
Bara membawa Ica menuju kamarnya dan membaringkannya disana. Sementara bu Tika dia mengikuti dibelakangnya. Karena bu Tika sendiri tak kalah paniknya seperti Bara.
"Nak...Kita kedokter aja ya, ibu juga khawatir kamu kenapa-napa". Sama halnya dengan Bara, bu Tika pun juga mengajak menantunya ini untuk ke dokter.
"Gak usah buk, habis ini dibuat tiduran pasti langsung mendingan".
Ica sendiri juga bingung, kenapa hanya dengan memposisikan tubuhnya seperti orang tidur, rasa pusing dikepalanya perlahan mulai menghilang.
"Kalau begitu ibu ambilin makanan kesini ya, nanti biar Bara yang membantu menyuapi".
"Gak usah bu, Ica belum lapar. Nanti kalau sudah lapar Ica pasti bakalan ambil sendiri". Sebenarnya Ica merasa tidak enak hati menolak apa yang hendak ibu mertuanya lakukan untuknya. Hanya saja saat ini dia benar-benar tak berselera untuk makan.
Bu Tika akhirnya memilih meninggalkan kamar putranya, memberi kesempatan agar menantunya ini bisa beristirahat.
"Sayang...kedokter yuk. Atau aku panggil aja dokternya kesini. Jadi kamu gak perlu capek-cepek mesti ke tempat prakteknya. Gimana?" Lagi-lagi Bara mencoba merayu sang istri agar mau diperiksa dokter.
Jika boleh jujur, Bara masih merasa sangat khawatir dengan kondisi istrinya. Karena selama menikah, istrinya ini belum mengalami hal seperti ini. Bahkan ibunya tadi mengatakan jika istrinya belum makan sejak tadi siang.
Karena Ica yang terus saja menolak ajakannya untuk kedokter, Bara pun akhirnya juga membiarkan istrinya ini beristirahat.
Tak butuh waktu lama, saat ini Ica sudah nampak tertidur dengan pulasnya. Meski Bara dengan sengaja menciumi kedua pipi dan juga keningnya, Ica sama sekali tidak terusik.
Pagi sekali saat bangun tidur, Bara tidak menemukan keberadaan istrinya itu disampingnya. Bara berfikir mungkin istrinya ini sedang membantu ibunya didapur. Diapun bermaksud menyusul istrinya ini.
Namun sayang karena baru saja Bara hendak beranjak dari posisinya, dari arah kamar mandi sayup-sayup Bara mendengar seperti ada suara orang yang sedang muntah-muntah.
Secepat mungkin Bara langsung berlari menuju kamar mandi. Karena sudah barang pasti itu adalah istrinya. Beruntung pintu kamar mandinya tidak dikunci sehingga dengan mudah Bara bisa masuk kedalamnya.
"Sayang...kamu kenapa?" Bara semakin terlihat panik begitu melihat wajah istrinya nampak pucat. Ia bahkan langsung membopong istrinya menuju ranjang.
"Aku minta ibu bikinin kamu teh hangat sebentar ya"
Bara pun kemudian beranjak menuju ibunya yang saat itu memang kebetulan sedang berada didapur.
"Kenapa lagi dengan istri kamu? Apa dia kembali pusing seperti kemarin?" Tanya bu Tika sembari tangannya mengaduk teh yang sedang dibuatnya.
Beliaupun kemudian langsung membawanya menuju kamar dimana menantunya berada.
"Kamu kenapa nak?" Tanya bu Tika lembut pada Ica.
"Aku gak pa-pa kok buk. Mungkin ini cuman masuk angin saja".
"Ini diminum dulu teh hangatnya. Habis ini kamu periksa ke dokter ya. Ibu gak mau kamu sampai kenapa-napa". Bu Tika terlihat begitu mengkhawatirkan menantunya.
Barapun juga kembali memaksa Ica untuk pergi kedokter. Tentu saja mau tidak mau Ica menuruti keinginan mereka untuk membawanya kedokter. Jujur dirinya merasa tidak enak jika harus menolak kebaikan ibu mertuanya yang sudah sangat mengkhawatirkannya.
Sambil menunggu agak siangan untuk kedokter, Ica diminta agar beristirahat saja dikamarnya. Meski bosan, Ica terpaksa menurutinya.
Icapun nampak memandang pada langit-langit kamarnya. Otaknya mulai berfikir sebenarnya apa yang sedang terjadi pada dirinya saat ini.
Beberapa hari ini sebenarnya Ica memang sering mengalami mual dan pusing. Hanya saja Ica tidak begitu mempedulikannya. Ica mengira jika ini mungkin efek masuk angin atau entah apalah. Namun semakin hari, rasa mual dan pusingnya ini semakin parah saja. Bahkan sejak subuh tadi terhitung sudah dua kali dirinya mengalami muntah akibat dari rasa mual dan pusing yang dideritanya.
"Nak ayo sarapan dulu". Terlihat bu Tika membawa nampan berisi semangkuk bubur untuk diberikan kepada menantunya ini.
Ica yang merasa sungkan sontak saja langsung beranjak dari posisinya dan bergegas untuk segera menghampiri ibu mertuanya.
