
Pagi ini dikediaman Bara terlihat sedikit ramai dengan banyaknya anggota keluarga dan juga teman-teman Bara yang hadir dirumahnya.
Ya, hari ini Bara mengadakan acara tasyakuran atas rumah barunya. Bara sengaja membangun rumah yang baru karena kondisi rumahnya yang lama sudah dirasa kurang luas. Rumah yang dulu hanya memiliki tiga kamar. Belum lagi kondisi ruang tengahnya yang tidak begitu luas. Hal itu menurut Bara akan membuat putranya kurang leluasa saat bermain nanti. Sementara kedepannya Bara memiliki harapan ingin mempunyai anak kembali bersama Ica.
Kebetulan tepat disamping rumahnya ada rumah tetangganya yang saat itu hendak dijual. Luas rumahnyapun hampir dua kali lipat jika dibanding dengan luas rumah miliknya. Sehingga membuat Bara langsung tertarik untuk membelinya.
Setelah istrinya dinyatakan hamil, barulah Bara mulai merenovasi rumah itu. Dari yang semula berlantai satu, kini sudah disulap menjadi bangunan berlantai dua yang cukup megah.
Sementara dirinya dan keluarga menempati rumah barunya, rumah yang lama Bara jadikan sebagai tempat tinggal untuk ARTnya.
Bara sengaja mencari ART yang merupakan sepasang suami istri. Sehingga yang istri bisa membantu pekerjaan rumah tangga, sementara sang suami sebagai tukang kebun dan merangkap sopir untuk keluarganya.
"Kayaknya semua sudah pada datang Bar, bagaimana kalau sekarang acaranya dimulai saja." Pak agung mengatakan hal itu, karena melihat semua tamu yang diundang sudah terlihat banyak yang hadir.
Acara tasyakuranpun dimulai. Didalamnya diisi dengan pembacaan doa-doa dan juga ada tausiah. Tak lupa juga ada santunan untuk anak yatim.
Bara sengaja membuat acara ini selain untuk tasyakuran rumahnya, acara ini juga Bara niatkan sebagai bentuk ungkapan rasa syukurnya atas kelahiran putra pertamanya yang kini sudah berusia dua bulan.
Saat ini bayi itu terlihat anteng dalam gendongan bu Sarah, yang tak lain adalah neneknya.
Dari acara belum mulai hingga selesai, Ica hanya mendapat kesempatan menggendong putranya saat hendak minum ASI saja. Selebihnya putranya ini akan digendong oleh mamanya, mertunya dan tante dari suaminya, Bu Hanna.
"Ca, kayaknya lho mesti bikin adek deh buat si Ditya." Ucap Fika tiba-tiba.
"Tuh coba lho liat, anak lho sejak tadi digendong sana-sini. Kasian mereka kan mesti ngantri buat bisa gendong anak lho. Gue juga udah nyaranin sama Reza juga buat segera punya adik. Soalnya kasusnya sama kayak anak lho, jadi rebutan nenek sama kakeknya." Lanjut Fika sembari tangannya menunjuk pada Ditya yang terlihat tengah digendong neneknya.
Bukan tanpa alasan Fika mengatakan hal itu. Karena sejak tadi dirinya memperhatikan baik bayinya Ica maupun anaknya Reza yang tak lain adalah keponakannya Ica, keduanya sama-sama jadi rebutan para nenek dan kakek mereka. Ica dan Reza yang sama-sama anak tunggal, tentu saja kehadiran anak mereka menjadi kebahagiaan tersendiri bagi kedua orang tua mereka. Belum lagi ada paman Bara beserta istri yang sampai saat ini belum dikaruniai seorang anak. Al hasil merekapun juga ikut berpartisipasi dalam antrian untuk bisa menggendong kedua laki-laki menggemaskan itu.
"Ck....enak aja lho bilang gue suruh hamil lagi. Ini aja gue baru selesai kemarin masa nifasnya. Lah masak ia gue mau langsung hamil aja." Ica nampak tidak terima dengan usulan dari sahabatnya ini.
"Wah kebetulan banget itu, entar lho sama Bara bisa langsung gaspol aja buat proses bikinin Ditya adik." Fika berbicara dengan sedikit lantang dan tanpa beban.
