My Boyfriend Is A CEO

My Boyfriend Is A CEO
Obrolan pagi hari



"Agenda rapat hari ini akan lebih lama, Pak!" ucap Juna memberitahu Dirga, saat mereka sedang sarapan pagi di restoran yang ada di dalam hotel tempat mereka menginap.


"Ya." Hanya satu kata yang keluar dari mulut Dirga yang menandakan bahwa ia mengerti dan tidak terlalu dipikirkan.


"Bagaimana pengawasan Doni terhadap Amelia?" tanya Dirga yang lebih tertarik membahas tentang kekasihnya ketimbang urusan rapat.


"Doni mengawasi sepanjang malam hingga dirasanya tidak ada yang perlu dikhawatirkan baru ia pergi. Pagi ini ia telah memulai pengawasan kembali."


"Kenapa ia tidak sewa saja rumah di sekitar sana?" saran Dirga pada Juna.


"Itu sudah ada dalam rencana saya, Pak. Dan menurut Doni, hari ini ia akan bertemu pemilik salah satu rumah yang disewakan, yang letak rumahnya tidak jauh dari kediaman Mba Amelia."


"Ehm, bagus." Dirga memang selalu mengandalkan Juna. Dan itu memang terbukti. Juna selalu memiliki inisiatif yang tinggi bila untuk urusan pekerjaan.


"Mari, Pak! Para klien sudah menunggu kita di aula." Juna mempersilakan Dirga untuk menuju tempat meeting.


***


"Pagi, Mirna!" sapa Amelia ketika sampai di ruangannya.


Seorang gadis muda yang telah fokus menatap layar komputer ketika Amelia datang, balik menyapanya.


"Pagi, Mel! Tumben sendirian, biasanya bareng Sofi?" tanya Mirna heran.


"Nggak tahu tuh, Sofi, tumben di depan juga belum kelihatan tadi." Amelia berkata sambil melirik ke arah mejanya. Ia mengira jika temannya itu telah datang terlebih dahulu.


"Kirain aku, dia udah sampai sini duluan."


"Belum ada tuh!" sahut Mirna.


"Pagi-pagi udah sibuk aja, Mir. Emang Bu Susi udah datang?"


"Belum. Cuma aku masih punya utang kerjaan kemarin," ucapnya terkekeh.


"Oh ...!" Amelia menyahuti, sembari melangkahkan kaki ke arah meja kerjanya.


"Woi!" Tiba-tiba terdengar suara mengagetkan dari samping Amelia duduk.


"Mesi! Apaan sih?" seru Amelia yang terkejut.


"Mel, kemarin ada seorang pria yang nyari kamu loh!" Amelia semakin terkejut dan merasa heran dengan info yang Mesi berikan di pagi hari itu.


"Lelaki? Siapa?" tanyanya.


"Aku nggak sempet nanya. Dia nanya sama satpam di bawah."


"Ciri-cirinya?" tanya Amelia penasaran.


"Ehm, yang pasti orangnya lumayan cakep. Terus, penampilannya sih terlihat santai walau aku yakin dia orang berada. Apa lagi yah, potongan rambutnya tuh, belah tengah gini," ujar Mesi menjelaskan sambil menunjuk rambutnya sendiri.


Amelia rasa, ia tahu siapa pria yang dimaksud oleh Mesi yang mencarinya ke kantor kemarin sore.


"Kayanya kamu udah bisa nebak yah, teman kamu atau pacar kamu, Mel?" celetuk Mesi menggoda.


"Ish! Aku belum tahu siapa orang yang kamu maksud, kalo belum lihat orangnya langsung." Amelia berusaha menyudahi obrolan paginya dengan Mesi.


"Mengalihkan pembicaraan kamu, Mel. Bisa banget deh." Mesi nampak terlihat keki, namun ia masih menampilkan senyumannya.


"Siapa yang mengalihkan pembicaraan, 'kan aku emang lagi nyari Sofi." Amelia balas tersenyum.


