
Sekembalinya Bara kekamarnya ia sudah mendapati istrinya terlelap. Begitu juga dengan putranya, dia juga nampak tidur pulas ditempatnya.
Bara pun tak lantas tidur, seperti biasa dia kekamar mandi untuk membersihkan tubuhnya lebih dulu.
Namun saat Bara sudah selesai, dia tak lantas langsung ikut menyusul tidur. Dia lebih dulu mendekat menuju putranya.
Ada kebahagiaan tersendiri begitu dirinya memandangi wajah putranya. Bayi yang begitu menggemaskan yang saat ini hadir sebagai pelengkap kebahagiaan bersama sang istri yang teramat dicintainya.
Dengan sangat pelan, Bara semakin mendekat dan mencium pipi putranya. Baru setelah itu dirinya beralih pada sang istri.
Sama halnya yang Bara lakukan pada putranya, Bara pun saat ini juga terlihat menatap lekat-lekat wajah sang istri. Wajah yang menurutnya terlihat begitu cantik dari hari kehari. Dan wajah yang selalu mampu memberikan ketenangan setiap kali dia menatapnya.
"Terima kasih ya Alloh, karena Engkau telah menghadirkan kebahagiaan yang begitu sempurna dalam hidup hamba. Terima kasih sudah menjadikan perempuan dihadapanku ini sebagai jodohku. Terima kasih juga sayang, kamu sudah bersedia melahirkan putra yang begitu menggemaskan, yang mampu menjadi penglengkap kebahagiaan keluarga kecil kita."
Setelah mengatakan itu Bara pun ikut mengistirahatkan tubuhnya dengan membaringkan tubuhnya disamping sang istri.
Rupanya malam itu baby Ditya sama sekali tidak rewel. Dia hanya terbangun saat dirinya sedang merasa haus.
Bara sendiri juga nampak ikut bangun dan membantu istrinya saat memberikan ASI untuk putra mereka.
"Mas kamu tidur saja, aku bisa sendiri kok. Lagian besok kamu harus kerja kan. Entar kamunya malah kelelahan jika harus ikutan bangun." Ica melarang suaminya untuk tidak ikut bangun saat dirinya memberikan ASI pada putranya.
"Gak papa sayang, lagian kita bikinnya kan berdua. Masak giliran udah keluar malah kamu sendirian yang merawat."
Mendengar ucapan suaminya, Ica bukannya terharu. Yang ada malah dia merasa sedikit kesal. Pasalnya suaminya ini selalu bicara asal saat didepan bayinya.
Bara yang faham dengan ekspresi istrinya, langsung berinisiatif memegang kedua telinganya dan meminta maaf pada sang istri.
Melihat tingkah suaminya, sontak saja Ica langsung tertawa. Menurut Ica, suaminya terlihat seperti anak kecil jika bertingkah seperti ini.
"Gimana dimaafin gak ini?" Bara bertanya dengan posisi kedua tangan yang masih setia memegang kedua telinganya. Tak lupa kedua matanya ia kedip-kedipkan. Sungguh jika seperti ini suaminya terlihat begitu menggemaskan.
"Iya-iya dimaafin. Tapi awas aja kalau sampai diulangi lagi."
Bara langsung mendekat begitu melihat Ica sudah menidurkan kembali putranya. Iapun langsung memeluk tubuh istrinya ini dari belakang.
Mendapat perlakuan seperti itu, membuat Ica menemukan ide untuk mengerjai suaminya. Dengan cepat Ica membalikkan badan dan memposisikan tubuhnya menghadap pada suaminya.
Dengan sedikit berjinjit Ica memberikan satu kecupan dipipi suaminya. Tak lupa juga tangannya meraba dada bidang suaminya. Dan apa yang dilakukan Ica ini tentu saja membuat tubuh Bara seketika terasa panas dingin.
"Yang...gak usah mancing-mncing deh." Bara sepertinya tau betul niat apa yang coba istrinya sembunyikan hingga sampai melakukan hal seperti ini.
"Ck....biasanya juga gak kayak gini. Jangankan berinisiatif sendiri, dikasih kode aja kadang gak langsung peka." Bara terlihat menggerutu sendiri. Namun semuanya masih bisa didengar oleh telinga Ica dengan sangat jelas. Dan tentu saja hal ini membuat Ica harus menahan tawanya.
