
Sesuai kesepakatan keduanya, bayi itu diberi Nama Aditya Tsaqif Zayyan. Sebenarnya Baralah yang menginginkan putranya diberi nama itu. Hanya saja Bara tetap meminta persetujuan dari istrinya.
"Hay baby Ditya... perkenalkan ini aunty kamu yang paling cantik." Fara terlihat menimang sambil memperkenalkan diri pada keponakannya. Tak ketinggalan tangannya terlihat membelai lembut pipi bayi yang baru beberapa jam lalu dilahirkan ini.
"Ck...cantik apaan, nyebelin sih iya." Itu adalah suara Bara yang menjawab ucapan adiknya.
Kakak beradik ini memang masih sering berdebat meskipun hanya untuk masalah sepele. Tak ayal tingkah keduanya ini sering mengundang gelak tawa bagi yang melihatnya.
Bu Tika yang tak ingin melihat keributan itu semakin menjadi, sontak saja langsung menjewer telinga Bara. Dan tak lupa juga bu Tika menceramahi kedua anaknya ini.
"Buk, kok cuman aku yang dijewer, kenapa Fara enggak?" Bara terlihat protes.
"Mas Bara, bisa gak sih sekali aja gak jahilin Fara kalau lagi ketemu. udah jadi bapak bukannya makin dewasa ini malah makin kekanakan." Kali ini Ica ikutan kesal. Pasalnya suaminya ini bertingkah seperti anak kecil saja.
"Tuh kak dengerin apa kak Ica bilang. udah jadi bapak, masih aja kayak anak TK" Merasa ada yang membela, Fara pun merasa menang. Hingga kesempatam ini dia manfaatkan untuk meledek kakaknya.
"Yang, udah kamu juga diem. Ingat kamu juga punya anak dirumah. Jadi gak usah berdebat lagi sama kakak kamu." Reza yang ikutan jengah dengan pertengkaran yang terjadi antara istri dan kakak iparnya ini, akhirnya ikutan membuka suara.
Merasa tak mendapat pembelaan satupun dari orang-orang yang sedang berada diruangan tersebut, Keduanyapun lantas diam dan memilih tidak melanjutkan lagi perdebatan yang sebelumnya terjadi pada kedunya.
Hingga tak lama kemudian perawat datang dan meminta Ica agar menyu-sui sang bayi.
Tak ingin dilihat banyak orang saat istrinya memberikan ASI pada bayinya, Bara meminta semuanya keluar dulu. Dan sekarang hanya ada dirinya, ibunya dan mama mertuanya.
Kedua perempuan yang bergelar nenek itu terlihat mengajari Ica bagaimana cara menggendong yang baik saat memberi ASI. Maklumlah, Ica yang baru saja menjadi seorang ibu tentu merasa sedikit kesulitan saat memangku sang bayi. Belum lagi Ica yang notabenenya anak tunggal, jadi tidak punya pengalaman merawat adik.
"Ne-nennya kuat banget ya Yang, kayak sampai gak nafas gitu" Bara tertegun kala melihat putranya menyu-su dengan begitu kuatnya.
"Dianya haus mungkin mas" Jawab Ica sembari membelai sayang bayi yang ada dalam gendongannya itu.
"Kamu harus menjaga pola makan kamu nak, banyakin makan sayur dan makanan yang sehat. Biasanya kalau bayi laki-laki ne-nennya lebih kuat dari pada bayi perempuan." Bu Tika terlihat memberi masukan pada menantunya.
Hingga beberapa saat akhirnya bayinya tertidur dengan sendirinya. Bu Sarah membantu memindahkan bayinya dan meminta Ica agar ikutan istrirahat.
Karena waktu yang semakin larut, Bara meminta anggota keluarganya agar pulang saja. Biarlah dia sendiri yang akan menjaga istri dan putranya selama dirumah sakit.
"Ini kalau ibu pulang kamu bisa jagain mereka sendiri?" Tanya bu Tika khawatir. Pasalnya dirinya sedikit was-was untuk membiarkan Bara berjaga sendiri dirumah sakit.
"Betul nak, ibu takut kamu kerepotan kalau sendirian." Bu Sarah ikut menimpali.
"Ibu sama mama gak perlu khawatir. Nanti kalau ada kesulitan aku panggil perawat. Sekarang ibuk sama mama mendingan istrihat dirumah saja, biar gak kecapek'an"
Setelah Bara meyakinkan jika dirinya bisa untuk menjaga istri dan bayinya sendiri, merekapun akhirnya pulang.
