
Tak terasa hari ini adalah hari pertunangan Viona dan Gavin, mereka mengadakan nya di salah satu hotel milik nya.
"Wah, tempat nya sangat bagus. " kata salah satu tamu.
"Tentu saja, karena Viona adalah putri dari seorang Marvell. " jawab tamu yang satu nya.
Tak berselang lama keluarga pradipta pun sudah datang, saat ini Gavin sudah berada di atas panggung bersama dengan Ana, Marvell dan keluarga nya yang lain.
Pembawa acara pun langsung menyuruh Viona untuk masuk ke dalam gedung tempat acara pertunangan. Saat Viona masuk, Gavin terpesona dengan kecantikan Viona, yang sebentar lagi akan menjadi tunangan nya.
"Wah lihat, calon istri nya tuan Gavin sangat cantik. " kata salah satu tamu.
"Iya benar, mereka pasangan yang sangat serasi." kata tamu yang satu nya.
Acara pertunangan pun di lanjutkan, dengan acara tukar cicin. Acara pertunangan Gavin dan Viona pun berlanjut.
Acara pertunangan pun selesai tepat jam sebelas malam, mereka pun langsung berjalan menuju ke kamar hotel masing masing. Mereka semua langsung membersihkan tubuh nya masing masing, setelah selesai mereka langsung beristirahat karena mereka sudah merasa lelah.
*.
*.
*.
Satu minggu sudah setelah acara pertunangan Gavin dan Viona, saat ini Gavin sudah memegang perusahaan milik kedua orang tua kandung nya.
Saat ini Vano sedang duduk melamun di balkon kamar nya, Vano masih mengingat apa yang di katakan sang daddy.
*****Flashback*****
"Apa abang Vano menyukai Ara? " tanya Marvell pada sang putra.
"Iya dad. " jawab Vano pada sang daddy.
"Daddy tidak akan melarang nya. " jawab Marvell pada sang putra.
"Benar kah dad? " tanya Vano dengan senyum sumringah nya.
"Iya bang. " jawab Marvell pada sang putra.
"Mommy juga pasti senang mendengar nya. " lanjut nya lagi pada sang putra.
"Daddy, saat acara pertunangan abang Gavin dan Viona, abang juga ingin bertunangan dengan Ara." kata Vano pada sang daddy.
"Abang daddy tidak melarang abang untuk menyukai Ara, tapi untuk abang bertunangan dengan Ara sekarang ini daddy tidak akan mengijinkan nya. " kata Marvell pada sang putra.
"Kenapa dad? " tanya Vano pada sang daddy.
"Abang, setelah abang bertunangan dan setelah itu menikah dengan Ara, itu arti nya tanggung jawab Ara akan berpindah pada abang. " kata Marvell pada sang putra.
"Itu artinya abang harus bertanggung jawab dengan kebutuhan Ara. " kata Marvell lagi.
"Daddy ingin abang mulai bekerja di perusahaan, dengan begitu abang akan bisa bertanggung jawab pada Ara nanti nya. " kata Marvell pada sang putra.
Vano hanya mendengarkan apa yang di katakan sang daddy, Vano merasa apa yang di katakan sang daddy memang benar.
"Daddy bukan tidak mau ataupun keberatan kalau abang ingin bertunangan dengan Ara saat ini juga, daddy bisa melakukan nya. " kata Marvell pada sang putra.
"Tapi abang adalah anak laki-laki daddy satu satu nya, daddy ingin abang belajar tanggung jawab. " kata Marvell lagi.
"Daddy harap abang mengerti dengan apa yang daddy kata kan. " kata Marvell lagi pada sang putra.
Marvell pun langsung beranjak dari duduk nya, dan sebelum Marvell keluar, dia menepuk pundak sang putra, dan keluar dari kamar sang putra.
**** flashback of ****
" Tok,,,,tok,,,,,,tok,,,,, " suara pintu kamar Vano di ketuk dari luar, dan itu membuat Vano tersadar dari lamunan nya.
