My Boyfriend Is A CEO

My Boyfriend Is A CEO
Cumbuan menjijikan



"Aron?!" pekik Amelia kaget.


Gadis itu tak menyangka jika lelaki itu masih berani datang menemuinya. Padahal ia sudah sengaja pulang cepat agar tidak bertemu dengan lelaki itu di kantor.


"Hai, Mel!" Nampak seringai di wajah Aron.


"Kamu mau ngapain lagi ke sini?" tanya Amelia geram. Gadis itu berusaha menahan amarahnya.


"Mel, ayolah! Masa kamu masih sinis aja sama aku. Aku udah berkali-kali minta maaf sama kamu dengan tulus loh," ujar Aron.


"Aron, dengar yah? Aku udah bilang, jangan pernah nemuin aku lagi. Persoalan yang lalu, aku udah lupain. Jadi tidak perlu lagi kamu bahas dan tidak perlu lagi kamu cari-cari aku!" ucap Amelia yang sudah mulai emosi.


"Mel, kamu jangan sok jual mahal deh!" Aron tiba-tiba berkata kasar. Entah apakah karena stok sabarnya sudah habis atau memang ia tidak pernah berubah, yang jelas saat ini ia telah sama-sama emosi menghadapi gadis cantik di depannya dengan raut wajah yang mulai kemerahan.


Tentu saja Amelia kaget dengan kalimat yang diucapkan oleh Aron. Gadis itu benar dengan pemikirannya, jika lelaki yang merupakan teman kuliahnya itu, dari dulu hingga sekarang memang tidak pernah berubah atas sikap kasar dan juga arogannya.


"Kamu?! Ternyata kamu memang tidak pernah berubah, Aron!" geram Amelia. Sekuat tenaga, ia tidak ingin berteriak dan membentak-bentak lelaki di depannya itu.


"Aku sudah berubah, tapi kamu yang tidak juga berubah atas sikapmu padaku!" balas Aron geram.


"Apa? Kamu sudah gila! untuk apa kamu berubah karena aku?"


"Apa kamu belum menyadarinya juga, Amelia. Aku itu suka sama kamu!" ucap Aron dengan gaya yang masih tetap tidak berubah.


"Heh! Suka kamu bilang? Apa kamu salah minum obat, Aron? Perasaan yang kamu miliki itu bukan perasaan suka, tapi hanya sekedar obsesi semata."


"Terserah kamu mau bilang apa, Mel. Tapi yang pasti aku berharap kamu tidak menolak perasaanku."


"Jangan mimpi, ini masih sore, Aron! Asal kamu tahu, aku tidak pernah bisa menerima kamu. Baik dulu ataupun sekarang. Dulu kita masih bisa berteman baik, tapi sejak kamu berulah, saat itu juga aku tidak pernah mau lagi berhubungan dengan kamu!" tukas Amelia dengan tegas.


"Oh yah! Apakah ini yang dinamakan penolakan?" tanya Aron sarkas.


"Terserah kamu mau bilang apa! Sekarang aku minta kamu pergi dari rumah aku!" ucap Amelia setengah berteriak kemudian berbalik hendak masuk ke dalam rumah.


Namun, belum sempat gadis itu menutup pintu rumahnya, sebuah tangan kokoh telah menahan pintu. Aron dengan raut wajah yang nampak emosi, berusaha merangsek masuk ke dalam rumah.


"Aron! Apa yang mau kamu lakukan?" teriak Amelia dengan mimik wajah yang mulai ketakutan.


"Menurut kamu?" Ada seringai di wajah lelaki itu.


"Kamu jangan gila, Aron!"


"Hahaha, bukankah selama ini kamu sudah menganggapku gila?" Seringai Aron semakin menjadi.


Tenaga Amelia ternyata tidak bisa menahan beban pintu yang lambat laun telah terdorong oleh tangan Aron. Tentu saja kekuatan lelaki itu menang jauh dibanding kekuatan yang gadis itu miliki.


"Aron, kamu jangan kurang ajar. Aku minta kamu pergi sekarang!" Masih berusaha meminta lelaki itu untuk pergi.


"Amelia ... seandainya saja kamu bersikap lebih baik padaku, tentu aku akan pergi dengan cara baik-baik juga. Tapi apa yang aku dapatkan? Sebuah pengusiran dari seorang gadis yang aku harap tidak melakukannya."


Aron menutup pintu di belakangnya kemudian mengunci dan melempar kunci itu ke arah yang tak menentu.


Amelia semakin ketakutan. Ia tidak menyangka jika lelaki itu akan melakukan hal yang sangat jauh.


