Love In Silence

Love In Silence
Berbohong



Terdengar sangat lucu saat istrinya mengatakan jika dirinya khawatir Ica mau menikah dengan Bara hanya karena ingin menguasai semua aset miliknya.


Bukankah istrinya ini tau betul jika Ica adalah putri tunggal dari Haris Wiratama, salah satu pengusaha yang cukup sukses dikota ini. Bahkan saat ini usahanya sudah memiliki banyak cabang diberbagai kota. Dan tentu saja semua aset perusahaan Wiratama ini kelak akan menjadi milik Ica sebagai pewaris utamanya.


"Kalau mau, mereka bisa mencari menantu yang lebih baik dari Bara untuk putrinya. Tapi hal itu tidak pak Hariz lakukan, karena pak Hariz yakin jika Bara adalah pria yang tepat untuk mendampingi putrinya. Ditambah lagi pak Hariz baru tau jika sebenarnya selama ini putrinya dan Bara ternyata mereka saling mencintai. Hanya saja dulu keduanya sama-sama memilih diam". Pak Agung mulai memberi penjelasan pada istrinya.


Mendengar itu, bu Hanna nampak diam. Sungguh semua yang dikatakan suaminya ini benar adanya.


Bagaimana dirinya bisa berfikir jika Ica punya niatan ingin menguasai seluruh aset miliknya dengan cara menikah dengan keponakan suaminya ini. Padahal dirinya tau betul jika Ica merupakan putri tunggal dari seorang pengusaha sukses. Bahkan jika dibanding dengan usaha milik suaminya itu sama sekali tidak ada separuhnya.


Menyesal, tentu saja hal itu yang saat ini bu Hanna rasakan. Dia merutuki kebodohannya karena bisa-bisanya dengan mudah dia terhasut omongan saudara sepupunya ini.


"Mas, maafin aku. Aku hampir saja merusak kebahagiaan Bara jika saja kamu tidak segera menyadarkanku". Setelah agak lama terdiam, akhirnya keluar juga ucapan maaf itu dari dirinya. Bahkan bu Hanna saat ini terlihat hampir menangis.


"Kamu tidak perlu meminta maaf. Aku yakin kamu melakukan semua ini karena terlalu mengkhawatirkan bagaimana masa tua kita nanti. Dan aku minta sama kamu mulai saat ini kamu jangan pernah menghawaturkan hal itu lagi. Aku yakin Bara tidak akan sejahat itu pada kita. Dia anak yang baik, dan kamu sendiri tau bagaimana sikap Bara selama ini bukan. Dia adalah pria pekerja keras yang tidak semerta-merta menggantungkan hidupnya pada orang lain. Dia juga begitu menghormati orang tua. Termasuk kita yang selalu dimintainya solusi saat dia hendak melakukan hal apapun".


Sekali lagi pak Agung mencoba memberi keyakinan pada istrinya. Dan setelah ini dia berharap jika istrinya tak lagi mudah terpengaruh oleh orang-orang yang ingin menghsutnya hanya demi bisa mendapatkan apa yang diinginkannya.


"Lebih baik sekarang kita istirahat saja". Pak Agung membantu istrinya untuk merebahkan tubuhnya.


"Bagaimana kalau mereka punya rencana diluar sepengetahuan kita untuk menghancurkan hubungan Bara dan juga Ica?" Bu Hanna masih saja khawatir jika kerabatnya ini akan berbuat macam-macam. Karena satau dirinya ketabatnya ini begitu ingin sekali menjodohkan putrinya dengan Bara.


"Sudah kamu tenang saja. Bara pasti bisa mengatasinya. Dan aku sendiri juga akan selalu memantau gerak-gerik mereka".


Akhirnya bu Hannapun mengikuti ajakan suaminya untuk beristirahat meski sebenarnya dirinya masih belum sepenuhnya menghilangkan permasalahan ini dari dalam fikirannya.


*


Keesokan paginya seperti biasa Bara selalu datang kekantornya. Dan kebetulan pagi ini dia akan kedatangan klient penting.


"Sayang...nanti kayaknya aku gak bisa makan siang dirumah. Semalam Rico mengabari kalau hari ini pemilik perusahaan Eka Jaya Green akan datang kekantor. Sepertinya dia tertarik untuk menggunakan jasa WO kita untuk pernikahan putranya" Ucap Bara sebelum berangkat pada istrinya.


"Apa perlu nanti aku bawakan makan siang kekantor?" Ica rupanya menawarkan diri untuk mengantar makan siang suaminya.


"Boleh sekali. Tapi itupun kalau kamu tidak keberatan. Karena mas takutnya kamu kecapek'an"


"Apanya yang capek. Lagian itu sudah tugas aku sebagai seorang istri".


Barapun mendekat pada istrinya lalu mendaratkan satu kecupan tepat dikeningnya.


