
Sesampai dikamar Ica benar-benar langsung mengistirahatkan tubuhnya. Entah kenapa hari ini tubuhnya merasa sangat lelah. Padahal tidak ada kesibukan yang dilakukannya seharian ini.
"Sayang....kamu udah tidur?" Bara terlihat berbicara dengan sedikit mendekat pada telinga istrinya yang sedang berbaring dengan posisi memunggungi dirinya.
Namun hingga Bara mengulangi pertanyaannya dua kali, tidak ada tanda-tanda pergerakan sama sekali dari istrinya ini. Bara merasa jika istrinya ini pasti sudah tertidur. Karena jika tidak, sudah pasti sekali dia bertanya istrinya ini akan langsung meresponnya.
Dengan sangat perlahan Bara membalikkan posisi istrinya agar bisa terlentang.
Dan benar saja, saat tubuh Ica sudah terlentang Bara bisa melihat begitu nyenyaknya tidur istrinya ini.
"Capek banget ya sayang, sampek pulas gini tidurnya." Bara membelai sayang puncak kepala istrinya. Diapun kemudian mendaratkan beberapa ciuman dikening dan juga pipi istrinya.
Ingin sekali Bara melakukan hal yang lebih pada istrinya, namun niat itu ia urungkan karena dirinya tidak ingin istrinya sampai terbangun.
Akhirnya malam ini terpaksa Bara hanya tidur dengan memeluk tubuh istrinya saja tanpa bisa melakukan hal lainnya.
Namun tengah malam tiba-tiba Bara merasakan pergerakan istrinya.
"Sayang...kamu kenapa bangun?" Tanya Bara karena mendapati istrinya nampak duduk sambil menyandarkan punggungnya.
"Mas aku pengen makan mie ayam"
Mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh istrinya, sontak membuat rasa ngantuk dari seorang Bara seketika langsung menghilang seketika.
Menginginkan mie ayam dijam 00.30 dini hari. Belum apa-apa dirinya sudah membayangkan jika hal sulit akan menghampirinya.
Bara yakin pasti sebentar lagi Ica akan memintanya untuk membelikannya. Dan Bara sendiri tentu tidak bisa menolaknya. Hal inilah yang membuat Bara merasa jika dirinya akan kesulitan untuk bisa menemukan apa yang menjadi keinginan istrinya ini.
"Sayang...beneran kamu pengen makan mie ayam, ini dini hari lo Yang". Dengan sangat hati-hati Byan mengatakan hal itu karena tidak ingin membuat mood istrinya ini menjadi anjlok.
Namun sayang, karena didetik berikutnya istrinya ini langsung terlihat menekuk wajahnya. Bibirnya terlihat dimanyun-manyunkan sebagai ekspresi jika saat ini dirinya tengah ngambek.
Tentu saja hal ini membuat Bara merasa bingung sendiri. Hingga pada akhirnya mau tidak mau Bara pergi untuk mencari apa yang menjadi keinginan istrinya itu.
Tidak mau sendirian, Bara terpaksa meminta Pak Kusno, supir yang sekaligus merangkap tukang kebun dirumah istrinya ini untuk menemani perjalanannya mencari mie ayam.
Bukan pekara takut, hanya saja Bara butuh teman untuk diajak bicara. Dirinya khawatir jika tiba-tiba saja matanya kembali mengantuk.
Sebenarnya Ica sendiri tadi sempat memaksa agar bisa ikut bersama suaminya. Hanya saja Bara tidak mengizinkannya karena khawatir istrinya ini masuk angin.
Dan kini sudah hampir duajam Bara berkeliling namun dirinya sama sekali tidak melihat tanda-tanda ada penjual mie ayam. Yang banyak terlihat justru para penjual nasi lalapan dan nasi goreng.
Tidak putus asa, Bara terus menyusuri jalan demi bisa mendapatkan apa yang menjadi keinginan istrinya.
"Den, itu diujung sana kalau dilihat-lihat sepertinya gerobak penjual mie ayam". Tangan pak Kusno terlihat menunjuk kearah gerobak pedagang yang berada dipaling ujung.
Dengan senyum yang terlihat mengembang, Bara melajukan kembali mobilnya dan berhenti tepat didepannya.
Sungguh beruntungnya, karena ternyata itu benar-benar pedagang mie ayam.