"Aron, aku mohon kamu jangan berbuat hal-hal yang aneh! Kalau tidak aku akan teriak!" pekik Amelia.


"Teriak saja, Amelia. Aku tidak takut. Lagipula sebelum orang-orang datang kemari, mungkin aku sudah bisa mereguk kenikmatan dari tubuhmu yang sudah lama menggodaku." Tawa dan seringai semakin nampak di wajah Aron.


"Shut! Aku mohon jangan menangis, Amelia. Jangan berpikir jika aku ini adalah sosok yang jahat. Marilah kita nikmati ujung senja hari ini dengan saling bercumbu mesra, Sayang!"


Amelia menggeleng, "tidak! Aku tidak mau!" Air matanya kini jatuh berderai.


"Oh, ayolah, Amelia. Dulu aku gagal mendapatkan kenikmatan itu. Tapi hari ini, aku harap momen itu tidak akan gagal lagi." Setelah mengatakan itu, Aron menarik tangan Amelia yang hendak berlari memasuki kamarnya.


Tangan Amelia tertangkap dan ditarik kasar, hingga tubuh gadis itu berbenturan dengan tubuh tegap Aron.


"Tolong!" Amelia berteriak dan berusaha berontak untuk melepaskan diri. Air mata terus mengalir deras di kedua pipinya.


Tubuh yang sudah terengkuh kasar dalam pelukan lelaki itu, masih terus berusaha terlepas. Sedangkan Aron kini semakin liar hendak menciumi wajah gadis itu, yang saat ini nampak menggoda karena warna kemerahan di wajahnya akibat rasa emosi yang tinggi.


Amelia berusaha menghindar dari terkaman bibir Aron yang bertubi-rubi menghujaninya. Lelaki itu terus berusaha karena ia tak kunjung menyentuh kulit mulus, baik pipi ataupun bibir Amelia.


"Tolong!!"


"Tolong!!"


Sebisa mungkin Amelia terus berteriak di tengah-tengah usahanya menghindari lelaki kurang ajar yang terus saja berusaha mencumbunya.


Tak berhasil mencumbu wajah Amelia, kini baju piyama yang melekat di tubuh gadis itu, ditarik paksa oleh Aron agar terlepas. Alhasil, kancing-kancing bajunya copot dan jatuh berserakan di atas lantai.


"Tidak! Lepaskan!" Amelia semakin ketakutan. Air matanya terus menerus mengalir. Teriakan demi teriakan terus ia keluarkan. Rasa malu bercampur marah tumbuh di dirinya ketika melihat tatapan lapar dari lelaki itu yang menatap tubuh bagian atasnya yang sudah tidak terkancing.


"Kamu memang sungguh luar biasa, Sayang! Kali ini aku tidak akan pernah melepaskan kamu hingga aku bisa mendapatkan apa yang aku inginkan."


"Tidak!" Amelia berhasil melepaskan diri dari pelukan Aron ketika lelaki itu sedikit lengah karena terpesona memandangi tubuhnya.


Amelia hendak bergegas lari menuju kamarnya, namun belum juga sampai pintu, Aron telah berhasil menyergapnya.


"Lepaskan!" Amelia berusaha memukuli Aron dengan sekuat tenaganya. Ia sungguh tak mau jika sampai lelaki itu berhasil mendapatkan apa yang ia inginkan. Pukulan demi pukulan terus saja Amelia layangkan pada wajah dan tubuh Aron.


Aron pun sama, ia benar-benar mengeluarkan seluruh tenaganya supaya bisa melumpuhkan gadis cantik yang sudah lama diincarnya itu.


Aron kemudian mengangkat tubuh Amelia ke dalam kamar dibarengi dengan gadis itu yang terus meronta hendak melepaskan diri.


"Kali ini aku pasti berhasil, Sayang. Jadi, hentikan seluruh tindakanmu itu, jangan sampai kamu kelelahan sebelum permainan intinya kita mulai." Aron menjatuhkan tubuh Amelia di atas kasur. Dan seringai lelaki itu semakin nampak dengan tatapan lapar yang menjijikan dari wajahnya.


"Tolong!"


"Lepaskan aku!" Teriakan Amelia membahana di dalam kamar, ketika Aron hendak melepaskan pakaian piyama yang sudah terlepas kancingnya tadi.


Di tengah-tengah pergumulan yang Aron lakukan, tiba-tiba ada sebuah tangan yang menarik bajunya dari belakang. Dan,


Bugh!!


***


Hai Readers! satu episode untuk hari ini.


Bagaimana? apakah sudah baca karya aku terbaru yang berjudul TERJERAT CINTA?


Kuy, mampir ke sana. Aku tunggu...!!


***