
"Sayang...." Bara langsung saja membuka pintu kamar disalah satu ruang rawat tanpa memastikan siapa orang didalamnya terlebih dulu.
Orang yang didalam semua terlihat menatap heran. Pasalnya mereka semua nampak asing dengan sosok yang hendak masuk kedalam ruangannya ini.
"Maaf....saya salah masuk kamar" Bara terlihat menggaruk tengkuknya.
Bara baru menyadari ternyata dirinya salah masuk kamar. Memang tadi saat Bara tiba diparkiran rumah sakit Reza kembali mengabari jika istrinya sudah melahirkan dan saat ini sudah dipindahkan diruang perawatan tepatnya dikamar Bougenville paling ujung sendiri.
Saat itu Reza lupa tidak menyebutkan nomer kamarnya. Padahal kamar Bougenville itu ada dua baris.
Bara yang memang dalam kondisi terburu-buru, tanpa pikir panjang langsung masuk ruangan begitu saja. Menurut Bara itu sudah benar, karena disitu tertulis ruang Bougenville dan letaknyapun tepat dipaling ujung sendiri. Padahal sebenarnya berhadapan dengan kamar itu juga merupakan ruang rawat Bougenville. Hanya nomernya saja yang berbeda.
Setelah menutup kembali pintu dan berbalik badan. Iapun melangkah menuju kekamar yang ada dihadapannya. Namun karena tak ingin salah masuk kamar lagi, Bara memilih mengetuk lebih dulu pintunya.
Terdengarlah suara yang begitu dikenalinya dari dalam ruangan itu.
Tanpa basa-basi Bara langsung masuk. Ia langsung berlari begitu pendangannya tanpa sengaja melihat perempuan yang tengah terbaring diatas brankar.
"Sayang....maaf ya, aku gak bisa dampingi kamu pas lagi berjuang ngelahirin anak kita". Bara terlihat langsung menggenggam tangan istrinya dan menghujaninya dengan ciuman yang bertubi-tubi. Bahkan saat ini air matanya sudah tidak bisa dibendung lagi.
Andai saja dirinya tadi bersikeras menolak saat diminta untuk pergi kekantor, sudah pasti dirinya bisa mendampingi istrinya saat melahirkan.
"Mas...kamu nangis?" Ica yang melihat suaminya seperti sedang menangis, langsung tangannya reflek menyentuh pipinya. Diusapnya air mata suaminya ini.
"Mas aku gak pa-pa. Tadi ada ibuk yang setia dampingi aku"
Mendengar penjelasan itu, Bara langsung mendekap tubuh istrinya ini erat-erat dan kembali memberikan ciuman yang bertubi-tubi pada kedua pipi, kening dan terakhir di bibir manis istrinya.
"Mas....kebiasaan deh suka gak kekontrol" Ica yang tadinya merasa terharu, kini malah nampak sedikit kesal. Pasalnya suaminya ini dengan tanpa berdosanya mencium bibirnya tepat didepan dokter dan juga ibu mertuanya. Belum dilagi diruangan itu ada dua orang perawat yang tadi disuruh oleh dokter untuk membersihkan bekas lahiran tadi.
Bu Tika yang melihat kelakuan putranya hanya bisa menghela nafas panjang. Sementara dokter dan dua orang perawat yang juga ada disana, mereka malah tersenyum karena merasa lucu dengan tingkah pasangan ini.
"Ayo, ini papanya gak mau lihat dedek bayinya? Dari tadi yang dicium kok mamanya terus". Dokter mengatakan itu karena sejak Bara datang dia langsung berhambur memeluk istrinya dan belum sempat bertanya tentang kondisi putranya. Dan lagi dokter itu memang sengaja ingin menggoda mereka dengan sengaja bertanya seperti itu.
Bara akhirnya mendekat ketempat dimana putranya saat ini ditidurkan. Dia berniat untuk mengadzaninya.
"Uluh-uluh, anak papa gantengnya." Dibelainya pipi sang putra. Baru setelahnya terdengar suara Bara mengumandangkan Adzan tepat ditelinga kanan putranya.
Masih dalam posisi menggendong bayinya, Bara berjalan menghampiri sang istri.
"Maafkan papa ya, karena udah buat mama kamu berjuang sendiri buat ngelahirin kamu."
Hati Ica kembali menghangat kala mendengar suaminya terlihat begitu sedih lantaran tak bisa menemaninya saat melahirkan.
Namun sayang itu tak bertahan lama, karena didetik berikutnya Ica kembali kesal lantaran suaminya ini lagi-lagi mengucapkan kalimat yang membuatnya kesal.
