My Boyfriend Is A CEO

My Boyfriend Is A CEO
Puncak Kenikmatan



Dirga sungguh memperlakukan Amelia dengan sangat lembut. Meski aksi yang dilakukannya dapat membangkitkan nafsunya sendiri, tapi sebisa mungkin ia menahan demi kenyamanan sang kekasih.


Saat ini yang dibutuhkan oleh gadis itu adalah rasa aman dan perlindungan dari dirinya. Ia tahu maksud dari Amelia yang ingin dicumbui olehnya, tiada lain untuk menghapus jejak dari aksi yang dilakukan oleh pria brengsek tadi. Gadisnya ingin melupakan setiap detik kejadian yang menimpanya.


Cumbuan itu masih berlangsung hingga Amelia seperti hilang akal kesadarannya akibat aksi yang dilakukan oleh Dirga. Wajah gadis itu menunjukkan rasa kenikmatan yang tak terhingga. Ia berasa terbang ke awang-awang manakala Dirga memainkan anggota bibir dan tangannya yang menjelajahi seluruh lekuk tubuh miliknya tanpa terlewati sedikitpun.


Dirga tahu jika kekasihnya itu telah benar-benar melupakan kejadian buruk tadi dan kini tengah menikmati cumbuan yang ia berikan.


Tangan Dirga masih membelai lembut perut rata nan menggoda milik gadisnya. Sedangkan bibir keduanya masih saling berpagut mesra. Irama yang Dirga ciptakan semakin jauh mendalam. Bibirnya dengan sengaja menggigit pelan bibir Amelia, membuat gadis itu akhirnya memberikan akses mudah bagi lidah Dirga untuk menelusup lebih dalam dan semakin menciptakan irama yang indah dan memanas.


Amelia tak bisa berkutik, saat tangan itu semakin jauh turun ke bawah dan menyingkap kain penutup tubuh bagian bawahnya. Gadis itu semakin memejamkan matanya saat tangan Dirga telah berhasil menyentuh titik sensitifnya. Tubuhnya memberikan respon yang tidak biasa. Tubuh Amelia semakin menggeliat tak karuan manakala tangan milik Dirga yang lain kembali menyentuh dan membelai lembut bahkan sesekali meremas kedua bukit miliknya.


Mereka belum pernah melakukan hal sejauh itu, jadi wajar saja jika Amelia merasakan kenikmatan yang luar biasa. Ingin ia mengeluarkan suara sehingga tercipta simfoni bernada indah yang akan membuat siapa saja yang mendengar akan merasakan rasa nikmat yang sama, tapi Dirga tidak membiarkan ciuman diantara mereka terlepas. Ia seolah sengaja memagut lebih dalam dan semakin dalam, dengan kedua tangannya yang tidak menganggur.


"Ah ...!" Akhirnya tautan yang Dirga lakukan pada Amelia ia lepaskan. Kini bibir itu berpindah menikmati anggota tubuh lezat yang lain. Kedua bukit yang menantang, tak luput ia lahap dengan penuh bernafsu namun dengan tempo yang ia usahakan sepelan mungkin. Namun tindakan Dirga yang melakukannya dengan lembut, malah membuat Amelia kepayahan. Ia seolah meminta lebih, ia ingin Dirga lebih liar dan kasar.


Tangan yang masih setia di bawah, malah semakin nakal. Tak segan dan tanpa permisi, Dirga menelusupkan satu jarinya ke sebuah ruang terbuka yang masih sempit di sana. Seketika Amelia terkaget, rasa apa ini? kenapa terasa luar biasa dan sangat nikmat.


Dengan posisi dari semua anggota tubuh Dirga yang tidak menganggur pada seluruh anggota tubuh Amelia, semakin lama aksi yang Dirga lakukan, mau tidak mau membuat tubuh Amelia akhirnya bereaksi dan menyentuh puncaknya.


