
Viona pun masih terisak dalam pelukan sang mommy, tak berselang lama Viona pun terlelap.Setelah Viona terlelap, tanpa terasa air mata Ana pun langsung menetes.
Melihat sang istri menangis, Marvell pun langsung menghampiri sang istri dan langsung memeluk nya, Ana pun langsung menangis dalam pelukan sang suami.
"Mom, sudah jangan menangis lagi. " kata Marvell pada sang istri.
"Dad kasian Viona. " kaya kata Ana pada sang suami.
"Kita do'a kan saja mom, semoga Viona bisa melewati semua cobaan ini. " kata Marvell pada sang istri.
"Sayang, kamu harus kuat, abang akan selalu ada di samping kamu. " kata Gavin pada Viona, tak lupa dia juga menggenggam tangan Viona.
"Sayang, abang yakin kamu pasti bisa melewati semua ini, kamu gadis kuat sayang. " kata Gavin, tak lupa dia juga mengusap pucuk kepala Viona dengan sayang.
Tak terasa sudah dua hari Viona di rawat di rumah sakit, dan hari ini Viona sudah di perbolehkan pulang dari rumah sakit.
"Alhamdulillah, ka Viona sudah bisa pulang sekarang. " kata Ana pada sang putri, tak lupa dia juga mengusap pucuk kepala Viona.
"Baik lah, ayo sebaik nya kita pulang sekarang. " kata Marvell pada semua nya.
Gavin pun langsung mengangkat tubuh Viona, dan langsung mendudukkan nya di atas kursi roda. Setelah Viona sudah duduk dengan nyaman, Gavin pun langsung mendorong kursi roda nya.
Setelah menempuh satu jam perjalanan, akhir nya mereka semua nya sampai di rumah. Gavin langsung menggendong Viona masuk ke dalam rumah, Gavin pun langsung menaiki anak tangga menuju lantai dua di mana kamar Viona berada.
"Sayang, buka pintu nya. " kata Gavin pada Viona.
Viona pun langsung melakukan apa yang di perintahkan Gavin pada nya, setelah pintu terbuka Gavin pun langsung berjalan menuju tempat tidur Viona, setelah sampai Gavin langsung membaringkan Viona di atas tempat tidur nya.
"Sayang, kamu istirahat dulu ya. " kata Gavin lembut, tak lupa dia juga mengusap pucuk kepala Viona.
Setelah berkata seperti itu Gavin pun mencium pucuk kepala Viona, dan keluar dari kamar Viona.
Setelah menutup pintu kamar Viona, Gavin pun langsung berjalan turun menuju ruang keluarga di mana semua keluarga Marvell berada.
Gavin langsung duduk di samping Vano, semua orang yang berada di sana langsung menatap Gavin.
"Abang Gavin, bagaimana Viona, apa dia sudah tidur? " tanya Ana pada Gavin.
"Belum mom, tapi abang sudah menyuruh Viona istirahat. " kata Gavin pada Ana.
"Mom, dad, abang ingin membicarakan sesuatu." kata Gavin dengan wajah serius.
"Ad apa bang? " tanya Marvell pada Gavin.
"Abang ingin mempercepat pernikahan abang dengan Viona. " kata Gavin pada semua orang yang berada di sana.
"Tapi bang,,,,, " kata Marvell yang langsung di potong Gavin.
"Abang ingin menjaga Viona dengan tangan abang sendiri dad. '' kata Gavin memotong perkataan Marvell.
"Hmmmm,,,,,, " Marvell pun menghela napas nya dengan berat, mendengar keinginan Gavin.
"Baik lah dad, nanti abang akan bicara kan ini sama Viona dad. " kata Gavin pada Marvell.
Mendengar perkataan Gavin ada kelegaan di hati Marvell, tapi ada juga sedikit tidak rela untuk melepaskan sang putri menikah.
Tak terasa waktu makan siang pun tiba, Gavin langsung berjalan menuju lantai dua, do mana kamar Viona berada. Setelah sampai di depan kamar Viona, Gavin pun langsung mengetuk pintu kamar Viona.
