My Baby'S

My Baby'S
(Season 2) Part 1.



Tak terasa usia twins saat sudah memasuki tujuh belas tahun, saat ini mereka sudah duduk di bangku kelas sebelas.


" Selamat pagi semua nya. " kata Viona pada semua keluarga nya.


"Selamat pagi ka. " jawab semua nya bersamaan.


"De bisa ga kalau nyapa itu jangan teriak, berisik." kata Vano pada sang kembaran.


" Abang Vano, dede ga berisik. " kata Alice yang mengerucutkan bibir nya.


"Ya ampun. " kata Vano dengan menepuk jidat nya sendiri, dia lupa memanggil Viona dengan sebutan de.


"Maksud abang ka Viona, dede Alice yang cantik kan tidak pernak berisik seperti ka Viona. " kata Vano pada adik kedua nya.


"Dede Alice kan princess, dede kan ga pernah rusuh seperti kak Viona. " kata Vano yang pada adik bungsu nya itu.


Alice yang mendengar itu pun langsung tersenyum, dan yang lain nya juga ikut tersenyum.


"Dad, kapan abang Gavin pulang.? " tanya Viona pada sang daddy.


"Seperti nya minggu depan. " jawab Marvell pada sang putri.


"Memang nya kenapa ka? " tanya balik Marvell pada sang putri.


"Tentu saja Viona rindu dengan abang Gavin dad. " bukan Viona yang menjawab nya melain kan Vano.


"Abang, ih kalau ngomong suka bener ha,,,, ha,,, " kata Viona yang di akhiri tawa nya.


Itu membuat semua orang yang berada di sana tersenyum, ya Viona dana Gavin sudah berpacaran sejak Viona lulus sekolah menengah pertama, tepat nya saat pesta kelulusan sekolah nya dulu.


Semua keluarga nya pun sudah merestui hubungan mereka berdua, Marvell sendiri sudah tau bahwa Gavin adalah pewaris tunggal dari keluarga Lubis.


****flashback on*****


Saat Gavin baru lulus sekolah menengah atas, dia di minta Marvell untuk keruangan kerja nya, setelah selesai makan malam.


"Abang Gavin, setelah selesai makan, abang keruang kerja daddy. " kata Marvell pada Gavin.


"Baik dad. " jawab Gavin pada Marvell.


"Bang, daddy mau apa manggil abang Gavin? " tanya Viona berbisik pada saudara kembar nya itu.


"Mana abang tau. " jawab Vano pada sang adik.


Mereka pun melanjutkan makan malam nya, hanya terdengar bunyi sendok dan garpu yang beradu.


Akhir nya makan malam pun selesai, mereka semua langsung berjalan menuju ruang keluarga, terkecuali Marvell dan Gavin, mereka berjalan menuju ruang kerja Marvell.


Saat mereka sudah masuk ke dalam ruang kerja Marvell, Gavin pun langsung menutup pintu nya. Setelah nya Gavin langsung berjalan, dan duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan Marvell.


"Ada ala dad? " tanya Gavin pada Marvell.


Tanpa menjawab, Marvell pun langsung membuka laci meja kerja nya, dan mengambil amplop coklat, kemudian Marvell menyerahkan amplop coklat itu pada Gavin.


Gavin pun langsung mengambil dan membuka nya, Gavin terkejut saat tau isi amplop itu adalah informasi tentang diri nya.


" Maaf dad. " kata Gavin dengan menundukkan kepala nya.


Marvell pun hanya menghembuskan nafas nya kasar, dia juga belum tau kenapa Gavin tidak mau jujur tentang siapa diri nya selama ini.


"Kenapa abang Gavin tidak mau cerita tentang siapa abang sebenar nya? " tanya Marvell pada Gavin.


"Abang hanya takut, daddy dan mommy akan mengantarkan abang ke keluarga abang. " kata Gavin pada Marvell.


"Abang takut, kalau abang kembali ke sana abang akan.... " Gavin tak bisa melanjutkan kata-kata nya.


Marvell pun langsung berdiri dari duduk nya, dan langsung menghampiri Gavin, setelah sampai di hadapan Gavin dan Marvell pun langsung memeluk Gavin dan mengusap punggung nya.


