
Suasana ruang tamu masih terlihat ramai dengan adanya beberapa anggota keluarga inti yang memang sengaja pulang belakangan. Bahkan mamanya Ica, bu Hanna dan juga Fara berniat untuk menginap disana.
Tentu saja mereka jadi menginap lantaran usulan dari Bara yang dibumbui dengan sedikit rayuan dan paksaan. Mereka tidak tau saja jika dibalik semua itu, Bara punya niat terselubung.
"Wah...kayaknya Ditya anteng banget sama mama Hanna." Bara mengatakan itu kala melihat putranya nampak tertidur pulas dipangkuan tantenya ini.
"Ditya pengen bobok cama nenek Hanna ya?" Bahkan kali ini Bara sampai berbicara dengan menirukan logat bayi.
"Ck...itu mah akal-akalan kakak aja mah. Kakak sengaja bilang gitu biar si Ditya bisa tidur sama mama. Terus bapaknya Ditya bisa lembur buat nyicil adiknya Ditya." Fara mengatakan itu karena dia faham betul jika kakaknya ini sedang ada misi yang terselubung.
"Sok tau kamu." Bara terlihat menyentil kening adiknya karena sudah berani menebak-nebak isi pikirannya. Dan sayangnya tebakan adiknya ini benar adanya.
"Bukannya aku sok tau, karena aku faham betul. Kak Ica udah selesai kan masa nifasnya. Jadi sudah pasti kakak pengen buka puasa. Biar acara buka puasnya lancar makanya kakak nyuruh tante Sarah sama mama Hanna nginep disini. Ya biar ibuk ada temannya saat menjaga Ditya, terus kakak bisa menikmati buka puasa kakak sepanjang malam tanpa adanya halangan dan rintangan." Fara berbicara panjang lebar tanpa memperdulikan Bara yang saat ini tengah menatapnya tajam.
"Ini mulut lemes bener ngomongnya. Lama-lama pengen kakak kasih lem biar bisa mingkem." Kesal Bara pada adiknya ini.
"Udah-udah gak usah ribut. Nanti Dityanya malah bangun. Lagian kalian berdua udah pada punya anak masih saja suka berantem." Bu Hanna terlihat tengah melerai perdebatan yang terjadi antara dua keponakannya ini.
"Biarin aja mah Dityanya bangun, biar sekalian ambyar deh niatnya kakak yang mau berduaan sama kak Ica." Fara masih belum mau berhenti menggoda kakaknya.
"Kamu...." Bara terlihat hendak menyentil kening adiknya itu. Namun belum sempat, Ica sudah lebih dulu melihat apa yang akan dilakukan suaminya ini.
"Mas...ada apa ini?"
"Sa-sayang...kenapa kamu disini?" Bara terlihat terbata. Ia khawatir istrinya ini akan mendengat ocehan adiknya baru saja. Bisa-bisa rencana akan gagal untuk buka puasa malam ini.
"Aku ingin melihat Ditya dan hendak memberikan ini." Ica menunjukkan dua botol berisi ASI yang baru saja dipompanya.
Tadi mamanya meminta agar Ica memompa ASI nya karena malam ini mamanya ingin tidur bersama cucunya.
Sebenarnya Ica juga ingin tidur bersama Ditya dan mamanya dikamar tamu. Namun tentu saja mamanya menolak begitu saja keinginannya. Bahkan penolakan mamanya ini mendapat dukungan dari bu Hanna. Hingga pada akhirnya bu Tika meminta besannya agar tidur dikamarnya bersama kakak iparnya. Sementara dirinya akan tidur bersama Fara dan juga putranya.
"Wah....kayaknya mama pengertian banget Yang sama kita. Jadi malam ini kita bisa lembur full." Bara mengatakan itu sambil membisikkannya ditelinga istrinya. Tentu saja hal ini membuat Bara langsung mendapat hadiah tatapan tajam dari istrinya yang membuat Bara diam seketika.
"Kak Ica hebat ya, udah bisa bikin kakakku yang dinginnya ngala-ngalain puncak gunung Fujiama jadi leleh kayak gini." Fara lagi-lagi terdengar tidak bisa diam.
"Sayang...tidur yuk. Lagian tamunya udah pada pulang." Tanpa menghiraukan ocehan adiknya, Bara memilih membawa Ica untuk diajak kekamarnya.
"Tapi mas, Dityanya nanti gimana?" Ica sendiri terlihat bingung sekaligus berat jika harus pisah kamar dengan bayinya. Apalagi saat ini Bara sudah menggendongnya ala Bridal style.
"Biarkan malam ini Ditya tidur sama nenek-neneknya. Dan malam ini biarkan kita membuatkan adik untuk Ditya."
Setelah itu Bara sudah tidak mempedulikan ocehan dan umpatan dari istrinya. Karena bagi Bara saat ini tujuannya adalah satu, dia ingin segera berbuka puasa setelah hampir dua bulan absen tidak bisa melakukan ibadah bersama sang istri tercintanya.
Sementara semua yang disana hanya bisa geleng-geleng kepala manakala melihat tingkah Bara yang seperti itu. Mereka tidak habis pikir, Bara yang mereka kenal sebagai sosok pendiam selama ini dan lebih cenderung menyembunyikan perasaannya terhadap wanita, nyatanya bisa sebucin ini. Apalagi yang menjadi pasangannya saat ini adalah Ica, wanita yang selama ini memang sangat dicintainya.
"Mas stop."
Didalam kamar Ica terlihat kesal lantaran suaminya ini tidak ada lelahnya terus saja menggempurnya. Entah sudah berapa kali keduanya melakukan ritual itu. Yang jelas saat ini tubuh Ica sudah terasa remuk saja.
