
"Maaf, Mba. Apa betul ini ruangan Bapak Dirga?" Tanya Amelia pada seorang karyawan wanita yang hendak berdiri, tepat di depan ruangan CEO.
"Ah, iya. Kamu siapa? Dan ada perlu apa?" Tanya Rena, sekertaris Dirga.
"Saya Amelia, staf keuangan yang baru. Tadi saya diberi tahu oleh Ibu Susi, katanya saya diperintahkan untuk menghadap Pak Dirga." Ujar Amelia.
"Oh, baik. Kalau begitu, tunggu sebentar." Ucap Rena, hendak menghubungi Juna lewat sambungan telepon.
"Eh, Mas Juna, ini ada...siapa tadi namanya?"
"Amelia."
"Iya, Amelia. Katanya disuruh menghadap Pak Dirga.
...
"Baik, Mas. Siap."
...
"Terimakasih, Mas Juna."
Rena menaruh kembali telepon di tempatnya.
"Mba Amelia, sudah di tunggu sama Pak Dirga di dalam."
"Ah, iya. Di ruangan ini yah, Mba."
"Iya. Oh iya, aku Rena. Sekertaris Bapak Dirga." Katanya pada Amelia sambil mengulurkan tangan.
"Ah iya, Mba Rena. Saya Amelia."
"Iya udah tahu, kan tadi udah bilang. Panggil aku Rena aja yah, nggak usah pakai Mba." Ujar Rena lagi.
"Ah iya, Rena, terimakasih yah. Kalau gitu, aku masuk dulu."
"Iya, silakan."
Belum sempat Amelia mengetuk pintu, sesosok pria muncul dari balik pintu.
"Ah Mas Juna. Saya, kata Ibu Susi..." Belum selesai Amelia berkata, Juna sudah memotong duluan.
"Iya, Mba Amelia. Pak Dirga sudah menunggu Mba dari tadi." Sahut Juna.
"Eh, dari tadi? Tapi saya baru dikasih tahu oleh Ibu Susi barusan, dan saya langsung lari ke sini." Seru Amelia, berasa tak enak.
Juna tersenyum. Ia kemudian mempersilakan Amelia untuk masuk ke dalam ruangan.
"Mas Juna tidak ikut masuk?" Tanya Amelia tatkala melihat Juna hendak menutup pintu tanpa ikut masuk bersamanya.
"Tidak, Mba. Saya mau pergi istirahat." Jawab Juna. Ia mengerti dengan kebingungan gadis di depannya.
Tapi Ia sengaja tidak ingin memberitahu maksud dari atasannya memanggil gadis itu. Juna senang melihat ekspresi ketakutan, bingung dan juga ekspresi malu dari Amelia.
Pantas si Bos begitu tergila-gila dengannya, ekspresi wajah dari gadis ini memang bisa membuat mata laki-laki terpesona dengan mudahnya. Mungkin seandainya belum ada Nancy di dalam hatiku, bisa jadi aku juga..., apa? Kenapa aku jadi ngelantur gini. Juna
"Mas Juna, kita jadi makan bareng kan?" Tiba-tiba suara Rena mengagetkan Juna dari lamunannya.
"Eh Rena. Oh, jadi dong, kemarin ini kan kita gagal makan barengnya, kali ini aku nggak batalin lagi kok. Yuk, ke kantin." Ajak Juna.
Yang diajak langsung tersenyum cerah, kali ini keinginannya untuk makan bersama Juna akhirnya kesampaian juga.
***
"Selamat siang, Pak Dirga." Sapa Amelia, saat menginjakkan kakinya di dalam ruangan Dirga.
Begitu mendengar suara dari seorang gadis yang telah meluluhkan hatinya itu, sontak Dirga memutar bangku agar dapat melihat sosok Amelia, yang baru kemarin bertemu namun kini sudah ia rindukan.
"Amelia." Dirga langsung berdiri dan berjalan menghampiri.
Amelia merasa masih sedikit takut untuk menatap Dirga. Meski sebelumnya Ia telah bertekad agar tidak lemah di depan pria ini lagi. Tapi pada kenyataannya, tekad yang sudah bulat sedari malam itu, malah terlihat ciut sekarang, manakala sosok itu berjalan menghampirinya.
Amelia diam tidak bergerak di posisinya.
"Maaf, Pak Dirga. Ada keperluan apa yah Bapak memanggil saya, ah..." Belum selesai gadis itu berkata, namun Dirga telah menarik tangan kiri Amelia hingga tubuhnya menempel dengan dada bidang pria itu.
Amelia kaget dan otomatis ia menjerit. Namun ruangan yang didesain kedap suara itu, tidak akan membuat siapa saja yang berada di luar akan mendengar jeritan Amelia tadi.
