My Boyfriend Is A CEO

My Boyfriend Is A CEO
Permintaan Maaf Aron



Pagi yang cerah dengan udara yang cukup segar, mengawali hari seorang Amelia sebagai pengangguran, selepas Ia lulus dari kuliahnya.


Hari ini Ia sudah nampak terlihat rapi. Pagi-pagi sekali Ia sudah terbangun, padahal semalam Ia begadang hingga larut demi berkelana di jagat maya.


Di dunia nyata memang kawannya tidak banyak, namun jangan salah, di sosial media karena Ia cukup aktif bermain di sana, sehingga secara tidak langsung membuatnya memiliki kawan-kawan yang tidak sedikit.


"Ting."


Terdengar notif pesan masuk di whatsapp.


"Mel, jadi ke kampus?"


Ternyata pesan masuk dari Boby.


"Jadi. Ini aku mau berangkat." Kirim.


"Oh.. Take care yah. Aku juga baru mau jalan nih ke kantor tempat aku kerja. Dan sekali lagi sorry kali ini aku gak bisa antar kamu**."


Tak lupa di sematkannya emoticon tersenyum di akhir kalimat.


"Iya nyantai aja. Lo juga sama hati-hati. Semoga tanda tangan kontrak kerjanya sukses dan menjanjikan."


"Aamiin. Thanks yah, Mel."


"Ok deh, aku cabut dulu. Bye."


"Ok, bye." Kirim


Di taruhnya ponsel pintar ke dalam tas selempangnya. Di lingkarkan tas itu ke sekeliling bahunya.


"Ayo semangat Amelia Sarawijaya. Semoga hari ini adalah hari yang baik untukmu juga." Teriaknya menyemangati diri sendiri.


***


"Amelia!"


Seseorang terdengar berteriak dari arah belakangnya.


"*Aron?"


"Gila, ngapain tuh orang ada di sini."


"Apes banget aku hari ini*."


Gumam-gumam gadis itu saat melihat sosok lelaki yang sudah mulai ia benci sejak kejadian pesta kelulusan lalu.


"Hai Mel!" sapa Aron ketika sudah berdiri di depan Amelia.


"Hai!" jawabnya ketus.


"Ngapain kamu di sini, Mel?"


"Bukan urusan kamu," sambil melirik kanan kiri.


Tumben orang ini nggak sama bala tentara perangnya. Amelia.


"Oh sorry. Maaf kalo udah lancang."


Heuh, tumben ini orang masih bisa ngomong maaf.


"Mel, ada yang mau aku omongin sama kamu."


"Maaf Aron, aku gak ada waktu. Aku lagi ada perlu."


"Sebentar aja, Mel. Gak lama kok."


"Lima menit aja, yah?" Aron bicara dengan tampang sedikit memelasnya.


"Ok, lima menit aja. Silakan kamu mau ngomong apa?"


"Mel, bisa kan kita cari tempat yang enak buat ngobrol. Kok kayanya gak enak banget yah kalo sambil berdiri gini."


"Emang kenapa. Toh cuma lima menit aja. Lagian aku gak mau yah, seandainya nanti orang lihat kita ngobrol malah jadi ada kesimpulan yang aneh-aneh."


"Berdiri di sini atau nggak sama sekali." Keputusannya.


"Ok deh. Gak apa-apa kalo kamu maunya begitu," kata Aron menyerah.


"Iya, emang aku maunya begitu."


"Mel, aku mau minta maaf sama kamu."


"Minta maaf untuk apa," kata Amelia pura-pura tidak tahu.


"Minta maaf atas perbuatan aku tempo hari sama kamu."


"Apa itu?"


"Ehm... Mel, aku yakin kamu tahu apa yang aku maksud."


"Aku gak tahu tuh."


Aron terlihat menghela nafas.


"Mel, aku minta maaf karena saat malam pesta kelulusan lalu, aku sudah memasukkan obat perangsang ke dalam minuman kamu tanpa kamu ketahui."


"Saat itu aku khilaf, Mel."


"Waktu itu aku merasa tertantang sebagai seorang lelaki saat teman-teman menyuruh melakukan hal itu."


"Aku benar-benar minta maaf, Mel. Aku mohon kamu maafin aku."


"Aron, dengar yah. Semenjak kejadian itu, jujur saja aku jadi benci sama kamu."


