
Ica memilih duduk berseberangan dengan mereka. Dan baru saja Ica memposisikan diri untuk duduk, mamanya Khanza sudah mulai melayangkan pertanyaan kepadanya.
"Kamu udah berapa lama nikah sama Bara?" Tiba-tiba saja keluar pertanyaan seperti itu dari mulut mamanya Khanza.
"Baru tiga bulan" Jawab Ica singkat.
"Udah ada tanda-tanda kehamilan?"
Pertanyaan macam ini. Sungguh Ica sebenarnya mulai jengah saat berhadapan dengan mamanya Khanza. Hanya saja demi menghormati dia sebagai kerabat dari tante Hanna, sebisa mungkin Ica mencoba menekan emosinya.
"Masih belum, mohon doanya tante" Ica mencoba menanggapinya dengan selembut mungkin.
"Wah...wah...jangan-jangan waktu sama suami yang pertama kamu kelamaan ikut KB, makanya saat kamu nikah lagi susah mau hamilnya". Dengan tanpa merasa bersalah mamanya Khanza mengatakan hal seperti ini.
Dan ucapan mamanya Khanza kali ini tentu saja membuat hati Ica terasa seperti ada yang mencubit. Namun beruntung, karena dari arah dapur terdengar suara bu Hanna ikut menimpali. Karena kebetulan dia mendengar apa yang dikatakan oleh kerabatnya ini pada Ica.
"Nikah baru tiga bulan kok udah dibilang susah hamil. Lagian gak masalah kalau saat ini Ica belum hamil. Itung-itung biar mereka bisa menikmati masa-masa pengantin barunya".
Dan ucapan bu Hanna kali ini sukses membuat mamanya Khanza seperti sedang kebakaran jenggot. Biarlah jika bu Hanna harus mengatakan kalimat seperti itu kepada kerabatnya.
Bu Hanna pernah, bahkan sering merasakan bagaimana sakitnya setiap kali ada orang membahas tentang masalah kehamilan. Oleh sebab itu dia berusaha membela Ica agar kerabatnya itu tidak lagi bicara seenaknya tanpa peduli bagaimana perasaan orang yang diajak berbicara.
"Bukan begitu sayang?" Bu Hanna berpura-pura meminta pembenaran dari Ica terlepas dari apa yang dikatakannya barusan kepada kerabatnya itu. Sementara Ica hanya bisa menampilkan senyum yang sepertinya terlihat begitu dipaksaan.
"Udah gak usah difikirin omongan yang barusan". Bu Hanna mengatakan itu sembari tangannya menyodorkan segelas jus jeruk pada Ica.
Tak lama setelahnya, Ica memilih pamit. Ica takut jika kelamaan berada disana, ibu mertuanya akan mengkhawatirkannya.
"Kamu hati-hati bawa mobilnya. Jangan lupa kabari kalau sudah sampai dirumah". Bu Hanna bahkan sampai mengantar keponakannya ini sampai halaman rumahnya. Saat mobil Ica sudah tak terlihat, barulah bu Hanna kembali masuk kedalam rumahnya.
"Kamu sepertinya sudah terpengaruh sama wajah sok polos istrinya Bara itu". Baru saja bu Hanna sampai diruang tengah, dia sudah mendapat ucapan yang kurang mengenakkan dari kerabatnya itu.
"Memangnya apa yang salah dari Ica? Sejak aku kenal Ica, dia anaknya memang sudah seperti itu".
Namun bu Hanna yang sudah tak mau terhasut lagi, sontak saja langsung menepis tuduhan kerabatnya itu pada Ica.
"Aku lupa bercerita sama kamu. Ica itu gak bakalan tertarik sama aset yang dimiliki mas Agung atau Bara sekalipun. Karena apa, dia itu putri tunggal dari Hariz Wiratama. Salah satu pengusaha sukses dikota ini. Jadi sebagai putri tunggal, maka sudah pasti Ica juga yang akan menjadi pewaris tunggal seluruh aset milik orang tuanya. Dan lagi kenapa kamu bisa tidak mengenali Ica, sementara kamu dan suamimu mengenal keluarga mantan suaminya Ica. Oh ya satu lagi yang perlu kamu tau, mereka bercerai bukan karena kesalahan yang dilakukan Ica, tapi hal itu murni karena adanya insiden tak sengaja yang dilakukam oleh mantan suaminya Ica hingga berakibat menghamili teman satu kelasnya. Ica memilih mengalah hanya demi menyelamatkan nasib seorang calon bayi agar bisa mendapatkan haknya".
