My Baby'S

My Baby'S
part 16



Mendengar perkataan Viona, membuat Vano yang sedang mengunyah makanan pun langsung tersedak.


"Uhukkk,,,, uhukkkkk,,,,, uhukkkk. " Vano langsung ter batuk.


"Abang Vano kenapa? " tanya Viona pada sang abang.


"Kamu ini ngomong apa sih. " kata Vano setelah dia minum air putih terlebih dahulu.


"Memang nya Viona kenapa? " tanya Viona pada sang abang.


"Kamu tadi bilang apa? " bukan nya menjawab Vano malah balik bertanya.


"Ka Vio tadi cuma bilang ini semua yang masak mommy, ka Vio dan kaka ipar Ara. " kata Viona pada sang abang.


"Apa abang Vano kaget, gara-gara Viona panggil Ara dengan sebutan kaka ipar? " tanya Viona pada sang abang.


"Sudah, sebaik nya kita lanjut kan dulu makan nya, setelah itu baru kita lanjut mengobrol nya. " kata Marvell menyudahi pembicaraan anak kembar nya itu.


Setelah mendengar perkataan sang daddy, semua nya langsung melanjutkan makan malam mereka. Setelah mereka semua selesai, mereka pun langsung berjalan ke ruang keluarga.


Mereka semua mengobrol santai, Viona terus saja memanggil Ara dengan sebutan kaka ipar dan itu membuat Vano penasaran.


"Ka Vio, kenapa memanggil ka Ara dengan sebutan kaka ipar? " tanya Alice pada Viona.


" Karena ka Ara akan menjadi kaka ipar, dan mulai sekarang Alice juga harus panggil ka Ara dengan panggilan kaka ipar. " kata Viona pada sang adik.


"Apa abang Vano akan menikah dengan ka Ara? " tanya Alice pada Vano.


Mendengar pertanyaan Alice, membuat pipi Ara dan juga Vano menjadi merah merona.


"Wah, ade ka Viona memang sangat pintar. " kata Viona yang langsung memeluk Alice.


Dan mereka semua pun terus saja menggoda Vano dan juga Ara, tanpa terasa hari sudah semakin larut.


"Lebih baik sekarang kita semua istirahat dulu, besok kalian semua harus sekolah." kata Marvell pada semua nya.


"Iya daddy. " jawab mereka semua nya.


Mereka semua nya langsung berjalan menuju ke kamar nya masing-masing, di dalam kamar Vano tidak bisa tidur, dia terus teringat perkataan kembaran nya yang memanggil Ara dengan panggilan kaka ipar.


"Apa Ara sudah tau, kalau sebenar nya aku menyukai nya? " tanya Vano pada diri nya sendiri.


Dan masih banyak lagi pertanyaan yang mengganggu pikiran nya.


"Ahhh,,,,, lebih baik aku tidur saja. " kata Vano pada diri nya sendiri.


Akhir nya Vano pun memejamkan mata nya, tak berapa lama kemudian dia sudah terlelap. Tak terasa pagi pun tiba, mereka semua sedang sarapan bersama.


Setelah selesai, mereka pun berpamitan pada Ana.


"Mom, dad kami berangkat dulu. " kata Vano pada sang mommy.


"Iya, abang Vano hati hati di jalan ya. " kata Ana pada Vano.


"Iya mom. " kata Vano, tak lupa dia juga mencium tangan Ana dan Marvell bergantian dengan Ara yang mencium tangan Ana.


"Ara berangkat mom. " kata Ara pada Ana.


"Iya sayang hati hati. " jawab Ana tak lupa dia juga mengusap sayang kepala Ara.


"Asalamualaikum." kata kedua nya bersamaan.


"Walaikumsalam." kata Ana dan Marvell bersamaan.


"Viona, ayo cepat nanti kita telat. " kata Vano pada kembaran nya itu.


"Abang Vano duluan saja, Vio mau bareng abang Gavin. " kata Viona pada sang abang.


"Ya sudah, abang berangkat dulu dengan Ara. " kata Vano pada Viona.


"Iya, abang Vano jagain ya kaka ipar Vio, jangan di apa apain. " kata Viona mengganggu sang abang.


