My Baby'S

My Baby'S
Part 5



Setelah Viona sampai, mereka berdua pun langsung berjalan menuju ke dalam kelas nya.


Pelajaran pun di mulai, mereka semua fokus pada materi yang di berikan guru nya.


Tak terasa jam istirahat pun tiba, mereka semua langsung berhamburan ke luar kelas. Ada yang menuju kantin dan ada juga yang menuju perpustakaan.


"Ara, ayo kita ke kantin. " ajak Viona pada Ara.


"Kamu duluan saja, nanti aku menyusul. " jawab Ara pada Viona.


"Ya udah, aku duluan ya. " kata Viona pada Ara.


"Iya." jawab Viona singkat.


Ara menatap ke luar jendela, entah apa yang sedang di pikiran nya, sehingga dari tadi pagi dia hanya diam saja.


"Apa yang sedang kamu pikirkan sebenar nya Ara." kata Vano dengan lirih.


Viona yang akan masuk ke dalam kelas pun langsung berhenti, dia menepuk bahu abang nya itu, dan itu berhasil mengejutkan nya.


"Kau mengagetkan ku. " kata Vano saat tau siapa yang sudah mengagetkan nya.


"Abang kalau abang suka dengan Ara, sebaiknya abang langsung bilang sama Ara. " kata Viona pada sang abang.


"Sebelum nanti Ara di ambil orang lain loh bang. " kata Viona lagi memanasi Vano.


Mendengar perkataan adik nya Vano langsung memelototi Viona, sementara yang di pelototi hanya tersenyum, dan langsung berjalan menghampiri Ara yang masih sibuk dengan pikiran nya.


"Ara, kamu kenapa melamun terus dari semalam?" tanya Viona pada Ara.


"Ah, tidak apa-apa ko Viona. " jawab Ara dengan memaksa kan senyuman nya.


"Kamu ga usah bohong, aku tau kamu pasti sedang memikirkan sesuatu. " kata Viona pada Ara.


"Aku merindukan nenek." kata Ara, tak terasa air mata Ara pun menetes.


Melihat Ara menangis, Viona pun langsung memeluk Ara dan menenangkan nya.


Vano yang melihat Ara menangis di pelukan adiknya, tiba-tiba saja merasakan sakit melihat nya. Selama ini Ara selalu tersenyum di hadapan semua orang, tapi sekarang dia sedang menangis di pelukan kembaran nya.


"Aku ingin memeluk mu dan menenangkan mu Ara. " kata Vano dalam hati nya.


Vano pun melangkah mendekati mereka berdua, Vano langsung duduk di depan kursi yang kosong.


"Kamu kenapa Ara? " tanya Vano pada Ara.


"Engga apa-apa bang. " kata Ara pada Vano, dia juga langsung mengusap pipi nya yang basah bekas air mata nya.


"Kalau engga kenapa-napa, kenapa kamu nangis?" tanya Vano pada Ara.


"Ara lagi sedih bang. " kata Viona pada sang abang.


"Memang nya kenapa? " tanya Vano lagi.


"Viona lagi sedih, karena laki-laki yang di sukai nya tidak peka dan tidak pernah mengatakan perasaannya pada Ara. " kata Viona panjang lebar, dan perkataan Viona membuat Vano memelototi nya, dan hanya di balas cengiran.


"Viona." kata Ara pada Viona.


"Maaf Ara, cuma bercanda. " kata Viona pada Ara.


"Ara lagi rindu sama nenek aja bang. " jawab Ara kemudian.


"Ya sudah nanti pulang sekolah kita ke makam nenek, bagaimana. " kata Vano pada Viona.


"Iya bang, terima kasih. " kata Ara pada Vano.


"Viona, kamu ikut? " tanya Vano pada kembaran nya itu.


"Seperti nya ga bisa bang, Viona sudah ada janji mau membeli gaun buat acara nanti. " kata Viona pada sang abang.


" Oh, baik lah kalau begitu, kita ke sana nya berdua saja. " kata Vano pada Ara.


