
Dan disinilah mereka sekarang, keluarga Khanza tengah duduk diruang tamu. Sekembalinya papanya dari menemui investor, mereka nampak membicarakan semua hal yang dituturkan oleh bu Hanna kepada mereka.
"Kenapa pulangnya mendadak gini?" Pak Agung heran, karena tiba-tiba saja kerabat istrinya ini pamit akan pulang. Dia bahkan sampai ditelfon istrinya agar pulang lebih cepat.
Keluarga Khanza pun menjelaskan alasan kenapa mereka sampai harus pulang secara mendadak. Sebelum pulang bahkan mereka juga berniat untuk menemui Ica dan meminta maaf padanya karena sudah bersikap keterlaluan.
"Kalian jangan khawatir, Ica itu perempuan yang baik. Dia pasti akan memaafkan kalian". Begitulah kiranya kalimat terakhir yang diucapkan Pak Agung kepada kerabat istrinya sebelum mereka benar-benar meninggalkan rumahnya.
Benar saja, keluarga Khanza menyempatkan mampir dulu kerumah Ica. Lebih tepatnya rumah mertuanya.
"Nak Ica, itu Khanza sama keluarganya kesini. Katanya ada hal penting yang ingin dibicarakan". Bu Tika memanggil Ica yang saat ini tengah berada dikamarnya.
Icapun merasa aneh kenapa tiba-tiba satu keluarga ini datang dan ingin bertemu dengannya. Entah apa yang akan mereka lakukan. Tapi Ica berharap semoga kedatangan mereka tidak untuk melukai perasaannya lagi.
"Maaf Om, Tante, sudah dibuat menunggu". Ica terlihat meminta maaf. Dia merasa tidak enak sendiri karena sudah membuat mereka menunggu.
Sebenarnya Ica tengah tertidur saat ibu mertuanya memanggilnya. Karena entah kenapa kepalanya tiba-tiba merasa pusing. Icapun sengaja merebahkan diri, berharap rasa pusingnya akan berkurang. Hingga tanpa sadar dirinya malah ketiduran.
"Gak pa-pa, justru harusnya kita yang minta maaf. Karena kedatangan kami kesini sudah mengganggu istirahat kamu".
Mendengar ucapan mamanya Khanza barusan, tentu saja membuat Ica reflek mengerutkan keningnya. Entah ada angin apa yang membuat mamanya Khanza ini tiba-tiba bersikap manis padanya. Bahkan tutur katanya terdengar begitu lembut.
Sejak pertama bertemu pada acara makan malam dirumah pak Agung, keluarga ini selalu bersikap jutek kepadanya. Bahkan kata-kata pedas selalu mereka lontarkan setiap kali dirinya sedang berada ditengah-tengah mereka. Hanya papanya Khanza saja yang masih bersikap baik kepadanya.
"Oh iya, kalau boleh tau ada hal apa yang ingin tante bicarakan pada saya?"
Setelah Ica menanyakan apa keperluannya datang menemuinya, barulah mamanya Khanza mulai menjelaskan maksud dan tujuannya datang kesana.
Dengan wajah yang terlihat begitu menyesal mamanya Khanza meminta maaf pada Ica karena sudah berani mengatakan hal-hal yang jelas membuat Ica tersinggung bahkan sakit hati.
Mamanya Khanza juga meminta maaf karena jujur dirinya tidak tau jika Ica merupakan putri dari pak Hariz Wiratama. Dengan wajah yang juga terlihat sangat gugup dan sedikit ketakutan, mamanya Khanza memohon agar Ica tidak mengadukan perbuatannya pada papanya karena takut papanya akan marah dan mencabut semua investasinya diperusahaan yang baru saja dirintis oleh suaminya ini.
Khanzapun tak tinggal diam, dia juga ikut menyesal dan meminta maaf karena sudah berani ingin merebut Bara dengan cara memprovokasi tantenya dan juga Bara. Bahkan Khanzapun sampai merendahkan harga diri Ica.
Meski tak bisa dipungkiri jika perasaan terhadap Bara belum bisa ia hilangkan begitu saja, namun dirinya cukup sadar jika Ica terlalu berat untuk menjadi saingannya. Dan lagi Khanza mulai yakin jika apapun usahanya pasti akan gagal karena memang pada dasarnya Bara tidak pernah memiliki perasaan apapun kepadanya.
"Aku gak pa-pa kok. Lagian yang tante katakan tentang aku itu tidak semuanya salah. Dan tante juga tenang saja karena aku gak bakal ngaduin masalah ini sama papa. Jadi aku pastikan gak akan terjadi masalah apa-apa sama usaha keluarga tante. Dan untuk Khanza aku doain semoga kamu kelak bisa dapat jodoh yang terbaik, yang bisa mencintai kamu dengan tulus".
Benar yang dikatakan pak Agung, Ica adalah perempuan yang sangat baik. Karena jika orang lain pasti dia akan menggunakannya sebagai kesempatan untuk membalas perbuatan orang yang sudah melukai perasaannya.