"Mang...mie ayamnya masih ada?" Tanya Bara memastikan
"Ada mas,ini tinggal lima porsi kayaknya". Ucap pedagang itu sambil mendongakkan kepalanya menghadap kearah Bara.
Kebetulan disamping penjual mie ayam itu ada penjual kopi dan gorengan. Bara terlihat memesan dua cangkir kopi untuk dirinya dan juga pak Kusno.
"Ngopi dulu pak biar gak ngantuk". Bara mempersilahkan agar supir mertuanya ini untuk menikmati kopi yang sudah dipesankannya.
Keduanyapun larut dalam obrolan yang cukup seru. Rupanya pak Kusno orangnya cukup humoris hingga bisa membawa suasana menjadi penuh tawa.
"Mas ini mienya sudah siap".
Obrolan mereka baru terhenti kala pedagang mie ayam itu memanggilnya dan mengatakan jika pesanannya sudah selesai dibuatkan.
Bara menghabiskan kopinya terlebih dulu sebelum akhirnya ia mengambil pesanannya.
"Kembaliannya untuk bapak saja"
karena jalanan yang memang sepi, pak Kusno sedikit memacu kendaraannya lebih cepat. Hal itu tentu atas intruksi dari majikannya ini.
Dan tak butuh waktu lama akhirnya mereka sudah sampai dirumah.
Saat Bara masuk, rupanya istrinya tengah berada diruang makan dengan ditemani bik Ratih, yang lain adalah istrinya pak Kusno.
"Sayang.....ini pesanan kamu udah mas bel...." Bara tak sempat menyelesaikan ucapannya begitu melihat istrinya ini tengah menikmati semangkuk mie instan dengan begitu lahapnya.
Bagaimana tidak lahap, jika dalam mangkuk iku terlihat mie instan yang lengkap dengan toping sawi, irisan cabai dan telur ceplok.
"Yang...kok malah makan mie instan, lah ini gimana sama mie ayamnya?" Bara tentu saja terlihat bingung. Tadi saja istrinya ini sampai ngambek karena mengira dirinya tidak mau menuruti keinginannya. Sekarang giliran sudah dapat malah makan yang lain.
"Mas kelamaan sih, jadi aku pengennya bukan mie ayam lagi" Dengan entengnya Ica mengatakan itu. Tidak tau saja jika tadi suaminya ini sampai harus keliling kesana kemari hanya untuk mencari pedagang mie ayam yang masih buka.
"Kan ini tengah malam Yang, jadi banyak yang tutup". Suara Bara terdengar sedikit kecewa. Namun Bara sebisa mungkin tidak memperlihat ekspresi kekecewaannya ini pada sang istri.
Bara sadar, Ica seperti ini karena mungkin akibat pengaruh dari hormon kehamilannya.
"Yasudah gak pa-pa, ini mienya biar dimakan sama yang lain".
Barapun terlihat memberikan bungkusan itu pada pak Kusno dan juga istrinya.
"Mas Bara, ini kebanyakan. Masak ia kita berdua mau ngabisin empat porsi sekaligus?" bik Ratih terlihat bingung karena majikannya ini memberinya empat bungkus mie ayam. Sementara selain kedua majikannya, yang ada hanya dirinya dan suaminya saja. Jadi bagaimana mungkin dirinya mampu menghabiskan mie ayam itu.
"Terus mau dikemanain ya Bik? Tanya Bara yang juga sama bingungnya seperti bik Ratih.
"Habis ini bapak bawa ke pos satpam. Pasti mereka pada senang" Pak Kusno memberi solusi perkara mie ayam yang membuat bingung majikan dan istrinya.
Sementara Ica, si pelaku utama yang menyebabkan ketiga orang tengah malam seperti ini berdebat masalah mie ayam yang akan dikemanakan. Justru saat ini malah terlihat begitu fokus menikmati mie instan yang tadi dibuatnya bersama bik Ratih.
Setelah drama mie ayam selesai, Bara dan Ica kembali menuju kamarnya.
"Yang, kamu ngantuk gak?" Tanya bara tiba-tiba yang dijawab Ica dengan gelengan kepala.
"Kalau gitu boleh dong nengokin dedek. Sekalian aku mau nanya, kenapa tadi dedek gak nungguin papa datang bawa mie ayamnya, malah keburu makan mie instan duluan"
Rupanya pekara mie ayam itu tak sampai berakhir didapur. Karena nyatanya meski sudah kembali kekamar, mie ayam masih menjadi topik bahasan utama.