My Boyfriend Is A CEO

My Boyfriend Is A CEO
Salah Paham



"Mungkin aku udah jatuh cinta beneran sama dia, Bob."


[Kalau kamu memang cinta sama dia, apakah kamu rela jika umur pacaran kalian yang baru sehari itu, harus kalah dengan kedatangan mantannya Pak Dirga? Itu pun dengan catatan kalau seandainya Nancy benar mantannya loh yah. Kalau bukan, kamu yang akan rugi sendiri.]


"Nggak rela juga sih, Bob."


[Makanya, sekarang yang harus kamu lakukan adalah meminta maaf sama dia, Mel.]


"Aku kirim pesan duluan ke dia gitu, Bob?"


[Duluan gimana? Kan dari tadi juga katanya dia kirim pesan terus sama kamu, tapi nggak kamu balas. Gimana sih?] Nada gemas sepertinya keluar dari mulut Boby.


"Oh, iyaaa..." jawab gadis itu sembari tertawa.


[Ya udah, pokoknya itu saran aku sama kamu. Ikutin atau kamu akan kehilangan Pak Dirga.]


"Iya, Boby."


[Ya udah, jadi gimana ke undangan kakaknya Anya. Kamu jadi datang atau nggak?]


"Iya aku datang. Aku nggak enak sama Anya, nanyain mulu."


[Ok lah, kalo begitu. Nanti aku jemput kamu malam minggu yah, Mel.]


"Ok sip."


Sambungan telepon itu terputus. Amelia terlihat lebih ceria setelah curhat pada sahabatnya, Boby. Seolah beban pikiran telah menguap begitu saja dari kepalanya.


Namun baru saja ia hendak menelepon sang kekasih, petir yang sedari awal hujan turun tidak menampakkan suaranya, tiba-tiba terdengar menggelegar. Membuatnya terpekik kaget dan menjatuhkan ponselnya secara tidak sengaja.


"Kyaaaaaa...!"


Tak lama setelah itu, listrik di rumah mati. Suasana sangat gelap. Karena itu ia berpikir bahwa bukan rumahnya saja yang mati, tapi sepertinya satu komplek perumahan, total mati listrik.


Amelia merangkak dan meraba lantai mencari ponselnya untuk ia jadikan senter. Ia sedikit ketakutan. Phobia akan suasana gelap, belum pulih seutuhnya.


Dulu ia memang pernah terapi, tapi prosesnya belum selesai ketika ia terpaksa berhenti karena masuk kuliah. Sehingga saat ini, rasa takut itu masih ada.


Ya Tuhan, tolong lindungi hamba-Mu ini. Begitu do'anya dalam hati.


Saat tangan itu akhirnya dapat menyentuh ponsel yang terjatuh, segera ia bangkit untuk menyalakan senternya.


Baru saja senter menyala, tiba-tiba terdengar ketukan pintu dari depan.


Amelia semakin ketakutan. Ia takut dalam suasana hujan dan gelap karena mati lampu, ada orang jahat yang mengambil kesempatan di tengah suasana yang menurutnya mencekam seperti sekarang.


Amelia menangis dalam kesendirian. Ia meringkuk di atas kursi makan. Tidak ada niatan sama sekali dalam dirinya untuk mengetahui siapa orang yang mengetuk pintu rumah di tengah kondisi gelap seperti ini.


Hingga sayup suara orang dari arah pintu memanggil namanya.


"Amelia!"


"Amelia!"


"Amelia! Buka pintunya! Apa kamu ada di dalam?" teriakan dari suara seorang pria yang sangat ia kenal.


"Apakah aku tidak salah mendengar?" gumamnya.


"Amelia! Buka pintunya!"


Amelia masih belum beranjak dari tempatnya duduk. Meski ia mengenali suara itu, tapi rasa takutnya masih menghantui. Ia takut bila ia hanya berhalusinasi saja karena rasa takut yang menggerogotinya.


Hingga sebuah suara dobrakan pintu dan suara langkah kaki seseorang yang berlari menghampirinya, membuat ia terkejut dan semakin takut.


Amelia semakin membenamkan wajahnya ke dalam lipatan kakinya yang terangkat ke atas kursi. Ia telah pasrah. Sudah tidak ada kekuatan sama sekali dalam tubuhnya untuk membela diri, jika orang jahatlah yang masuk ke dalam rumahnya.


"Amelia!"


Ya, suara itu ia kenal. Suara seorang pria. Perlahan ia mengangkat wajahnya.


Benar saja. Pria yang sangat ia kenali, baik wajah dan suaranya belakangan ini, hadir di tengah-tengah ketakutan Amelia saat suasana gelap gulita.


Ia telah berada di sampingnya. Bersimpuh di bawah kursi. Meski agak gelap, namun Amelia mengenalinya dengan bantuan sedikit cahaya dari senter ponsel yang menyala.


"Dirga?" Tanpa rasa malu, Amelia langsung memeluk Dirga dengan erat. Pria itu pun membalas tak kalah erat.


Rindu yang Dirga rasakan sejak pagi hari hingga kini, tumpah seutuhnya mengalir melalui dekapannya pada sang kekasih.


"Dirga. Maafkan aku?"


Dirga tidak membalas perkataan Amelia. Yang ia lakukan hanya memeluk kekasihnya dengan segenap jiwa dan raga.


Diciuminya kepala dan seluruh wajah Amelia secara bertubi-tubi. Air mata yang mengalir di pipi gadis itu, sama sekali tidak ia pedulikan. Ia hanya ingin menumpahkan rasa rindunya yang baru bisa ia lampiaskan.


***


Listrik masih mati saat Dirga membopong gadis itu ke dalam kamarnya. Ia rebahkan gadis itu di sana. Saat ia hendak mencari lampu emergency, Amelia menahan tangannya.


