
Leon berjalan kearah ruangan sang Daddy. Thoy terpaksa menyuruh asisten nya untuk menghubungi Leon karena ada beberapa masalah yang membutuhkan bantuan dari Leon.
Pria paruh baya itu masih sangat enggan untuk menghubungi langsung putranya itu.
CEKLEK
Pintu ruangan Thoy terbuka. Tampak Leon berdiri di ambang pintu dan menghadap kearah Thoy.
" Masuklah. Dan ambil berkas ini lalu kembali ke ruangan mu," kata Thoy yang langsung melempar map ke depan mejanya dan kembali fokus dengan laptopnya.
Leon tersenyum kecil melihat sikap Thoy yang tampak belum bisa memaafkan nya. Tapi Leon sangat memaklumi sikap sang Daddy karena dia sendiri yang sudah menghancurkan kepercayaan nya.
Leon masuk kedalam dan langsung mengambil map itu.
" Cepat selesai kan pekerjaan itu dan cepat kembali ke negara mu," kata Thoy tanpa melihat kearah Leon.
" Hmm ... baiklah," sahut Leon lalu berbalik menuju pintu.
" Satu lagi!!" ucap Thoy yang kini menatap kearah Leon.
Leon berbalik dan menatap kearah Thoy.
" Jangan pernah muncul di hadapan Lea. Wanita itu sudah bahagia bersama suami nya, ku harap kau tak lagi mengharapkan nya!" kata Thoy tegas.
Leon hanya menganggukkan kepalanya lalu keluar dari ruangan Thoy. Saat Leon sedang berada di dalam lift, pikirannya tertuju pada wanita yang masih menempati posisi spesial di hatinya.
' Aku tak akan menggangu kebahagiaan mu, aku hanya akan muncul saat kau membutuhkan ku,' batin Leon.
Ting
Pintu lift terbuka Leon langsung keluar dari lift dan berjalan menuju ruangan kerjanya.
Pria itu langsung memeriksa map yang di berikan oleh Thoy. Dia langsung menyelesaikan pekerjaan itu tanpa menunggu lama.
.
.
Kini Lea sudah berada di dalam kamar nya. Wanita itu berdiri di beranda depan kamar nya yang menghadap langsung kearah taman.
Dia menghirup aroma wangi dari bunga yang dia pegang, senyum nya mengembang saat melihat buket bunga mawar itu.
Tiba-tiba ada yang langsung memeluknya dari belakang.
" Astaga ... Angre!! Kau mengagetkan ku," kata Lea saat melihat sang suami yang menopang dagunya di pundak Lea.
" Kau sedang memikirkan ku?" ucap Angre sambil mencium ceruk leher sang istri.
" Hmmm," sahut Lea tersenyum sambil meletakan buket bunga nya.
Lea berbalik dan mengalungkan tangannya di leher Angre. Pria itu merengkuh pinggang ramping Lea.
CUP
Lea mengecup bibir Angre sekilas namun pria itu menahan tengkuk lehernya dan langsung memagut bibir manis Lea.
Mereka berciuman lama dengan lembut dan tanpa terburu-buru. Lalu Lea melepaskan ciumannya dengan mendorong pelan dada bidang Angre.
" Kau masih ingat bunga kesukaan ku?" tanya Lea.
" Hmmm. Aku selalu mengingat nya," sahut Angre sambil menempelkan keningnya di kening sang istri.
" Terimakasih."
Lea langsung memeluk erat tubuh sang suami.
Wanita itu mengira bingkisan dan buket bunga yang datang itu dari sang suami.
Angre membalas pelukan sang istri sambil mengusap punggung nya. Lalu dia melihat kearah buket bunga yang ada di sampingnya.
" Kau dapat kiriman buket bunga? aku tebak, pasti dari Alina, atau Daddy?" kata Angre melepaskan pelukannya.
Lea mengerutkan keningnya. Dia akhirnya tahu bahwa paket itu bukan dari sang suami.
" Aku mandi dulu, setelah itu kita jalan-jalan sebentar di taman." Pria itu mengecup kening Lea dan masuk kedalam kamar mandi.
Lea masih terpaku di tempatnya berdiri. Dia mengambil kembali buket bunga itu dan menatapnya.
