Love In Silence

Love In Silence
harus terapi



kini keluarga pak arief pun berkumpul di ruangan anita,mereka sangat bahagia karena anita sudah sadar setelah koma selama sepuluh hari, tak henti henti bu pebri memeluk anita


di luar ruang anita ,wildan tertunduk.


aku harus gimana apa anita mendengar apa yang ku katakan sebelum dia sadar, gimana kalau dia menanyakan nya?.guman wildan


kini wildan hanya tertunduk


" hai kenapa kamu di luar, anita dari tadi sudah sadar apa tidak ingin menemuinya? oh ya aku penasaran apa yah yang kamu katakan sebelum anita sadar,,apa kamu bilang kau mencintainya?" ucap yudi yang datang tiba tiba, yudi sedikit ceplas ceplos saking senang nya melihat adiknya sadar kembali,setelah koma sepuluh hari


wildan pun melototi yudi,


"eh kamu jangan nyari gara gara, lihat keadaan anita sekarang, dia juga belum tau sofyan tunangan nya meninggal" ucap wildan merasa bersalah


"haha, aku hanya menebak, soalnya aku perhatikan kamu selama ini tidak pernah sedekat itu dengan perempuan kecuali anita,


akh sudahlah,aku hanya bercanda, aku senang anita sadar dan bisa melewati masa kritisnya, kini bagaimana caranya memberi tau anita kalau sofyan sudah tiada,pasti dia akan bersedih" ucap yudi


"oh ya yud hari ini paman akan melihat langsung pembangunan RS nya.kita harus kesana,


aku mau ke dalam dulu, ayok" ucap wildan


mereka pun masuk menemui anita dan sekalian ingin pamit pergi.


"assalamualaikum, gimana anita ,apa masih ada yang terasa sakit?" tanya wildan


"waalaikum salam, kaki ku gak bisa di gerakkan, jika dipaksa terasa sakit." ucap anita


"oh mungkin karena waktu itu kakimu terjepit, tapi mudah mudahan, bisa pulih seperti semula" ucap wildan


"aamiin" ucap mereka bersama


"dann, kamu kan bisa pijit terapi, aku ingat saat teman kita jatuh dari pohon dan kakinya patah, kamu yang membuat nya bisa berjalan lagi,karena sering terapi denganmu" ucap yudi


"yang membuatnya bisa berjalan lagi itu Allah, aku cuma perantaranya aja" ucap wildan


" iya memang kakeknya wildan itu ahlinya urut atau pijit patah tulang, mungkin ke ahlian nya menurun kecucunya wildan"ucap pak arief


"bingung sih, biasanya yang aku terapi cuma laki laki, anita kan wanita jadi bukan muhrim" ucap wildan


"yaudah kalau gitu kalian nikah aja biar jadi muhrim" ucap yudi


bu pebry ,pak arief dan anita pun melirik ke yudi, wildan tampak gugup


"haha, bang yudi kenapa jadi ngaco, udah tau tunanganku pak sofyan" ucap anita tergelak


semuanya pun tampak gugup


"bu ,pak kami mau pergi dulu ke proyek assalamualaikum" ucap wildan


"waalaikum salam" jawab mereka


wildan dan yudi pun pergi meninggalkan ruangan anita


"mah gimana kabar pak sofyan, apa dia parah sepertiku? apa dia baik baik aja?" tanya anita


"mmm, anita kamu jangan terlalu banyak pikiran dulu, kalau masalah sofyan, bu nurul pasti akan memberi tahumu" ucap bu pebri.


"oh dia tidak di rawat disini mah?" tanya anita


bu pebry pun menggeleng


"anita kamu istirahat yang cukup, harus cepat pulih, jangan mikirin yang lain dulu yah" ucap pak arief


"iya pah"ucap anita


anita pun membelakangi bu pebry dan pak arief.


aku cuma menanyakan keadaan pak sofyan, kenapa mama menyuruhku menunggu bu nurul, dan kenapa papa menyuruhku untuk tidak memikirkannya , sebenarnya ada apa dengan pak sofyan,, apa dia....? akh tidak, tidak mungkin, aku tidak boleh berpikiran negatif, semua pasti baik baik aja. gumam anita


dia pun berusaha memejamkan matanya, karena sedikit pengaruh obat anita pun langsung tertidur