
Tak mau kalah dengan mamanya, Khanza juga ikut-ikutan mengucapkan kalimat yang terdengar seperti menyudutkan Ica. Khanza tidak menyangka jika Bara ternyata menikahi seorang janda. Dan tentu saja hal ini membuat Khanza merasa memiliki peluang untuk bisa memiliki Bara.
"kalau boleh tau kenapa kak Ica bisa cerai sama suami yang pertama?"
"Dan kenapa kak Bara bisa nikah sama kak Ica ya. Padahal jelas-jelas kak Bara sebelumnya belum pernah menikah. Sementara kak Ica sendiri udah pernah nikah."
Lihat saja, Khanza terlihat terus mencecari Ica dengan pertanyaan dan pernyataan yang terdengar seperti sengaja ingin menyudutkan posisi Ica. Bahkan ucapan Khanza ini terdengar seolah-olah jika Ica terkesan tidak pantas untuk menjadi istri dari seorang Bara lantaran perbedaan status yang ada pada mereka.
Marah, tentu saja ingin Ica lakukan. Namun sebisa mungkin Ica menahannya. Menurutnya tak seharusnya Khanza mengatakan hal seperti itu meskipun Ica sadar jika apa yang dikatakan Khanza tidak sepenuhnya salah. Tapi tidak bisakah Khanza berfikir jika ucapannya itu tanpa sengaja sudah melukai perasaannya.
Sungguh saat ini Ica merasa seolah dirinya yang sudah memaksakan diri untuk menikahi Bara. Andai Khanza tau bagaimana kronologi dirinya bisa sampai menikah dengan Bara. Sementara baik orang tuanya maupun Bara mereka sama-sama kompak merahasiakan rencana mereka yang akan menikahkan dirinya dengan Bara. Dan sekarang saat semua sudah terjadi malah dirinya yang seolah disalahkan dalam hal ini.
Ica pun memilih diam meski Khanza dan orang tuanya terus saja membahas masalah dirinya yang pernah menikah sebelumnya. Bahkan mereka terkesan menyalahkan jika dirinyalah yang membuat masalah hingga akhirnya bisa bercerai. Hingga akhirnya Bara yang sudah tidak tahan mendengar ocehan mereka langsung membuka suara.
Bara menegaskan pada mereka jika dirinya menikahi Ica bukan karena tekanan atau paksaan dari siapapun. Hal itu murni karena memang dari dulu dirinya sudah jatuh cinta pada Ica. Dan untuk masalah kenapa Ica sampai bercerai itu murni bukan kesalahan Ica. Bahkan Bara dengan gamblang menjelaskan pada mereka bagaimana pernikahan Ica bisa kandas.
Namun kendati sudah dijelaskan mereka masih saja mencari argumen yang terkesan seolah Icalah disini yang sengaja membuat masalah.
"Cukup, sudah cukup anda menyalahkan istri saya atas masalah yang sebenarnya anda sendiri tidak tau apa-apa. Bahkan sekalipun anda tau bagaimana kebenarannya, anda sama sekali tidak berhak ikut campur. Ini rumah tangga saya. Jadi orang luar tidak ada hak untuk ikut campur." Bara sejenak diam sebelum melanjutkan perkataannya.
"Dan perlu kalian tau, sampai kapanpun saya tidak akan pernah membuka hati saya untuk perempuan manapun kecuali istri saya. Tidak peduli dia sebelumnya berstatus janda atau apapun itu. Bagi saya dia adalah cinta pertama dan terakhir. Dan saya selalu berharap kelak hanya Ica lah yang akan mendampingi hari-hari saya hingga saya tutup usia."
Setelah mengatakan itu Bara langsung membawa Ica pergi tanpa mau melanjutkan acara makan malam.
Bara sudah terlanjur emosi dengan sikap Khanza dan orang tuanya. Karena bagaimana bisa mereka meminta agar Bara menceraikan istrinya hanya karena Ica yang sudah pernah menikah. Bahkan dengan tidak tau malunya mereka mengatakan jika putrinya siap menghantikan posisi Ica sebagai istrinya.
Gila.....
Bu Tika yang melihat putri dan menantunya pergi, langsung mengejar mereka dan ikut pulang bersama mereka.
Sementara pak Agung memilih meninggalkan ruang makan dengan membawa emosi yang berusaha ditahannya. Karena bagaimanapun dia harus bisa menghargai perasaan istrinya.