" Beraninya kau!!" geram Lea lalu melemparkan buket bunga itu ke tong sampah yang ada di bawah di area taman.
Hatinya langsung sakit setelah mengingat penghianatan dari pria itu. Dan tiba-tiba air matanya menetes.
" Oh no. Aku tak boleh menangisi pria brengsek itu," gumam Lea sambil mengusap air mata yang menetes.
Namun air mata itu terus mengalir deras bersamaan dengan hatinya yang mulai kalut.
" Shiiittt. Kenapa aku menangis, aku sudah melupakannya, bukan? Aku sudah mencintai Angre suami ku. Lalu kenapa aku menangis," gumam Lea.
Air matanya tak henti-hentinya menetes hingga Lea terduduk dan sesenggukan di atas lantai dengan bersandar di pagar balkon.
Angre keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya.
Pria itu melihat kearah sang istri yang menangis di atas lantai dan dia menghampiri nya.
" Sayang. Ada apa? apa ada yang sakit? apa perut mu sakit?" tanya Angre dan mendapatkan jawaban dari sang istri. Dia langsung menggendong tubuh Lea masuk kedalam kamar.
Lea semakin menangis di gendongan sang suami. Dan Angre meletakkan tubuh Lea di ranjang.
Lea tak mau melepaskan pelukannya di leher Angre lalu Angre ikut naik keatas ranjang dan mendekap erat sang istri.
" Ada apa? katakan padaku, apa perut mu sakit? kita ke dokter sekarang," kata Angre melepaskan pelukannya tapi Lea tetap menahan pria itu agar tak melepaskan pelukannya.
" Perut ku tidak sakit," sahut Lea lirih.
" Lalu kenapa kau menangis, sayang?" tanya Angre sambil mengusap air mata yang membasahi pipi Lea.
" Bunga ku jatuh ke tong sampah," ucap Lea berbohong.
" WHAT!! HANYA ITU?" sahut angre terkejut.
Lea langsung mengangguk kan kepalanya dengan cepat.
" Oh my. Kau membuat ku sangat khawatir, Beby," kata Angre sambil memeluk erat sang istri.
" Aku akan memberikan bunga mawar yang banyak untuk mu, jadi berhentilah menangis," kata Angre sambil menangkup wajah sembab Lea.
Wanita itu kembali mengangguk kan kepalanya.
" Thank you, I love you," ucap Lea.
" Hmmm. I love you to," sahut Angre dengan kening yang saling menempel.
Lea menatap lekat mata pria itu. Dia melihat begitu besar cinta Angre untuk nya. Lalu mereka pun berciuman.
Angre membalas ciuman sang istri dengan lembut sambil mendorong pelan tubuh Lea ke ranjang.
Mereka kini berciuman dengan intens dengan posisi Lea yang sudah berada di bawah tubuh kekar Angre.
Angre terpekik tatkala tangan nakal Lea yang membuka handuk yang melilit di pinggang Angre. Dan bermain liar disana.
" Aaaahh ... Beby. Kau membangun kan junior ku," lenguh Angre melepaskan ciumannya.
Lea langsung mengulum bibir Angre yang terbuka dengan tangan yang masih bermain di area terlarang sang suami.
" Ooouwwhh ... Lakukan sekarang, Beby."
Lea tak menggubris ucapan Angre. Wanita itu mendorong tubuh Angre hingga terlentang di atas ranjang.
Dengan cepat Lea bangun dan langsung mengulum sesuatu yang menegang di bagian bawah sang suami.
Angre merasakan kenikmatan yang luar biasa dengan pelayanan sang istri. Hingga dia mencapai puncak nya.
Lea menatap wajah Angre yang sedang mengatur nafasnya. Wanita itu tersenyum miring dengan mengerlingkan matanya.
Angre bangkit dan langsung mendorong tubuh Lea. Kini posisinya terbalik dengan Angre yang berada di atas tubuh seksi Lea.
Pria itu menatap lekat wajah cantik sang istri dengan seringai tipis di bibirnya. Hal itu membuat pria itu terlihat semakin tampan berkali-kali lipat dengan tubuh kekarnya yang mulai berkeringat.
Angre mendekatkan wajahnya kearah telinga Lea.
" Kini giliran ku, Beby," bisik Angre dan langsung menyesap cuping sang istri.