
Tanpa terasa kini kandungan Ica sudah memasuki trimester ketiga. Itu artinya kandungannya sudah sangat dekat dengan HPL.
Selama kehamilan pertamanya, Ica nampak terlihat biasa-biasa saja. Tidak seperti orang hamil biasanya yang sering mengalami mual dan ngidam makanan ini itu. Justru malah suaminya yang selama empat bulan harus mengalami gejala seperti morning sickness. Belum lagi hampir setiap hari suaminya ini selalu ada saja makanan yang diinginkannya.
"Mas gak ke kantor?" Tanya Ica karena meski jam dinding dikamarnya menunjukkan pukul tujuh, suaminya ini masih terlihat santai-santai saja.
"Sayang...tiduran sini"
Bukannya menjawab pertanyaan istrinya, Bara justru malah mengajak istrinya ini untuk bergabung dengannya dan meminta Ica agar tiduran disebelahnya.
"Gak usah aneh-aneh deh mas, ini masih pagi". Ica mulai terlihat kesal.
"Apanya yang aneh sing Yang, aku kan cuman ngajak kamu tiduran"
"Gak ah, entar malah aku dimodusin kayak biasanya" Ica terlihat waspada. Pasalnya jika sudah seperti ini pasti suaminya ini sedang menginginkan sesuatu.
"Kapan cobak aku pernah modusin kamu. Niat aku baik lo Yang, ngajak kamu rebahan. Kasian itu dedek dalam perutnya kalau di bawa berdiri terus". Rupanya Bara menemukan argumen untuk menepis dugaan istrinya ini.
"Yang..." Bara memanggil istrinya dengan nada seperti anak kecil yang sedang meminta sesuatu
"Apaan sih mas" Ica terlihat mulai kesal.
"Boleh ya, mas kan pengen bantuin kamu bikin jalan. Ya, supaya nanti pas kamu lahiran dedek bayinya gampang keluarnya".
Mendengar permintaan absurd dari sang suami, tentu membuat Ica kali ini merasa tidak salah jika menganggap suaminya ini tukang modus. Karena apa yang barusan Bara katakan sudah sangat menjurus pada hal-hal yang berbau mesum.
Namun sepertinya kali ini Ica tak menanggapi sedikitpun ocehan suaminya. Buktinya dia lebih memilih duduk disofa sambil membalas beberapa pesan yang masuk diponselnya.
"Yang..." Lagi-lagi Bara memanggilnya
"Apaan sih mas, aku disini masih aja dipanggil-panggil". Ica sengaja memasang mode pura-pura tidak faham. Padahal sebenarnya ia tau betul apa yang diinginkan suaminya saat ini.
"Yang, habis ini aku bakalan puasa lama. Masak kamu gak kasian sama suamimu ini". Bara mulai terlihat memasang wajah melas.
"Puasa? Perasaan masih lama deh mas Ramadhan nya. Kan masih dua bulan lalu, masak udah bilang sebentar lagi puasa" Ica semakin berlagak bodoh. Biarlah kali ini gilirannya mengerjai suaminya ini.
Namun Ica yang merasa tidak tega, akhirnya mengabulkan apa yang menjadi keinginan suaminya ini sejak tadi. Ica berharap setelah ini suaminya bisa segera berangkat kekantornya.
Dan benar saja, setelah mendapatkan apa yang diinginkan. Bara terlihat langsung bersiap-siap untuk pergi. Ica yang melihat tingkah suaminya ini hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Buk...aku titip istriku" Kalimat itu hampir setiap hari Bara ucapkan sebelum dirinya berangkat bekerja. Padahal sebenarnya tanpa dimintapun Bu Tika dengan sepenuh hati akan menjaga menantunya ini.
Meski berat, akhirnya Bara terpaksa pergi juga. Hal ini tentu karena Ica yang terus memaksanya.
Menjelang sore saat Ica tengah duduk diruang tengah, tiba-tiba ia merasakan seperti ada yang mengalir dari sela-sela kakinya. Terlihat seperti air namun warnanya agak keruh.
Ica yang baru pertama kali mengalami hal ini, tentu saja merasa panik. Namun kendati demikian ia tak sampai memanggil ibu mertuanya, melainkan ia mengambil ponsel dan mencoba mencari tau lewat internet kira-kira gejala apa yang dialaminya saat ini. Karena jika dibilang dirinya akan melahirkan, mengapa tak ada rasa sakit perut sedikitpun seperti yang sering dia dengar.
