
Ting ... nong
Bel pintu berbunyi, Lea terbangun dan langsung berjalan menuju pintu apartemen nya.
CEKLEK
" Kau tertidur lagi, Lea?" kata Alina langsung masuk kedalam apartemen Lea saat pintu nya dibuka.
" Hmmm, karena dengan tidur membuat ku begitu tenang," sahut Lea sambil berjalan kearah kamar mandi.
" Apa dia menghubungi mu?" tanya Alina duduk di sofa.
" Ya ... seperti biasa," jawab Lea keluar dari kamar mandi nya.
Lea berjalan kearah meja riasnya dan kembali memperbaiki riasan di wajahnya.
" Aku tak tahu harus berkata apa, memberi saran apa pada hubungan kalian. Karena aku pun tidak pernah mempunya hubungan dengan seorang pria," kata Alina menghampirinya Lea sambil membenarkan rambut nya.
" Ck, sudahlah. Aku tak terlalu ambil pusing dengan hubungan ini, ayo kita bersenang-senang." Lea langsung mengenakan sepatu nya.
" Ya, kau harus tetap menikmati hidup mu, Lea. Dan aku akan selalu menemani mu," sahut Al sambil merangkul bahu sahabat nya itu.
.
Saat Lea dan Alina akan masuk kedalam mobil Al. Angre datang dengan menaiki motor Ducati hitam nya.
" Kalian sudah siap?" tanya Angre membuka kaca helm nya.
" Ya ... kawal kita seperti biasa, Angre!!" teriak Alina, lalu masuk kedalam mobilnya.
Lalu mereka pun berangkat bersama menuju club. Dengan Angre yang benar-benar mengawal dua gadis cantik itu.
Angre Adelard adalah seorang pengusaha yang sukses. Dia adalah sepupu Alina dari pihak Momynya.
Angre sedang mengurus perusahaan cabang yang baru di negara itu. Dia tak sengaja bertemu dengan Alea di gedung apartemennya dan kebetulan apartemen mereka berada di lantai yang sama.
Pria itu sebenernya sudah jatuh hati pada Alea saat pertama bertemu, namun dia langsung kecewa saat mendengar Alea sudah memiliki tunangan.
Angre pun memutuskan untuk menjadi teman yang baik untuk Alea. Dia selalu menjaga dan menemani Lea saat wanita itu membutuhkan seorang teman mengobrol.
.
.
Kini mereka telah sampai di club. mereka langsung masuk kedalam club dan menuju meja VIP yang sudah ada teman-temannya menunggu disana.
" Angre, kau benar-benar seperti pengawal 2 gadis itu," kata seorang teman Angre yang kebetulan berada di club itu juga.
" Ya, dan kau pasti iri padaku, bukan?" sahut Angre.
Mereka menikmati kebersamaan di club, dan menari bersama di lantai bawah dengan alunan musik yang dimainkan oleh sang DJ.
Drt drt drt
Ponsel Lea berbunyi, dia tak mengangkat nya karena dia sedang menari bersama teman-temannya.
" Ck, kenapa dia selalu tak menjawab teleponku!!" geram Leon.
Lalu keluar dari apartemen nya, dan pergi ke club untuk bertemu dengan teman-teman nya.
.
.
Keesokan harinya, Alea kembali di sibukkan dengan persiapan nya mengurus surat keperluannya untuk pelaksanaan magangnya.
" Al ...," panggil Lea. Dia menghampiri Alina yang berhenti di ujung lorong.
" Ada apa, Lea? apa kau perlu bantuan ku lagi?" sahut Alina sambil berjalan di lorong kampus itu.
" Surat pengajuan magang ku di tolak, jadi aku harus segera mencari perusahaan lain," kata Lea sambil berjalan beriringan dengan Lea.
" Kenapa kau tidak coba mengajukan magang di perusahaan Angre? Dia pasti bisa membantumu," sahut Lea.
" Emmm ...." Alea tampak berpikir. Jika dia melaksanakan prakteknya di perusahaan Angre, dia takut jika Angre terus mendekati nya dan berharap padanya.
" Jangan terlalu banyak berpikir, Lea. Minggu depan kita sudah harus melaksanakan praktek ini," kata Al berhenti di depan ruangan Dosen.
" Baiklah," sahut Lea.
Lea berjalan sambil memikirkan tentang saran dari Alina. Tiba-tiba ponselnya berbunyi, dia mengambil ponselnya dan menatap layar ponsel itu.
Senyumnya tersungging saat melihat nama Leon di layar ponselnya.
" Hallo,"
" Hallo, Lea. Akhirnya kau mengangkat telepon ku," kata Leon dari seberang telepon nya.
