
Pagi ini suasananya sedang berbanding terbalik. Jika biasanya Ica yang mengalami morning sickness, kini malah terlihat Bara yang nampak muntah-muntah. Sejak bangun subuh tadi perutnya berasa seperti diaduk-aduk. Bahkan hingga isi perutnya seperti sudah kosong, namun tetap saja Bara merasa seperti ada sesuatu yang hendak dikeluarkan.
"Mas...kamu kenapa, masak ia kamu masuk angin gara-gara semalaman tidur gak pakek baju"
Semalam setelah menuntaskan ritual wajibnya menengok sidedek, Bara langsung tertidur pulas bersama sang istri. Sama hal nya dengan Ica, Bara yang merasa sangat kelelahan langsung tertidur pulas tanpa sempat memakai kembali bajunya.
"Kayaknya gak mungkin deh. Karena sebelumnya aku sering tidur gak pakek baju tapi paginya gak kenapa-napa" Bara menjawab disela-sela rasa mualnya yang mulai mereda.
Ica pun terlihat menyodorkan segelas teh hangat pada suaminya ini. Dan setelahnya Ica membantu membaringkan suaminya agar bisa beristirahat.
"Mas mending istirahat saja, habis ini biar aku telfonkan dokter langganan keluarga aku". Ica mengatakan itu sembari memakaikan selimut untuk menutupi tubuh suaminya.
"Gak usah Yang, lagian aku gak pa-pa kok. Mungkin aku butuh tiduran aja".
Tak lama kemudian terdengar pintu kamarnya seperti ada yang mengetuk.
Dan benar saja, itu adalah bu Sarah dan juga pak Hariz yang datang untuk melihat kondisi menantunya.
Sama dengan Ica, mereka juga menyarankan agar Bara diperiksa oleh dokter. Namun lagi-lagi Bara tidak mau. Apalagi saat ini kondisinya mulai membaik. Hanya saja entah kenapa saat ini tiba-tiba dirinya menginginkan makan nasi pecel dengan lauk tempe mendoan.
Entah dorongan dari mana, tiba,-tiba mulutnya ini dengan begitu fasihnya menyampaikan apa yang diinginkannya itu dihadapan mertuanya.
"Kamu tunggu sebentar ya, biar mama nyuruh bibik buat masak pecel sesuai keinginan nak Bara".
Bu Sarah meninggalkan kamar putrinya dengan mengajak suaminya juga. Dan sesampainya diluar bu Sarah terlihat senyum-senyum sendiri.
Tentu saja Pak Hariz yang melihatnya merasa aneh. Tidak ada angin tidak ada hujan tapi kenapa istrinya ini malah senyum-senyum sendiri.
"Mama kenapa sih, habis keluar kamar Ica langsung keliatan aneh"
"Itu pah, mama lucu aja lihat tingkah mantu papa. Kalau menurut mama ya, Bara sepertinya mengalami kehamilan simpatik. Sama kayak papa dulu waktu mama lagi hamil Ica" Mendengar penuturan istrinya, membuat pak Hariz mencoba mengingat sesuatu.
"Bener kayaknya mah, papa jadi keingat pas mama Lagi hamil Ica. Tiap hari papa yang mual, ngidam ini itu, sementara mama malah enak-enakan tidur pulas"
"Namanya orang hamil pah, jadi ngantuknya itu bawaan dari bayinya". Bu Sarah nampak tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh suaminya.
Asik bernostalgia, membuat bu Sarah lupa akan pasanan menantunya. Beruntung pak Hariz mengingatkannya.
Hanya butuh waktu tak sampai satu jam akhirnya apa yang diinginkan menantunya ini sudah siap. Tentu saja bu Sarah tak sendirian membuatnya. Ia dibantu oleh asisten rumah tangga yang ada dirumahnya.
Sepiring nasi pecel lengkap dengan ikan mendoan saat ini sudah tersaji dimeja makan. Bu sarahpun kemudian memanggil anak dan menantunya ini untuk turun.
Saat sudah dimeja makan, Bara terlihat menikmati menu yang tadi dimintanya. Ia bahkan terlihat makan dengan cukup lahap. Meski sebenarnya ada rasa tidak enak karena sudah merepotkan ibu mertuanya, namun terpaksa Bara mengatakannya. Bara merasa keinginannya untuk menikmati nasi pecel dengan lauk tempe mendoan sudah tidak bisa dibendung lagi.
"Ayo nasinya nambah lagi, jangan sungkan-sungkan" Bu Sarah dengan ramah mengatakan itu pada menantunya.
Selesai makan, Bara langsung pamit untuk berangkat ke kantor. Meski semua melarang, Bara tetap memaksa pergi. Hal itu dikarenakan Bara yang memang sedang ada janji bertemu dengan klient.
"Mas...kamu yakin mau ngantor, nanti kalau mual disana gimana?" Ica nampak mengkhawatirkan kondisi suaminya.
"Aku bakalan pulang jika memang kondisinya tidak memungkinkan. Kamu gak usah khawatir, ada Rico yang menemaniku".
