Love In Silence

Love In Silence
Jelangkung



Tanpa memperdulikan keberadaan Khanza, Bara terlihat meraih bekal yang dibawa istrinya. Dengan cepat diapun membuka bekal itu.


Perkedel kentang, Lapis daging lengkap dengan sayur sop nya. Ica sengaja memasaknya karena masakan ini adalah kesukaan suaminya.


Tanpa banyak bicara Bara langsung memakan bekal makan siang yang dibawakan istrinya ini.


"Sayang, ini kamu yang masak?" Sengaja Bara bertanya karena rasa masakan yang dimakannya saat ini sedikit berbeda dari biasanya.


"Iya mas, ini aku yang masak. Emangnya gak enak ya?" Ekspresi wajah Ica terlihat minder. Ia berfikir mungkin masakan yang dia buat rasanya tidak enak.


"Pasti gak enak itu. Yaudah kakak mending makan yang ini aja. Aku takut kakak sakit kalau habis makan masakan yang gak jelas rasanya kayak gini" Khanza terlihat kembali menyodorkan makanan yang dibawanya meski tadi sudah ditolak oleh Bara.


"Siapa yang bilang ini tidak enak. Justru saya bertanya karena masakan ini lebih enak dari yang biasa saya makan". Bara mengatakan itu sambil menatap tajam pada Khanza.


Bukan karena Bara ingin memanas-manasi Khanza. Namun kalau boleh jujur, rasa masakan yang dimakannya saat ini memang rasanya lebih enak dari yang biasa Bara makan.


Ica sendiri merasa lega karena ternyata suaminya ini menyukai masakannya. Jadi tidak sia-sia dirinya belajar memasak pada ibu mertuanya.


Namun yang masih mengganjal dibenak Ica, apa benar yang dikatakan Khanza barusan. Jika bu Hanna meminta Khanza mengantar makan siang untuk suaminya. Dan jika memang benar apa sebenarnya maksud bu Hanna melakukan ini.


Setelah menghabiskan makanannya, Bara lantas kembali menatap tajam pada Khanza. Pasalnya perempuan pengganggu ini belum beranjak juga dari ruangannya.


Tentu saja hal ini membuat Bara merasa risih dan karena keberadaan Khanza pula dirinya tidak bisa menikmati moment berdua saja dengan istrinya.


"Kamu gak ada niatan buat pulang?" Tanya Bara dengan tatapan sinis pada Khanza.


"Aku mau pulang bareng kakak saja. Soalnya aku gak tau jalan pulangnya gimana. Aku takut nyasar kak. Masak kakak tega ngebiarin aku pulang sendiri" Khanza memasang wajah semelas mungkin. Berharap dengan ini Bara menjadi iba pada dirinya.


"Kamu datangnya aja gak ada yang ngundang. Harusnya pulang juga gak usah diantar" Bukan Bara atau Ica yang menjawab. Melainkan Rico yang tiba-tiba sudah berada didalam ruangan milik Bara.


Sesaat setelah Bara menyelesaikan makan siangnya, dia sengaja mengirim pesan pada Rico agar membawa Khanza pergi dari ruangannya, sekaligus meminta tolong Rico agar mengantarkan Khanza pulang. Dan Bara juga meminta agar Rico langsung masuk saja keruangannya.


"Sia-lan ni orang. Emang gue jelangkung". Kesal Khanza pada sosok laki-laki yang tiba-tiba masuk dan dengan tidak sopannya malah ikutan nimbrung begitu saja.


"Lah itu nyadar sendiri orangnya"


Khanza yang mulai tersulut emosi terlihat hendak memukul Rico dengan tutup rantangnya. Namun sayang, karena dengan cepat Rico menepisnya.


"Udah-udah gak usah ribut. Gimana kalau kamu pulang sama saya aja. Kebetulan saya kesini bawa mobil sendiri. Jadi nanti sekalian biar saya antar kamu kerumah tante Hanna". Ica mencoba memberi solusi.


Khanza pun dengan terpaksa menyetujui usulan Ica. Karena jika tidak, Khanza yakin pasti Bara akan menyuruh laki-laki itu untuk mengantarkannya pulang. Dan lagi jika dirinya pulang bareng Ica, itu berarti Bara tidak punya kesempatan untuk bisa berduan dengan istrinya ini.


