Love In Silence

Love In Silence
Fitnah



Sepanjang perjalanan pulang, Ica terlihat hanya diam saja. Meski Ica akui dirinya saat ini merasa sangat senang sekali setelah tadi dokter Anya mengatakan kalau dirinya memang positif hamil dan usia kandungannya saat ini baru masuk minggu ke tiga.


Diamnya Ica ini tentu saja disebabkan oleh jawaban Bara yang tadi. Bagi Ica ini sungguh memalukan. Membicarakan masalah ranjang didepan orang lain adalah hal yang selama ini tidak pernah Ica lakukan. Apalagi jawaban suaminya ini tidak benar. Karena pada kenyataannya dirinya dan Bara selalu melakukan itu maksimal empat sampai tiga kali dalam seminggu. Jadi tidak ada kamus yang mengatakan jika setiap hari dirinya selalu memberi suaminya ini jatah.


"Sayang...jangan diam saja dong, ini hari bahagia kita loh. Sebentar lagi kita bakalan jadi orang tua. Masak calon bundanya ngambekkan kayak gini". Bara mencoba menggoda istrinya agar mau bicara lagi.


"Siapa juga yang ngambek. Aku cuman kesel aja, habis kamu kalau ngomong gak ada filter-filternya dikit. Mana pakek acara fitnah segala lagi". Ica terlihat mulai meluapkan kekesalannya.


"Fitnah?" Bara yang tidak mengerti, terlihat bingung dengan apa yang dituduhkan oleh istrinya.


"Ish...pura-pura lupa segala". Ica kembali kesal.


Tak ingin memperpanjang urusan, Bara memilih meminta maaf saja pada istrinya. Karena jika tidak takutnya istrinya akan semakin kesal. Bara ingat betul apa yang tadi disampaikan oleh dokter Anya jika dirinya harus sebisa mungkin menjaga mood istrinya. Karena semua itu bisa berpengaruh pada janin yang dikandungnya.


"Kita cari jajanan dulu yuk, siapa tau nanti dedeknya pengen makan sesuatu" Kali ini Bara nampak mencoba merayu Ica dengan mengajaknya mencari jajanan.


Tentu saja hal ini disambut antusias oleh istrinya. Icapun bahkan terlihat turun lebih dulu dari mobil dan langsung menghampiri salah satu stand penjual jajajan.


"Sayang jangan yang ini ya, ini gak baik buat kesehatan. Mana pedes banget kayaknya". Bara yang sudah berada disamping istrinya langsung saja membisikkan hal itu.


Ya, stand yang dipilih Ica untuk membeli jajanan adalah stand milik penjual maklor. Disitu Bara melihat jika jajajan itu ditaburi beberapa jenis bumbu yang terlihat begitu pedas. Dan tentu saja Bara langsung melarang istrinya karena Bara takut nanti istrinya ini sakit perut.


"Tapi aku maunya ini mas. Kayaknya dedek juga lagi kepengen ini. Soalnya ini itu rasanya enak banget". Ica mencoba merayu suaminya dengan mengatakan jika yang menginginkannya adalah calon buah hatinya.


Dengan sangat terpaksa akhirnya Bara menuruti keinginan istrinya itu. Bara tidak ingin jika istrinya sampai ngambek kembali.


Setelah puas menikmati beberapa jajanan, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang. Dan sesampainya dirumah ternyata mereka langsung disambut oleh bu Tika. Beliau tidak bisa beristirahat karena khawatir dengan kondisi menantunya.


"Bagaimana kata dokter tadi, apa Ica baik-baik saja?" Tanya bu Tika masih dengan raut wajah yang terlihat begitu khawatir.


"Selamat buk, sebentar lagi ibu bakal dapat cucu lagi". Bukan Ica yang mengatakan itu, tapi Bara dengan raut kebahagiaan yang begitu terpancar.


"Istri kamu hamil?" Bu Tika masih belum sepenuhnya percaya, hingga akhirnya Ica tersenyum sambil menganggukan kepalanya untuk membenarkan apa yang baru saja dikatakan oleh suaminya.


"Selamat nak, ibu turut berbahagia. Dijaga baik-baik kandungannya. Dan ingat mulai sekarang nak Ica gak boleh capek-capek lagi. Harus banyakin istirahat". Dari perkataan bu Tika barusan, sangat jelas jika beliau sangat senang atas kehamilan menantunya ini.


