
Cintya dan Pak Dimas sudah tiba di PT GeHa. Mereka disambut dengan sangat baik oleh Dirga dan juga Juna.
"Selamat siang, Bapak Dirga," sapa Pak Dimas.
"Selamat siang juga, Pak Dimas," balas Dirga, sambil menerima jabatan tangan Pak Dimas dan juga Cintya.
"Silakan duduk, Pak Dimas dan juga Mba Cintya."
"Terimakasih, Pak Dirga."
"Maaf sebelumnya Pak Dimas, sepertinya bapak tidak perlu memanggil saya dengan kata 'bapak' atau 'pak'. Usia saya jauh lebih muda di banding bapak. Usia bapak sama seperti dengan ayah saya. Jadi Pak Dimas bisa memanggil saya dengan nama saja."
"Ah, masa bisa begitu?"
"Tidak apa-apa, Pak Dimas. Saya tidak keberatan."
"Oh baiklah, bila itu permintaan Nak Dirga, saya akan menyanggupinya."
"Nah, itu anda sudah melakukannya, Pak Dimas," ujar Dirga dengan senyumannya.
"Hahaha, iya..iya. Kamu memang pandai, Nak Dirga. Saya suka sikap dan gaya kamu."
"Terimakasih, Pak Dimas, untuk pujiannya."
Keempat orang itu tertawa bersama. Cintya lebih banyak diam, melihat ayah dan pria di depannya itu berbicara.
"Bagaimana dengan kesehatan bapak saat ini?" tanya Dirga.
"Ah ya, saya merasa kesehatan saya sudah lebih baik sekarang. Syukur sekali saya memiliki keluarga yang sangat perhatian dan peduli dengan kesehatan saya, Nak."
"Hem, bukankah fungsi keluarga memang seperti itu, Pak Dimas?"
"Kamu betul sekali, Nak. Mau bagaimana pun kita di luar, hanya keluarga tempat kita kembali mencurahkan segalanya."
"Anda sungguh bersyukur bila masih memiliki keluarga yang peduli dan perhatian pada anda, Pak Dimas."
"Tentu saja, Nak. Tentu saja."
"Oh iya, hampir saja saya lupa. Silakan nikmati sajian yang sudah kami siapkan ini, Pak Dimas dan Mba Cintya."
"Maafkan, jika kami hanya bisa menghidangkan sesuatu yang sederhana," ujar Dirga menawarkan tamunya untuk menyantap makanan dan minuman yang sudah asistennya itu sediakan.
"Ah iya, terimakasih, Nak Dirga dan Nak Juna. Saya sungguh senang sekali atas perhatian yang kalian berikan pada kami berdua."
"Anda tidak perlu berkata seperti itu
Ini hanya sebuah hal kecil yang bisa kami berikan kepada anda dibanding dengan proyek kerjasama di antara perusahaan kita, Pak Dimas."
"Ah ya, tujuan dari kedatangan kami berdua kemari saat ini, memang ingin menyampaikan rasa terimakasih kami yang tak terhingga kepada kamu, Nak Dirga."
"Setelah sekian lama kami mengajukan kontrak kerjasama, akhirnya dengan kesempatan yang kamu berikan, PT Buana dapat bekerjasama dengan PT GeHa."
"Sama-sama, Pak Dimas. Saya berharap kerjasama yang terjalin diantar dua perusahaan ini dapat menghasilkan hal yang baik untuk masing-masing perusahaan kedepannya."
"Iya, Nak. Saya pun berharap demikian. Selain itu juga, semoga saja kita tidak hanya menjalin interaksi hanya karena urusan perusahaan. Mungkin suatu saat nanti, kita bisa sering-sering bertemu atau berinteraksi di luar urusan kantor."
"Mudah-mudahan, Pak Dimas."
Cintya tersenyum bahagia. Ia sungguh senang, meski ayahnya tidak secara langsung mengatakan akan ketertarikan dirinya pada Dirga, namun secara perlahan sang ayah telah membantunya agar ia bisa lebih dekat dengan pria pujaannya itu.
Bukannya Dirga tidak menyadari arah pembicaraan yang diutarakan oleh pria paruh baya di hadapannya itu, namun ia berusaha menghormati apa yang diucapkan oleh Pak Dimas demi menjaga sopan santunnya sebagai pria yang lebih muda.
Juna sungguh salut dengan sikap yang bosnya itu tampilkan. Meski dirinya pun tahu maksud dari kalimat terakhir Pak Dimas, namun Dirga telah membuat dirinya terheran atas tanggapan sikap dan juga balasan kata yang diberikan oleh Dirga pada pria itu.
Anda sungguh luar biasa, Bos. Juna.
***
"Mel, kerjaan kamu udah beres?"
"Ah iya, Mas Abi. Kenapa?"
Amelia terkejut saat ada yang mengajaknya berbicara.
"Kamu kenapa, Mel? Kamu sakit?"
"Hah? Nggak kok, Mas. Emang kenapa yah?"