"Apa sekarang abang mau cerita? " tanya Marvell pada Gavin, dan di angguki kepala oleh Gavin.


"Sebenarnya nama abang adalah Albert Gavin Lubis, papih Gavin bernama Leonardo Lubis dan mamih Gavin bernama Bianca Lubis. " kata Gavin pada Marvell.


Gavin pun menceritakan tentang kedua orang tua nya yang sudah meninggal karena mengalami kecelakaan, dan ternyata dalang di balik kecelakaan mereka adalah paman nya sendiri yang bernama Antonio Lubis.


Antonio ingin menguasai perusahaan sang papih, sehingga dia mencelakai papih dan mamih nya, bahkan saat itu juga paman nya menyuruh orang untuk menghabisi diri nya juga.


Tapi dia masih beruntung, karena supir kepercayaan papih nya langsung membawa nya kabur dari sana, dan saat tiba di kota ini, dia terpisah saat berada di halte karena begitu banyak nya orang di sana.


Sampai satu bulan kemudian, dia bertemu dengan Vano putra Marvell dan Ana, dan sampai sekarang dia masih tinggal di rumah ini.


Marvell yang mendengar cerita itu pun langsung memeluk Gavin.


"Maaf daddy sudah mengingat kan mu tentang kedua orang tua mu. " kata Marvell pada Gavin.


"Daddy tidak salah, seharusnya memang Gavin menceritakan tentang siapa Gavin sebenar nya dari dulu. " kata Gavin pada Marvell.


"Baiklah, daddy akan membantu mu untuk mendapatkan kembali perusahaan papih mu. " kata Marvell pada Gavin.


"Tapi dad.... " kata Gavin.


"Daddy tau apa yang kamu takut kan, tapi perusahaan itu sengaja papih mu bangun untuk masa depan mu, apa kamu mau menyia-nyiakan kerja keras papih mu selama beliau masih hidup." kata Marvell pada Gavin, dan hanya di angguki gelengngan kepala Gavin.


"Jadi daddy akan menguliah kan kamu ke Amerika. " kata Marvell.


"Tapi dad. " kata Gavin.


"Daddy ingin kamu menjadi pengusaha yang sukses dan memiliki kemampuan yang hebat. " kata Marvell.


"Baik dad. " kata Gavin pada akhir nya.


Akhir nya mereka berdua pun langsung berjalan menuju ruang keluarga, dimana semua nya sudah berada di sana.


"Kenapa kalian berdua lama, apa yang kalian bicara ka? " tanya Ana pada sang suami.


"Daddy dan abang Gavin hanya membicarakan tentang kuliah abang Gavin mom. " jawab Marvell yang di angguki Gavin.


"Lalu abang Gavin sudah memutuskan akan kuliah di mana? " tanya Ana pada Gavin.


"Iya mom. " jawab Gavin pada Ana.


"Lalu abang Gavin akan kuliah di mana? " tanya Ana pada Gavin.


"Abang akan kuliah di Amerika mom. " jawab Gavin.


"Abang Gavin ga boleh kuliah di sana, abang Gavin kuliah di sini saja. " kata Viona yang langsung berjalan dan duduk di samping Gavin, tak lupa di juga memegang lengan Gavin.


"Ka Viona, biarkan abang kuliah di sana ya, biar abang nanti bisa jadi pengusaha yang sukses. " kata Marvell pada putri pertama nya itu.


"Ga boleh. " kata Viona yang langsung berlari menuju ke lantai dua di mana kamar nya berada.


Melihat tingkah Viona seperti itu, membuat Ana dan Marvell hanya bisa menghela nafas nya pelan.


"Biar abang yang bicara dengan Viona mom, dad." kata Gavin kepada Ana dan Marvell.


"Iya, kamu harus bisa membujuk nya Gavin. " kata Marvell pada Gavin.


"Iya dad. " kata Gavin pada Marvell.


Gavin pun langsung berdiri dan berjalan menuju lantai dua, di mana kamar Viona berada.


****T.B.C****