
Mereka berdua tiba di rumah tepat jam lima sore, Ana sudah mundur mandir sedari tadi. Saat Ara dan Vano turun dari mobil, Ana langsung berjalan dan memeluk Ara.
"Sayang, kamu kemana saja, mommy sangat khawatir. " kata Ana pada Ara.
" Mommy, sebenar nya anak mommy itu Vano atau Ara? '' tanya Vano pada sang mommy.
Ana langsung berjalan menghampiri Vano, bukan nya di peluk justru Vano malah di jewer telinga nya oleh sang mommy.
"Aduh mom lepas, telinga abang sakit mom. " kata Vano pada sang mommy.
"Rasakan, sudah tau mommy sedang panik, kamu malah cari gara-gara. " kata Ana pada sang putra.
"Sebenar nya kamu bawa Ara ke mana? " tanya sang mommy pada putra nya itu.
"Atau kalian sedang berkencan kemana? " tanya nya lagi.
Mendengar pertanyaan terakhir sang mommy, Vano dan Ara pun terkejut dan saling pandang.
"Mommy apaan sih, orang tadi abang sama Ara abis dari makan nenek dan orang tua nya Ara mom. " kata Vano sambil mengusap kuping nya yang terasa panas, karena jeweran sang mommy.
"Mommy, tadi Ara bilang kalau dia tidak punya siapa siapa mom. " kata Vano pada sang mommy.
"Mommy, berarti selama ini Ara tidak menganggap kita ada mom. " kata nya lagi.
Ana pun langsung menatap Ara, sementara yang di tatap langsung menundukkan kepala nya. Ana langsung mendekati Ara, Ana pun langsung mengusap kepala Ara, Ana langsung membawanya masuk ke dalam pelukan nya.
Ara pun langsung menangis di pelukan Ana, dia merasa lelah dengan keadaan nya. Dia juga bisa merasakan pelukan hangat seorang ibu, dia juga bisa merasakan kehangatan dari keluarga Pradipta.
Tapi apa yang sudah dia lakukan, dia malah mempunyai perasaan pada putra sulung nya, yang berarti juga pewaris keluarga Pradipta.
"Mommy." panggil Vano pada sang mommy.
"Ada apa abang? " tanya Ana yang langsung melepaskan pelukan nya dari Ara.
"Apa benar boleh? " tanya Vano pada sang mommy.
"Benar apa bang? " Ana malah balik bertanya.
" Yang mommy kata kan barusan. " jawab Vano pada sang mommy.
"Apa sih bang, kalau nanya itu yang jelas. " kata Ana pada sang putra.
"Mommy menyebabkan. " kata Vano pada sang mommy, dia langsung berjalan masuk ke dalam rumah.
"Abang,,,, abang,,,,,, abang,,,,, " panggil Ana pada sang putra, namun tak di dengar oleh Vano, dia terus berjalan masuk.
Saat Ana dan Ara masuk ke dalam rumah, Marvell langsung bertanya pada Ana.
"Abang Vano kenapa mom? " tanya Marvell pada sang istri.
"Mommy juga ga tau dad. " kata Ana pada sang suami.
"Ko aneh sih mom. " kata Marvell pada sang istri.
"Mom, dad, Ara ke kamar dulu. " kata Ara berpamitan pada Marvell dan Ana.
"Oh iya sayang, kamu istirahat dulu ya. " kata Ana pada Ara.
"Iya mom. " jawab Ara pada Ana.
Ara pun berjalan menuju kamar nya, Ana menatap sendu punggung Ara, yang sudah mulai menghilang di balik pintu.
"Ada apa mom? " tanya Marvell pada sang istri.
"Dad, mommy sedih, karena Ara merasa kalau dia sendirian. " kata Ana pada sang suami.
"Mom, seberapa besar kita semua menyayangi Ara, tetap saja dia akan merindukan keluarga kandung nya mom. " kata Marvell pada sang istri.
" Sekarang sebaik nya kita ke kamar istirahat dulu, mommy pasti cape." kata Marvell lagi pada sang istri.
