
"Tok... Tok... Tok..."
"Siapa?" Suara dari arah dalam kamar.
"Nancy."
Terdengar derap cepat langkah kaki.
Ceklek.
"Ada apa, Mba Nancy?" Tanya Juna dengan senyum yang menawan.
"Eh, itu. Mas Juna sudah ditunggu sama yang lainnya untuk makan malam." Ucap Nancy yang terlihat gugup.
"Oh, iya. Tapi kenapa Mba Nancy yang harus kasih tahu aku, biasanya Bi Tinah." Ujar Juna.
"Nggak apa-apa kok, Mas. Nancy yang mau." Jawabnya dengan wajah yang tertunduk.
Wajah memerah yang nampak malu-malu itu, membuat hati Juna berdesir. Ia tak tahan melihat pemandangan indah di depannya sekarang.
"Apa yang membuat kamu ingin ke sini?" Tanya Juna lagi.
"Ah, eh. Aku nggak tahu, Mas." Nancy nampak terkejut dengan pertanyaan Juna.
Apakah saat ini ia telah dengan tanpa sengaja mengutarakan perasaannya secara diam-diam.
Nancy merasa bodoh. Tidak menyangka bahwa tindakannya akan menimbulkan pertanyaan bagi Juna.
Padahal selama ini, Nancy selalu menjaga dirinya agar tidak terlalu menampakkan rasa ketertarikan pada pria itu. Ia tidak ingin dianggap terlalu gampangan sebagai seorang perempuan.
Sebaliknya bagi Juna sendiri, ia sangat ingin tahu bagaimana perasaan adik atasannya ini kepada dirinya. Apakah gadis ini hanya menganggap ia sebagai seorang asisten pribadi kakaknya atau sebetulnya perasaan yang Juna miliki tidak bertepuk sebelah tangan.
Kedua insan ini sama-sama menutup diri dan menjaga perasaan masing-masing. Sehingga yang terjadi saat ini malah menimbulkan kecanggungan di antara mereka berdua.
"Nancy?" Sahut Juna.
Nancy nampak terkejut saat Juna memanggilnya hanya dengan nama saja, tanpa ada embel-embel panggilan lain.
"I.. Iya, Mas."
"Apa aku boleh memanggil kamu Nancy saja, bila kita sedang berbicara berdua seperti ini?" Tanya Juna, dengan tatapan mata yang intens.
"Iya, Mas. Boleh."
"Kamu nggak keberatan kan?" Tanya Juna lagi untuk memastikan.
"Nggak kok. Aku malah senang Mas Juna memanggil aku dengan nama saja. Jadi terkesan lebih dekat dan akrab." Nancy terkejut dengan ucapannya barusan. Ia pun menutup mulutnya secara spontan.
"Ya. Aku pun berharap demikian." Ucap Juna.
"Demikian bagaimana, Mas?"
"Aku berharap, kita, aku dan kamu menjadi lebih dekat dan akrab." Bisiknya, berharap tak ingin ada orang lain yang mendengar.
"Eh, kenapa begitu, Mas?"
"Kenapa kamu masih bertanya. Apa kamu masih belum mengerti apa yang aku maksudkan?" Tanya Juna masih dengan senyumannya.
Nancy terlihat menggelengkan kepala.
"Tidak apa-apa kamu belum mengerti saat ini. Suatu saat nanti juga kamu akan paham apa yang aku maksudkan."
Nancy terdiam, ia nampak terpaku dengan tatapan mata yang Juna lakukan padanya. Meski ia tersipu malu, namun entah mengapa ia enggan sekali memalingkan wajahnya. Nancy sangat menikmati pemandangan wajah pria yang telah mengisi kekosongan hatinya itu, dari statusnya sebagai seorang jomblo.
"Ya sudah, ayo kita ke ruang makan. Sepertinya mereka sudah lama menunggu kita." Seru Juna menyadarkan Nancy dari lamunan.
"Eh, iya, Mas."
Nancy melangkah di depan terlebih dahulu.
Setibanya di meja makan, sudah nampak seluruh anggota keluarganya menempati tempat duduk masing-masing. Ayahnya di ujung tengah. Ibu dan kakaknya berada di bangku depan saling berhadapan. Tersisa bangku di samping Ninta dan di samping Dirga.