Vano pun tersenyum pada Ara, dan di balas dengan senyuman manis Ara. Tak berselang lama bel pun berbunyi, semua teman nya langsung masuk ke dalam kelas.


Guru pun langsung masuk ke dalam kelas, dan segera memberikan pelajaran nya. Tak terasa waktu pulang sekolah pun tiba, semua murid langsung keluar dari kelas mereka.


Saat ini Vano, Viona dan Ara sudah berada di parkiran. Tak berselang lama, terlihat Gavin yang sudah berada di gerbang sekolah, Viona yang melihat nya langsung berjalan untuk menghampiri nya.


"Bay bay, abang Vano, Ara. " teriak Viona yang langsung berlari menuju sang kekasih.


"Hati-hati kalian di jalan. " teriak nya lagi.


Mendengar itu Vano dan Ara pun tersenyum, Vano pun langsung melihat ke arah Ara. Vano pun terpesona dengan apa yang di lihat nya, walaupun dia sering bersama dengan Ara, tapi entah kenapa Ara begitu terlihat sangat manis saat ini.


"Ayo kita berangkat sekarang bang. " kata Ara pada Vano, yang berhasil membuat nya tersadar.


"Ah iya ayo. " jawab Vano gugup.


Dan mereka berdua pun langsung masuk ke dalam mobil, selama di perjalanan mereka berdua hanya diam, Vano sesekali melirik ke arah Ara yang masih memandang ke luar jendela mobil.


Vano pun menghentikan mobil nya, dan itu membuat Ara mengalihkan pandangan nya pada Vano.


" Apa sudah sampai bang? " tanya Ara pada Vano.


" Belum. " jawab Vano singkat.


"Terus, kenapa abang berhenti? " tanya Ara pada Vano.


" Kita beli bunga dulu. " jawab Vano pada Ara.


"Oh iya, maaf Ara lupa. " jawab Ara pada Vano.


Vano dan Ara pun turun dari mobil, mereka berdua langsung menuju pedang bunga. Setelah Vano membayar nya, mereka berdua pun kembali masuk ke dalam mobil.


Vano langsung melajukan kembali mobil nya menuju ke pemakaman, di mana nenek dan kedua orang tua Ara di makam kan.


Saat mereka sudah berada di pemakaman, Ara dan Vano langsung menaburkan bunga di makam nenek dan juga kedua orang tua Ara.


Setelah itu, Vano dan Ara pun langsung berdoa untuk mereka. Saat sudah selesai berdoa, Ara masih diam di sana dan tanpa terasa air mata nya pun menetes.


"Ara, kamu jangan menangis, nenek dan kedua orang tua mu pasti akan sedih, kalau melihat mu seperti ini. " kata Vano pada Ara.


"Kenapa mereka semua ninggalin Ara sendirian bang. " kata Ara pada Vano.


"Ara kenapa kamu bilang begitu. " kata Vano pada Ara.


"Apa kamu tidak menganggap kami semua ada. " kata Vano lagi.


"Maaf bang. " kata Ara dengan lirih.


Vano pun langsung menarik Ara masuk ke dalam pelukan nya, Ara semakin menangis di dalam pelukan Vano.


Vano mengusap punggung Ara, yang masih menangis di dalam pelukan nya. Dengan jarak sedekat ini Vano bisa mencium wangi rambut Ara.


Setelah merasa lebih tenang, Ara pun mulai melepaskan pelukan Vano.


"Terima kasih abang. " kata Ara pada Vano.


"Sama-sama, ya sudah sebaik nya kita pulang sekarang, mommy pasti khawatir karena kita belum pulang. " kata Vano pada Ara.


"Iya bang, ayo. " kata Ara pada Vano.


Mereka berdua pun langsung berjalan menuju parkiran mobil, setelah sampai mereka langsung masuk ke dalam mobil.


Vano langsung melajukan mobil nya menuju rumah.



Ini dia visual nya Vano Putra Aditama Pradipta.


*****T.B.C******