"Enggak kenapa-kenapa sih, cuma dari tadi aku lihat kamu kaya yang banyak diam dan melamun. Takutnya ada yang sedang kamu rasain? Sakit kepala, pusing atau apa gitu."
"Ah, nggak kok, Mas. Mungkin lagi kurang fokus aja, karena kerjaan aku udah beres dan udah kebayang-bayang istirahat," ucap Amelia berbohong menutupi kegalauan di hatinya.
Semenjak ia kembali dari pantry dan berkenalan dengan Nancy, fokus dan konsentrasinya hilang tiba-tiba. Meski pada akhirnya ia bisa menyelesaikan tugasnya dengan sempurna, tapi ia mengerjakannya dengan mengumpulkan tekad yang luar biasa.
"Amelia?" Suara Bu Susi memecahkan obrolan diantara Amelia dan Abi.
"Iya, Bu."
"Mana tugas yang saya kasih ke kamu, sudah selesai?"
"Boleh kamu bawa ke ruangan saya?"
"Baik, Bu. Sebentar saya siapkan."
Bu Susi kembali masuk ke ruangannya, sedangkan Amelia segera menyiapkan dokumen yang sejak pagi tadi ia kerjakan.
"Mas Abi, aku masuk dulu yah?"
"Ok!"
Amelia melangkahkan kakinya ke ruangan manajer.
"Permisi, Mirna. Jangan melamun gitu ah, ikut-ikut aku aja," ujar gadis itu saat melewati meja Mirna, sekertaris Bu Susi.
"Emang kamu abis melamun juga?" tanya Mirna balik.
"Ho-oh, disadarin sama Mas Abi tadi," ucapnya dengan terkekeh.
"Ih, dasar."
"Kamu lagi mikirin apa, mikirin Dika yah?" bisik Amelia pelan.
"Amelia, apa sih?" seru Mirna kaget dengan ucapan yang gadis itu ucapkan. Mirna takut jika ucapan Amelia tadi terdengar oleh staf yang lain.
"Nggak apa-apa kok," sahut Amelia dengan senyum yang terlihat puas.
"Udah ah, aku mau menghadap bos dulu." Masih dengan senyum yang tak kunjung lepas dari wajahnya.
Saat Amelia pergi, Mirna ikut menyunggingkan senyumannya. Ia malu, karena tebakan Amelia benar. Ia memang sedang melamunkan Dika tadi.
Ia teringat akan keseruan Dika dengan Amelia dan beberapa karyawan lain di kantin, saat makan siang kemarin.
Dalam lamunannya tadi, ia berkata pada dirinya sendiri, mengapa selama ini ia tidak pernah bisa mengobrol seru dengan Dika, seperti kemarin yang dilakukan oleh Dika dan Amelia.
***
"Terimakasih Pak Dimas dan Mba Cintya atas kesediaan waktunya berkunjung ke kantor kami."
"Sama-sama, Pak Dirga," ucap Cintya.
"Benarkah, Nak Dirga tidak mau makan siang bersama kami?" tanya Pak Dimas.
Dirga sudah menolak saat Pak Dimas menawarkannya untuk makan siang bersama, tadi di sela-sela keseruan mereka mengobrol.
"Sekali lagi saya minta maaf, Pak Dimas. Tanpa mengurangi rasa hormat saya pada anda dan juga Mba Cintya, saya sungguh tidak bisa menerima tawaran anda kali ini," ujar Dirga tersenyum.
"Hem, baiklah, jika Nak Dirga sudah menjawabnya, kami tidak bisa memaksanya bukan," balasnya tersenyum.
Cintya, meski sedikit kecewa dengan penolakan Dirga, namun ia berusaha bersikap biasa saja.
"Sekali lagi terimakasih sekali atas waktu yang kamu berikan pada kami, Nak Dirga."
"Sama-sama, Pak Dimas."
Mereka saling berjabat tangan tanda berpamitan.
Setelahnya Pak Dimas dan Cintya pergi meninggalkan ruangan Dirga dengan ditemani oleh Juna.
Dirga segera mengeluarkan ponsel dari saku jasnya, dan kemudian menekan layar untuk mengirim pesan pada seseorang.
Kamu sudah mau istirahat, Sayang?
Rupanya ia mengirim pesan kepada Amelia.
Satu menit, dua menit hingga sepuluh menit, bahkan hingga asistennya kembali, pesan itu tak kunjung Amelia balas.
Juna melihat keresahan pada diri Dirga.
"Apa ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Juna, berinisiatif.
"Ada apa dengan gadis itu? Apakah pekerjaannya lebih sibuk dan lebih penting dariku, sehingga ia tak kunjung membalas pesan yang aku kirimkan?"
Dirga terlihat kesal sendiri karena pesan yang ia kirimkan tak mendapatkan balasan dari kekasihnya.
Juna yang melihat kegalauan Dirga, berusaha menahan senyum agar tak terlihat oleh bosnya itu.
Sepertinya aku tahu kenapa Mba Amelia tidak membalas pesan si bos. Juna.
"Juna!"
"Eh iya, Pak Dirga."
"Apa kamu tahu sesuatu?"
***