"Tuh kan bener sayang, apa aku bilang tadi. Untung tadi pagi adek udah papa buatin jalan. Jadinya sat set gitu kan keluarnya"
Namun rupanya keinginannya itu terkoneksi dengan sang ibu mertua. Karena setelah mendengar ucapan Bara, ibunya langsung menjewer telinga putranya dengan lumayan keras. Hal itu bisa terlihat dari telinga Bara yang tiba-tiba berwarna merah. Belum lagi Bara yang nampak merintih karena menahan sakit.
"Ini mulut makin hari makin gak bisa di kontrol saja. Awas aja sampai kedengeran sama cucu ibuk. Baru saja di adzani, sekarang malah bapaknya ngomong yang aneh-aneh".
Tak hanya jeweran ditelinga, ibunya pun juga terlihat memarahi putranya ini. Bu Tika merasa kesal lantaran putranya malah bicara hal yang kurang baik didepan cucunya.
"Maaf buk, lagian anak aku masih bayi. Jadi dijamin seratus persen gak bakalan ngerti" Bara berusaha membela diri.
"Iya kan sayang?" Bara bertanya hal itu seolah-olah putranya mengerti apa maksudnya.
"Ck....tadi aja kamu bilang kalau anak kamu seratus persen gak bakalan ngerti sama omongan kamu, lah sekarang malah situ yang nanya-nanya sendiri" Ica yang tadi hanya diam melihat perdebatan antara suami dan mertuanya, kini malah terlihat ikut menimpali.
Merasa dirinya dalam posisi terpojok, Bara hanya bisa tersenyum malu. Diapun memilih membawa bayinya untuk diajak duduk dikursi yang ada diruangan itu.
Hingga tepat pukul 18.00, orang tua Ica datang. Disusul kemudian Reza bersama dengan Fika. Sementara orang tua Reza tidak bisa ikut karena harus menjaga putranya yang masih balita.
"Sayang....Maafin mama karena gak bisa dampingi kamu saat melahirkan."Seperti halnya Bara, Bu Sarah pun juga merasa bersalah karena tidak bisa ada didekat sang putri saat tengah melahirkan. Hal itu lantaran bu Sarah yang sedang menemani sang suami keluar kota.
Ini saja dirinya dan suami langsung melakukan penerbangan mendadak demi bisa segera bertemu putri dan juga cucunya.
Sebenarnya diawal bu Sarah memang menolak saat diajak suaminya keluar kota. Bu Sarah khawatir jika putrinya akan melahirkan saat dirinya tengah berada diluar kota. Namun Ica memaksa agar mamanya ini tetap berangkat agar bisa mendampingi papanya. Ica mengatakan jika HPL nya masih agak lama. Jadi kemungkinan dirinya akan melahirkan saat ibunya ini sudah kembali. Apalagi mereka perginya hanya tiga hari.
Namun ternyata diluar dugaan, karena baru sehari disana nyatanya Ica sudah melahirkan lebih dulu. Ica melahirkan maju kurang lebih sepuluh hari dari prediksi yang disebutkan oleh dokter yang menanganinya.
Bu Sarah saat ini terlihat menangis sambil memeluk putrinya. Hal ini tentu membuat Ica juga ikut terharu.
"Mah udah jangan kayak gini. Lagian tadi pas Ica lahiran, Ica ditemani sama ibuk. Jadi Ica gak sendirian. Karena sejak masuk ruang bersalin, ibuk selalu disamping Ica dan terus ngasih Ica semangat."
Mendengar penuturan putrinya bu Sarah langsung berhambur memeluk besannya. Ia dengan tulus mengucapkan rasa terimakasih karena sudah memperlakukan putrinya layaknya putri sendiri.
Setelah itu bu Sarah menanyakan keberadaan cucunya. Ia sudah tidak sabar ingin segera menggendongnya.
"Gantengnya jagoan nenek" Bu Sarah terlihat menimang cucunya. Dan tak lama kemudian gantian pak Hariz yang sama tak sabarnya juga ingin merasakan menggendong sang cucu.
"Mah, kayaknya cucu papa benar-benar duplikatnya Bara." Pak Hariz mengatakan itu sembari menatap lekat-lekat wajah cucunya.
Memang jika diperhatikan bayi itu lebih condong mirip Bara. Hanya matanya saja yang mirip Ica. Selebihnya Bara yang terlihat mendominasi.
Kini suasana kamar rawat Ica terlihat ramai sekali. Mereka yang disana bergantian menggendongnya. Mereka baru menidurkannya saat sang perawat masuk untuk melihat kondisi Ica dan juga melihat kondisi bayinya.
Mereka semua nampak bahagia menyambut kehadiran malaikat kecil itu. Terlebih Bara dan Ica. Bagi mereka bayi kecilnya itu adalah buah dari cinta mereka.
"Kira-kira mau dikasih nama siapa kak?" Fara tiba-tiba menanyakan perihal nama apa yang akan diberikan kakaknya pada keponakannya ini.
"Sesuai kesepakan, jika laki-laki kita akan menamainya........