Menjelang sore, Bara dan Ica sudah bersiap untuk berangkat menuju rumah orang tua Ica. Tentu saja tujuan mereka selain untuk berkunjung, mereka ingin memberi tahu tentang kehamilan Ica. Bahkan Ica juga meminta izin pada ibu mertuanya untuk menginap selama beberapa hari dirumah orang tuanya.


Sepanjang perjalanan Bara terus saja bertanya apakah istrinya ini ada sesuatu yang diinginkan. Namun Ica hanya menggelengkan kepalanya saja. Karena yang diinginkan Ica saat ini hanya satu, yaitu segera sampai dirumahnya dan segera menikmati masakan ibunya.


Ya, setelah memberi tau perihal kehamilannya pada sang ibu mertua, sebenarnya Ica langsung menelfon dan memberi tau juga pada kedua orang tuanya. Ica juga mengatakan kalau kalau sore ini dia akan berkunjung dan menginap disana.


Tentu saja kedatangannya disambut begitu antusias oleh orang tuanya. Apalagi Ica adalah putri satu-satunya yang mereka miliki. Andai bisa mereka sebenarnya sangat berharap Ica bisa tinggal bersama mereka. Tapi mereka sadar, anak mereka adalah seorang perempuan sekaligus seorang istri. Jadi sudah menjadi kewajiban putrinya untuk ikut kemanapun suaminya membawanya tinggal.


Beruntung Bara adalah pria yang sangat baik dan juga sangat menyayangi putrinya. Jadi mereka bisa sedikit tenang menitipkan putri mereka padanya. Apalagi ibunya Bara, beliau tak kalah baiknya. Bahkan dari cerita putrinya, besannya ini selalu memperlakukan Ica layaknya putrinya sendiri.


Hanya butuh waktu tidak sampai satu jam akhirnya mereka sudah sampai. Baik bu Sarah maupun pak Hariz, keduanya nampak sama-sama berada diteras rumahnya untuk menunggu kedatangan putri dan menantu mereka.


Setelah mengobrol sebentar, barulah bu Sarah mengajak mereka berdua untuk makan.


"Ca...itu mama udah bikinin kamu ayam goreng, tumis kangkung, sama pepes tongkol. Dan untuk nak Bara, kata Ica nak Bara suka perkedel kentang sama lapis daging". Bu Sarah menyebutkan satu persatu menu masakan yang diminta putrinya.


"Mah...kenapa mesti repot-repot segala. Saya bisa makan apa saja". Bara merasa tak enak sendiri. Karena jika dilihat dari makanan yang ada, jelas mama mertuanya ini sudah sejak tadi menyiapkannya. Meski dirumah mertuanya ada pembantu, tapi tetap saja Bara merasa tak enak sendiri.


"Udah gak pa-pa, ayo-ayo kita mulai makan saja". Tak ingin melihat wajah menantunya yang nampak sungkan, pak Hariz langsung meminta semuanya untuk segera makan.


"Kamu hamilnya gak rewel apa gimana sayang? Tanya bu Sarah begitu mereka tangah duduk santai diruang keluarga.


"Gimana ya mah, kalau pagi Ica bawaannya pusing sama mual. Ini biasanya sampek jam sembilanan, habis itu udah enggak. Terus gitu kadang gak tau kenapa Ica kepengen makan yang aneh-aneh, jajanan anak sekolahan gitu, tiba-tiba Ica jadi suka banget". Ica menjelaskan apa yang dirasakannya beberapa hari ini.


Bu Sarah tersenyum sembari tangannya mengelus sayang puncak kepala putrinya. "Itu wajar sayang, kebanyakan ibu hamil akan mengalami perubahan hormon. Jadi kamu nikmati saja masa kehamilan kamu ini. Jangan stres dan jangan terlalu banyak aktifitas berat dulu". Bu Sarah memberi nasehat pada putrinya.


"Gak terasa anak papa udah mau jadi mama". Papanya kali ini ikut mendekati putrinya. Beliau langsung memeluk putrinya untuk menyalurkan rasa sayang sekaligus bahagianya.


Melihat pemandangan ini, tentu membuat Bara semakin bertekad untuk terus menjaga istrinya ini dan berjanji akan selalu menyayanginya.


"Kalian istrirahat dulu saja gih, dari baru datang tadi malah diajak ngobrol terus" Setelah berbincang agak lama, merekapun diminta untuk beristirahat.