Apalagi saat ini tidak ada siapapun di ruangan itu bahkan di sepanjang lorong di luar.
Ya, Dirga telah menyuruh Juna agar tidak segera kembali sebelum ia perintahkan. Termasuk memerintahkan Rena sekertarisnya agar tidak mengizinkan siapapun masuk bila tidak memiliki janji dengannya.
Tangan kiri Dirga tepat memegang belakang pinggang Amelia dan tangan kanannya sendiri bebas untuk melakukan apa saja pada gadis di depannya itu. Posisi yang semakin membuat Amelia salah tingkah.
Gadis itu terperangah, ia terpesona pada ketampanan pria di depan wajahnya itu. Amelia tidak bergerak, ia seolah terhipnotis. Kedua matanya tidak berkedip sama sekali.
Wajah pria itu sangat dekat, dekat sekali. Hingga nafas yang keluar dari kedua mulut mereka, bisa sama-sama mereka rasakan.
"Bukankah aku sudah bilang, jangan panggil aku dengan sebutan itu?" Ujarnya dengan alis yang terangkat sebelah.
"Ta..Tapi, ini di kantor, dan sekarang saya telah menjadi karyawan anda, Pak Dirga. Jadi saya tidak mungkin memanggil anda hanya dengan nama saja." Jawab Amelia terbata, masih dengan kedua mata yang enggan berpaling.
Tangan kanan Dirga yang bebas, terangkat dan jari jemarinya menyentuh pipi kiri gadis itu dan mengelusnya.
Amelia mengerjapkan matanya. Ia kaget, takut dan tentu saja malu. Nafasnya sudah memburu tak dapat dikontrol. Ia berpikir bahwa Dirga pasti bisa merasakan debaran hati dan juga detakan jantungnya yang lepas kendali.
Sial, kenapa aku tidak bisa menguasai tubuh dan perasaanku begini. Sungguh aku tak dapat mengontrol diri bila sudah berada dekat dengannya. Dan apalagi saat ini kita hanya berdua saja. Dirga.
"Shut!" Telunjuk Dirga menempel di bibir tipis milik Amelia.
"Kamu jangan terus-terusan mencari alasan dan juga pembenaran, Amelia." Lanjut Dirga, sembari ibu jarinya dengan nakal mengusap lembut bibir Amelia dan mata yang tak lepas menatap gadis cantik di depan wajahnya saat ini.
Tuhan, tolong hambaMu ini. Aku sudah tidak sanggup berdiri. Emosi perasaan dari tubuhku akibat sikap yang dilakukan oleh pria ini, membuatku menjadi lemah. Amelia.
"Apa maksud Bapak? Apakah perkataan saya salah?" Amelia masih mencoba bertahan.
"Ck.." Dirga berdecak, jari jemarinya semakin intens mengusap bibir itu.
"Amelia, ini memang di kantor dan kamu juga sudah resmi menjadi karyawan di perusahaanku. Tapi apa kamu lupa? Saat ini bukankah kita hanya berdua dan tidak ada siapa-siapa di sini?" Tutur Dirga.
"Ta.. Tapi, Pak Dirga. Saya tidak mu...euhm..." Amelia tidak dapat menyelesaikan kalimatnya, karena kumpulan emosi rasa, dari seorang pria bernama Dirga sudah tidak dapat di bendung lagi.
Amelia terkejut dan tentu saja tidak siap. Sungguh ia tidak menyangka bahwa Dirga akan bertindak sejauh itu.
Ya Tuhan... Pria ini, apa yang ia lakukan? Amelia.
Tuhan, akhirnya aku bisa merasakannya lagi. Rasa ini masih sama seperti waktu itu. Dan sungguh aku tidak mau menghentikannya. Dirga.
Amelia tidak membalas, karena ia memang tidak berpengalaman dalam hal seperti ini. Yang gadis itu lakukan hanya diam dan memejamkan mata saja.
Walau tidak mendapat balasan, Dirga enggan untuk menghentikan kegiatan yang sudah ia mulai. Yang ada ia malah mempererat pelukan tangannya di belakang pinggang gadis itu yang perlahan menjalar ke atas punggung.
Mendapat perlakuan kontak fisik yang Dirga lakukan secara lembut dan tidak terburu-buru membuat Amelia terbuai dan hilang fokus.
Perlahan instingnya malah memberi celah bagi Dirga untuk melakukan lebih dalam.
Mendapat lampu hijau dari sang pujaan hati, membuat Dirga tersenyum di sela-sela kegiatannya. Ia semakin mengeksplor bagian yang saat ini sedang ia sentuh dan ia jelajahi.
Hingga akhirnya, sebuah cengkraman kuat dari tangan Amelia, Dirga rasakan di kedua bahunya. Membuat ia terpaksa menghentikan kegiatan mesra di antara mereka.