"Sayang, kamu disini dulu aja bareng aku. Biarin Khanza pulang sama Rico".


Tuh kan benar dugaan Khanza. Bara memanggil Rico pasti karena Bara menyuruh mengantarkan dirinya pulang.


Mendengar Ica yang menolak untuk tetap berada di kantor milik Bara, tentu saja membuat Khanza merasa lega. Diapun langsung menarik pergelangan tangan Ica sebelum wanita saingannya ini berubah fikiran.


"Sayang..." Bara kembali memanggil istrinya. Hingga membuat Ica kembali menoleh kebelakang.


"Kamu hati-hati bawa mobilnya. Nanti jangan lupa kabari aku kalau sudah sampai".


Sebelum mengatakan itu, Bara melangkah mendekat pada istrinya sambil menge-cup dalam-dalam kening istrinya.


Dan disinilah sekarang, didalam mobil Khanza nampak mendominasi pembicaraan. Dia tidak ada habisnya mencecari Ica dengan banyak pertanyaan yang sengaja dibuat untuk memancing emosi Ica.


Namun sayang, Ica yang semalam sudah diyakinkan oleh Bara kini nampak tidak mempedulikan ocehan Khanza. Bagi Ica anggap saja Khanza adalah remaja labil yang sedanh dikuasai rasa obsesinya untuk memiliki Bara. Bahkan kini justru Ica yang merasa kesal sendiri. Dirinya sadar jika sejak tadi semua ocehannya sama sekali tidak membuat Ica bereaksi sedikitpun.


"Ayo turun, kita sudah sampai".


Tanpa terasa mobil yang dikendarai Ica sudah sampai dihalaman rumah pamannya. Khanza yang merasa kesal langsung keluar sambil membanting pintu mobil Ica dengan lumayan keras.


Sementara Ica hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah Khanza yang dinggap terlalu kekanakan. Padahal kalau dilihat-dilihat usianya tak beda jauh darinya. Tapi entah kenapa perempuan itu terlihat seperti anak kecil yang lagi ngambek hanya karena keinginannya tidak terwujud.


"Assalamualaikum" Sebelum masuk Ica mengucap salam pada orang yang didalam.


Mendengar itu, bu Hanna langsung keluar. Dia menyambut kedatangan keponakan menantunya ini.


"Loh, kamu kesini gak sama Bara?" Tanya bu Hanna begitu melihat yang masuk kedalam rumahnya hanya Ica saja.


"Iya tan, aku mampir kesini karena sekalian nganterin Khanza. Tadi dia datang kekantor mas Bara. Katanya disuruh tante nganterin makan siang buat mas Bara".


Sengaja Ica mengatakan itu karena ingin tau apakah benar jika kedatangan Khanza kekantor suaminya tadi benar-benar atas suruhan tantenya ini.


Namun ternyata dugaannya benar. Ada kemungkinan Khanza ini berbohong. Karena begitu mendengar penuturan Ica, tantenya ini langsung terlihat bingung.


"Disuruh tante? Perasaan tante gak nyuruh apa-apa. Malah tadi Khanza pamit kalau dia mau ketemuan sama temannya yang kebetulan tinggal dikota ini. Bahkan dia perginya diantar sama mamanya".


Fix benar. Ternyata kedatangan Khanza kekantor Bara tadi hanya akal-akalannya saja demi bisa menemui suaminya.


Sedang bu Hanna, hatinya mulai cemas. Karena ternyata Khanza dan juga mamanya mulai menjalankan misinya demi bisa mendekati Bara.


Iapun jadi berfikir ulang untuk tetap membiarkan kerabatnya itu berlama-lama tinggal dirumahnya. Karena jika dibiarkan pasti itu bisa menimbulkan kesalahfahaman antara dirinya dan keluarga suaminya. Dan bisa-bisa suaminya ini juga nanti akan mengira jika dirinya juga ikut andil dalam rencana mereka.


"Udah-udah ayo masuk dulu, biar tante bikinin minum buat kamu. Kasian kamu habis panas-panasan diluar". Dengan ramah bu Hanna membawa Ica masuk kedalam rumahnya.


Didalam rupanya Khanza dan mamanya tengah duduk diruang tengah. Keduanya nampak menatap sinis kearah Ica. Namun Ica yang tau tetap saja menyalami mamanya Khanza.