"Lihta saja Na, bahkan suamimu sama sekali tidak membela aku sebagai kerabatmu. Tujuanku ingin menjodohkan Bara dengan Khanza itu karena aku kasian padamu. Kamu hingga detik ini belum dikarunia seorang anak. Jika keponakan suamimu menikah dengan gadis luar yang bukan kerabatmu, bisa saja mereka akan mengambil alih semua aset milikmu dan mereka akan menelantarkan dirimu dan juga suamimu. Tapi jika Khanza yang menjadi istrinya Bara, maka ceritanya akan lain lagi. Karena bagaimanapun dalam tubuh Khanza mengalir darah yang sama denganmu. Sementara gadis itu, dia tidak ada hubungan apapun denganmu. Tolong kamu pikirkan ucapanku. Karena ini demi kebaikanmu dan juga suamimu. Sebagai sepupumu, aku hanya bisa memberi nasehat yang terbaik untukmu."
Mamanya Khanza belum putus asa dengan tujuannya. Bahkan saat ini dirinya mencoba menghasut Ratna demi bisa mencapai tujuaannya untuk menikahkan putrinya dengan Bara. Berharap dengan pernikahan itu dirinya bisa menguasai seluruh aset milik sepupunya itu lewat jalan menikahkan Khanza dengan Bara. Karena mereka tau jika seluruh aset milik sepupunya ini kelak akan diberikan pada Bara yang merupakan keponakan dari suami Ratna.
Sepertinya saat ini bu Ratna mulai termakan hasutan dari saudara sepupunya. Dia nampak terdiam sambil mencerna apa yang baru saja dikatakan oleh mamanya Khanza. Dan jika dipikir-pikir itu semua ada benarnya juga.
Jika nanti dirinya sudah tua, apa mungkin Ica yang hanyalah seorang istri dari keponakan suaminya mau merawatnya. Sementara jika yang menjadi istri Bara adalah Khanza, sudah pasti Khanza yang notabenenya adalah keponakannya akan mau merawatnya. Karena jika tidak, pasti saudara sepupunya ini yang akan mengingatkan Khanza.
"Huft..." Bu Ratna nampak menghembuskan nafasnya dengan sedikit kasar.
"Baiklah Mbak, aku akan memikirkannya dan akan membicarakan ini dengan mas Agung." Ucap bu Ratna sembari meninggalkan meja makan dan berniat menyusul suaminya.
Dan kini dimeja makan hanya menyisahkan tiga orang ini saja. Mereka nampak tersenyum karena sedikit banyak mereka merasa sudah berhasil menghasut bu Ratna. Kini yang harus mereka lakukan adalah bagaimana bisa membuat Bara agar mau menikahi Khanza. Bagi mereka tak masalah jika untuk sementara putrinya ini menjadi yang kedua, sambil mereka berfikir bagaimana sekiranya nanti Ica sendiri yang memilih melepaskan Bara dan mundur dari pernikahannya.
"Mah tapi gimana cara ngedekitin kak Baranya? Secara tadi dia udah ngamuk duluan sama kita." Khanza terlihat frustasi. Rasanya dia akan kesulitan untuk mendekati Bara. Mengingat pria itu tadi sudah nampak emosi kepadanya. Bahkan tadi Bara memberi peringatan keras jika sampai kapanpun dia tidak akan memberi celah sedikitpun untuk wanita lain masuk dalam kehidupannya.
"Udah nanti biar mama yang mikir ini sama papa. Kamu tinggal tunggu intruksi dari mama sama papa. Bukan begitu Pah?" Mamanya Khanza terlihat meminta persetujuan suaminya.
"Terserah kalian saja. Papa capek mau istirahat dulu." Pak Wisnu sudah merasa lelah dengan semua rencana istri dan putrinya yang menurutnya terlalu berambisi. Namun setiap kali dirinya berusaha mengingatkan, istrinya ini selalu beralasan jika semua ini dia lakukan untuk kebahagian putri semata wayangnya Khanza. Dan jika sudah menyangkut Khanza, rasa tidak tega itu selalu mendominasi akal sehatnya. Karena mungkin rasa sayangnya yang begitu besar pada Khanza. Sehingga mau tidak mau dia memilih mengiyakan saja apa yang menjadi keinginan istrinya dan putrinya ini.