
"Mulai malam ini aku tinggal di apartemen milik Dirga, Bob!" Kedua sahabat itu sedang melakukan sambungan telepon.
Dirga yang sudah pamit bersama Juna beberapa menit lalu, meninggalkan Amelia sendirian di apartemen miliknya. Ia lebih merasa aman jika kekasihnya itu tinggal di apartemen dibanding harus tinggal di rumah kontrakan.
[Aku rasa keputusan Pak Dirga ada benarnya. Aku setuju, kamu akan lebih aman tinggal di sana.]
"Ya, itu juga yang dia katakan. Jika aku lebih aman di sini."
[Kamu kirim alamat apartemennya. Besok pulang kerja, aku mampir kesana!]
"Ya, nanti aku kirim. Ya sudah, aku mau istirahat, Bob. Ini sudah malam."
[Ya, istirahatlah, Mel! Selamat malam?]
"Selamat malam, Bob!"
Malam semakin larut, ketika pada akhirnya Amelia terlelap setelah merasa lelah atas jiwa, raga dan juga pikirannya.
***
Teet! Teet!
Bunyi bel apartemen, mengagetkan Amelia yang sedang menyantap sarapan paginya.
Ia beranjak hendak melihat siapa tamu yang datang pagi-pagi di apartemen Dirga.
Ketika ia mengintip di lubang kecil pintu, nampak sosok Dirga berdiri di sana. Dengan segera ia membukakan pintu untuk pria itu.
"Apakah kamu tidak hafal dengan password apartemenmu sendiri?" tanya Amelia tersenyum.
"Tentu saja aku tahu, tapi jika aku membuka pintu tanpa memencet bel terlebih dahulu, yang ada kita tidak jadi berangkat ke kantor."
"Loh, kenapa?" Amelia terheran.
"Seandainya aku masuk ternyata kamu sedang tidak berpakaian, aku takut tidak kuat menahan godaan," ucapnya sambil tersenyum menggoda.
"Kamu ini, masih pagi otaknya sudah jalan-jalan." Amelia pura-pura kesal.
"Jalan-jalan kemana, otak aku masih pada tempatnya, kok!"
"Enggak tahu, ah!" ucap gadis itu seraya membelakangi Dirga, berjalan masuk.
"Apa kamu sudah sarapan?" tanya Amelia dengan Dirga yang mengekorinya di belakang.
"Aku sudah sarapan di rumah. Apakah kamu sedang sarapan?" tanya Dirga balik.
"Ya! apakah kamu mau?" Dirga duduk di kursi makan, memperhatikan gadis di depannya yang sedang menikmati sarapannya. "Tidak, terimakasih!"
"Apa kamu sengaja menjemputku?" tanya Amelia di sela-sela makannya.
"Ya, tentu saja. Mulai hari ini aku akan antar jemput kamu bekerja."
Amelia bengong. Sebetulnya bukan ini yang ia harapkan. Dirga memperlakukannya terlalu berlebihan.
"Apakah harus seperti itu? Padahal aku bisa berangkat dan pulang kerja sendiri," ujarnya pelan.
"Aku yang tidak bisa. Aku tidak mau jika kamu mengalami kejadian serupa."
Amelia terdiam dan menunduk. Dirga tersadar dengan ucapannya. Segera dihampiri kekasihnya itu dan Dirga genggam tangan yang terlihat mengepal seolah sedang menahan rasa yang entah apa.
"Oh, maafkan aku, Sayang. Aku tidak bermaksud ...!" ucap Dirga, namun terpotong oleh Amelia.
"Tidak apa-apa. Aku tahu maksud kamu, aku mengerti." Amelia tersenyum menatap pria di sampingnya.
"Shut!" seru gadis itu, menyentuh bibir kekasihnya. "Siapa yang bilang kamu tidak berguna? Dengan kamu menyuruh orang mengawal aku selama ini, bukankah itu suatu perlakuan istimewa yang kamu berikan padaku? Itu hal yang sangat berguna untukku, Dirga. Aku sangat berterimakasih padamu akan hal itu."
