
Mendengar suara teriakan istrinya dari dalam kamar mandi, tak lantas membuat Bara langsung menghampirinya.
Ia faham betul kenapa istrinya ini sampai berteriak. Pasti saat ini Ica sudah melihat ada banyak sekali tanda kepemilikan dilehernya.
Malam itu saat Bara sudah memastikan jika Ica sudah dalam posisi tertidur pulas, Bara perlahan mendekati istrinya. Dia menyibakkan bagian rambut sang istri yang menutupi sebagian wajah dan lehernya.
Setelah itu dengan sangat lembut dan tanpa membuat siempunya terbangun, Bara mulai melancarkan aksinya dengan sengaja membuat banyak sekali tanda kepimilikan dileher istrinya. Bahkan sangking banyaknya, sampai-sampai leher Ica terlihat seperti sengaja diolesi pewarna merah maroon.
Beruntungnya Bara malam itu, karena kondisi Ica yang tengah lelah, ditambah lagi Ica yang memang sudah sangat mengantuk, membuat Ica sama sekali tidak terusik dengan kegiatan yang dilakukan oleh suaminya. Tau-tau saat pagi lehernya sudah dipenuhi bercak-bercak merah seperti orang yang terkena gatal-gatal atau lebih tepatnya menyerupai orang yang sedang terkena alergi kulit.
Saat istrinya memanggil namanya untuk keduan kalinya, akhirnya dengan terpaksa Bara keluar dari kamar mandi.
"Kenapa sayang, kok kayak barusan manggil-manggil mas." Bara berpura-pura jika dirinya baru mendengar panggilan istrinya ini.
"Ck...pura-pura gak tau segala. Nih mas liat." Sambil melotot, Ica mengarahkan jarinya tepat dibagian lehernya yang dipenuhi tanda kissmark.
"Sayang, itu kenapa leher kamu?" Bara masih setia dengan mode sok tidak tahunya. Bahkan untuk membuat agar istrinya ini percaya dengan aktingnya, Bara sampai memperlihatkan wajah seperti orang panik.
"Gak usah pura-pura gak tau. Ini ulah kamu kan mas?" Ica yang memang sangat yakin jika ini adalah ulah suaminya, langsung saja menjadikan suaminya ini sebagai tersangka. Dan karena merasa sudah dalam posisi tersudut, akhirnya Bara pun mengakui perbuatannya.
"Maaf Yang, habisnya semalam kamu kayak sengaja mancing-mancing mas. Kamu tau sendiri kan suami kamu ini harus puasa selama empat puluh hari. Tapi kamu malah kayak sengaja banget pengen nyiksa aku. Asal kamu tau saja, aku udah panas dingin waktu semalam kamu dengan tanpa berdosanya nempel-nempel sama aku." Bara pun dengan penjang lebar menceritakan bagaimana semalam dirinya menahan diri dari keisengan istrinya ini.
"Ck....gitu aja udah panas dingin. Lagian siapa suruh kamu bikin aku hamil, kan jadinya kamu sendiri yang repot."
Benar yang dikatakan banyak orang, jika perempuan itu selalu benar. Bara yang niat awalnya ingin membalas perbuatan istrinya, justru malah dirinya yang saat ini disalahkan.
Saat keduanya tengah sibuk dengan perdebatannya, tiba-tiba Baby Ditya menangis. Dan dengan cepat Ica menghampiri putranya untuk memberikannya ASI.
Mendengar cucunya menangis, membuat bu Tika yang awalnya memang ingin melihat cucunya langsung mempercepat langkahnya.
"Ca....ibu masuk ya." Bu Tika mengetuk terlebih dulu pintu kamar mereka sebelum akhirnya terdengar suara Bara yang menjawabnya sambil membukakannya pintu.
"Tadi kayaknya ibu denger suara Ditya nangis?" Tanya bu Tika sambil mendekat kearah cucunya yang terlihat tengah menyu-su pada mamanya.
"Iya bu, Lagi bangun tidur dan langsung nangis." Jawab Ica pada ibu mertuanya.