"Oh iya, aku hampir lupa, Mes. Kemarin ada yang nanyain kamu loh di kantin!"


"Siapa?" tanya Mesi ragu, "kamu cuma mau balas omongan aku tadi yah, Mel!"


"Ih, jadi orang jangan suka berburuk sangka. Aku nggak bohong, kemarin emang pria yang titip salam buat kamu."


Mesi memicingkan matanya. "Karyawan di perusahaan ini?"


"Ya iya lah, 'kan tadi aku bilang di kantin." Amelia nampak senang bisa membuat temannya itu penasaran.


"Siapa, Mel? Jangan kasih info setengah-setengah dong!"


"Lah, kamu juga tadi kasih infonya setengah!" balas Amelia.


"Aku emang nggak tahu siapa pria yang kemarin cari kamu, Mel, karena dia nggak nanya sama aku, tapi sama pak Satpam. Ya, kalau nanya sama aku, pasti aku bakal tanya namanya siapa."


Amelia terlihat tertawa, sungguh ia betul-betul merasa senang telah membuat Mesi penasaran tingkat akut.


"Please, Mel. Siapa?" tanya Mesi seolah mengiba.


"Wali," bisik Amelia. Ia sengaja berbicara tepat di telinga Mesi, agar tidak ada orang lain yang dengar. Karena sejak Mesi merasa penasaran, ekspresi yang gadis itu tunjukan sangat berlebihan, sehingga membuay beberapa karyawan memperhatikan meja mereka.


"What? Wali?" tanya Mesi seolah tidak mendengar dengan jelas.


Amelia mengangguk. Nampak kelesuan ada di wajah Mesi. Amelia tahu, kalau bukan nama lelaki itu yang Mesi harapkan. Namun, memang kenyataannya seperti itu.


Kemarin saat Amelia dan Sofi sedang makan siang di kantin, Wali dan Dika tiba-tiba menghampiri keduanya. Dan mereka masing-masing menitipkan salam untuk kedua gadis cantik yang ada di divisi keuangan.


Dika menanyakan Mirna, si sekertaris manajer. Dan bisa ditebak, jika Wali --teman dekat Dika-- menitipkan salamnya untuk Mesi, si primadona divisi keuangan.


Sebetulnya antara Dika dan Wali tidak ada yang lebih unggul dalam hal apapun. Baik rupa, tinggi badan ataupun sifat dan tingkah lakunya. Keduanya mirip anak kembar karena kemana-mana selalu berdua. Dan mereka sama-sama pernah berada di divisi keuangan.


Namun, entah apa yang membuat Dika lebih disukai oleh kedua makhluk cantik di bagian keuangan itu. Amelia sendiri tidak tahu.


Mesi seketika meninggalkan meja Amelia. Tanpa pamit atau lambaian tangan, ia pergi menuju mejanya dengan lesu.


Pilu melihat temannya yang pergi dengan kondisi bersedih, meskipun Amelia rasa Mesi terlalu berlebihan, gadis itu mulai berkonsentrasi dengan pekerjaannya.


Baru saja memeriksa beberapa data yang harus ia kerjakan, terdengar sebuah notifikasi pesan dari nomor yang tidak ia simpan di dalam kontaknya.


[Nanti sore aku jemput yah, Mel!]


Nomor itu memang tidak ia simpan, tapi ia tahu nomor siapa itu. Aron!


Segera ia blokir nomor yang ia yakini adalah milik Aron. Gadis itu tidak ingin memiliki hubungan yang lebih jauh dengan pria itu. Karena Amelia tahu betul bagaimana sosok Aron dulu ketika mereka masih kuliah. Dan gadis itu yakin bahwa lelaki itu belum berubah.


Amelia menaruh kembali ponsel di atas meja kerjanya. Berusaha kembali fokus dengan pekerjaan, dan melupakan hal yang baru saja terjadi.


***