"Once again baby." Ucap Bara manakala Ica hendak mendorong tubuhnya agar menyingkir.
"Gak ada ya mas. Perasaan dari tadi once again-once again melulu deh. Gak liat apa ini tuh udah mau subuh." Bukan alasan Ica mengatakan hal ini. Karena saat ini telinganya mendengar jika dari masjid yang ada didekat kediamannya ini sudah terdengar bunyi tarkhim yang menandakan jika sebentar lagi sudah masuk waktu subuh.
"Yasudah sekarang kita mandi dulu habis itu kita sholat subuh sama-sama. Baru setelahnya kita lanjut ya, mumpung Ditya banyak yang nemenin." Ucap Bara dengan begitu entengnya.
"Kok aku gak diajak mandi bareng sih?" Bara pura-pura memasang wajah cemberut manakala sudah melihat istrinya keluar dari kamar mandi.
"Udah gak usah cemberut kayak gitu. Buruan mandi habis ini sholat subuh kan?"
"Tungguin ya, kita sholatnya barengan. Habis sholat kita mau lanjutin misi yang belum kelar." Bara mengatakan itu dengan berbisik ditelinga istrinya. Dan tentu saja Ica dibuat bergidik ngeri mendengarnya. Bagaimana tidak, saat ini badannya masih terasa remuk sudah mau digempur lagi.
Sebelum suaminya menyelesaikan ritual mandinya, Ica memilih sholat lebih dulu. Dan setelah itu ia langsung melesat keluar kamar. Selain tujuannya ingin menghindar dari suaminya, dia juga ingin melihat kondisi bayinya.
"Sayang...kok pagi-pagi sudah disini?" Bu Hanna dan mamanya kaget karena tiba-tiba saja Ica sudah berada dikamar tempat keduanya semalam tidur.
"Iya mah, ini mau lihat Ditya. Kali aja dia haus."
"Dia masih tidur tuh." Tunjuk bu Hanna pada bayi yang nampak tertidur pulas itu.
"Semalam rewel gak mah?" Tanya Ica kemudian.
"Enggak kok Ca, dia tidurnya anteng banget. Bangunnya cuman pas lagi minum susu saja. Itupun mesti kita bangunin." Mamanya terlihat ikut nimbrung.
Saat ini terlihat kekuarga besar Bara berkumpul untuk menikmati sarapan pagi bersama. Terlihat Reza, pamannya dan ayah mertua Bara baru sampai dirumahnya. Pagi ini keluarga itu memang sengaja ingin menikmati sarapan pagi bersama.
Seusai sarapan, mereka terlihat mengobrol bersama diruang tengah sembari menemani dua laki-laki mungil yang ada ditengah-tengah mereka. Keduanya tak lain adalah Ditya dan satunya lagi anaknya Fara dan Reza.
Sementara Ica yang terlihat baru saja keluar dari dapur, tiba-tiba merasa ada yang menarik tubuhnya dari belakang dan langsung memeluknya.
"Mas...kamu kebiasaan banget deh kayak gini. Awas ah, entar dilihat yang lain kan gak enak." Ica terlihat memaksa untuk melepaskan diri.
"Gak akan, mereka lagi pada keeanakan ngobrol. Jadi gak bakalan memperhatikan kita."
"Sayang...." Bara tiba-tiba berbicara lembut
"Hem..."
"Kamu bahagia gak bisa kayak gini?" Tanya Bara tiba-tiba.
Dengan cepat Ica langsung membalikkan tubuhnya dan menghadap suaminya.
"Kenapa nanya kayak gitu? Tentu saja aku bahagia mas." Jawab Ica yakin.
"Gak nyesel aku nunggu kamu sekian lama. Aku sangat bersyukur akhirnya takdir menjadikan kamu sebagai jodohku. Andai dulu aku tidak diam dan menyimpan semua perasaan aku sama kamu, pasti kebahagiaan ini sudah bisa kita rasakan sejak dulu." Ucap Bara lirih
"Gak ada gunanya menyesali yang sudah terjadi. Lagian kalau dulu misalkan kita sama-sama saling terbuka, belum tentu juga endingnya bakal kayak gini."
"Terima kasih sayang, kamu sudah bersedia menjadi pendamping hidupku. Terima kasih juga sudah mau menjadi ibu dari anak-anakku. Sungguh aku merasa bahagia sekali." Bara semakin mengeratkan pelukannya.
"Aku seharusnya yang berterima kasih. Kamu sudah bertahan dan berusaha tetap menjaga perasaan kamu ke aku mas. Kamu juga sudah bersedia menerimaku dengan segala kekurangan yang ada padaku. Kamu selalu mencintaiku dengan tulus. Baik dulu, sekarang dan aku berharap hingga kedepannya cinta kamu akan tetap seperti ini sama aku." Icapun tak kalah juga ikut mengeratkan pelukannya.
"Aku akan selalu berusaha untuk itu. Bagi aku kamu satu-satunya wanitaku. Dan aku berharap hanya kematian saja yang menjadi pemisah sementara bagi kita. Karena aku berharap kamu juga yang akan menjadi bidadari syurgaku diakhirat nanti."
Kemudian Barapun langsung mendaratkan kecupan yang begitu lama dikening istrinya.
Mereka tidak menyangka, setelah melewati ujian yang begitu sulit. Bahkan rasanya mustahil untuk bisa hidup berasa lantaran dulu Ica yang sudah menikah lebih dulu. Namun pada akhirnya, jika tuhan sudah berkehendak apa yang dirasa tidak mungkin semuanya terasa mudah.
#TAMAT