Hingga menjelang sore, Bara hanya sekali memberi Ica kabar. Tentu saja hal ini membuat Ica khawatir.
Iapun saat ini sudah terlihat bersiap akan menyusul suaminya kekantornya.
Namun baru saja membuka pintu rumahnya, terlihat Bara tengah berdiri didepannya dengan menenteng dua kantong plastik.
"Astaga mas, ini apa aja yang kamu beli" Ica nampak heran begitu melihat suaminya ini mengeluarkan isi dari dalam kantong plastik yang dibawanya. Disitu ada banyak jenis jajanan yang didominasi makanan pedas dan beberapa bungkus rujak. Tak lupa juga ada bungkusan yang berisi asinan buah.
Bara pun hanya menanggapi keheranan istrinya dengan nyengir kuda. Dan selanjutnya Bara mengajak Ica untuk mencicipi semua jajanan yang dibawanya.
"Kemarin aja aku dimarahi pas makan maklor, lah ini malah lebih parah" Ica terlihat menggerutu sendiri.
Dirinya teringat beberapa hari lalu suaminya ini melarangnya memakan jajanan yang pedas-pedas. Sekarang justru malah dirinya memborong berbagai jenis jajanan yang didominasi makanan pedas. Ada maklor, cilor, cilung, dan masih banyak lagi yang semuanya rata-rata menggunakan bumbu tabur pedas sebagai pelengkapnya.
"Sekali-kali sayang, aku lagi pengen banget ini"
Dan didetik berikutnya Bara mencicipi semua jajanan itu satu persatu. Sementara Ica yang melihatnya sampai dibuat geleng-geleng kepala sendiri.
"Astaga dek, ini papa kamu kelaparan atau kesurupan" Ica kali ini terlihat mengusap-usap perutnya.
"Mas kamu ngidam apa doyan sih, ati-ati makannya. Aku gak bakalan minta kok" Lagi-lagi Ica dibuat heran. Karena melihat cara suaminya ini makan, perutnya mendadak berasa kenyang.
Ica lantas berniat kedapur untuk mengambilkan suaminya ini air minum. Karena saat ini Bara mulai berkeringat dan mulai terlihat seperti sedang menahan rasa pedas.
"Diminum dulu mas, habis ini udahan makannya. Aku gak mau kamu sampai sakit perut" Sambil mengomel, Ica mengambil satu persatu bungkusan jajanan itu dan membawanya kedapur. Tentu saja hal itu ia lakukan agar suaminya ini berhenti memakannya. Ica tidak ingin suaminya ini sampai sakit perut.
"Yang kok disinggahin sih, aku belum selesai ini makannya" Bara terlihat protes.
"Udah mending mas mandi dulu, habis itu makan nasi. Heran deh, yang hamil siapa yang ngidam siapa cobak" Ica masih saja terus mengomeli suaminya.
Hingga tanpa sengaja bu Sarah melihat perdebatan antara putri dan menantunya. Namun bu Sarah hanya memperhatikannya saja tanpa berniat menghampiri keduanya. Bu Sarah menggeleng-gelengkan kepalanya karena begitu gemmas melihat perdebatan yang terjadi antara putri dan menantunya ini.
Yang satu sudah seperti anak kecil yang sedang ngambek lantaran makanannya diambil, sementara satunya lagi terlihat seperti seorang perawat yang sedang memarahi anak asuhannya.
Namun kendati demikian bu Sarah merasa lega karena akhirnya dia bisa melihat putrinya ini bisa menemukan kembali pasangan hidupnya. Apalagi dengan kondisi putrinya yang saat ini tengah hamil.
Bu Sarah berharap semoga kehamilan putrinya ini akan semakin membawa kebahagiaan dalam pernikahan keduanya. Hingga kelak dirinya bisa melihat putrinya bahagia bersama keluarga kecilnya.
"Loh mama sejak kapan disini?" Ica merasa kaget karena tiba-tiba melihat mamanya nampak berada didapur sambil tersenyum sendiri. Saat kedapur tadi dia tidak melihat siapapun disana. Tapi kali ini dia sudah melihat mamanya berdiri sambil menyandarkan tubuhnya di dekat lemari es.
"Sejak tadi, sejak kamu ngomelin suamimu" Jelas bu Sarah
"Ya habisnya mas Bara makan makanan pedes melulu. Ica sampai heran, yang hamil Ica tapi yang ngidam malah dia"
"Itu suamimu lagi ngalamin gejala Couvade Syndrome atau bahasa mudahnya kehamilan simpatik. Jadi kamu yg hamil, tapi yang merasakan gejalanya suami kamu. Jadi kamu gak usah ngomel-ngomelin dia terus, kasian suami kamu". Kali ini giliran Ica yang kena omel mamanya.
Awalnya Ica tidak faham dengan maksud ucapan mamanya ini. Namun setelah dijelaskan akhirnya Ica mengerti. Bahkan Ica terlihat merasa bersalah karena sudah melarang apa yang menjadi keinginan suaminya.