
"Jam makan siang, kita di mana?" tanya Dirga pada sang asisten.
"Kita ada meeting dengan PT Trimas, Pak."
"Sembari makan siang?"
"Sebetulnya satu jam setelah makan siang, hanya saja posisi kita terakhir dekat dengan PT Trimas, Pak, jadi kita bisa memajukan waktunya, dan mereka pun setuju."
"Meeting point nya di mana?"
"Restoran tempat kita meeting dengan PT Samudra sebelumnya, Pak."
"Hem."
"Treet... Treet.. Treet.."
Suara nada dering telepon dari ponsel Juna.
"Iya, selamat siang."
....
"Iya."
....
"Maaf, Ibu. Saya tidak bisa mengambil keputusan sendiri. Saya harus menanyakan hal itu dengan bapak Dirga telebih dahulu."
.....
"Iya, Ibu. Nanti saya kabari."
....
"Iya Ibu, sama-sama."
"Siapa?" tanya Dirga, yang penasaran semenjak namanya disebut oleh Juna.
"Maaf, Pak Dirga. Tadi Ibu Cintya yang telepon."
"Ada apa?"
"Dia mengabarkan bahwa Bapak Dimas telah pulih, dan sudah kembali dari Rumah sakit."
"Ibu Cintya bilang, bahwa ayahnya, Pak Dimas, ingin bertemu dengan anda. Beliau ingin mengucapkan rasa terimakasihnya secara langsung kepada Anda, mengenai kontrak kerjasama yang telah terjalin di antara PT Buana dan PT GeHa."
"Ah..." suara desahan itu terdengar.
Juna seolah mengerti tentang pemikiran atasannya itu.
"Bapak ingin menolaknya?"
"Nanti aku pikirkan lagi. Kalau ada waktu kosong, tak ada salahnya kita menyenangkan partner bisnis kita."
"Baik."
***
"Mel, yuk, ke kantin," ajak Sofi.
"Sebentar aku beresin dulu, ayo!"
Setelah membereskan barang-barang kerja yang sebelumnya berserakan di atas meja, Amelia dan Sofi, pergi melangkah ke arah kantin.
"Mau pesen makan apa, Mel?"
"Belum tahu nih. Sebetulnya aku belum terlalu pingin makan. Belum lapar," ucap Amelia, yang entah mengapa merasakan kekosongan di hatinya.
"Kamu kenapa sih, Mel. Aku perhatiin dari tadi, kaya lagi kurang semangat gitu."
"Nggak tahu nih, Sof. Aku sendiri nggak ngerti," ujar Amelia, yang mulai melirik beberapa menu makanan di kantin.
"Amelia!"
Terdengar suara dari arah pukul tiga. Tangan itu melambai-lambai ke arahnya.
"Dika?"
Mereka terlihat berkumpul lebih dari tiga orang. Tapi tak ada Mirna atau Mesi di sana. Yang ada hanya karyawan kepegawaian.
Bangku kantin terlihat penuh tak ada celah. Mungkin karena itulah Dika memanggil gadis itu.
Amelia sudah siap dengan satu mangkok baso dan jus jeruknya. Sedangkan Sofi memilih makan nasi dengan soto ayamnya.
"Aku nggak sempat sarapan tadi, Mel. Makanya sekarang kerasa lapar benget," ujar Sofi sambil terkekeh.
"Amelia! Sini!" Dika memanggil lagi untuk kedua kalinya.
Memang masih ada space kosong untuk mereka berdua. Meski dengan sikap canggung karena belum akrab dengan pegawai dari bagian lain. Tapi mau tidak mau, mereka menyambut tawaran dari Dika tersebut.
"Semua meja penuh. Maaf kalau aku ikut duduk di sini?" sahut Amelia.
"Iya, nggak apa-apa, Mel. Kan aku yang nawarin," ujar Dika.
Sebelum mulai makan, Amelia dan Sofi dikenalkan oleh Dika dengan tiga temannya dari divisi yang sama, yang saat itu sedang menikmati santap siang.
"Gimana hari pertama kamu kerja kemarin? kayanya seru yah?" tanya Dika antusias.
Makanan Dika sudah habis, waktu yang tersisa masih empat puluh menit sebelum masuk, sepertinya akan ia pergunakan dengan ngerumpi.
Mendengar kata hari pertama, tiba-tiba membuat Amelia malu. Ia teringat akan peristiwa kemarin saat jam istirahat berlangsung.
