
Gavin langsung berjalan menuju ruang kerja Marvell, saat Gavin sudah masuk ke dalam ruangan Marvell, mereka langsung duduk berhadapan.
"Abang apa yang sebenar nya terjadi? " tanya Marvell pada Gavin.
"Maksud daddy? " tanya balik Marvell.
"Sejak Viona pulang dari kantor abang, sikap nya jadi berubah. " jawab Marvell pada Gavin.
"Sebenar nya apa yang terjadi di sana? " tanya Marvell pada Gavin.
Gavin pun menceritakan apa yang terjadi saat Viona ke kantor nya, mendengar cerita Gavin, Marvell pun memijat pangkal hidung nya.
"Abang, boleh daddy bertanya satu hal? " tanya Marvell pada Gavin.
"Iya dad. " jawab Gavin pada Marvell.
"Apa kau mencintai Viona? " tanya Marvell pada Gavin.
"Kenapa daddy bertanya seperti itu? '' tanya balik Gavin.
" Daddy tidak bisa menjawab nya, tanya kan pada hati abang sendiri. " kata Marvell pada Gavin.
Setelah mengatakan itu, Marvell pun langsung berdiri dan akan keluar, tapi sebelum dia keluar.
"Jika abang tidak menyukai putri daddy, kembalikan Viona pada daddy. " kata Marvell pada Gavin.
"Daddy akan berusaha membahagiakan nya, dengan cara daddy sendiri. " kata Marvell lagi.
Dan saat Marvell membuka pintu ruang kerja nya, ternyata Ana sudah berada di depan pintu. Marvell menatap sendu sang istri, Marvell juga mengusap lengan sang istri.
"Mommy." kata Gavin lirih.
"Mommy, abang sayang sama Viona. " kata Gavin pada Ana lagi.
"Iya mommy. " kata Gavin pada Ana.
"Mommy hanya mau bilang, tanyakan pada hati abang, bagaimana perasaan abang pada Viona, Abang mau bertunangan dengan Viona apa benar-benar menyukai Viona, atau abang bertunangan dengan Viona karena abang ingin balas budi. " kata Ana pada Gavin.
Saat Gavin sedang berjalan meninggalkan ruang kerja Marvell, tak sengaja dia menatap ke lantai atas dan ternyata di sana ada Viona.
Viona langsung berbalik dan berjalan menuju kamar nya, Gavin hanya bisa menatap sendu punggung Viona, dia langsung naik ke lantai atas di mana kamar nya berada.
Saat Gavin berjalan melewati kamar Viona, samar samar dia mendengar isakkan dari kamar Viona.
"Maaf kan abang ka,abang sudah buat kamu nangis. " kata Gavin pelan, dengan mengusap pintu kamar Viona.
Sementara di dalam kamar, Viona sedang menangis terisak.Gavin pun melanjutkan jalan nya menuju kamar nya, dia langsung duduk menatap lurus ke luar jendela.
Ingatan Gavin terus berputar, mengenang kebersamaan mereka selama ini. Hati Gavin merasa sakit, saat tadi mendengar suara isak tangis Viona.
"Maafin abang, abang sudah buat kamu sedih. " kata Gavin yang tak terasa air mata Gavin pun menetes.
Gavin pun berjalan menuju tempat tidur nya, dia langsung merebahkan diri nya, tak membutuhkan waktu lama Gavin pun terlelap.
Tak terasa sudah satu minggu sejak kejadian itu, Viona pun memberi jarak antara diri nya dan Gavin.
"Ka Viona, ayo berangkat sekarang. " ajak Gavin pada Viona.
"Abang Gavin berangkat saja, Viona bareng sama abang Vano dan Ara berangkat sekolah nya. " kata Viona pada Gavin.
"Ayo Ara, abang Vano ayo berangkat sekarang nanti kita terlambat. " kata Viona pada Ara dan Vano.
Mereka bertiga pun berpamitan pada semua nya, tak lupa mereka juga mencium tangan kedua orang tua nya dan juga Gavin secara bergantian.
Gavin hanya bisa menatap sendu punggung Viona, yang semakin menjauh. Melihat itu, Marvell pun menghampiri Gavin dan menepuk pundak nya.