"Aku bersumpah nggak pernah mau lagi melihat wajah kamu. Aku merasa jijik sama diriku sendiri atas perbuatan kamu itu."


"Sekarang kamu berharap aku maafin kamu. Heuh... Usaha apa yang udah kamu lakukan supaya aku kasih maaf ke kamu?"


"Sedangkan sejak kejadian itu, kamu sama sekali nggak ada itikad baik untuk bicara sama aku dan meminta maaf. Seandainya kita gak ketemu di sini, aku yakin sampe sekarang kamu gak kan pernah nemuin aku."


Gadis itu terlihat emosi. Matanya sudah memerah, nada bicaranya terdengar sedikit bergetar karena suara yang ia tahan, agar tidak menimbulkan suara teriakan yang malah menimbulkan kegaduhan nantinya.


"Mel, waktu itu aku udah pernah ke rumah kamu, tapi kamu nggak ada. Kata tetangga rumah, kamu lagi pulang ke rumah orang tua kamu," sedikit Aron mencoba membela diri.


"Hellooo... Aron, sekarang itu udah zaman apa sih? Kamu nggak kenal yang namanya telepon, HP atau ponsel?"


"Apa kamu nggak bisa setelah malam kejadian itu, kamu hubungi aku untuk minta maaf?"


"Maaf Mel, waktu itu aku masih belum berani. Aku pengecut memang. Tapi itu kenyataannya. Keberanian aku untuk minta maaf sama kamu belum timbul. Aku memerlukan tekad kuat selama hampir seminggu, sampe akhirnya aku memberanikan diri datang menemui kamu. Tapi ya itu tadi, aku nggak berhasil ketemu sama kamu."


"Heuh, gampang sekali kamu ngomong dan membela diri seperti ini, Aron," sedikit memicingkan matanya.


"Apa kamu memikirkan sebelumnya akibat dari perbuatan kamu itu?" tanyanya lagi.


Lelaki itu tidak bersuara. Ia menyadari bahwa ia salah. Dan sepertinya pembelaan dirinya tidak berguna sama sekali.


"Masih untung bagimu, aku tidak melaporkan perbuatan kamu ke pihak berwajib."


"Yaa.. Aku tahu itu, dan aku sungguh berterimakasih padamu," lanjut Aron sembari menundukkan kepalanya.


Hei, mana gaya Playboy dan gaya arogan mu selama ini. Kenapa tiba-tiba kamu jadi slow melow begitu. Amelia.


"Ya sudah lah Aron. Aku nggak mau membahas ini lagi. Dan sepertinya waktu lima menit kamu sudah lewat. Lain kali kalau bisa aku nggak mau lihat muka kamu lagi."


"Apa itu tandanya kamu udah maafin aku, Mel?" tanyanya penuh harap.


"Yang pasti aku nggak pernah mau bahas dan ketemu kamu lagi. Titik."


"Aku permisi, udah telat," katanya sambil berlalu tanpa menunggu jawaban dari lelaki itu.


"Makasih Amelia," gumamnya sambil tersenyum.


"Tidak apa-apa kamu gak mau ketemu aku lagi sekarang-sekarang. Tapi aku pastikan, kalau kita pasti berjumpa lagi lain kali dan dengan situasi yang sudah berbeda," ujarnya sambil berlalu pergi meninggalkan area kampus.


***


"Hallo, iya, selamat siang."


....


"Iya, betul saya sendiri."


....


"Apa? Oh iya, terima kasih informasinya."


....


"Ah iya baik Pak, besok saya akan datang."


....


"Iya Bapak, terimakasih."


Gadis itu tersenyum cerah setelah mengakhiri hubungan teleponnya dengan seseorang.


Di tekannya kembali tombol di layar ponselnya saat terdengar nada dering panggilan masuk.


"Hallo Bob..."


....


"Oh yah..?" syukur deh Bob, seneng aku dengernya.


....


"Oh ok siap. Aku tunggu."


....


"Dah."


Sungguh Tuhan mengabulkan do'a Amelia. Hari ini menjadi hari keberuntungan baginya. Meski di awali pertemuan yang menguras emosinya tadi pagi. Namun ternyata ada hal yang indah setelahnya.


Sungguh pepatah yang mengatakan, bahwa setelah hujan akan muncul pelangi, kali ini berlaku untuknya.


***