"Gak pa-pa, ibuk gak merasa direpotkan sama sekali. Kamu kan putri ibu, jadi sudah tugas ibuk ngerawat kamu yang lagi sakit".
Sungguh betapa beruntungnya Ica karena kembali mendapat mertua yang begitu menyayanginya. Jika dulu dirinya juga diperlakukan sangat baik oleh mamanya Kahfi, kini dirinya juga kembali mendapat perlakuan baik dari ibunya Bara.
Meski sebenarnya Ica enggan untuk sarapan, namun hati kecilnya tak kuasa menolak kebaikan ibu mertuanya. Dengan terpaksa Ica perlahan menyuapkan bubur itu kedalam mulutnya.
Setelah satu suapan bubur masuk kedalam mulutnya, tiba-tiba mual diperutnya kembali terasa. Namun sebisa mungkin Ica mencoba menahannya. Hingga pada suapan ketiga, Ica sudah tidak tahan lagi.
Diapun langsung berlari kekamar mandi dan langsung memuntahkan semua isi perutnya yang baru saja terisi.
"Bara...jangan menunda lagi. Sekarang juga kamu bawa istri kamu kerumah sakit. Ibuk gak mau Ica sampai kenapa-napa".
Dan disinilah pasangan suami istri itu berada. Keduanya tengah duduk untuk mengantri panggilan dokter. Ica yang tadi kondisinya sudah sangat lemah, akhirnya pasrah begitu saja saat suaminya ini membopongnya kedalam mobil untuk dibawa kerumah sakit.
Beruntung, karena hanya menunggu dua pasien sebelumnya. Dan kini nama Ica sudah dipanggil.
"Permisi, apa ada yang bisa kami bantu?" Dokter itu menyapa sebelum dirinya melakukan pemeriksaan terhadap Ica. Diapun juga meminta agar Ica atau Bara menjelaskan masalah keluhan apa yang sampai membuat keduanya datang ke tempatnya.
"Begini dok....." Dengan sangat detail Bara menjelaskan apa saja yang dia ketahui seputar gejala yang dialami istrinya ini.
Beberapa saat dokter itupun melakukan pemeriksaan terhadap Ica.
"Semuanya normal dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan". Dokter itu menyampaikan hasil pemeriksaan yang dilakukannya kepada Ica.
"Tapi kenapa istri saya sering pusing dan mual? Bahkan istri saya sampai muntah-muntah segala tadi pagi". Bara masih belum percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan oleh dokter itu.
Hingga akhirnya dokter tersebut menyuruh keduanya untuk menemui dokter Anya. Dia adalah dokter spesialis Obygin yang ada dirumah sakit ini. Berharap nanti disana baik Bara maupun Ica akan memdapatkan penjelasan terkait apa yang terjadi pada Ica.
Mendengar kata Obygin, tentu membuat pasangan suami istri itu kaget. Karena tujuan mereka kesana adalah untuk memeriksakan kondisi Ica yang sakit. Ica sendiri bahkan berfikir jika mungkin dirinya tengah mengalami sakit asam lambung.
Namun diluar dugaan, justru kini keduanya malah diminta untuk memeriksakan kembali kondisi Ica dipoli kandungan.
"Mas....aku gak lagi hamil lho ini. Tapi kenapa harus kepoli kandungan? Mas aku takut, jangan-jangan aku ada penyakit serius yang berkaitan sama rahim aku". Wajah Ica pun sampai terlihat seperti orang yang sedang ketakutan.
Bara yang melihat ekspresi wajah istrinya langsung membawanya kedalam dekapannya. "Kamu tenang saja. Gak bakalan terjadi apa-apa sama kamu". Tangannya terlihat membelai sayang istrinya.
Dan setelah menunggu beberapa saat akhirnya Ica kembali dipanggil. Dirinya masuk dengan ditemani Bara.
Dokter Anya meminta keduanya untuk duduk dikursi yang ada dihadapannya.
"Kalau boleh tau kapan ibu Alisha terakhir mengalami menstruasi?" Dokter Anya yang sebelumnya sudah diberi tau via telfon tentang kondisi Ica, langsung saja bertanya pada intinya.
"Menstruasi dok?" Ica mengatakan itu sambil berfikir. Pasalnya dia sama sekali tidak bisa mengingat kapan terakhir kali dirinya mengalami menstruasi.
"Maaf dok, Sepertinya saya lupa".
"Apa mungkin pak Bara ingat kapan terakhir kali ibu Ica menstruasi? Biasanya laki-laki suka hafal kalau soal jadwal bulanan istri". Dokter Anya mengatakan itu karena sengaja ingin menggoda pasiennya ini. Diapun sampai dibuat tersenyum oleh pertanyaannya sendiri.
"Maaf dok saya juga lupa. Tapi yang jelas kayaknya sebulan ini istri saya belum pernah kebanjiran. Karena hampir tiap hari saya ngambil jatah dari istri saya".
Entah jawaban Absurd dari mana yang Bara dapatkan ini. Yang jelas saat ini dokter Anya dibuat tertawa oleh jawaban yang diberikan oleh Bara.
Sementara Ica, jangan ditanya lagi. Rasanya dirinya ingin tenggelam saja kedasar sungai karena merasa malu dengan apa yang dikatakan oleh suaminya ini.