"Tok,,,,, tok,,,,,, tok,,,, " pintu kamar Viona di ketuk dari luar.
"Masuk." kata Viona dari dalam.
"Clek,,,,,, " pintu kamar Viona, Gavin buka dari luar.
Saat Gavin masuk, Viona pun langsung melihat siapa yang masuk ke dalam kamar Viona.
"Kamu sedang apa sayang? " tanya Gavin pada Viona.
Gavin pun langsung berjalan menghampiri Viona, setelah sampai, dia langsung berjongkok di hadapan Viona, dan langsung menggenggam tangan Viona.
"Sayang, abang ingin mengatakan sesuatu. " kata Gavin serius.
Viona pun langsung mengalihkan kan pandangan nya ke arah Gavin.
"Ada apa? " tanya Viona singkat, tak ada sedikit pun senyum di bibir Viona seperti biasa nya yang selalu ceria.
Sebelum Gavin bicara, dia menarik napas nya dalam, kemudian menghembuskan napas nya secara perlahan.
"Abang ingin mempercepat pernikahan kita. " kata Gavin pada Viona.
"Aku tidak mau. " kata Viona, yang langsung memutar kursi roda nya.
"Apa alasan nya? " tanya Gavin pada Viona.
"Aku tau, abang pasti kasihan. " kata Viona pada Gavin.
"Abang pasti cuma mengasihani aku kan, karena sekarang aku cacat. " kata Viona lagi pada Gavin.
"Sayang, dari mana kamu bisa mempunyai pemikiran seperti itu? " tanya Gavin pada Viona.
"Apa selama ini, kamu tidak bisa merasakan perasaan abang sangat tulus pada mu. " kata Gavin lagi pada Viona.
Mendengar perkataan Gavin, Viona pun langsung menundukkan kepala nya, dia tidak berani untuk melihat Gavin, dan tanpa terasa air mata nya menetes begitu saja.
"Apa kamu berpikir, abang bohong kalau abang mencintai kamu, kalau abang sayang pada mu, kalau abang ingin menikah dengan mu. " kata Gavin lagi.
"Apa kamu berpikir apa yang abang lakukan, semua itu hanya pura pura. " kata Gavin, tak terasa air mata nya menetes dan mengenai tangan Viona.
"Abang,,,, maaf,,,, " kata Viona yang sudah mulai terisak.
"Maaf, aku sudah buat abang menangis. " kata Viona lagi, dia juga mengangkat kepala Gavin, tak lupa dia juga mengusap air mata Gavin.
"Abang, mau kan memaafkan aku. " kata Viona pada Gavin.
"Abang akan memafkan mu, tapi dengan satu syarat. " kata Gavin pada Viona.
" Apa syarat nya? " tanya Viona pada Gavin.
"Kamu harus mau menikah dengan ku, dan tidak ada penolakan. " kata Gavin pada Viona.
Mendengar itu, Viona pun langsung tersenyum, dan dia juga menganggukan kepala nya.
"Sayang, bilang kalau kamu mau menikah dengan abang. " kata Gavin pada Viona.
''Apa bisa kalau aku tidak menerima nya? " tanya Viona pada Gavin.
"Tidak bisa, kamu hanya punya satu pilihan. " kata Gavin pada Viona.
"Apa itu? " tanya Viona pura pura tidak tau.
"Pilihan nya kamu harus mau. " kata Gavin pada Viona.
"Baik lah kalau abang memaksa. " kata Viona pada Gavin.
"Jadi maksud nya. " kata Gavin pada Viona.
"Iya aku mau menikah dengan abang. " kata Viona pada Gavin.
"Terima kasih sayang. " kata Gavin pada Viona.
Gavin juga langsung memeluk nya, dan dia juga langsung mengecup pucuk kepala Viona. Tanpa mereka sadari, ternyata semua keluarga menyaksikan moment Gavin dan Viona, dan tanpa terasa mereka semua menetes kan air mata mereka.
"Sayang, sebaik nya kita keluar sekarang, semua nya sudah menunggu kita untuk makan siang bersama. " kata Gavin pada Viona, dan hanya di angguki Viona.
*****T.B.C.*****