Setelah semuanya kelar, barulah keluarga itu berpamitan untuk undur diri. Mereka tidak bisa berlama-lama karena mereka kebetulan dapat tiket yang jadwal penerbangannya sore ini juga.
Menjelang waktu magrib Bara baru sampai dirumah. Itu dikarenakan ada cukup banyak pekerjaan yang harus diselesaikan hari ini juga. Belum lagi tadi pamannya meminta dirinya untuk mampir kerumahnya sebelum pulang.
"Ica mana buk?" Bara menanyakan keberadaan sosok istrinya setelah dirinya menyalami ibunya.
Barapun jadi kepikiran apa jangan-jangan istrinya saat ini sedang kepikiran tentang masalah yang tadi diceritakan oleh pamannya.
"Dia ada dikamarnya. Tadi sepulang dari ngaterin makan siang kamu, katanya kepalanya pusing". Bu Tika hanya mengatakan itu tanpa berniat untuk menceritakan perihal kedatangan keluarga Khanza tadi.
Menurut bu Tika biarlah Bara membersihkan diri dulu. Dan lagi tadi bu Tika dikabari kakak iparnya jika Bara akan diminta mampir kerumahnya dulu sebelum pulang. Disana bu Tika yakin jika Bara pasti sudah mendengar semua cerita tentang masalah keluarga Khanza dari kakaknya.
Bara langsung bergegas menuju kamarnya. Bahkan Bara terlihat sedikit berlari agar bisa segera sampai disana. Sungguh dirinya merasa khawatir dengan keadaan istrinya saat ini.
"Sayang....." Dengan suara yang terdengar seperti orang panik, Bara langsung memanggil istrinya begitu dirinya sudah membuka pintu kamarnya.
"Kamu gak kenapa-kenapa kan?" Bara yang cemas langsung berjalan cepat mendekati istrinya yang saat ini berada diatas ranjang sambil menyandarkan tubuhnya.
"Kamu sudah pulang? Maaf tadi aku gak nyambut kamu". Ica terlihat menggeserkan tubuhnya menuju tepi ranjang. Ia berniat menyalami suaminya. Namun dengan cepat Bara memberi isyarat agar Ica tetap berada ditempatnya.
"Kata ibu kepala kamu pusing?" Ucap Bara saat sudah berada disamping istrinya.
"Iya mas, tapi Alhamdulillah ini udah agak mendingan. Tadi dibuat tiduran, jadi udah gak berasa pusing lagi. Ibu juga tadi udah bikinin aku teh hangat." Jarinya terlihat menunjuk pada segelas teh yang ada diatas nakas disamping ranjang.
"Sayang....kita kedokter yuk. Aku takut kamu kenapa-napa". Kendati istrinya sudah mengatakan jika dirinya baik-baik saja, Bara masih saja terlihat begitu mengkhawatirkannya.
"Ngapain kedokter segala sih, aku kan cuman pusing dan itu juga tadi. Sekarang aku udah baik-baik saja kok".
"Tapi....." Belum selesai Bara berbicara, Ica sudah memotongnya lebih dulu.
"Mending kamu mandi aja dulu, habis itu kita sholat maghrib barengan".
Mau tidak mau Bara pun menuruti apa yang dikatakan oleh istrinya ini. Dan lagi memang saat ini sudah terdengar kumandang adzan maghrib dari masjid yang ada didekat rumahnya.
Setelah semua sudah selesai, Ica langsung mengajak suaminya untuk makan malam. Ica takut jika suaminya ini sampai telat makan.
"Oh iya mas, tadi Khanza kesini sama orang tuanya". Ucap Ica sesaat sebelum mereka meninggalkan kamar.
"Mas sudah tau". Jawab Bara santai.
"Kok bisa" sementara Ica terdengar seperti keheranan. Pasalnya suaminya ini seharian berada dikantor dan Icapun belum memberi tau hal ini sebelumnya pada suaminya.
"Udah gak usah kaget itu. Aku tadi dikasih tau paman perihal niat dan tujuan keluarga Khanza datang memenuimu"
Dan saat ini mereka tengah berada dimeja makan. Bu Tika dan Bara terlihat begitu menikmati menu makan malam itu. Sementara Ica, entah kenapa tiba-tiba rasa pusingnya kembali muncul lagi begitu dirinya melihat menu makanan yang tersaji didepannya. Icapun hanya terlihat memandangi makanan itu saja tanpa berniat untuk mencicipinya.
"Nak Ica kenapa tidak dimakan? Apa tidak enak? Atau perlu ibu buatkan makanan lain?". Bu Tika ternyata sejak tadi diam-diam memperhatikan menantunya ini.
Ica tentu saja merasa tidak enak hati. Ia takut ibu mertuanya ini akan berfikir jika dirinya tidak menyukai masakan yang dibuatnya. Tapi bagaimana lagi, bahkan perutnya saja saat ini mulai terasa mual saat dirinya hendak mencoba menyuapkan sesendok makanan itu kedalam mulutnya.