"Iya dad. " Jawa Ana pada sang suami.
Mereka berdua pun langsung berjalan menuju lantai dua di mana kamar nya berada.
Sementara di dalam kamar, Vano sedang marah marah tak jelas.
"Mommy benar benar keterlaluan, aku sudah senang dengan perkataan mommy tadi. " kata Vano berbicara sendiri.
"Tapi saat aku tanya benar atau tidak, mommy malah balik bertanya. " kata Vano lagi.
Tak terasa jam makan malam pun tiba, mereka semua sudah berada di ruang makan. Saat ini mereka sedang makan malam, tidak ada yang bicara, hanya ada suara alat makan yang beradu.
"Abang Vano kenapa? " tanya Gavin pada Vano.
"Engga." jawab singkat Vano.
" Pasti ada apa apa. " kata Marvell pada sang putra.
" Engga. " jawab nya lagi.
"Abang ke kamar dulu, mau istirahat, abang cape." kata Vano lagi.
Tanpa menunggu jawaban dari semua nya Vano pun langsung melangkah berjalan menuju kamarnya.
"Mommy, abang Vano kenapa? " tanya Alice pada sang mommy.
"Mommy juga ga tau sayang. " jawab Ana pada putri bungsu nya.
"Biar nanti daddy yang tanya sama abang Vano. " kata Marvell pada semua nya.
"Iya dad, lebih baik daddy bicara sama abang Vano sekarang, mommy takut ada apa apa dengan abang Vano. " kata Ana pada sang suami.
Marvell pun langsung berjalan menuju kamar sang putra, setelah sampai Marvell pun langsung mengetuk pintu nya.
"Tok,,,,, tok,,,,,,, tok,,,,, " pintu kamar Vano di ketuk dari luar.
"Clek,,,, " suara pintu di buka.
" Boleh daddy masuk? " tanya Marvell pada sang putra.
"Iya dad. " jawab Vano pada sang daddy.
Marvell pun langsung masuk dan berjalan menuju sofa, Marvell pun langsung duduk, dan di ikuti Vano yang duduk di sebelah nya.
"Abang kenapa? " tanya Marvell pada sang putra.
"Abang tidak apa apa dad. " jawab Vano pada sang daddy.
"Abang jangan bohong sama daddy. " kata Marvell pada sang putra.
"Huh,,,,, " Vano pun menghembuskan nafas kasar.
"Mau cerita sama daddy. " kata Vano pada sang putra.
"Sebenarnya abang lagi kesal sama mommy. " kata Vano jujur pada sang daddy.
"Abang kesal kenapa? " tanya Marvell pada sang putra.
Vano pun menceritakan apa yang menjadi kekesalan nya pada sang mommy, setelah mendengar kan cerita sang putra Marvell pun langsung tertawa.
"Ha,,,,, ha,,,, ha,,,,,,,, " tawa Marvell.
"Daddy kenapa tertawa, apa ada yang luc? " tanya Vano pada sang daddy.
" Maaf abang. " kata Marvell yang menghentikan tawa nya.
"Baik lah, sekarang daddy akan bertanya dengan serius. '' kata Marvell pada sang putra.
" Apa abang benar benar menyukai Ara? " tanya Marvell dengan serius.
" Iya dad, abang suka dengan Ara. '' kata Vano pada sang daddy.
" Sejak kapan? " tanya Marvell pada sang putra.
" Kalau di tanya sejak kapan, abang juga ga tau dad. " kata Vano pada sang daddy.
Mendengar perkataan sang putra Marvell hanya tersenyum.
"Daddy, apa kalian tidak akan keberatan kalau aku menyukai Ara? " tanya Vano pada sang daddy.
"Siapa pun pilihan dari kamu, daddy dan mommy akan menyetujui nya, tapi kalau untuk sekarang daddy keberatan. " kata Marvell pada sang putra.
Mendengar perkataan sang daddy membuat Vano menatap nya tidak percaya.
" Tapi kenapa dad? " tanya Vano pada sang daddy.
"Karena,,,,, "
*****T.B.C******