"Itu bukanlah apa-apa, Sayang. Aku hanya merasa itu sudah menjadi tanggung jawabku sebagai kekasihmu," ucap Dirga. "Bahkan jika kamu setuju, aku ingin kamu diantar jemput oleh supir, kemanapun kamu pergi."
"Stop! Aku tidak suka yang terlalu berlebihan."
"Ya, aku tahu. Makanya aku tidak mengajukan permintaan itu."
Amelia melepaskan pelukan Dirga, "ya sudah, sepertinya ini sudah terlalu siang."
"Kamu tenang saja, baru jam berapa sekarang?" ucap Dirga sambil melihat jam di tangannya.
"Pak Dirga yang terhormat. Jam masuk kerja aku itu berbeda denganmu. Jadi, kamu jangan seenaknya bicara."
"Tentu saja aku boleh bicara seenaknya, aku 'kan bos-nya di sini."
"Ya, ya, aku tahu. Jadi, kita akan berangkat bersama atau kamu masih mau duduk di sini?" tanya Amelia yang sedang gantian menggoda Dirga.
"Kita berangkat bersama 'lah!"
"Ya sudah, ayo!" Amelia menarik tas kerjanya yang sudah siap di atas meja makan.
***
Suasana kantor terlihat cukup ramai, dengan rutinitas di pagi harinya. Para karyawan mulai memasuki pelataran gedung perusahaan.
"Selamat pagi, Pak!" sapa salah seorang satpam ketika melihat Dirga keluar dari dalam mobil yang berhenti di depan gedung.
"Selamat pagi!" Dirga menjawab sapaan Pak Satpam.
Amelia turun setelah Dirga. Gadis itu terlihat gugup dengan wajah yang sudah mulai bermunculan keringat.
Dirga menggenggam tangan Amelia, berusaha agar gadisnya itu merasa tenang.
"Apa kamu gugup?" tanya Dirga, dan mendapat anggukan dari Amelia.
"Tenang saja! Semuanya pasti akan baik-baik saja." Ucapan Dirga bukannya membuat gadis itu tenang, tapi malah membuat ia semakin tegang.
Dirga menyadari itu. Dan pria itu malah tersenyum melihat kegugupan yang tengah dirasakan kekasihnya.
"Ya sudah, ayo masuk!" Dirga menarik Amelia agar melangkahkan kaki menuju ke dalam gedung. Juna mengikuti keduanya dengan berjalan di belakang.
Sesuai dengan yang Amelia bayangkan sejak jauh-jauh hari, baru melihat keduanya berjalan berpegangan saja, sudah membuat banyak pasang mata melihat mereka dengan tatapan penasaran. Semua tatapan itu membuat Amelia menunduk di sepanjang perjalanannya menuju ruangan.
"Aku akan mengantarmu sampai ke ruangan divisi!" ucap Dirga.
"E-eh, tidak perlu, Dirga. Aku bisa ke ruanganku sendiri." Amelia tidak mau jika kedatangan Dirga membuat heboh karyawan bagian divisi keuangan --tempat gadis itu bekerja.
"Tapi aku mau!" ucap Dirga memaksa.
"Ya Tuhan, mau ditaruh di mana mukaku?" lirih gadis itu bicara. Kalimat yang Amelia ucapkan membuat Dirga tersenyum kembali.
Tepat di depan lift karyawan yang berdekatan dengan lift khusus, orang-orang yang tengah menunggu lift terbuka, melirik dan menatap tajam pada pasangan yang saat itu masih saling berpegangan tangan.
Sudah tidak tahu lagi perasaan yang saat ini tengah Amelia rasakan. Gadis itu hanya berharap bisa memasukkan kepalanya ke dalam air agar tidak dapat dilihat oleh karyawan yang saat ini sedang mencuri-curi pandang melihatnya bersama Dirga.
Pandangan antara rada segan dan hormat kepada sang atasan, namun juga rasa penasaran yang tengah mereka rasakan karena melihat pemimipin tempat mereka bekerja, dengan santai menggenggam tangan seorang karyawan baru.
***