"Uluh-uluh, suami ganteng aku ini kenapa sih?. Sini-sini aku kasih sesuatu biar ilang keselnya." Ica kembali berjinjit dan kembali memberikan satu ciuman pada suaminya. Namun kali ini bukan pipi yang jadi sasarannya. Tapi lebih tepatnya bi-bir suaminya yang Ica jadikan target sasarannya.
Setelah melakukan itu dengan cepat Ica langsung berbalik badan dan berjalan menuju ranjang. Sementara Bara jangan ditanya lagi. Hawa panas dingin kembali ia rasakan disekujur tubuhnya.
"Sayang...tanggung jawab gak" Bara terlihat menatap tajam pada istrinya.
"Tanggung jawab apa mas, emang aku habis ngehamilin kamu apa." Jawab Ica tanpa dosa
"Yang...kamu tega banget sama suami kamu ini." Bara memasang wajah sendu. Terlihat sekali jika dirinya seperti orang yang butuh dikasihani.
"Tega apanya sih, udah tidur sini. Entar keburu Dityanya bangun lagi." Tanpa peduli dengan ekspresi suaminya, Ica malah terlihat menepuk tangannya sebagai isyarat agar suaminya ini segera tidur disampingnya. Iapun kemudian menutupi separuh tubuhnya dengan selimut dan langsung memejamkan kedua matanya.
"Awas aja kamu, tigapuluh delapan hari lagi habis kamu sama aku. Jangan panggil aku Bara jika tidak bisa buat kamu hamil anak aku lagi." Kali ini Bara tidak menggerutu lagi. Tapi Bara sengaja mengatakan itu dengan lumayan keras. Berharap apa yang diucapkannya ini bisa didengar oleh istrinya.
Dan tentu saja Ica mendengar semuanya. Karena memang Ica sendiri belum tidur.
"Uh....Serem banget ancamannya, adek kan jadi takut." Dengan posisi masih tiduran, Ica sengaja menjawab ancaman suaminya ini dengan kembali meledeknya.
"Sayang....mas gak main-main lho ini." Tekan Bara pada istrinya.
"Siapa juga yang ngajakin mas buat main-main. Udah malam mas, besok aja kalau mau main-main. Sekarang tidur dulu biar besok bangunnya gak kesiangan."
Dengan perasaan sedikit kesal, Bara menyusul istrinya dan ikutan berbaring disampingnya. Namun tidak untuk tidur, melainkan dirinya lebih menunggu agar istrinya ini tidur lebih dulu.
Setelah beberapa menit, Bara terlihat memposisikan dirinya untuk duduk. Ia membuka selimut yang sejak tadi masih setia menutupi tubuh istrinya. Kemudian tangannya ia gerak-gerakkan tepat diatas wajah Ica untuk memastikan jika istrinya ini benar-benar sudah tertidur pulas.
"Emang kamu aja yang bisa ngerjain aku." Bara terlihat menyeringai licik.
Dan didetik berikutnya, entah apa yang sedang dilakukan oleh Bara. Karena Ica yang memang merasa sangat mengantuk sama sekali tidak terusik dengan kegiatan yang dilakukan suaminya. Bahkan baby Dityapun sepertinya terlihat pro sekali. Karena setelah diberi ASI tadi, dia sama sekali tidak bergerak-gerak. Hanya terdengar suara nafasnya saja yang menandakan kalau putranya juga sedang tertidur pulas.
"Selamat istirahat sayang, mas tunggu gimana ekspresi kamu besok pagi begitu melihat kejutan dari suamimu ini."
Kini ketiga orang didalam kamar itu benar-benar tidur dengan pulas. Baby Ditya yang tidur pulas karena sudah mendapat asupan ASI, Ica yang tertidur pulas karena merasa berhasil mengerjai suaminya, dan Bara yang juga ikut tertidur pulas lantaran merasa sudah berhasil membalas kelakuan iseng istrinya."
Hingga pagi-pagi sekali terdengar suara terikan Ica dari dalam kamarnya.
"Mas Bara...."