Icapun dengan cepat langsung membekap mulut sahabatnya ini.
"Emmm....lepasin, lho apa-apaan sih." Fika terlihat memberontak.
"Lho kalau ngomong gak usah keras-keras. Gue gak mau kalau sampai mas Bara denger. Asal lho tau aja, gue belum ngasih tau dia kalau gue udah selesai nifas. Soalnya gue rencana mau ikut KB dululah." Jelas Ica
Ya, Ica sengaja belum memberi tau perihal dirinya yang sudah selesai masa nifas. Karena kalau sampai suaminya ini tau, bisa-bisa dia langsung minta jatah tanpa menunggu dirinya menggunakan alat kontrasepsi terlebih dulu.
"Wah dosa lho Ca. Lagian apa masalahnya kalau misalkan lho hamil lagi, lho hamil kan ada suaminya. Bahkan kalau bisa sekali lahiran langsung tiga. Jadi pas lah dibagi-bagi. Satu buat nyokap lho, satu diasuh tante Hanna, satunya lagi buat ibu mertua lho. Dan lho sendiri kebagian si Ditya. Gimana usulan gue, bagus kan?"
"Lemes bener mulut lho ngomongnya. Emang lho pikir lahirin anak gak sakit apa?. Gue aja pas lahiran kemarin kayak mau nyerah aja. Soalnya gak kuat banget sakitnya." Ica terlihat mengingat-ingat kembali bagaimana rasa sakit yang dialaminya saat melahirkan.
"Sakit, entar juga ketemu-ketemu lho bunting lagi. Kayak suami lho gak mesum aja. Itu laki lho keliatannya aja diem-diem gitu. Tapi kalau soal urusan produksi, garcep bener dah tuh orang."
"Hust...bibir lho Fik." Ica terlihat menyentil bibir temannya ini karena sudah berbicara tanpa filter.
Obrolan mereka terus berlanjut. Bahkan tanpa mereka sadari orang yang sedang dijadikan topik pembahasan berada dibelakangnya.
"Mas..."
"Bara..."
Keduanya nampak kaget karena tiba-tiba mereka melihat Bara sudah berdiri tepat dibelakang mereka.
Entah sejak kapan Bara berada disana, karena setau mereka tadi Bara tengah terlihat sibuk menemui para sahabatnya. Tapi lihatlah sekarang, pria itu terlihat berdiri tegap dibelakang mereka.
"Kalian lagi ngimongin apa sih, kayaknya seru banget." Dengan ekspresi yang dibuat setenang mungkin, Bara langsung mendekat dan merangkul pinggang istrinya.
Tentu saja hal ini membuat Fika sedikit gelagapan. Sementara Ica, wajahnya langsung terlihat sedikit panik. Pasalnya Ica khawatir jika suaminya ini mendengar ucapannya tadi yang mengatakan jika dirinya sudah selesai dari masa nifas.
"Kenapa Yang, kamu ada yang sakit?" Bara sengaja pura-pura tidak faham dengan ekspresi yang ditunjukkan oleh istrinya saat ini.
"Eng-enggak kok mas, ak-aku baik-baik aja kok." Sekarang Ica terlihat gugup.
Tak ingin urusannya jadi berabe, Fika langsung main nyelonong saja meninggalkan keduanya. Karena habis ini Fika tau betul akan ada perdebatan apa diantara keduanya.
"Yakin baik-baik saja?"
Entah kenapa pertanyaan Bara kali ini terdengar seperti ancaman baginya. Icapun hanya mampu menjawab pertanyaan suaminya dengan menganggukkan kepalanya saja.
"Tapi kamu punya hutang penjelasan sama aku." Kali ini Bara mengatakan itu sambil membisikkanya ditelinga Ica. Dan setelahnya dia langsung beranjak meninggalkan Ica yang masih terlihat mematung ditempatnya dengan ekspresi yang tidak bisa ditebak. Karena hanya Bara yang faham akan hal itu.
Bara memang sengaja langsung meninggalkan istrinya ini karena dirinya berniat ingin mengerjai istrinya yang sudah berani berbohong kepadanya.