"Lumayan, Mas Dika."
"Kamu harus tahu, Mel. Divisi keuangan itu, divisi yang paling rame dan paling seru," ucap Dika, terlihat antusias.
"Benarkah?" tanyaku sedikit ragu-ragu.
"Iya, bener kok, Mel," samber Wali teman Dika.
"Dulu aku sempat di divisi keuangan, hampir satu tahun. Anak-anaknya seru, manajernya juga asik, Bu Susi," jelas Dika.
"Oh. Pantes aja kamu terlihat akrab dengan mereka kemarin."
"Ya, itu salah satunya juga."
"Lantas kenapa kamu bisa pindah ke divisi kepegawaian?" sambung Sofi sekarang.
"Ada sedikit masalah, kesalahan aku juga sih. Masih mending aku tidak di pecat saat itu."
"Makanya, Amelia dan Sofi. Divisi keuangan itu bagian yang termasuk krusial, kamu jangan sampai melakukan kesalahan saja di sana."
"Untungnya, Bos kita itu nggak pernah marah. Dia akan bertindak bila pegawainya tidak disiplin serta kinerjanya menurun," masih panjang Dika memuji atasannya itu.
"Pak Dirga itu baik. Aku belum pernah mendapatkan bos seperti itu selama aku kerja di beberapa tempat," ujar Wali.
"Yup, bener banget, dia berbeda dari pimpinan perusahaan kebanyakan."
"Kalau aku perempuan juga, aku udah masuk fanbase nya Pak Dirga tuh," ujarnya lagi.
"Hooh. Untungnya kita masih normal, hahaha."
Kompak Wali dan Dika tertawa.
"Nah, dua wanita ini, aku rasa juga udah jadi anggota Dirga's lover nih," tunjuk Dika pada teman perempuannya yang ada di antara mereka.
"Emang, kok kamu tahu?" sahut karyawan bernama Abel.
"Ya iya lah aku tahu, karena hampir semua karyawan wanita di perusahaan ini, mereka masuk jadi anggota," ujar Dika sambil menggelengkan kepalanya.
"Aku nggak habis pikir sama kelakuan para pegawai-pegawai itu," ujarnya lagi.
"Kenapa?" tanya Amelia, sambil menikmati hidangan baso di depannya.
"Buat apa mereka menggilai seorang pria yang sulit dijangkau, padahal jelas-jelas ada pria lain yang lebih tampan dan mempesona di divisi kepegawaian, yang lebih mudah untuk di dekati."
"Maksud kamu, aku kan, Dik?" sahut Wali.
"Yee... Ya aku lah, Wali."
"Huuuuuh.." sorak sorai dari Abel dan temannya.
Mereka seolah tak terima dengan penjelasan dari Dika juga sikap PD pria itu.
Amelia dan Sofi ikut tersenyum. Ternyata waktu istirahat yang tadi hampir membuatnya badmood, berubah menjadi ceria.
Sosok Dika mirip dengan sahabatnya, Boby. Keduanya sungguh tidak ada bedanya, sama-sama humoris dan konyol.
"Treet... Treet... Treet..."
HP Amelia bergetar.
"Ya, hallo."
....
"Sedang istirahat di kantin."
....
"Tidak. Saya tidak sendiri. Ada teman-teman yang lain."
....
"Ehm.. Ya."
....
"Bye."
Sepertinya telepon dari Dirga. Karena saat menerima panggilan itu, raut wajahnya nampak terlihat semakin berseri.
"Siapa, nih? pacar kamu yah, Mel," kepo Dika.
"Ehm, bukan. Cuma temen," katanya berbohong.
Amelia tidak ingin orang lain tahu mengenai hubungan, entah apa namanya, antara dia dan Dirga, sang CEO, pemimpin tertinggi di perusahaan tempat dirinya bekerja.
Dia tidak mau ada gosip, yang sangat panas pastinya, membakar emosi para karyawan yang mengidolakan Dirga.
"Temen apa temen?" seru Dika masih dengan senyum jahil di wajahnya.
"Bener temen, kok," ucap Amelia dengan wajah memohonnya.
"Temen kok kayanya canggung dan malu-malu gimanaaa," ujar Dika tetap memberondong gadis itu.
Amelia sudah tidak ingin membela diri, pikirnya percuma.
"Ya Ampun, Mel, aku becanda kali. Memelas gitu mukanya."
Dika malah tertawa melihat raut wajah gadis di sampingnya itu.
***