My Boyfriend Is A CEO

My Boyfriend Is A CEO
Datang Berkunjung



Hari berganti hari, bahkan minggu pun ikut berganti. Kini hubungan Amelia dan Dirga telah lebih dari tiga minggu. Hampir mendekati angka satu bulan masa pacaran mereka.


Selama masa itu juga, hubungan keduanya masih belum diketahui publik atau pun karyawan perusahaan.


Dirga masih mengikuti keinginan Amelia untuk tidak menunjukkan status mereka di depan semua orang.


"Apakah kami sudah bilang orang tuamu kalau kita akan datang?" tanya Dirga dengan pandangannya lurus ke depan jalan.


Saat ini keduanya sedang dalam perjalanan menuju kediaman Amelia. Hampir sebulan hubungan yang mereka jalani, membuat Amelia dan Dirga memutuskan untuk memberitahu orang tua gadis itu.


"Sudah. Semalam aku sudah mengabari bunda kalau aku akan datang."


"Kamu mengabari apa kepada mereka?"


"Aku hanya memberitahu jika aku akan datang dengan kekasih baruku."


"Apakah kamu memberitahu siapa kekasihmu itu?"


"Tidak. Meski mereka bertanya, aku belum memberitahu mereka siapa kamu."


"Oh, baguslah."


"Kenapa begitu? mengapa kamu tidak marah aku tidak memberitahu mereka siapa kamu sebenarnya."


"Untuk apa aku marah. Aku yang akan memperkenalkan sendiri siapa diriku."


"Syukurlah, aku sudah takut jika kamu akan marah, Dirga."


"Kamu berlebihan, Sayang."


Dirga menatap wajah kekasihnya dan sesekali menyentuh pipi mulus Amelia yang nampak selalu menggemaskan baginya.


Sepanjang perjalanan menuju rumah orang tua Amelia, mereka mengisinya dengan obrolan-obrolan seru yang jarang mereka lakukan.


Dirga yang selalu sibuk dengan pekerjaannya, begitu pun Amelia yang masih enggan menampakkan status hubungan diantara keduanya, membuat mereka tidak leluasa untuk menjalin komunikasi. Hanya melalui chat atau telepon saja komunikasi yang mereka lakukan.


Hanya sesekali mereka bisa berkencan layaknya pasangan normal lainnya, yaitu ketika waktu libur kerja saja.


"Besok senin aku ada perjalanan ke luar kota," ucap Dirga.


"Berapa lama?"


"Paling lama dua hari. Rabu aku pulang."


"Oh ... ya sudah, kamu jaga diri baik-baik."


"Hei, harusnya aku yang berkata seperti itu sama kamu," sahut Dirga.


"Kamu selalu pandai berbicara," timpal Dirga dengan mencubit gemas pipi Amelia.


"Aw, sakit," ucap Amelia cemberut.


"Benarkah? apa kita harus mampir dulu ke dokter?"


"Ish, kamu ini selalu saja seperti itu."


"Apa?" jawab Dirga dengan tawa yang siap meledak.


"Tidak ada," jawab Amelia menutup obrolan, yang akhirnya disambut oleh tawa Dirga yang nampak puas.


***


"Ini rumahmu?" tanya Dirga ketika mobil berhenti di depan pagar bercat hitam.


"Iya. Kenapa? jauh berbeda dengan kediaman keluarga Narendra yah?"


"Perkataan kamu sungguh terdengar tidak enak, Sayang."


Amelia hanya tertawa mendengar ucapan kekasihnya, Dirga.


"Aku tidak membicarakan perbedaan rumahmu dengan rumah keluargaku. Aku hanya memastikan saja. Apakah benar rumah mungil nan asri ini adalah kediaman masa kecil kekasihku?"


"Apa maksud kamu mungil? benarkan kalo kamu ingin membandingkan rumahku ini dengan kediamanmu yang megah luar biasa itu."


"Kamu ini kenapa jadi sensitif? apakah aku salah mengatakan bahwa rumahmu mungil?" tanya Dirga dengan kekehannya.


"Iya, iya, kamu tidak salah," sahut Amelia dengan segera membuka pintu mobil dan beranjak meninggalkan Dirga yang masih tertawa di dalam mobil.


"Hei, Sayang. Kenapa kamu meninggalkan aku?" Dirga berkata sedikit berteriak saat menutup pintu mobil.


"Dirga, kamu tidak perlu teriak-teriak dan memanggil aku seperti itu," seru Amelia di depan gerbang.


"Seperti apa yang kamu maksud?" Dirga bertanya dengan jahil.


"Kamu selalu pura-pura tidak tahu begitu." Amelia tidak berani mengatakan apa yang ingin Dirga dengar.


Ia segera membuka pintu gerbang rumahnya dengan Dirga yang turut mengikuti langkahnya dari belakang.


"Kalian sudah sampai?" tanya suara seorang wanita dewasa yang telah berdiri di depan pintu.


"Eh, Bunda."


***