Bu Hanna nampak mulai tersulut emosinya dan menjelaskan tentang siapa Ica yang sebenarnya. Bahkan bu Hanna juga sampai membahas hal yang menjadi penyebab mengapa Ica sampai bercerai dengan suami pertamanya. Hal itu karena kerabatnya ini selalu menuduh Icalah yang menjadi penyebab perceraian dalam pernikahannya.
Mendengar semua penuturan dari bu Hanna, tentu saja seketika membuat nyalinya menciut. Sungguh dirinya sama sekali tidak menyangka jika ternyata Ica adalah putri tunggal dari seorang pengusaha sukses. Dia selama ini berfikir jika Ica hanyalah seorang janda biasa yang mempunyai tujuan yang sama dengannya, yaitu ingin menguasai hartanya.
Mamanya Khanza langsung terdiam dan memilih meninggalkan bu Hanna. Tujuannya saat ini hanya satu, yaitu menghubungi suaminya dan mengajaknya untuk segera pulang kerumahnya. Dia tidak ingin Ica sampai mengadukan semua perbuatannya pada orang tuanya.
Ya, saat menyebut nama Hariz Wiratama. Dia jadi teringat jika saat ini suaminya sedang mencoba mencari investor untuk mendanai usahanya. Dan satu-satunya investor yang mau mendanainya adalah Wiratama Corporation, yang pemiliknya tak lain adalah Hariz Wiratama.
Beruntung, saat dihubungi suaminya ini langsung meresponnya. Hingga dirinya langsung meminta suaminya ini untuk segera kembali jika urusannya sudah selesai.
Melihat ekspresi ibunya yang tiba-tiba panik tentu membuat Khanza bingung sendiri. Karena tadi mamanyanya ini nampak menggebu-gebu, kini justru malah terlihat seperti orang ketakutan.
"Mah...mama kenapa sih kok kelihatan kayak orang lagi panik?"
"Mama gak pa-pa. Gini ya za, mulai sekarang kamu buang niatan kamu buat ngedekitin apalagi berusaha buat dapetin Bara". Tiba-tiba saja mamanya mengatakan hal demikian. Sontak saja ini membuat Khanza bingung. Iapun sampai terlihat mengerutkan keningnya.
"Mah ini kenapa sih, kok tiba-tiba mama jadi plin-plan kayak gini. Bukannya mama kemarin dukung aku. Malah mama yang terlihat paling bersemangat sekali buat cari cara agar aku bisa dapetin kak Bara". Khanza terlihat protes karena sikap mamanya yang tiba-tiba berubah gak jelas.
"Itu kemarin, sekarang beda lagi ceritanya".
Mamanya pun mulai bercerita panjang lebar perihal alasan mengapa dirinya tiba-tiba bersikap seperti ini. Hingga membuat Khanza yang mendengarkannya pun juga dibuat tak percaya.
"Mah gawat ini, terus gimana sama keinginan aku buat dapetin kak Bara?" Khanza masih saja sempat-sempatnya memikirkan masalah perasaannya. Padahal jika sampai Ica mengadu pada orang tuanya, bisa hancur semua usaha yang dirintis oleh papanya saat ini.
"Kamu cari laki-laki lain aja. Ini juga demi masa depan kamu. Kalau sampai Ica ngadu ke papanya tentang perbuatan kita, pasti orang tua Ica akan mencari tau siapa orang yang sudah mengganggu ketentraman putrinya. Dan jika semua terungkap, tamatlah riwayat kita. Emang kamu siap kalau kita jatuh miskin?". Mamanya Khanza mencoba memberi penjelasan sekaligus penekanan pada putrinya ini.
Mendengar kata-kata miskin, tentu saja dengan cepat Khanza menggelengkan kepalanya. Dan itu artinya mau tidak mau diapun menuruti apa yang dikatakan oleh mamanya ini. Biarlah dia akan berusaha melupakan keinginannya untuk bisa mendapatkan Bara, asalkan kehidupannya bisa tetap berjalan normal seperti sebelumnya.