Terbesit rasa kelu di hatinya, saat Leon tak memanggil nya dengan sebutan Honey lagi.
Leon mengerutkan keningnya mendengar Lea tak lagi memanggilnya honey.
" Apa aku mengganggu mu?" tanya Leon.
" Tidak, apa kau tak sibuk? sepertinya kau sangat sibuk disana," kata Lea berjalan menuju taman di kampusnya.
" Ya, aku sangat sibuk disini hingga tak ada waktu untuk menelepon mu," jawab Leon.
Lalu mereka sama-sama terdiam, bahkan saat menelpon pun mereka semakin merasa ada jarak di antara mereka.
" Bagaimana kabar mu?" tanya Leon akhirnya.
" Aku baik, Kau?" sahut Lea.
" Aku juga baik. Bagaimana kuliah mu?" tanya Leon lagi.
" Kuliah ku juga lancar. Minggu depan aku akan melaksanakan praktek magang ku," kata Lea.
" Apa kau sudah menemukan perusahaan untuk magang mu? kalau belum, kau bisa magang di perusahaan ku," sahut Leon.
" Aku akan magang di perusahaan temanku, terimakasih atas penawaran mu." Lalu mereka langsung terdiam lagi.
" Aku ada meeting sebentar lagi, nanti aku akan menghubungi mu lagi. I Love you." Leon langsung menutup sambungan teleponnya.
" I love you to," kata Lea lirih saat melihat panggilan itu sudah terputus.
Tak terasa air matanya menetes, dia langsung menghapus nya. Dan menyalakan rokoknya.
.
Leon memutar kursi nya menghadap ke kaca besar yang ada di belakangnya. Dia menyandarkan kepalanya di kursi itu sambil memijat keningnya.
" Kenapa seperti ada jurang dalam hubungan kita? aku sangat mencintaimu Lea. Tapi kau terlalu egois," gumaman sambil menggenggam erat ponselnya.
" Tunggu, dia bilang akan magang di perusahaan temannya? aku harus menyelidiki siapa teman nya itu."
Lalu Leon menghubungi anak buahnya untuk menyelidiki dimana Lea akan melaksanakan praktek nya.
.
.
Kini Lea sudah berada di apartemennya, dia duduk di sofa yang ada di lobby. Wanita itu sedang menunggu seseorang sambil memainkan ponselnya.
Lalu dia mendengar suara seseorang yang sangat di kenal nya, dan Lea memanggilnya.
" Angre !!" panggil Lea.
Angre menghentikan langkahnya dan menoleh kearah seseorang yang memanggil nya.
" Alea ..."
Lea menghampiri Angre, dan menggandeng nya keluar dari lobby.
" Ada apa, Lea?" tanya Angre setelah berada di taman kecil yang berada di samping gedung apartemen itu.
" Aku butuh bantuan mu," kata Lea duduk di kursi panjang yang ada di taman.
"Katakan," sahut Angre duduk di samping Lea.
" Aku ingin mengajukan surat pengajuan praktek magang di perusahaan mu, tapi aku mohon kau harus menerima surat permohonan ku itu. Aku sudah mengajukan permohonan di perusahaan lain, tapi di tolak. Sementara waktu pelaksanaannya sudah sebentar lagi, Jadi aku mohon bantu aku kali ini saja, Ya ya ya," kata Lea dengan memasang wajah yang memelas.
Angre tertawa melihat ekspresi Lea yang menurut nya sangat menggemaskan sambil mengacak rambutnya.
" Angre ... aku mohon," kata Lea sambil menyatukan kedua tangannya di depan wajah nya.
" Hanya itu?" sahut Angre sambil tertawa kecil.
" Ya, hanya itu. Kau bisa membantu ku, kan?" kata Lea sambil memiringkan kepalanya dan mengedipkan matanya berkali-kali.
Anggre semakin tertawa melihat ekspresi Lea, saking gemasnya dia menangkup Kedua pipi Lea dan menekannya hingga bibirnya mengerucut ke depan.
' Ingin sekali aku mencium bibir manyun ini,' batin Angre.
" Angre ... lepaskan," kata Lea dengan suara yang terdengar lucu karena bibirnya yang manyun.
Lalu Angre melepaskan pipi Lea.
" Sakit tau," kata Lea mengusap pipinya sendiri.
" Besok, datanglah ke perusahaan ku. Bawa surat pengajuan praktek mu," kata Angre bangkit dari kursi taman.
" Benarkah? Terimakasih Angre, kau sahabat terbaik ku." Lea memeluk tubuh Angre dari belakang.
CEKREK
Ada seseorang yang memotretnya dari kejauhan.