
Saat ini Bara, Ica dan juga bu Tika sudah sampai dirumah. Ica terlihat meminta izin untuk masuk lebih dulu kekamarnya. Sementara Bara, dia masih memarkirkan mobilnya kedalam garasi.
Bu Tika hanya bisa menatap sendu saat menantunya melangkahan kaki menuju kamarnya. Bu Tika faham betul apa yang dirasakan menantunya saat ini.
"Ica mana bu?" Tanya Bara yang tiba-tiba sudah berdiri dibelakang ibunya.
"Dia pamit kekamarnya lebih dulu. Mungkin dia butuh istirahat."
Setelah mendapat jawaban perihal keberadaan istrinya, Bara langsung bergegas menuju kamar. Tujuannya tentu saja untuk menyusul istrinya. Ia Khawatir jika terjadi susuatu dengan istrinya didalam sana. Mengingat sepanjang jalan tadi, istrinya hanya terlihat diam dengan wajah yang begitu sendu.
Begitu masuk, Bara mendapati suasana kamarnya nampak sepi. Namun samar-samar terdengar suara gemercik air dari dalam kamar mandi. Bara yakin saat ini pasti istrinya yang sedang berada didalam.
Benar saja, karena tak lama kemudian terlihat Ica keluar dari kamar mandi. Namun yang jadi perhatian Bara saat ini adalah wajah istriya yang terlihat sedikit sembab. Bara berfikir apa istrinya ini habis menangis.
"Sayang...kamu kenapa?" Bara beranjak dari duduknya. Ia berjalan mendekati istrinya yang masih terlihat berdiri didepan pintu kamar mandi.
"Kamu masih kepikiran dengan omongannya Khanza tadi hm?" Bara lagi-lagi bertanya.
Dengan cepat Ica menjawab dengan gelengan kepala. Meski sebenarnya apa yang di katakan suaminya ini memang benar adanya.
Namun sayang, karena rupanya Bara mengerti jika dirinya masih terus memikirkan apa yang Khanza katakan tadi saat dirumah pamannya.
"Kamu gak perlu dengerin ocehan siapapun. Cukup kamu percaya sama aku, dan untuk yang lain abaikan saja. Aku memilihmu untuk yang pertama dan terakhir. Tak peduli jika aku harus jadi yang kedua ataupun yang keberapa saat memilikimu. Karena yang terpenting saat ini tuhan sudah memberikan dirimu sepenuhnya untukku. Dan sudah menjadi kewajibanku untuk selalu menjagamu dengan seluruh cinta yang ada dalam diriku."
Bara mengatakan ini sambil membawa Ica kedalam pelukannya. Ica sendiri yang mendengarkan apa yang diucapkan Bara barusan sampai menetaskan air mata.
Sungguh dirinya merasa jika suaminya ini begitu mencintainya. Namun entah kenapa dirinya masih saja meragukan suaminya yang jelas-jelas sudah berjuang keras untuk bisa mendapatkan dirinya.
"Mas...maaf" Hanya kalimat itu yang bisa Ica katakan.
Dengan lembut Bara menghapus air mata yang saat ini tengah membasahi pipi istrinya. Dan setelahnya Bara membawa istrinya menuju ranjang untuk beristirahat.
"Kamu tidur dulu ya, aku masih mau kekamar mandi. Mau bersih-bersih diri dulu."
Sementara disebuah kamar, terlihat pasangan suami istri sedang membicarakan sesuatu yang sepertinya sangat serius. Mereka tak lain adalah pak Agung dan istrinya Ratna.
Setelah mendengar omongan dari saudara sepupunya, bu Ratna langsung bergegas menuju kamar. Berharap jika suaminya ini belum tidur.
Beruntung, karena saat tiba dikamar ia. Mendapati suaminya baru saja hendak merebahkan tubuhnya.
"Mas, bisa kita bicara sebentar?"
Pak Agung mengurungkan niatnya untuk merebahkan tubuhnya. Dia kembali duduk untuk mendengarkan apa yang hendak dibicarakan istrinya ini.
Melihat gelagat istrinya, pak Agung sebenarnya sedikit banyak mengerti apa yang hendak disampaikan istrinya ini. Karena setelah sesaat dirinya meninggalkan meja makan, pak Agung sempat akan kembali untuk mengambil kunci mobilnya yang tertinggal disana. Namun saat dirinya sampai diruang tengah, tak sengaja dirinya mendengar saudara sepupu dari istrinya ini terlihat sedang mengatakan sesuatu yang kurang mengenakkan dan sangat disayangkan.
Beruntung mereka tidak sampai melihat keberadaannya yang berdiri dibalik dinding penghubung antara ruang tengah dengan ruang makan. Sehingga membuat dirinya bisa mendengar apa saja yang dikatakan saudara sepupunya pada istrinya ini.
Dan sekali lagi demi menghargai istrinya pak Agung memilih memberikan kesempatan pada istrinya ini untuk berbicara. Karena jika dilihat dari gelagatnya, sepertinya istrinya ini mulai terpengaruh dengan hasutan dari saudaranya.
"Bicaralah." Tangan pak agung terlihat menepuk sisi ranjang sebagai isyarat agar istrinya duduk disebelahnya.
