelia sedang mengerjakan pekerjaannya yang belum selesai, Pak," lapor Juna pada atasannya.


"Jadi?"


"Dia akan kemari jika tugasnya sudah selesai. Bu Susi bilang, sekitar lima sampai sepuluh menit, Mba Amelia akan ke sini."


"Ya sudah. Kalau begitu kamu bisa pulang sekarang, Juna," ujar sang atasan.


"Tidak, Pak. Saya akan menunggu bapak," tolak Juna.


"Tidak apa-apa, saya akan menunggu Amelia di sini. Kamu bisa pulang dengan supir. Nanti biar supir kembali lagi ke sini."


"Maaf, Pak. Saya tidak bisa. Pekerjaan saya selesai bila Bapak sudah ada di rumah."


"Untuk kali ini tidak apa-apa, Juna. Aku memerintahkan demikian."


" Tapi, Pak. Maaf jika untuk kali ini saya melawan perintah anda. Tolong Bapak jangan memaksa saya berbuat demikian. Saya akan memilih menunggu anda di ruangan yang lain."


"Baiklah jika itu yang kamu inginkan. Nanti saya akan menghubungi kamu bila hendak pulang."


"Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi."


***


Bobby's calling..


"Iya, Bob?"


....


"Sorry, Bob. Kerjaan aku baru kelar."


....


"Kami udah nyampe?"


....


"Iya, tapi aku mau menghadap pimpinan aku dulu."


....


"Belum tahu, nanti aku cerita, Bob, semuanya."


....


"Iya. Nanti aku kabari lagi kalau udah jalan."


....


"Bye."


....


"Tok.. Tok.. Tok.."


"Masuk!"


"Ada apa, Mel?" tanya Bu Susi.


"Saya sudah selesai dengan pekerjaan saya, Bu."


"Oh gitu. Ya sudah kamu bisa langsung ke atas saja."


"Baik, Bu."


"Ok, Amelia. Semoga lancar kencannya?" goda Bu Susi pada Amelia.


"Ya ampun, Ibuu..." Amelia terlihat tersipu.


Amelia yang tadinya biasa saja, tiba-tiba menjadi gugup setelah mendengar kalimat dari atasannya barusan.


Kencan?


Siapa yang mau kencan.


Kenapa Ibu Susi berpikir demikian.


Apakah karena jawaban yang tadi aku berikan saat dia bertanya.


Sepanjang perjalanannya menuju ruangan Dirga, Amelia kembali mengingat percakapan terakhirnya dengan sang manajer.


"Apakah kamu memiliki hubungan spesial dengan Bapak Dirga?" tanya Bu Susi kepada Amelia, yang langsung berubah raut mukanya.


"Eh, kenapa Ibu menanyakan hal itu kepada saya?" Amelia balik bertanya.


"Maaf Amelia, saya bukan orang yang suka bergosip. Saya lebih memilih menanyakan langsung kepada orang yang bersangkutan bila dirasa bagi saya ada keanehan."


"Apa menurut Ibu, saya dan Bapak Dirga ada yang aneh?"


"Bagaimana bila saya jawab, iya?"


Amelia terkejut. Segitu mudahnya kah hubungan yang tidak jelas antara dia dan Dirga itu, terbaca oleh orang lain. Dan sial baginya, kali ini yang mengetahui pertama kali adalah manajernya sendiri. Namun tidak mungkin bila temannya yang lain pun akan tahu suatu saat nanti.


"Amelia?" panggil Bu Susi kembali.


"Eh iya, Ibu."


"Amelia, bila kamu tidak ingin menjawabnya, saya pun tidak akan memaksa."


"Saya bertanya seperti ini, bukan karena saya ingin tahu masalah pribadi orang lain. Bukan. Tapi saya hanya peduli pada masalah yang terjadi pada staf saya sendiri."


"Namun sekali lagi saya katakan, saya tidak akan memaksa kamu, Amelia. Kamu memiliki hak untuk tidak menjawab. Hanya saja, saya tegaskan kepada semua staf saya, termasuk kamu juga, saya tidak akan segan-segan menegur, bahkan akan saya marahi bila hal itu akan mengganggu perkerjaan serta kinerja kalian dalam bekerja."


"Saya tidak tahu hubungan saya dengan Bapak Dirga itu seperti apa, Bu" Amelia mengawali.


"Kami pertama kali bertemu dalam situasi yang, maaf tidak bisa saya jelaskan, karena menurut saya rumit dan memalukan."


"Saya merasa bahwa hubungan saya hanya sebatas atasan dan bawahan saja. Tak lebih dari itu."


"Jujur saja saya heran, darimana Ibu memiliki kesimpulan bahwa saya dan Bapak Dirga menjalin hubungan yang lebih dari itu."


"Amelia, kamu ini betul-betul polos atau kamu memang pura-pura tidak tahu?" tanya Bu Susi terheran dengan jawaban yang diberikan oleh Amelia.


"Apa maksud, Ibu?"


"Yang aku lihat, Bapak Dirga itu menyukaimu."


"Ah! Ibu ini ada-ada saja," seru Amelia dengan senyum malu-malunya.


"Mana mungkin beliau menyukai wanita seperti saya. Saya ini siapa, Bu? Cuma seorang pegawai staf keuangan biasa, bukan seorang gadis kalangan berada atau layaknya sosialita-sosialita yang selevel dengan beliau," ungkap Amelia seolah curhat.


Amelia sebetulnya tahu bahwa Dirga menyukainya. Pria itu berkali-kali mengatakan hal itu padanya.


Namun gadis itu belum sepenuhnya percaya. Ia ragu dengan kalimat-kalimat yang Dirga ucapkan selama ini. Apalagi setelah mendengar perkataan Dika tadi siang,


"Untuk apa mengidolakan orang yang sulit dijangkau."


Baris kalimat itu menyadarkannya bahwa Dirga bukan sosok yang tepat untuknya. Mereka berada dalam posisi yang berbeda, berbeda bagaikan langit dan bumi, yang akan sulit untuk bersatu tentunya.


"Kamu tidak boleh berpikir seperti itu, Amelia. Saya tahu dan mengenal Pak Dirga dengan baik. Pak Dirga bukanlah tipe orang yang seperti kamu maksudkan tadi. Dia orang yang tidak pernah menganggap kedudukan dunia adalah sesuatu hal yang penting dan patut untuk dibanggakan."


"Yaa, mungkin saja, Bu. Tapi bagi saya pribadi, saya tidak mau terlalu larut dengan situasi ini. Saya akan berusaha bersikap layaknya seorang staf bawahan kepada atasan," tutur Amelia pada akhirnya, menutup pembicaraannya siang itu dengan sang manajer.


***