"Apa abang Gavin sudah menyadari perasaan apa yang sebenar nya abang miliki untuk Viona? " tanya Marvell pada Gavin.
"Perasaan sebagai seorang abang kepada adik nya, atau perasaan seorang laki-laki kepada wanita? " sambung nya lagi.
"Abang sayang dengan Viona bukan sebagai abang pada adik nya dad, abang benar-benar menyayangi Viona sebagai seorang laki-laki pada wanita dad." jawab Gavin pada Marvell.
" Iya dad. " jawab Gavin singkat.
Dan mereka berdua pun berpamitan untuk ke perusahaan nya masing-masing kepada Ana.
"Kami berangkat dulu mom. " kata Marvell pada Ana.
"Iya dad, kalian hati hati di jalan. " kata Ana pada kedua nya.
Ana juga mencium tangan sang suami, sementara Gavin mencium tangan Marvell dan Ana bergantian.
"Asalamualaikum." kata ke dua nya.
"Walaikumsalam." jawab Ana kemudian.
Akhir nya mereka berdua melajukan mobil nya, menuju ke perusahaan masing masing. Setelah Gavin sampai di perusahaan nya, dan masuk ke dalam ruang kerja nya.
Gavin langsung memanggil Clarisa dan juga Aldi.
"Tok,,,,, tok,,,,, tok,,,,,, " pintu ruangan Gavin di ketuk dari luar.
"Masuk." kata Gavin dari dalam ruangan nya.
"Selamat pagi pak. " kata kedua nya bersamaan.
"Maaf Pak, ada apa kami berdua di panggil ke ruangan bapak? " Aldi pada sang pemilik perusahaan.
"Ada yang ingin saya sampaikan kepada kalian berdua. " kata Gavin pada kedua nya.
"Tentang apa ya pak? " tanya Aldi pada sang boss.
"Aldi, mulai sekarang kamu akan menjadi asisten pribadi sekaligus sekertaris. " kata Gavin pada Aldi.
"Tapi pak, bukan nya sekertaris pak Gavin itu Clarisa? " tanya Aldi pada Gavin.
" Iya Pak, bukan nya saya sekertaris bapak. " kata Clarisa pada Gavin.
"Apa saya melakukan kesalahan, sehingga bapak memecat saya? " tanya Clarisa pada Gavin.
"Tidak Clarisa, saya akan menjadi kan kamu sebagai penanggung jawab di perusahaan canang saya di kota xxxxx. " kata Gavin pada Clarisa.
"Tapi Vin. " kata Clarisa.
"Saya rasa sudah cukup jelas, jadi silahkan kalian berdua bisa keluar dari ruangan saya sekarang. " kata Gavin pada Clarisa dan juga Aldi.
Clarisa langsung keluar dengan wajah yang sudah memerah menahan amarah, dia langsung duduk di kursi meja kerja nya, dan langsung meremas kertas yang ada di atas meja kerja nya.
"Ini semua pasti gara gara Viona. " kata Clarisa dalam hati.
"Lihat saja apa yang akan aku lakukan. " kata nya lagi.
"Jika aku tidak bisa mendapatkan Gavin, maka kamu siapa pun tidak boleh mendapatkan nya termasuk kamu Viona. " kata Clarisa pada diri nya sendiri.
Waktu sudah menunjukkan pukul dua siang, Gavin langsung keluar dari ruangan nya.
"Apa sudah tidak ada pertemuan penting hari ini?" tanya Gavin pada Clarisa.
"Tida ada pak. " jawab Clarisa pada Gavin.
"Baik lah kalau begitu, aku akan pulang sekarang." kata Gavin pada Clarisa.
Gavin pun langsung berjalan menuju lift khusus untuk nya, dan setelah sampai di lobby, Gavin langsung berjalan menuju parkiran di mana mobil nya berada.
Gavin langsung melajukan mobil nya menuju kesekolahan Viona, saat Gavin sampai di sana, ternyata sekolahan baru saja bubar.
Saat melihat Viona yang keluar, Gavin langsung menarik tangan Viona.
"Abang,,,,,, " kata Viona pada Gavin.
******T.B.C*******