"Lama banget. Emang abis darimana dulu?" Tanya Dirga iseng.
"Ish. Emang Mas Dirga pikir, Nancy dari mana?"
"Ya, abis lama banget. Ayah udah pingin makan tuh." Goda Dirga pada Ayahnya.
"Euh... Apa maksud kamu, Mas. Bukannya kamu sendiri yang bilang tadi kalau udah lapar, kok jadi Ayah yang dituduh." Ujar Harsa tak terima.
"Hehehe, iya, Yah. Maaf, becanda." Cengenges Dirga.
"Maaf Pak Harsa, Bu Ninta dan Pak Dirga. Tadi saya tidak mendengar saat Mba Nancy ketuk pintu, soalnya saya sedang mandi. Jadinya kita telat datang ke sini." Ujar Juna meminta maaf.
Nancy terlihat melirik, ia tidak menyangka bahwa Juna akan berbohong. Bertepatan dengan itu, Juna pun ikut melirik padanya. Nancy tersipu, manakala Juna mengedipkan sebelah matanya, sedetik. Ya, hanya sedetik, tapi Nancy melihatnya. Dan itu sudah mampu membuat hatinya berdebar.
"Nggak apa-apa kok, Juna. Lagian nggak lama kok, orang Mas Dirga saja baru turun, dia nya saja yang berlebihan." Sahut Ninta.
"Sudah, kita makan saja. Nanti masakannya Bi Tinah keburu dingin." Tukas Harsa.
Mereka makan dalam suasana yang selalu akrab. Walau ada Juna di antara mereka, namun keluarga itu tidak pernah merasa canggung atau kikuk. Itu semua karena Juna bukan lagi orang asing bagi mereka.
***
"Ting."
Sebuah notifikasi pesan masuk di HP Amelia.
Lagi ngapain? Isi pesan dari Bobby.
'Baru selesai mandi, mau makan.' Kirim.
Nanti kalau udah selesai, aku telepon yah?
'Ok.'
Sambil makan nasi goreng, yang Amelia beli di abang gerobak keliling, gadis itu masih setia berkelana di jagad sosial medianya.
Satu persatu postingan di berandanya, ia lihat. Ada sebuah postingan yang membuat ia sedikit tertegun. Salah satu mantan kekasihnya saat kuliah dulu, memposting sebuah gambar hati terbelah. Disertai tulisan di bawahnya,
"Begini rasanya sakit karena dikhianati."
Entah mengapa, gadis itu merasa puas dan senang. Betapa pengkhianatan yang dulu mantannya itu lakukan, kini berbalik dirasakan juga oleh pria itu.
Pengkhianatan yang dilakukan hanya karena Amelia tidak mau dipeluk apalagi dicium oleh mereka para pria, yang mengatakan bahwa pacaran bila ada kontak fisik dengan kekasih itu adalah hal yang wajar dan sah-sah saja. Malahan bila seorang wanita enggan bersentuhan dengan kekasihnya, akan di pertanyakan perasaan suka atau cintanya.
Amelia memang takut dengan perlakuan seperti itu. Ia bukan sok suci atau sok jual mahal, tapi karena sifat polosnya itu membuat ia reflek menolak tindakan sedikit vulgar dari para pria yang pernah menjadi kekasihnya dahulu.
Akibatnya, para pria itu melakukan perselingkuhan dengan wanita lain, yang sialnya, kebanyakan dari wanita itu adalah teman-temannya sendiri.
Tapi, kenapa aku tidak menolak saat Dirga yang melakukannya. Gumamnya tiba-tiba.
Seketika teringat dengan apa yang telah terjadi di antara mereka selama ini. Kontak fisik yang dirinya dan Dirga lakukan, tanpa sadar malah menggiringnya pada pemikiran, 'apakah kini ia terlihat seperti gadis murahan atau gadis gampangan.'
Dengan mudahnya ia terbuai dalam pelukan pria itu. Dan malah menyambut dengan balasan, bahkan menikmatinya.
Ah, bodoh banget.
Padahal aku sudah bertekad akan bersikap dingin bahkan cuek.
Tapi kenapa kenyataannya nggak sama sekali.
Aku malah terpesona akan wajah dan juga sikapnya.
Tapi perlakuan Dirga memang membuatku terhanyut.
Apakah aku juga menyukainya?
***