"Tolong jangan tinggalkan aku sendiri, aku takut."


Amelia yang masih terisak, bangkit duduk dan kembali memeluk Dirga.


"Aku cuma mau mencari lampu atau lilin. Aku tidak akan meninggalkanmu," ucap Dirga.


Amelia menggeleng.


"Tidak, biarkan seperti ini dulu. Aku masih takut."


"Baiklah. Aku tidak akan ke mana-mana," sahut Dirga.


Dibiarkan gadis itu memeluknya. Tak ingin Dirga melepaskan rangkulan tangan Amelia di tubuhnya.


Gadis itu mungkin akan merasa malu nanti saat tersadar dalam keadaan lampu menyala.


"Amelia, apakah kamu tidak pegal dengan posisi kita seperti ini?" ucap Dirga setelah hampir setengah jam mereka berpelukan dalam diam dan ruangan yang gelap.


Tak lama setelah Dirga bicara, lampu kamar dan ruangan yang lain kembali menyala.


Amelia yang tersadar lekas melepaskan pelukannya dari Dirga.


"Mau aku ambilkan minum?"


Amelia mengangguk.


"Minumlah! Sepertinya kamu cukup kehabisan energi," ujar Dirga sembari tersenyum.


"Terimakasih."


Amelia meneguk air itu hingga tandas, habis tak tersisa.


"Apakah sudah lebih baik?" tanya Dirga dengan tangan yang terulur mengambil gelas yang ada di genggaman gadis itu.


"Iya. Sekali lagi terimakasih," ucap Amelia.


"Dirga?"


"Aku ingin meminta maaf," sahut Amelia ketika Dirga hendak kembali ke meja makan, menaruh gelas yang sudah kosong.


Langkah Dirga terhenti. Ia mengurungkan niatnya untuk keluar dari kamar. Pria itu kemudian membalikkan tubuhnya dan kembali duduk di tepi ranjang berhadapan dengan Amelia.


"Minta maaf untuk apa?" tanyanya dengan lembut.


"Maafkan aku karena seharian ini aku menyuekimu. Maafkan aku karena tidak membalas semua pesanmu. Maafkan aku karena tidak mengangkat semua panggilan darimu. Maafkan aku karena aku telah cemburu padamu." Amelia mengeluarkan seluruh uneg-unegnya pada Dirga.


"Kamu cemburu? Sama siapa?" Dirga bertanya heran.


"Nancy."


"Apa? Nancy?"


Amelia mengangguk. Gadis itu terus menunduk. Tak berani ia berkata dan juga mengangkat wajah dan menatap pria di depannya.


"Di mana kamu bertemu dengan Nancy?"


"Pantry."


"Mengapa kamu cemburu pada Nancy?"


Amelia kemudian menceritakan semua kejadian yang terjadi saat ia bertemu dengan Nancy di pantry. Juga menceritakan perasaannya yang tiba-tiba berubah galau setelah pertemuan itu.


Ketika ia telah selesai bercerita, reaksi dari Dirga sungguh tak pernah ia bayangkan.


Pria itu tertawa. Tawa yang cukup puas sehingga ada buliran air mata yang menggenang di sudut matanya.


"Kenapa kamu tertawa?"


"Kamu sungguh lucu, Amelia."


"Apa? Apanya yang lucu?"


"Rupanya adikku itu telah sengaja menjahili kamu."


"Adik? Siapa yang kamu maksud adik?"


"Amelia, Nancy adalah adikku."


"Apa?" Amelia membelalakkan mata dan juga menutup mulutnya.


Sungguh ia tak menduga bahwa wanita yang ia cemburui itu ternyata adalah adik Dirga, kekasihnya.


"Apa kamu becanda? Apa kamu berbohong padaku?"


"Tidak. Untuk apa aku berbohong. Bila kamu tidak percaya, kamu bisa bertanya pada Juna atau Bu Susi atasanmu."


Amelia seketika merasakan sesuatu yang tidak enak di dalam perutnya. Bukan mulas atau sakit, tapi rasa yang aneh tatkala ia harus menahan malu akibat pemikiran bodohnya.


"Jadi kamu sungguh cemburu padaku?"


Dirga sudah mulai beraksi dengan anggota tubuhnya saat ia mengatakan kalimat itu.


"A... aku... tidak."


Tangan Dirga sudah tidak bisa dikondisikan saat melihat rona wajah Amelia yang memerah.


"Benarkah?"


Tangan itu sudah mulai menyentuh dan mengelus pipi mulus gadis itu.


"I... i... iya." Amelia terbata.


Dadanya mulai bergemuruh manakala tangan pria itu menelusuri setiap jengkal wajahnya.


"Kamu tidak bohong?"


Gadis itu menggeleng.


Kepala Dirga semakin mendekat, hanya tersisa beberapa senti saja jaraknya dengan wajah Amelia.


"Jika berbicara itu, tatap lawan bicaramu, Amelia."


Amelia kemudian memberanikan diri untuk menatap Dirga. Karena gerakannya sedikit cepat dan terburu-buru, bibir Amelia malah menempel dengan bibir Dirga.


Amelia terkejut dan spontan memelototkan matanya.


Tanpa ingin membuang waktu lebih lama, dan juga rasa rindunya yang telah membuncah sedari tadi, Dirga langsung saja menyerang gadis di depannya itu tanpa ampun.


Amelia pasrah saja dengan aksi yang dilakukan oleh kekasihnya itu.


***


Gimana, udah baper belum?


Udah aja yah.


Aku gemeteran soalnya kalau nulis cerita yang agak-agak romantis gitu.


Hari ini aku kasih dua bab yah, tapi nggak janji besok :)


Happy reading :)


***