Belum sempat dirinya menyimak informasi yang tertera diponselnya, tiba-tiba saja perutnya merasa begitu sakit. Belum lagi cairan yang keluar juga terasa semakin banyak.
"Ibuk....tolongin Ica buk" Akhirnya terpaksa Ica memanggil mertuanya dan berniat meminta bantuannya.
"Astaga nak, ini kamu sepertinya mau lahiran"
Bu Tika langsung menelfon putranya. Namun sayang, hingga berkali-kali putranya ini belum juga menerima panggilan darinya. Bu Tika pun akhirnya terpaksa menghubungi menantunya.
Tak butuh waktu lama Reza sudah tiba dirumah mertuanya. Dirinya langsung masuk dan membantu membawa Ica kedalam mobilnya.
Reza mengendarai mobilnya dengan sedikit cepat. Hal itu lantaran Ica yang terdengar terus meminta agar adik iparnya ini mempercepat laju kendaraannya.
"Sabar nak, sebentar lagi kita sampai. Kamu bertahan ya". Bu Tika terdengar terus menyemangati menantunya.
Butuh waktu setengah jam, akhirnya Ica sampai dirumah sakit. Reza terlihat langsung turun untuk meminta bantuan perawat.
Karena melihat kondisi yang lumayan darurat, Ica langsung dibawa keruang bersalin. Dan lagi setelah diperiksa ternyata pembukaannya sudah sempurna.
"Za...ibuk minta tolong, kamu kabari Bara lagi. Sementara ibu akan menemani Ica diruang bersalin"
Bu Tika langsung masuk dan berdiri disamping menantunya. Bahkan bu Tika tiada henti menyemangati menantunya agar kuat demi bisa melahirkan sang bayi.
"Dicoba lagi ya bunda, ini kepalanya udah mulai kelihatan kok. Sebentar lagi bunda bakal ketemu sama bayinya". Sama halnya dengan bu Tika, Dokter pun juga terus memberi semangat pada Ica.
"Buk....Ica udah gak kuat" Terdengar suara Ica mulai lirih. Keadaannyapun mulai terlihat lemah.
"Sayang....sekali lagi ya. Ibu yakin kamu pasti bisa". Bu Tika terus berusaha memberi kekuatan pada manantunya. Sesekali juga bu Tika nampak mengusap keringat yang membanjiri kening menantunya ini.
"Ayo bunda kita mulai lagi. Ambil nafas dalam-dalam setelah itu keluarin sekuat mungkin ya". Dokter kembali memberikan Ica arahan.
Ica pun kembali berjuang demi bisa melahirkan calon bayinya. Sebisa mungkin Ica mencoba mengikuti apa yang sudah diarahkan oleh dokter itu.
"Terus bunda, sedikit lagi ini"
Hingga didetik berikutnya terdengarlah suara tangisan bayi mungil yang menggema diruang persalinan. Ica pun pada akhirnya bisa bernafas lega. Karena setelah berjuang hampir satu jam menahan sakit yang menurutnya belum ada bandingannya. Kini dirinya bisa melihat sesosok bayi mungil yang mampu menghapus semua rasa sakit itu dalam waktu sekejap.
"Selamat ya bunda. Bayinya laki-laki, lucu dan juga tampan". Doker mengatakan itu sembari mengangkat bayi mungil itu dan menunjukkannya pada sang mama.
Meski dalam keadaan yang masih lemah, tangannya terlihat ia ulurkan untuk membelai sayang pipi bayi mungilnya itu.
Sementara di tempat lain, Bara terlihat tengah berlari menuju tempat dimana mobilnya terparkir.
Saat istrinya menghubunginya tadi, dirinya tengah menemui klient di cafe depan kantornya. Sementara ponselnya tertinggal diruangannya.
Namun ditengah-tengah Bara menemui Klientnya, tiba-tiba perasaannya tidak enak. Entah kenapa saat itu bayangan wajah istrinya terus saja terlintas dihadapannya.
Ingin rasanya Bara mengakhiri pertemuannya. Namun rasanya tidak sopan jika harus meninggalkan Klientnya begitu saja.
Hingga tak lama kemudian, Rico yang tak lain orang kepercayaannya berbisik padanya. Dia mengatakan jika baru saja Reza yang tak lain adalah adik ipar Bara, menelfon dan mengatakan jika saat ini istri dari atasannya ini sedang berada dirumah sakit dan akan segera melahirnkan.
Dan saat itu juga Bara akhirnya meminta maaf karena harus pamit lebih dulu. Ia berharap semoga dirinya masih bisa menemani istrinya berjuang untuk melahirkan calon buah hatinya.