Vano pun langsung berjalan menuju pintu kamar nya.
"Abang, di panggil daddy ke ruang kerja nya. " kata Viona pada sang abang.
" Baik lah. " jawab singkat Vano.
Mereka berdua pun langsung berjalan turun menuju lantai bawah, setelah sampai di lantai bawah Viona langsung berjalan menuju ruang keluarga, sedangkan Vano langsung berjalan menuju ruang kerja sang daddy.
"Tok,,,,, tok,,,,, tok,,,,, " suara pintu di ketuk dari luar.
"Masuk,,,, " kata Marvell dari dalam.
"Clek,,,,,, " suara pintu di buka dari luar.
Vano pun langsung masuk setelah di suruh sang daddy.
"Duduk bang. " kata Marvell pada sang putra.
Vano pun langsung duduk di kursi berhadapan dengan sang daddy, Marvell pun langsung menghentikan pekerjaan nya setelah Vano duduk.
"Ada apa daddy memanggil abang? " tanya Vano pada sang daddy.
"Apa abang sudah memikirkan apa yang daddy kata kan? " tanya Marvell pada sang putra.
"Abang sudah memikirkan nya dad. " jawab Vano pada sang daddy.
"Lalu apa keputusan abang? " tanya Marvell pada sang putra.
"Abang akan mengikuti ke inginan daddy. " jawab Vano pada sang daddy.
" Maksud abang? " tanya Marvell pada sang putra.
"Abang akan mulai belajar bekerja di perusahaan daddy. " kata Vano pada sang daddy.
Mendengar perkataan sang putra Marvell pun tersenyum, dia bangga pada putra nya itu yang sudah mau belajar, karena suatu saat nanti Vano lah yang akan menggantikan nya nanti.
"Baik lah, jika abang sudah setuju, lebih baik sekarang kita keluar dan temui semua nya di ruang keluarga. " kata Marvell pada sang putra.
Akhir nya Marvell dan Vano pun langsung keluar dari ruang kerja Marvell,dan berjalan menuju ruang keluarga di mana semua nya sudah bersantai di sana.
Marvell langsung duduk di samping sang istri,sementara Vano langsung duduk di sebelah adik bungsu nya Alice.
"Abang Vano sama daddy kenapa lama sekali? " tanya Alice pada Vano.
"Anak kecil, tidak boleh tau urusan orang dewasa." kata Vano pada adik bungsu nya itu.
"Abang Vano, Alice itu sudah besar, sebentar lagi Alice masuk sekolah menengah pertama. " kata Alice protes pada sang abang.
"Tapi belum kan? " tanya Vano menggoda adik bungsu nya itu.
"Daddy,,,,, " kata Alice pada sang daddy, dia juga langsung berlari pada sang daddy.
"Daddy, abang Vano nyebelin. " kata Alice pada sang daddy.
" Sini princess nya daddy. " kata Marvell pada putri bungsu nya itu, kemudian memeluk nya.
"Daddy curang, kenapa hanya Alice yang di peluk." kata Viona protes pada sang daddy.
Mendengar itu membuat Marvell dan Ana tersenyum.
"Ya sudah, sini kaka Viona juga daddy peluk. " kata Marvell pada putri pertama nya itu.
Viona pun langsung mendekat pada sang daddy, dan langsung memeluk daddy nya.
Di ruangan itu pun penuh dengan canda dan tawa mereka semua, tak jarang terdengar teriakan Alice yang selalu saja di goda Vano.
Tak terasa malam pun tiba, mereka semua langsung pergi ke kamar nya masing masing, mereka semua langsung beristirahat, karena besok mereka akan sibuk, terlebih lagi Vano.
Besok Marvell akan memperkenalkan Vano pada seluruh pegawai perusahaan. Tak terasa pagi pun tiba, mereka semua sudah berada di ruang makan.
Mereka semua sarapan dengan tenang, walaupun terkadang Alice menanyakan sesuatu pada semua orang yang ada di ruangan itu.
*****T.B.C*****