
Nina masuk kedalam ruangan Alina dengan membawa kan leci tea hangat yang menjadi minuman favorit sang CEO.
Dia berjalan kearah sofa dan meletakkan secangkir leci tea itu di meja. Alina masih diam di kursi kebesaran nya dan tetap pada posisi semula.
Nina yang sudah lama bekerja sebagai asisten Alina pun langsung mengerti bahwa ada yang sedang mengganggu pikiran CEO yang berparas cantik itu.
Dia berjalan menghampiri Alina dan memegang bahunya.
" Ada yang Anda pikirkan, Nona?"
Alina tersentak dan sadar dari lamunan nya. Dia menoleh dan tersenyum tipis pada Nina.
" Apa aku harus menjawab nya?" sahut Alina.
Nina tersenyum dan berjalan kearah samping Alina dan berdiri disana. Sementara Alina tampak langsung menatap kearah pemandangan yang ada di hadapannya.
" Tidak, karena saya tahu jawabannya," sahut Nina sambil melihat kearah wanita cantik yang masih duduk di kursi kebesaran nya.
Alina hanya tersenyum tipis tanpa melihat kearah Nina.
" Aku akan menunggu disini, aku tahu Anda sedang membutuhkan seorang sahabat yang bisa mendengarkan apa yang mengganggu pikiran mu, Al."
Alina menoleh dan menatap kearah Nina yang kini sudah tak berkata formal lagi di depan nya. Dia tersenyum dan langsung merentangkan kedua tangannya pada sang asisten yang sangat bisa mengerti dan menempatkan diri saat bersama Alina.
Nina tersenyum dan memeluk Alina. Mereka berpelukan dan Nina mengusap punggung Alina.
Nina akan menjadi asisten yang bijak dan juga profesional jika menyangkut tentang pekerjaan. Dia bisa membaca situasi di sekitar nya dan dia juga bisa menebak sikap sang Bos jika ada perubahan di raut wajahnya.
Gadis cantik yang bertubuh mungil itu akan menjadi seorang sahabat dan pendengar yang baik bagi Alina. Alina juga sering mengatakan pada Nina untuk berbicara layaknya sahabat jika mereka sedang berdua.
Namun Nina tetap berkata formal jika sudah ada di lingkungan perusahaan, karena menurut nya itu tidak sopan.
Dan di saat-saat seperti inilah dia pandai menempatkan diri. Dia akan berkata layaknya seorang sahabat dan tak berkata formal jika melihat gelagat Alina yang menurut nya aneh dan sedang tidak baik-baik saja.
Alina melepaskan pelukannya dan mengusap buliran bening yang jatuh dari sudut matanya.
" Kita mengobrol disofa?" tanya Nina.
Alina menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Nina memegang tangan Alina dan menuntunnya kearah sofa.
Disana sudah ada secangkir leci tea dan juga beberapa camilan yang sudah dibawa oleh Nina.
Mereka duduk di sofa bersama, lalu Alina mulai meminum leci tea yang sudah di bawa oleh Nina.
Dia menyeruput leci tea hangat itu dan langsung meletakkan nya di meja.
" Apa yang kau pikirkan?" tanya Nina.
Alina tak menghiraukan dan hanya menatap kearah mata Nina.
" Apa ini ada sangkut pautnya dengan Tuan Krish?" tanya Nina lagi.
Nina memegang tangan Alina dan mengusap nya.
" Aku tahu ini pasti ada hubungannya dengan dia, kan? Dan aku sangat tahu dari sikap dan tatapan matanya padamu saat meeting tadi. Dia sangat tidak sopan, dia seolah sedang menatap dengan pikiran kotor nya padamu tadi, Al. Dan aku sangat ingin mencongkel dan mengeluarkan biji mata nya itu!"
" Kenapa kau malah tertawa? apa menurut mu ini lelucon?" kata Nina.
" Tidak, bukan begitu. Ekspresi wajah mu sangat meyakinkan dan seolah kau ingin mengeluarkan bola mata ku," sahut Alina dengan tawanya.
" Hmmm ... Andai dia bukan pemilik dari perusahaan itu, aku pasti akan benar-benar mengeluarkan bola matanya hingga dia berhenti menatap mu seperti tadi," sahut Nina yang masih saja gemas saat mengingat tatapan mesum Krish pada Alina.
Alina tersenyum dan dia merasa sangat lega, ada Nina yang bisa menghibur hatinya saat dirinya sedang dalam mode galau karena kehadiran Krish yang mengusik kehidupan nya.
Dia tersenyum dan memegang tangan Nina.
" Terimakasih. Kau selalu tahu apa yang ada di pikiran ku, kau asisten sekaligus sahabat yang sangat mengerti aku, Thank you so much."
Nina tersenyum dan mereka kembali berpelukan. Begitulah kedekatan mereka, di perkenalkan di sebuah perusahaan dimana mereka bekerja dan menjadi partner kerja yang baik bahkan juga bersahabat.
CEKLEK
Tiba-tiba pintu ruangan Alina terbuka dan hal itu membuat Nina dan Alina terkejut. Mereka langsung melepaskan pelukannya dan melihat kearah pria yang sedang berdiri di ambang pintu.
" Mike? kenapa kesini?" tanya Alina.
Sementara Nina langsung beranjak dari sofa dan menundukkan kepalanya pada Mike.
" Kau tidak mengangkat panggilan dariku, dan itu membuat ku khawatir!" sahut Mike sambil berjalan menghampiri Alina di sofa.
" Maaf. Tuan, Nona. Saya permisi keluar dulu," kata Nina sopan.
Alina melihat kearah Nina dan tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Wanita itu membalas senyuman dari Alina dan lekas melangkah kan kakinya keluar dari ruangan itu.
Mike tampak melihat kearah Alina dan langsung memeluk nya saat pintu sudah tertutup.
" Aku benar-benar mengkhawatirkan mu," kata Mike.
Alina tersenyum dalam pelukan itu dan dia juga membalas pelukan dari pria itu.
" I'm Oke, right?" sahut Alina melepaskan pelukannya.
" Tapi kenapa kau tidak menjawab panggilan ku tadi?" tanya Mike.
" Itu ... tadi aku sedang meeting dan aku tak membawa ponsel ku," sahut Alina berbohong.
" Benarkah?" tanya Mike dengan penuh selidik.
" Ya, kau tak percaya padaku?" sahut Alina.
Mike tersenyum dan kembali memeluk wanita itu.
" Aku percaya, lain kali kau tak boleh mengabaikan panggilan dariku, oke?"
Alina menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
.
# Selamat menunaikan ibadah puasa 🙏🙏🙏