Perlahan Bara duduk disebelah istrinya yang terlihat tidur dengan begitu lelapnya. Dipandanginya lekat-lekat wajah istrinya itu sambil membelai puncak kepalanya dengan begitu sayang.
Hingga tak butuh waktu lama, Bara pun ikut terelap dengan posisi duduk disebelah istrinya.
Karena melahirkan secara normal, maka pagi ini Ica sudah diperbolehkan pulang bersama bayinya.
Terlihat kedua orang tua Ica sudah siap untuk menjemput kepulangan putri dan cucunya dirumah sakit. Sementara yang lain menunggu dikediaman bu Tika.
Setelah Bara menyelesaikan semua administrasi, akhirnya Ica dan juga bayinya bisa pulang.
"Kamu tunggu disini dulu. Aku mau ambil kursi roda." Bara tidak memperbolehkan istrinya beranjak sedikitpun. Bahkan Bara meminta Ica untuk tetap berbaring saja sambil menunggu dirinya mengambil kursi roda.
"Mas, aku jalan saja. Aku ini cuman habis melahirkan, bukan habis sakit." Ica terlihat sedikit kesal, pasalnya menurut Ica suaminya ini sedikit berlebihan.
"Gak boleh, pokoknya kali ini kamu wajib nurut. Kamu emang gak habis sakit, tapi aku cukup faham kalau proses melahirkan itu menguras banyak tenaga."
Entah kenapa suaminya ini sudah seperti mak mak kang kredit. Hingga membuat Ica mau tidak mau menuruti saja apa yang dikatakan oleh suaminya.
Dan benar saja, tak butuh waktu lama Bara datang dengan membawa sebuah kursi roda. Setelah itu Bara membawanya menuju parkiran, sementara bayinya digendong oleh bu Sarah.
Sampai dirumah, mereka sudah disambut oleh anggota keluarga yang memang sengaja menunggu kedatangan mereka. Ada Fara dan keluarga kecilnya. Ada juga paman dan bibi mereka.
Mereka kini terlihat tengah bergantian menggendong baby Ditya. Sementara Ica dia diminta untuk istirahat oleh ibu mertuanya, setelah beberapa saat sudah menyapa paman dan bibinya.
"Kamu gak usah khawatir, nanti kalau Ditya nangis ibuk yang bakal nganterin kekamar kamu". Bu Tika yang faham dengan ekspresi kekhawatiran menantunya, langsung meresponnya.
Dengan diantar oleh Bara, Ica beranjak menuju kamarnya. Bahkan Bara dengan begitu perhatiannya terlihat merangkul istrinya saat berjalan menuju kamarnya.
"Mas aku bisa sendiri." Ica terlihat malu karena disana ada keluarganya. Ica tidak ingin mereka sampai melihat kelakuan suaminya ini.
"Nurut aja, ini kamunya belum pulih bener loh Yang." lagi-lagi Bara tidak menerima protes dari istrinya.
Dengan perlahan Bara membaringkan tubuh Ica. Kemudian Barapun menutupi sebagian tubuhnya dengan selimut. Tak lupa Bara mendaratkan satu ciu-man dikening istrinya ini.
"Kamu istirahat ya, mas keluar dulu. Soalnya kalau kelamaan disini mas bisa panas dingin" Ucap Bara Absurd.
Ica yang mendengarkannyapun sampai mengerutkan keningnya. Entah apa maksud dari perkataan suaminya ini.
"Udah gak usah bingung. Mas suka panas dingin kalau lagi deket kamu. Sementara ini mas harus puasa kan?" Seolah mengerti dengan kebingungan istrinya, Bara sengaja memperjelas maksud dari ucapannya barusan.
"Ck......" Ica berdecak kesal. Pasalnya kok biasa suaminya ini sampai berfikir kearah situ.
"Kenapa Yang?" saat ini justru Bara yang bingung saat mendengar istrinya seperti berdecak kesal.
"Gak pa-pa. Mending mas keluar aja, kumpul sama yang lainnya diluar. Kasian tuh Reza sendirian." Ica sengaja mencari alasan agar tak memperpanjang bahasan tadi. Karena jika tidak suaminya ini bisa semakin ngelantur ngomongnya. Dan pastinya juga jiwa kemesuman suaminya ini akan semakin menjadi-jadi.
Beruntung, karena tanpa banyak debat Bara langsung menuruti perkataannya. Karena menurut Bara ada benarnya juga apa yang diucapkan Ica. Kasian juga jika terlalu lama membiarkan Reza sendirian diluar. Sementara meski ada dua orang laki-laki disana, tapi mereka beda generasi. Tentunya hal ini membuat Reza sedikit canggung.