"Berisik." kata Vano pada sang adik.


Mendengar perdebatan saudara kembar itu, wajah Ara langsung memerah.


"Iya bang. " jawab Ara.


Dan mereka ber dua pun langsung masuk ke dalam mobil dan melajukan nya, tak berselang lama Gavin pun berangkat untuk mengantarkan Viona ke sekolah han nya. Marvell juga berangkat untuk mengantarkan Alice ke sekolahan nya, sebelum dia berangkat ke kantor nya.


Di dalam mobil Vano, dia selalu mencuri pandang pada Ara, yang sedang melihat keluar jendela.


"Ara." kata Vano, memecah keheningan di antara mereka.


"Kenapa bang? " tanya Ara pada Vano.


"Semalam mommy bilang apa saja? " tanya balik Vano pada Ara.


Ara pun menceritakan apa yang Ana dan dia bicarakan semalam, mendengar itu Vano pun sedikit mengangkat sudut bibir nya.


"Lalu bagaimana? " tanya Vano pada Ara.


Ara yang tidak mengerti maksud Vano pun menoleh ke arah nya.


"Maksud abang, bagai mana apa nya. " kata Ara pada Vano.


"Maksud abang, apa kamu mau menjadi pacar, istri dan calon ibu dari anak anak abang nanti nya? " tanya Vano pada Ara.


Ara yang mendengar pernyataan Vano pun hanya bisa mendudukkan kepala nya.


"Bagaimana jawaban kamu? " tanya Vano yang menghentikan mobil nya, karena lampu merah.


Ara yang di tanya seperti itu pun hanya menundukkan kepala nya, karena saat ini wajah nya pasti sudah memerah karena malu.


"Kenapa diam? " tanya Vano pada Ara.


"Jadi apa jawab kamu, apa kamu menerima nya atau tidak? " tanya Vano pada Ara, dan hanya di jawab anggukan kepala oleh Ara.


Melihat anggukan kepala Ara, Vano pun langsung tersenyum, dan menggenggam tangan Ara. Melihat tangan nya di geggam Vano, Ara pun langsung mendongakkan kepala nya.


Mata mereka berdua pun langsung saling tatap, Vano langsung menarik Ara masuk ke dalam pelukan nya.


"Terima kasih Ara. " kata Vano pada Ara yang masih berada dalam pelukan nya, Ara hanya menganggukkan kepala nya.


"Tin,,,, tin,,, tin,,, " suara klakson menyadarkan mereka berdua.


"Abang, itu sudah lampu hijau. " kata Ara pada Vano.


"Iya, sayang. " kata Vano pada Ara, tak lupa Vano juga mengusap pucuk kepala Ara.


Mendengar Vano memanggil nya saya, wajah Ara pun langsung memerah.


"Sayang, tapi kamu tau kan apa syarat dari daddy?" tanya Vano pada Ara.


"Iya bang. " jawab Ara pada Vano.


"Abang harap, kamu mau menunggu abang. " kata Vano pada Ara.


"Insya Alloh bang, Ara akan nunggu abang. " kata Ara pada Vano.


Mendengar perkataan Ara, membuat Vano tersenyum senang.


"Terima kasih sayang. " kata Vano pada Ara.


"Iya bang, sama sama. " jawab Ara pada Vano.


Akhir nya mereka berdua pun sudah sampai di sekolah, Vano langsung memarkirkan mobil nya di parkiran sekolah. Saat Ara turun, Vano langsung menggengam tangan Ara dan berjalan menuju kelas nya.


Semua siswa dan siswi menatap mereka dengan tatapan tidak suka, Ara yang melihat nya pun menjadi sedikit risih.


"Abang lepas tangan nya, Ara bisa jalan sendiri. " kata Ara pada Vano.


"Ga mau. " jawab Vano singkat.


"Tapi abang, coba lihat mereka seperti nya tidak suka, apalagi para siswa perempuan. " kata Ara, dia juga sedikit memanyunkan bibir nya.


"Apa pacar abang ini cemburu? " tanya Vano pada Ara, dia juga mengusap pucuk kepala nya.


*****T.B.C*****