"Terima kasih karena sudah bersedia memberikan perhatiaannya sama aku"


Setelah mengatakan itu Bara langsung pamit untuk berangkat. Sementara Ica, dirinya langsung masuk kedalam rumah dan berniat untuk mencari referensi menu yang pas untuk makan siang suaminya nanti.


Dikantor miliknya, Bara yang sudah sampai langsung memanggil Rico. Dia ingin bertanya apa dirinya sudah menyiapkan segala kebutuhan untuk menemui klient pentingnya itu.


Dan setelah semuanya sudah siap, Bara mengambil laptopnya untuk melihat laporan bulanan cafe milik pamannya yang belum sempat dia periksa.


Hingga tepat pukul sepuluh siang, tamu yang dari tadi ditunggunya sudah datang. Bara yang ditemani Rico serta beberapa stafnya terlihat sedang sibuk menjelaskan tentang beberapa konsep pernikahan yang mungkin diinginkan oleh klientnya ini.


Akhirnya setelah dua jam lebih klient itu sepakat untuk menggunakan jasa WO miliknya.


"Pak....sepertinya sebentar lagi sudah masuk jam makan siang. Apa perlu saya siapkan makan siang untuk bapak?" Salah satu stafnya terlihat menawarkan makan siang untuknya.


Namun Bara menolak lantaran dirinya akan menunggu istrinya datang. Karena tadi istrinya ini mengatakan jika dirinya akan mengantarkan makan siang kekantornya langsung.


Sembari menunggu istrinya datang, Bara memilih untuk melaksanakan kewajibannya. Baru saja selesai dari sholatnya dan hendak merebahkan tubuhnya disofa, tiba-tiba pintu ruangannya ada yang mengetuk.


Dengan semangat Bara bangun untuk membukakan pintu. Karena dia pikir itu pasti istrinya yang datang.


"Sayang kenapa baru dat....." Perkataan Bara seketika mengudara begitu saja. Karena nyatanya orang yang berdiri dihadapannya saat ini bukanlah istrinya. Melainkan yang datang adalah Khanza yang terlihat menenteng sebuah rantang kecil.


"Kak Bara nungguin aku ya dari tadi?" Dengan percaya dirinya Khanza mengatakan itu. Diapun langsung masuk begitu saja dan langsung duduk disofa meski sipemilik ruangan belum mengizinkannya untuk masuk.


"Ada perlu apa kamu kesini?" Tanya Bara dengan wajah sinisnya.


Sungguh dirinya merasa kesal karena tiba-tiba wanita ini datang begitu saja. Bahkan dirinya juga merasa jengah dengan sikap Khanza yang terlihat seperti perempuan mura-han.


Bara tidak pernah menyangka jika Khanza yang dulu terlihat begitu lugu nyatanya punya sifat seperti ini.


"Aku kesini bawa makan siang untuk kakak. Aku tau kakak pasti belum makan kan?" Khanza berbicara sambil membuka rantang kecil yang dibawanya.


"Saya memang belum makan. Tapi maaf saya tidak bisa makan makanan kamu. Karena sebentar lagi istri saya akan datang untuk membawakan bekal makan siang saya".


Dan benar saja, karena tak lama kemudian Ica datang membawa bekal makan siang untuk suaminya.


Awalnya Ica ragu untuk masuk. Karena dia takut akan mengganggu suaminya yang terlihat tengah berbicara dengan seseorang.


Namun beruntung Bara melihat Ica saat sedang berdiri diambang pintu. Dan dengan sigap Bara langsung mendekati istrinya dan menarik pergelangan tangannya


"Sayang...kenapa lama sekali. Mas sudah nungguin kamu dari tadi"


Sengaja Bara melakukan hal itu agar Khanza tau jika memang dirinya sejak tadi menunggu kedatangan istrinya ini.


Bara membawa masuk Ica dan memintanya untuk duduk disebelahnya.


"Khanza, kamu disini?" Ica mencoba terlihat biasa saja meski dalam hati dia merasa aneh kenapa Khanza bisa ada diruangan milik suaminya. Terlebih lagi saat ini dihadapan Khanza terlihat rantang yang berisi makanan.


"Iya kak aku kesini karena tante Hanna memintaku untuk membawakan makan siang untuk kak Bara" Khanza berbicara sambil tangannya mengangkat rantang yang dipegangnya saat ini.


Khanza sengaja berbohong agar dirinya bisa membuat Ica merasa kesal pada bu Hanna. Jika sudah demikian pasti hubungan keduanya perlahan akan merenggang.


"Kamu gak usah ngada-ngada ya. Mana mungkin mama bakal nyuruh kamu kesini cuman buat nganterin makan siang aku" Bara terlihat tidak percaya dengan ucapan Khanza.


Selama ini belum pernah sekalipun tantenya melakukan hal semacam ini. Bara yakin ini hanya akal-akalan Khanza saja agar bisa memanas-manasi istrinya.