"Loh sayang, itu kenapa leher kamu pada merah-merah semua?" Bu Tika nampak kaget dan sedikit panik begitu dirinya melihat ada banyak sekali tanda kemerahan dileher menantunya.
Ica sendiri juga tak kalah paniknya dari sang ibu mertua. Ica bahkan terlihat bingung harus menjawab apa pada ibu mertuanya ini. Dan dalam hati Ica merutuki kebodohannya karena lupa tidak memakai kembali hijabnya sebelum suaminya tadi mempersilahkan ibu mertuanya ini masuk kedalam kamarnya.
"Sini coba ibu lihat." Bu Tika mendekat pada Ica yang masih dalam posisi duduk sembari menyusui putranya.
Ica yang sedang dalam keadaan memangku putranya, tentu saja tidak dapat berbuat apa-apa saat ibu mertuanya mencoba mendekat dan melihat kearah lehernya.
Setelah sejenak memastikan apa yang sebenarnya terjadi pada menantunya, bu Tika langsung mendekat pada Bara. Dan tanpa aba-aba langsung menjewer telinga putranya itu.
"Aduh-duh-duh, buk ini kenapa aku dijewer sih. Mana sakit banget." Bara terlihat meringis menahan sakit akibat telinganya yang dijewer begitu saja oleh ibunya. Bahkan Bara terlihat bingung kenapa tiba-tiba ibunya ini menjewer telinganya.
"Masih nanya kenapa hem? Udah tau istrinya baru melahirkan, masih saja sempat ngerjain istrinya." Sambil mengomel ibunya kembali menjewer telinganya. Dan kali ini telinga satunya yang menjadi sasaran.
"Udah ampun buk. Ini telinga aku kerasa panas banget." Bara terlihat memegangi kedua telinganya.
Dalam hati Ica bersorak gembira. Karena apa yang sebenarnya ingin ia lakukan pada suaminya sudah dilakukan oleh ibu mertuanya.
Namun disisi lain Ica merasa sangat malu pada ibu mertuanya. Sungguh hal yang dilakukan oleh Bara terhadapnya sudah membuat dirinya malu hingga keubun-ubun.
"Ne-nennya udah?" Bu Tika sengaja dengan cepat mengalihkan topik bahasannya agar tidak semakin membuat menantunya malu. Karena dari tadi beliau faham jika menantunya ini sudah menahan malu. Terlihat jelas dari raut wajah Ica yang memerah menyerupai kepiting rebus.
"Sini sama nenek dulu sayang, kasian mamanya biar habis ini sarapan dulu."
Bu Tika mengambil alih Ditya dari gendongan Ica. Dan setelahnya menyuruh Bara agar menemani Ica untuk sarapan. Sementara bu Tika sendiri berniat untuk memandikan cucunya.
"Makan yang banyak nak, ibu menyusui biasanya mudah lapar. Jadi kamu gak usah ngerasa sungkan atau gak enak sendiri. Pokoknya kalau lagi lapar langsung makan. Dityanya biar sama ibuk saja, nanti kalau dianya haus biar ibu yang anter kekamar kamu."
Memang definisi ibu mertua idaman. Begitulah kiranya bu Tika memperlakukan Ica. Beliau sama sekali tidak membedakan perlakuannya terhadap menantu dan putri kandungnya sendiri. Bahkan selama Ica hamil, hampir setiap hari bu Tika selalu membuatkan aneka macam cemilan yang disukai menantunya.
"Buk...maafin Ica ya. Ica udah bikin ibuk kerepotan." Sungguh Ica merasa tidak enak sendiri karena sudah membuat ibu mertuanya ini jadi repot.
Namun secepat mungkin bu Tika menggelengkan kepalanya. Beliau sama sekali tidak merasa direpotkan oleh menantunya.
Bukankah sudah menjadi keinginan dan harapannya selama ini ingin tinggal bersama anak, menantu dan cucunya. Beliau ingin masa tuanya ia habiskan bersama mereka. Oleh karena itu beliau sebisa mungkin selalu berusaha untuk membuat Ica merasa nyaman tinggal bersamanya. Bu Tika juga ingin menepis anggapan jika mertua dan menantu tidak bisa tinggal dalam satu atap.