"Dirga, hentikan! Aku sudah tidak kuat, aku mau ke kamar mandi, aku ingin buang air kecil." Amelia berkata dengan nafas terengah, ia berusaha berbicara di tengah rasa nikmat yang Dirga ciptakan.


Mendengar Amelia yang mengutarakan keinginannya, malah membuat Dirga tersenyum dan semakin liar menggoda tubuh kekasihnya.


"Dirga!" Amelia menggelinjang. Tubuhnya bereaksi dengan liar. Amelia tidak sadar, jika ia tengah merasakan puncak kenikmatan sebagai seorang perempuan.


Dirga menarik tangannya dari bawah sana setelah Amelia mulai merasa rileks. Nafas gadis itu masih terengah-engah dengan rasa pening di kepalanya yang tiba-tiba ia rasakan.


Dirga mengangkat kepala dan menghentikan cumbuan liarnya di atas bukit milik Amelia, yang saat ini menampakan banyak titik-titik merah kebiruan di banyak tempat di area dada dan pundaknya.


Masih dengan sisa-sisa nafas yang belum stabil, Dirga menyatukan kembali bibir keduanya. Tangan Amelia kembali melingkar di area leher Dirga. Ia ingin meluapkan semua kenikmatan yang ia rasakan agar menular kepada prianya itu.


"Apa itu tadi?" tanya Amelia terengah dengan wajah polosnya.


"Apa?" tanya Dirga balik dengan wajah jahilnya. Ia tahu pertanyaan yang Amelia maksud, namun ia sengaja menanyakannya kembali dengan niat menggoda dan mencairkan ketegangan.


"Aku pi**s!" ucap Amelia malu. "Kamu membiarkan aku mengeluarkannya di atas tempat tidur, Dirga."


Dirga tersenyum. Sejujurnya ia ingin tertawa. Tapi ia tak mau menyakiti perasaan kekasihnya itu.


"Itu namanya orga***, Sayang. Kamu sudah merasakan puncak kenikmatan bagi setiap orang yang bercinta." Dirga menjelaskan kepada kekasihnya itu. Dirga tahu jika Amelia belum tahu menahu mengenai hal itu karena gadis itu belum pernah merasakannya sebelumnya.


Pun yang terjadi pada diri Dirga. Pria itu belum pernah merasakan apa yang dinamakan puncak kenikmatan itu. Tapi ia tahu jika yang Amelia rasakan barusan adalah yang dimaksud dengan istilah itu.


"Aku senang kamu menikmatinya, Sayang! karena memang itu yang aku harapkan."


Amelia spontan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan yang tadi ada di leher Dirga.


"Kenapa kamu menutup wajahmu?"


"Aku malu, Dirga."


"Kenapa malu?" tanya Dirga tersenyum melihat wajah di bawah kungkungannya itu masih tertutup telapak tangan.


"Aku malu karena sangat menikmati aksi yang kamu lakukan padaku."


"Bukankah itu bagus?" tanya Dirga. "Sekarang lepaskan tanganmu, aku ingin melihat wajah meronamu itu."


Amelia menurunkan tangannya. Ditatapnya wajah Dirga yang berada tepat di atas tubuhnya itu.


"Terimakasih!" ucap Amelia tersenyum malu.


"Aku senang melakukannya."


"Apakah kamu ingin aku membalasnya?" tanya Amelia.


"Benarkah kamu mau melakukannya?" tanya Dirga terkekeh.


"Kenapa kalau aku ingin membalasnya? Kenapa kamu tertawa?"


"Kamu tahu bagaimana caranya kamu membalas agar aku merasakan kenikmatan yang kamu rasakan?" tanya Dirga.


Amelia mengangguk.


"Betul kamu ingin tahu caranya?" tanya Dirga lagi.


"Iya!"


Dirga membisikkan sesuatu di telinga Amelia.


"Apa?" pekik Amelia dengan wajah berubah memerah seperti kepiting rebus. Dan ia malah melihat Dirga tertawa.


***