Dengan sangat hati-hati bu Ratna mulai mengutarakan apa yang sebenarnya ingin dia sampaikan pada suaminya. Bahkan bu Ratna sebisa mungkin merangkai kalimatnya agar tidak sampai menyinggung hati suaminya. Karena bagaimanapun yang dia sampaikan saat ini sangat sekali ada kaitannya dengan keluarga suaminya.
Pak Agung sebisa mungkin mencoba mencerna setiap detail apa yang dikatakan oleh istrinya. Dan ternyata dugaannya benar jika istrinya ini sudah termakan hasutan saudara sepupunya.
"Maafkan aku mas. Aku hanya khawatir dimasa tua nanti tidak akan ada yang mau merawat kita. Sedangkan kamu tau sendiri harapan untuk kita mempunyai seorang anak itu sudah tidak ada lagi." Tangan bu Ratna terlihat meraih jemari suaminya.
"Terus mau kamu aku harus bagaimana?" Pak Agung bertanya kiranya apa yang sebenarnya harus dia lakukan untuk istrinya ini.
"Jujur mas, aku bingung gimana mau menjelaskan semuanya sama kamu. Aku takut kamu salah faham dengan maksud dan tujuanku meminta ini padamu". Terlihat jelas dari wajah bu Ratna kalau dia sedang dilanda kebingungan. Mungkin dia takut jika suaminya ini akan marah setelah mendengar hal yang akan dibicarakannya.
"Akan lebih bingung jika kamu hanya menyimpannya sendiri". Pak Agung berusaha meyakinkan istrinya agar mau bicara.
"Mas, apa menurut kamu Ica itu benar-benar tulus mencintai Bara?" Tanya bu Ratna tiba-tiba.
Pak Agung terlihat sampai mengernyitkan keningnya karena bingung mengapa istrinya tiba-tiba menanyakan hal seperti ini.
"Kenapa tiba-tiba bertanya seperti ini?" Tanya balik pak Agung. Jujur dia ingin tau apa alasan istrinya menanyakan hal itu.
"Gak tau kenapa mas, aku hanya takut Ica hanya berpura-pura mencintai Bara. Aku takut dia hanya memanfaatkan Bara agar bisa mengubah statusnya yang hanya seorang janda karena ditinggal selingkuh sama suaminya. Dan yang lebih aku takutkan lagi Ica mau menikah dengan Bara hanya karena dia tau jika kelak Baralah yang akan menjadi pewaris dari semua aset yang mas miliki saat ini. Saat nanti semua sudah berada dalam genggamannya, bisa-bisa dia mempengaruhi Bara untuk tidak lagi mempedulikan kita nantinya."
Dengan susah payah, akhirnya bu Ratna berhasil mengutarakan apa yang menjadi kegelisahannya sejak tadi.
"Bagaimana jika ternyata semua dugaan kamu itu salah?" Lagi-lagi suaminya ini membalikkan pertanyaannya. Dan ini tentu saja semakin membuat dirinya bingung harus menjawab apa.
"Apa aku harus meminta Bara agar bercerai dengan Ica dan setelahnya aku meminta Bara agar mau menikah dengan Khanza. Apa itu keinginanmu?" Pak Agung langsung saja menebak apa yang sebenarnya menjadi keinginan istrinya ini. Hingga bu Ratna seketika langsung terdiam karena sepertinya suaminya ini faham betul dengan apa yang ada dipikirannya sejak tadi.
"Sekarang aku yang mau bertanya, apa kamu bisa menjamin jika Khanza nanti bisa menjadi seperti yang kamu harapkan? Apa kamu juga bisa menjamin jika Khanza mau menikah dengan Bara karena memang dia tulus mencintai Bara, atau hanya karena rasa obsesinya dan didorong oleh rencana orang tuanya untuk bisa menguasai aset kita dengan memanfaatkan putri mereka?"
Pak Agung tidak hanya menebak apa yang ada dalam fikiran istrinya. Iapun juga dengan sengaja membalikkan apa yang tadi istrinya ini tuduhkan pada Ica.
"Kenapa kamu menuduh kerabatku seperti itu?" Bu Ratna terlihat tidak terima dengan tuduhan yang dilayangkan oleh suaminya. Meskipun itu hanya dugaan saja. Sama halnya seperti dirinya yang sudah menuduh Ica dengan dugaannya tadi yang juga belum tentu kebenarannya.
"Aku tidak menuduh. Tapi aku tau betul apa yang ada didalam fikiranmu saat ini, itu bukan murni bersumber dari dalam dirimu. Kamu hanya terpengaruh dengan apa yang dituturkan oleh kerabatmu".
Skakmat, sungguh kali ini bu Ratna tidak bisa berkata apa-apa lagi. Karena apa yang diucapkan suaminya barusan, itu semua memang benar adanya.
Tapi satu yang menjadi pertanyaan bu Ratna dalam hatinya. Dari mana suaminya ini bisa tau apa yang menjadi perbincangan antara dirinya dengan saudara sepupunya tadi. Karena sangat jelas saat dirinya berbicara dengan sepupunya, suaminya sudah pamit untuk pergi beristirahat lebih dulu.